-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
031 - Tentang Tempat Tinggal


__ADS_3

"Tuan, Paviliun Yalan di Halaman Selatan tidak ada yang menempati. Paviliunnya sangat bersih dan luas. Mengapa tidak membiarkannya tinggal disana?" usul Selir Mo yang tidak akan membiarkan Halaman Timur diambil darinya.


Sebenarnya bukan usulan, tetapi seakan memberi pendapat agar Tuan Besar langsung memindahkan Jiang Xingyu kesana.


Benar saja, setelah mendengarnya, Tuan Besar langsung setuju. Namun ketika akan berbicara, kata yang ingin diucapkannya disela.


Jiang Xingyu mendesah dan senyumnya terlihat semakin dingin. "Apa Selir Mo bercanda? atau apakah Selir Mo melupakan kalau Halaman Selatan merupakan tempat tinggal untuk para Selir? Statusku bukan hanya seorang Nona Sulung, tapi juga Puteri Ming tingkat kedua. Katakan, bagaimana bisa aku tinggal di Halaman Selatan? jika sampai pengaturan Selir Mo tersebar keluar, apa yang akan orang lain pikirkan tentang Kediaman kita? mungkin orang lain akan berpikir seorang Pelayan tinggal di Sarang Burung Murai sementara seorang Tuan tinggal di Sarang Burung Merpati."


Di beberapa bagian kalimatnya, ia sengaja mengembalikannya pada Selir Mo.


"Aku..." Selir Mo ingin mengatakan sesuatu. Tetapi ketika membuka mulutnya, ia tidak tahu harus berkata apa.


ia tentu mengerti maksud dibalik ucapannya. Hanya saja waktu itu ia dan kedua Puterinya pindah ke Halaman Timur atas persetujuan Tuan Besar. Karena selama ini tidak ada yang membicarakannya, ia mengira tidak akan terjadi masalah apapun.


Namun ia tidak menyangka sekarang Jiang Xingyu mengungkit masalah ini hanya dalam satu kalimat.


Satu kalimat yang membuatnya langsung bungkam.


Sedangkan ekspresi Tuan Besar berubah suram. Walaupun kalimat tersebut ditujukan pada Selir Mo dan kedua Puterinya, tapi ia tidak bodoh. Tanpa persetujuannya bagaimana mungkin Selir Mo dan kedua Puterinya pindah ke Halaman Timur?


Jika idiom tersebut sampai tersebar keluar, ia khawatir Kediamannya akan berada dalam masalah. Namun sekarang ia lebih kesal karena yang mengungkapkannya adalah Puterinya sendiri. Ia yakin Puterinya sengaja membuatnya berada dalam masalah.


Yakin dengan pikirannya sendiri, ia bersikap seperti seorang Ayah yang ingin memberi Puterinya pelajaran. Tapi sebelum mengambil tindakan, suara 'BRAK!' terdengar sangat keras dan mengejutkan semua orang.


Mata semua orang tertuju pada sumber suara yang tidak lain berasal dari Jiang Linyao.


Saat ini telapak tangan Jiang Linyao berada diatas meja. Posisinya tidak lagi duduk, melainkan berdiri. Jari telunjuk kanannya mengarah pada Jiang Xingyu dan makian penuh amarah keluar dari mulutnya. "Walaupun kau seorang Nona sah, kau tetap seorang Puteri terlantar yang tidak disukai. Hak apa yang kau miliki untuk menolak?! Tinggal di Paviliun Yalan sudah merupakan berkah terbesar untukmu! Jika kau tetap bersikap sombong dan menolaknya, pada akhirnya kau tidak akan mendapatkan apapun dan hanya bisa tinggal di Halaman jelekmu itu!"


"Diam!" Bersamaan dengan akhir kalimatnya, Tuan Besar dan Selir Mo membentaknya secara bersamaan.

__ADS_1


Walaupun tidak mau dimarahi, Jiang Linyao tetap menutup mulutnya karena takut.


Sedangkan setelah mendengar kata-kata tidak bermoral, Jiang Xingyu mencibir tidak senang. Tatapan tajamnya tertuju pada Jiang Linyao dan dengan aura agresif ia berkata. "Sekalipun aku Puteri yang tidak disukai, itu tetap tidak akan mengubah fakta bahwa hanya aku satu-satunya Nona sah di Kediaman ini. Sedangkan kau hanyalah Puteri seorang Selir, beraninya berteriak padaku?! Sejak Zaman dahulu hingga sekarang ada perbedaan besar antara Nona sah dan Nona tidak sah. Dan tindakanmu jelas melanggar Peraturan. Jika sampai orang luar mengetahui Kediaman ini membalikkan peraturan, konsekuensinya bukan hanya kau yang akan menanggungnya, tapi juga seluruh Kediaman. Apa kau bahkan tidak mengerti tentang hal ini?"


Ekspresi Tuan Besar semakin suram dan menatap Yu'er dalam-dalam.


Barulah sekarang ia menyadari ternyata Yu'er sangat mirip dengan Mendiang Istrinya entah dari segi penampilan ataupun dari sifatnya yang dingin dan menyendiri.


Sedangkan bagaimana reaksi Selir Mo dan kedua Puterinya, tentu saja mereka sangat marah. Tapi karena kehadiran Tuan Besar, mereka tidak berani menunjukkannya.


'Selir dan Puteri Selir.' Kata ini adalah duri yang tidak berani mereka sentuh selama bertahun-tahun. Ketika disentuh lagi, batin mereka sangat sakit hingga rasanya mereka ingin mati dan membebaskan duri ini.


Bahkan ada beberapa kali mereka bermimpi telah melepas status ini. Tetapi tetap saja itu hanyalah mimpi yang tidak bisa mereka wujudkan.


"Jiang Xingyu, kau..." Jiang Linyao sangat marah hingga rasanya paru-parunya akan meledak.


"Kenapa aku? apa kata-kataku salah?" Jiang Xingyu menyela. Sebelum Jiang Linyao bereaksi, ia bertanya lagi namun kali ini pertanyaannya ditujukan pada Selir Mo. "Selir Mo, bagaimana menurutmu? apakah kata-kataku benar atau salah?"


Jiang Xingyu tersenyum dan berkata. "Jika Selir Mo tahu benar, mengapa masih melanggarnya?! Meskipun kau bertanggung jawab atas urusan Kediaman, tapi identitasmu masih seorang Selir yang tidak bisa diubah begitu saja. Seorang Selir yang tidak memenuhi syarat tinggal di Halaman Utama."


Kalimatnya sekali lagi berhasil membuat Selir Mo dan kedua Puterinya berdebar-debar karena amarah.


"Jiang Xingyu, apa yang kau bicarakan?! Ibuku adalah Nyonya Kediaman ini!" Yang lain belum berbicara dan Jiang Linyao sudah mulai berteriak lagi.


Jika bukan karena situasinya tidak pas, Jiang Xingyu pasti sudah memberikan pujian besar pada kebodohan Jiang Linyao. Temperamen yang selalu memikirkan dirinya sendiri dan tidak pernah memperdulikan pemikiran orang lain.


'BRAK!' Suara gebrakan meja terdengar kedua kalinya. Kali ini berasal dari arah Tuan Besar.


"Sialan!" Suara umpatannya terdengar sangat keras dan penuh amarah.

__ADS_1


Namun tidak ada yang tahu apakah umpatannya ditujukan pada Jiang Xingyu atau Jiang Linyao. Tapi tidak disangkal kedua Puterinya membuatnya sangat marah.


Pertama-tama Tuan Besar menatap Jiang Linyao dengan mata peringatan. Kemudian beralih menatap Jiang Xingyu dan kemarahan dalam suaranya tidak bisa disembunyikan. "Yu'er, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?!"


"Apa yang ingin kukatakan tidak penting. Yang terpenting Ayah tahu apa yang kuinginkan bukan?" Jiang Xingyu menutup telinga terhadap kemarahan Ayahnya.


"Kau..." Tuan Besar semakin marah. Ia tidak pernah menyangka Yu'er begitu berani membantahnya.


Ia mengambil nafas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya. Kemudian dengan tegas berkata. "Selir Mo, dalam waktu tiga hari, kau dan kedua Puterimu kembalilah ke Halaman Selatan."


"Ya, Tuan." Ucap Selir Mo. Ia yakin Tuan Besar memiliki rencananya sendiri. Lagipula ia tidak bisa menentang masalah ini.


Jiang Linxin mengerti situasinya tidak baik dan hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju.


Tetapi bagaimana mungkin Jiang Linyao mengerti? begitu mendengar keputusan Ayahnya, temperamen buruknya meledak lagi. "Tidak! Aku tidak ingin pindah dari Halaman Timur!"


"Diam! Kau tidak berhak berbicara disini apalagi menyatakan keberatan!" Tuan Besar berteriak memarahi Puteri Ketiganya yang sangat keras kepala.


"Aku..." Jiang Linyao terkejut dan hatinya sangat tidak mau. Tapi karena takut pada Ayahnya, ia menutup mulutnya lagi. Kini tatapan ganasnya menatap Jiang Xingyu.


Setelah memarahi Puteri ketiganya, Tuan Besar kembali menatap Puteri pertamanya. Tatapannya begitu dalam dan bertanya dengan amarah tertahan. "Apa kau puas sekarang?"


Pertanyaan ini membuat Jiang Xingyu merasa konyol. "Ayah melakukannya untukku, tentu saja aku sangat puas. Namun jika Ayah tidak rela, maka lupakan saja. Aku akan memilih tempat tinggal yang lain."


Kata-kata ini seketika menusuk kemarahan Tuan Besar lagi. Merasa sedang dipermainkan, amarah yang tertahan dihatinya akhirnya meledak. "Yu'er, apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan? apa kau ingin membuat Ayahmu mati karena amarah?"


.


.

__ADS_1


______Happy Reading_____


__ADS_2