-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
099 - Memuja Guru


__ADS_3

Jiang Xingyu memasang ekspresi malu karena seseorang yang menyelamatkannya merupakan "Peramal Dewa" yang Ia temui di Kuil Yun saat mencari Bibi Rong.


Menyaksikan yang baru saja terjadi, sekarang Ia percaya kalau Pendeta ini memang memiliki kemampuan.


"Hei Nona, bagaimana? keren kan?" Pendeta Tao menyeringai seperti sedang mengejek.


Walaupun Jiang Xingyu sangat malu, Ia harus mengakui kalau penampilan Pendeta Tao saat melawan Roh Jahat memang benar-benar keren. Jadi Ia mengangguk tanpa ragu.


"Huh! Sudah kukatakan kalau kau akan mengalami bencana berdarah. Bukannya berdiam di Rumah, kau justru pergi ketempat seperti ini." Pendeta Tao bersenandung bangga sekaligus merasa khawatir.


"Aku..." Jiang Xingyu ingin mengatakan sesuatu, hanya setelah satu kata terucap, Ia disela oleh sebuah suara yang berkata. "Seseorang akan datang!" Pada saat yang sama Ia merasa lengannya dipegang dan tanpa menunggunya bereaksi, seluruh tubuhnya bergetar dan melayang.


Pada saat keduanya menghilang, Yuwen Junxiu tiba dengan wajah muramnya.


Di tempat lain, Jiang Xingyu tidak tahu dimana dirinya berada. Hanya terus menerus muntah sambil memegangi Pohon liar.


Awalnya perutnya sudah mual akibat bau busuk Roh Jahat. Kemudian lengannya digenggam erat dan seluruh tubuhnya melayang tanpa pemberitahuan.


"Tsk Tusk! Terlalu lemah! Kau muntah hingga seperti ini hanya setelah berteleportasi." Pendeta Tao berdiri membelakangi sambil bersenandung meremehkan.


"Kau... Hoekk!" Jiang Xingyu muntah lagi sebelum akan membantah.


"Mata Hantu dan Artefak Ilahi, Nona, kupikir kau memiliki bakat yang bagus, ternyata hanya begitu saja. Tapi jika kau memujaku sebagai Gurumu, aku akan mengajarimu tentang bagaimana melawan Roh Jahat." Ucap Pendeta Tao tanpa malu-malu.


Mendengar Pendeta Tao menyebutkan dua rahasianya, Jiang Xingyu sontak terkejut dan hampir akan menelan kembali muntahan yang baru tiba diujung bibirnya.


Keterkejutannya berkurang setelah menyadari kalau Pendeta Tao mengetahui rahasianya, itu karena sebelumnya ia bisa melihat Roh Jahat dan bertarung menggunakan Belati Naga.


Roh Jahat yang mana Manusia tanpa keahlian khusus tidak akan bisa melihatnya.


Namun mengenai memuja seorang Guru...


"Aku tidak tertarik!" Jawabnya setelah beberapa kali muntah.

__ADS_1


"Tidak tertarik?" Pendeta Tao tidak mengharapkan langsung ditolak. Tapi Ia tidak berkecil hati dan dengan percaya diri berkata. "Apakah kau tidak khawatir akan bertemu dengan Roh Jahat tingkat tinggi? kau memiliki tubuh Yin murni lima elemen yang mana dapat menarik nafsu makan Roh Jahat. Dengan kemampuanmu saat ini, kau akan mati dalam menghadapi Roh Jahat tingkat rendah. Atau apakah kau ingin mati seperti Wanita tadi?"


Jiang Xingyu tertegun. Ya benar! Baru saja Roh Jahat level rendah hampir membunuhnya. Bagaimana jika ia benar-benar bertemu dengan Roh Jahat level tinggi? walaupun ia sudah berlatih keras dan membuat kemajuan besar dalam kekuatannya, tapi nyatanya masih sangat lemah.


Melihat ekspresi keraguannya, Pendeta Tao terus menggodanya. "Selain itu jika kau memujaku sebagai Gurumu, aku bisa mentransmisikan kekuatan Internalku padamu dan meningkatkan kekuatanmu dengan cepat. Juga, aku akan memberikan Kuas ini sebagai hadiah."


"Kuas ajaib yang sangat hebat, apa kau yakin akan memberikannya padaku sebagai hadiah? dan apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan Roh Jahat?" tanya Jiang Xingyu.


"Kalau kau jadi Muridku, apa aku tidak boleh memberikan hadiah? lagipula aku bisa menggambar jimat di kertas kuning terlebih dahulu, lalu menyimpannya." Pendeta Tao tidak menyesal tentang masalah memberikan hartanya.


Bukannya ia tidak menyesal, hanya saja ia jarang bertemu dengan seseorang yang memiliki bakat berburu Hantu, jadi ia tidak ingin melepaskannya begitu saja. Lagipula usianya sudah tua dan sudah waktunya baginya untuk menemukan seorang Murid.


Mengenai retorika Pendeta Tao, Jiang Xingyu mempercayainya, tetapi. "Apakah tidak ada syarat tambahan?"


"Ada! Tapi itu bukan syarat. Jika kau bertemu dengan Roh yang baik, kau harus membantunya memasuki jalur reinkarnasi. Namun jika kau bertemu dengan Roh Jahat seperti tadi, kau harus menghancurkannya tanpa sisa." Kata Pendeta Tao serius.


Jiang Xingyu berpikir sejenak, berpikir hal ini bukan masalah besar dan tidak ada yang tidak bisa diterima, ia pun memutuskan. "Baiklah!"


Melihat Pendeta Tao tertawa seperti anak kecil, Jiang Xingyu memutar matanya dalam diam lalu bertanya. "Lalu apa selanjutnya? apakah ada proses untuk menjadi Muridmu?"


"Ya ya ada! Kau ikut denganku dulu." Pendeta Tao merasa malu saat diingatkan. Setelah berbicara ia berbalik dan berjalan lebih dulu.


Pada saat inilah Jiang Xingyu menyadari keadaan disekitarnya.


Sebuah Halaman yang tidak besar dan tidak kecil, namun sangat elegan. Terutama bunga dan tanaman di pekarangan yang dijaga kebersihannya.


Ia mengikuti Pendeta Tao ke sebuah Ruangan, kemudian Pendeta Tao duduk dan menunjuk kemeja disampingnya sembari berkata. "Saat seorang Murid memuja seorang Guru, prosesnya secara alami sangat diperlukan. Sekarang yang harus kau lakukan adalah menyajikan teh sebagai tanda hormat."


Jiang Xingyu menganggukkan kepalanya, berjalan kearah meja, menuangkan secangkir teh lalu kembali berjalan kehadapan Pendeta Tao, berlutut dan menyerahkan teh disertai posisi kepala sedikit tertunduk. "Guru, tolong Terima salam hormat Murid Jiang Xingyu. Guru, silahkan minum teh." Ucapnya dengan serius.


"Ya!" Pendeta Tao mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir teh. Pada saat yang sama ia melihat Cincin berwarna merah dijari Murid barunya. Pandangannya berubah ngeri dan dengan penuh semangat bertanya. "Gadis, Cincinmu ini..."


Jiang Xingyu tertegun. Mungkinkah Pendeta Tao mengetahui sesuatu tentang Cincinnya? dengan pikiran ini tanpa sadar ia panik dan segera menarik tangannya. Merasa tindakannya terlalu berlebihan, ia berpura-pura bingung lalu bertanya. "Ada apa dengan Cincinku?"

__ADS_1


Meskipun ia tidak tahu Cincin apakah miliknya dan untuk apa digunakan, ia tidak bisa melepaskannya dan hanya bisa terus mengenakannya. Mungkin ada rahasia lain yang tidak ia ketahui.


Pendeta Tao bisa melihat ketegangan dibalik ekspresi Muridnya, namun ia tidak memberitahunya dan hanya berkata. "Cincinmu merupakan suatu benda yang luar biasa. Kau harus melindunginya dengan baik. Jika waktunya sudah tiba kau akan mengetahuinya."


Selanjutnya Pendeta Tao tidak segera membiarkan Muridnya berdiri, sebaliknya mengeluarkan Kuas Emas miliknya sambil berkata. "Ini bukan Kuas biasa, jadi kau perlu meneteskan darahmu agas Kuas ini mengenalimu sebagai Tuannya. Lakukan sekarang."


"Ya!" Jiang Xingyu tidak meragukannya dan langsung mengigit ujung jarinya kemudian meneteskan darahnya pada Gagang Kuas.


Setelah darah menetes mengaliri seluruh Gagang Kuas, Kuas memancarkan cahaya keemasan namun cepat menghilang setelah beberapa detik.


Kemudian Jiang Xingyu benar-benar merasakan keberadaan serta makna Kuas Emas. Segera setelah pikirannya bergerak, Kuas terbang dari tangan Gurunya menuju ke tangannya.


Melihat adegan ini membuat Pendeta Tao berdecak marah. "Kau Gadis, sepertinya kau tidak terlalu menghormati Gurumu. Kau merebut Kuas tanpa mengucapkan sepatah katapun."


"Aku tidak merebut. Kuas ini sudah menjadi milikku." Balas Jiang Xingyu.


Pendeta Tao tersedak tapi tidak bisa membantah.


"Aku bahkan belum tau siapa nama Guru." Jiang Xingyu menyadari ada pertanyaan yang terlewatkan.


"Akhirnya kau bertanya juga. Gadis, ingatlah baik-baik, nama Gurumu Wei Guang." Kata Pendeta Tao sambil tersenyum.


Setelah itu Pendeta Tao mentransmisikan kekuatan Internalnya pada Muridnya. Jiang Xingyu duduk bersila di lantai dengan tangan tergantung dikedua lututnya. Kemudian mengosongkan pikirannya dan tenggelam kedalam lautan Dantiannya.


Dengan kedua telapak tangan Pendeta Tao di punggungnya, Jiang Xingyu merasakan Qi hangat menyebar di tubuhnya. Melewati bertahap saluran meridian kemudian menuju ke Dantiannya.


Lambat laun perut bagian bawahnya mulai menjadi panas dan terasa seperti dikukus.


.


.


______Happy Reading______

__ADS_1


__ADS_2