
"Makanan sudah siap. Mari duduk bersama dan mulai makan malam." Selir Mo ingin mengakhiri masalah ini.
Semua orang mengangguk setuju. Tujuan mereka datang ke Aula Samping memang untuk makan malam, bukan untuk mendengarkan pertengkaran.
"Apa yang kau lakukan dengan masih berdiri disana?!" Tuan Besar mengerutkan keningnya melihat Puteri pertamanya masih tetap berdiri.
"Beberapa hari yang lalu aku mengingatkan Selir Mo untuk tidak berada dalam posisi yang salah. Tapi sekarang..." Ucapan Jiang Xingyu berhenti, tapi semua orang memahaminya dengan jelas.
Melihat Tuan Besar tidak bereaksi, Selir Mo menghela nafas lega. "Selir lupa. Mohon Nona Sulung jangan marah. Selir akan pindah sekarang."
Kemudian Ia mengintruksikan Pelayan untuk mengambil kursi lagi.
"Jiang Xingyu, mengapa kau membiarkan Ibuku berganti tempat duduk?!" Jiang Linyao berteriak.
"Yao'er, diamlah!" Selir Mo buru-buru menghentikannya, lalu menatap Jiang Xingyu dan berkata dengan kerendahan hati. "Yao'er mengatakan omong-kosong, mohon Nona jangan memasukkannya kedalam hati."
"Ibu, yang kukatakan tidak salah. Mengapa kau menundukkan kepalamu padanya?" Jiang Linyao justru semakin marah.
"Yao'er!" Selir Mo sekali lagi berteriak. Kali ini tatapannya semakin tajam.
"Kenapa katamu? apa jangan-jangan kau memang tak berotak? tidak mengetahui peraturan? jika begitu aku akan memberitahumu. Alasannya karena Ibumu seharusnya tidak duduk diposisi itu. Kau juga sama. Kau dan Ibumu seharusnya duduk diposisi yang sesuai dengan identitas kalian." Jiang Xingyu berkata seperti Senior yang sedang mengajari Junior yang tidak patuh.
Lalu berpura-pura berkata serius. "Tata krama Saudari Kedua sangat buruk, sombong, dan susah diatur. Bahkan didalam Kediaman sering menyebabkan masalah besar. Bagaimana jika di Festival Peony nanti bukannya meninggalkan kesan yang baik, tapi justru menyinggung para Bangsawan? ckckck benar-benar sesuatu yang sulit."
Tuan Besar tentu tahu bahwa sifat Puteri ketiganya susah diatur. Hanya saja Ia tidak menyangka telah mencapai tahap seburuk ini.
__ADS_1
"Aku..." Amarah Jiang Linyao hampir meledak lagi. Hanya setelah mengucapkan sepatah kata, lengannya ditarik oleh Saudarinya.
Pada saat yang sama karena takut Puterinya akan mendapatkan masalah lagi, Selir Mo berkata. "Nona tidak perlu khawatir, Selir akan mengajari Yao'er dengan baik dan tidak akan membiarkannya melakukan kesalahan di Festival Peony nanti."
Kemudian Ia dengan tegas berkata. "Yao'er, ayo pindah."
"Ibu..." Jiang Linyao masih tidak mau.
"Saudari ketiga harus ingat, meskipun Selir Mo adalah Ibu kandungmu, statusnya hanyalah seorang Selir. Kau harus memanggilnya dengan panggilan yang pantas. Jika tidak, orang lain akan berpikir Kediaman kita tidak menaati peraturan." Jiang Xingyu mengingatkan dengan ramah.
"Kau..." Jiang Linyao sangat ingin menelannya hidup-hidup.
Tapi sebelum mengucapkan sesuatu, Selir Mo buru-buru menyela. "Yao'er, apa kau tidak mendengar ucapanku? cepat pindah sekarang!"
Sekarang posisi dikedua sisi Tuan Besar dikosongkan, Jiang Xingyu berjalan menuju posisi sebelah kiri.
Secara alami semua Pelayan yang berada diluar mendengar apa yang terjadi didalam Aula.
Awalnya Bibi Rong sangat mengkhawatirkan Nonanya. Namun sekarang Ia sangat mengaguminya.
Apa yang dikatakan Nonanya benar. Selama cukup kuat, mereka tidak perlu takut pada siapapun dan tidak perlu menundukkan kepala.
Makan malam telah dimulai, tapi sebagian orang telah kehilangan selera. Sebagian lainnya makan dengan lahap layaknya tidak pernah terjadi sesuatu.
"Aku sudah kenyang dan akan kembali dulu." Jiang Linyao meletakkan sumpitnya. Tanpa menunggu persetujuan Ayahnya, Ia beranjak pergi meninggalkan Aula.
__ADS_1
"Ini..." Selir Mo melirik Tuan Besar dengan gugup.
Sebenarnya Ia juga ingin seperti Puterinya, meletakkan sumpitnya dan pergi. Namun sayangnya Ia tidak memiliki keberanian itu. Walaupun nafsu makannya menghilang, Ia hanya bisa bertahan dan mencoba mengunyah makanannya.
Ketika makan malam hampir selesai, Jiang Xingyu bangun lebih dulu dan berpamitan. "Ayah, aku akan kembali dulu."
Setelah mendapat persetujuan, Ia pergi tanpa menoleh pada yang lain.
Melihat Nonanya sudah keluar, Bibi Rong menyapanya sambil tersenyum bangga. "Nona..."
Jiang Xingyu berhenti sejenak, lalu melangkahkan kakinya kembali ke Paviliun Weiyang.
Barulah saat hendak masuk, Ia berbalik dan berkata. "Aku sudah makan. Bibi juga pergilah makan. Ingatlah! Jika ada Pelayan bodoh yang berani mengganggu Bibi, Bibi jangan mengalah dan berilah pelajaran yang setimpal."
"Bibi mengerti. Nona masuklah, jangan sampai masuk angin." Bibi Rong menjawabnya dengan hati yang hangat. Lalu pergi kearah Aula makan yang dikhususkan untuk Pelayan.
Melihat sosok Bibi Rong berjalan pergi, Jiang Xingyu tiba-tiba mengingat sesuatu. Pakaian Bibi Rong sudah tidak layak pakai. Bahkan dirinya, menghitung pakaian merahnya, pakaian yang dikenakan ke Istana, pakaian yang kini dipakainya serta jubah Pria, Ia hanya memiliki empat pakaian saja.
Sekarang Ia memiliki uang, sudah waktunya membeli pakaian baru untuk dirinya dan Bibi Rong, tidak perlu berhemat seperti dulu.
.
.
_____Happy Reading_____
__ADS_1