
"Nu-Nubi mengaku salah. Nubi yang sudah merusak pakaian Nona Sulung." Akhirnya kalimat pengakuan keluar dari mulut Ying Er, membuat Selir Mo dan Bibi He menghela nafas lega.
Tapi, apakah masalah akan selesai setelah pengakuan Ying Er?
Tentu saja tidak!
Bagaimana mungkin Jiang Xingyu menyudahinya begitu saja?
"Oh! Kau mengaku bersalah? lalu katakan padaku mengapa kau melakukannya? apa karena kau membenciku? kau mengabaikan keselamatan Keluargamu lalu menjebakku?" dengan senyum samar Jiang Xingyu menanyakan beruntun pertanyaan pada Ying Er.
Selir Mo dan Bibi He gelisah. Mereka berharap Ying Er lebih pintar dan mengakui dengan tegas. Tak luput mereka memberinya tatapan mengancam.
"Aku..." Wajah Ying Er sangat pucat.
"Cukup! Karena Pelayan ini sudah mengakuinya, masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi. Pengawal, seret Pelayan ini keluar dan beri hukuman 20 papan, lalu usir dari Kediaman." Perintah Tuan Besar tidak sabar.
Wajah Ying Er pucat pasi. Hukuman 20 papan walaupun tidak terlalu fatal, tapi tubuhnya yang lemah tidak akan bisa menanggungnya.
Dua Pengawal tiba-tiba muncul. Namun sebelum menjalankan perintah, suara Jiang Xingyu terdengar lagi. "Tunggu!"
"Apalagi yang membuatmu tidak puas?" wajah tidak sabar Tuan Besar semakin suram.
"Ayah, laksanakan hukumannya disini saja. Panggil lebih banyak Pelayan karena Bibi He akan dihukum juga. Hukuman ini akan menjadi contoh bagi Pelayan lainnya agar tidak melewati batas." Ucap Jiang Xingyu dengan sikap tenang.
Ucapannya mengejutkan semua orang. Mereka tidak mengerti mengapa Bibi He juga dihukum.
"Mengapa Bibi He juga dihukum?" tanya Selir Mo terdengar penuh amarah.
"Cih! Kenapa?" Jiang Xingyu mendecik dan kalimat cibiran keluar dari mulutnya. "Karena Bibi He menganggap dirinya sendiri sangat agung dan mengataiku sebagai ****** kecil. Bahkan juga mengancam akan memberiku pelajaran. Jika aku seorang ****** kecil, bukankah berarti Ayahku seorang ****** tua? Selir Mo, katakan padaku, apakah alasan ini cukup untuk menghukum Bibi He?"
Suaranya tidak terburu-buru. Namun saat kalimatnya selesai, wajah semua orang berubah ngeri, terutama Tuan Besar.
"Tuan, Nu-Nubi tidak bersalah. Nubi tidak pernah mengatai Nona Sulung apalagi mengatai Anda." Bibi He buru-buru meneriakkan ketidakadilan.
"Tidak bersalah?! Jadi maksudmu aku berbohong lalu menamparmu tanpa sebab?" tanya Jiang Xingyu, aura dingin menguasai kedua matanya dan mengungkapkan momentum dominan.
Tanpa sadar seluruh tubuh Bibi He bergetar. Ia belum pernah melihat tatapan yang begitu menakutkan seperti itu. Kali ini ia sangat ketakutan dan jantungnya berdetak semakin kencang.
"Aku..." Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata yang ingin diucapkannya tertahan ditenggorokannya.
__ADS_1
"Sialan!" Umpat Tuan Besar. Sekarang ia percaya pada Puterinya.
Bibi He semakin ketakutan, bersujud, tidak berani menyangkalnya lagi dan mengakui kesalahannya. Suaranya terdengar sayu bercampur isakan tangis. "Tolong ampuni Nubi, Tuan. Nubi bersalah. Nubi berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
"Bukankah sebelumnya kau masih menyangkalnya dengan tegas? lalu mengapa kau mengakuinya sekarang? apa kau sedang mempermainkanku?" wajah Tuan Besar merah padam karena amarah yang membara.
"Tuan..." Selir Mo segera bereaksi dan ingin memohon.
Tapi sebelum itu Tuan Besar menyelanya." Tutup mulutmu! Jika kau masih membela Pelayan keras kepala ini, jangan salahkan aku karena menghukummu juga!"
Jiang Xingyu tidak mengatakan apapun dan hanya menyaksikannya dengan tangan dibelakang punggungnya.
Seakan takut Selir Mo mengatakan sesuatu yang akan membuat Tuan Besar semakin marah, Bibi He buru-buru berkata. "Ini semua salah Nubi. Nubi bersedia menerima hukumannya."
"Bibi..." Ucap Selir Mo tanpa sadar. Kedua matanya di penuhi kekhawatiran. Namun akhirnya ia tidak mengatakan apapun.
"Pengawal, hukum Pelayan ini dengan 20 papan." Perintah Tuan Besar.
Segera, dua Pengawal membantu Bibi He dan Ying Er berdiri. Kemudian membaringkannya dikursi kayu yang sudah disiapkan dan dua Algojo sudah siap lengkap dengan senjatanya masing-masing yang berupa papan kayu setebal lengan Bocah berusia 5 tahun.
Tubuh Bibi He dan Ying Er terus bergetar. Keduanya sangat ketakutan namun tidak berani memohon belas kasihan.
Setelahnya suara 'Pa Pa Pa Pa' terus terdengar diiringi suara ratapan menyedihkan.
Tidak butuh waktu lama, masing-masing hukuman 20 papan akhirnya selesai. Kini Bibi He dan Ying Er sudah tidak sadarkan diri.
Terutama Ying Er. Jika tidak lekas diobati, kemungkinan besar tubuhnya tidak akan bertahan dan dia akan segera meninggal.
Walaupun kini Ying Er diusir dari Kediaman, tapi bukan berarti dia ditinggalkan begitu saja ataupun tidak bisa diobati. Oleh karena itu sebelum hukuman dimulai, Tuan Besar sudah mengirim seseorang untuk memberitahu Keluarganya.
Kini Ibunya tiba bersamaan dengan selesainya hukuman.
Ibu Ying Er adalah pekerja kasar yang bekerja dibagian dapur Kediaman. Dia berada di Kediaman jauh sebelum melahirkan Ying Er. Sedangkan Ayahnya sebelumnya merupakan juru tulis Kediaman dan sudah meninggal 10 tahun yang lalu.
Batin Ibu Ying Er sangat terluka ketika melihat kondisi Puterinya. Sebelumnya ia sudah diberitahu kalau Puterinya melakukan kesalahan dan dihukum sebagai akibatnya.
Walaupun yakin Puterinya tidak melakukan kesalahan dan mungkin hanya difitnah, Ibu Ying Er tidak meminta keadilan ataupun sebagainya, ia hanya membawa Puterinya dalam diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Mungkin inilah yang terbaik untuk Puterinya. Setidaknya Puterinya tidak perlu menjadi Pelayan lagi dan hidupnya akan bebas.
Bibi He juga dibawa pergi oleh Pelayan Selir Mo.
__ADS_1
Selir Mo tidak ingin tinggal lebih lama lagi. Sebelum berbalik pergi, ia menatap Jiang Xingyu dengan mata tajam penuh kebencian.
Pada saat yang sama suara Jiang Xingyu terdengar lagi dan membuat Selir Mo hampir gila.
"Selir Mo, jangan lupakan 850 Koin Perak milikku. Setelah kembali dari Istana, tolong segera antarkan padaku." Senyum Jiang Xingyu merekah.
Namun Selir Mo merasa senyum itu hanya untuk memprovokasinya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menahan amarahnya. "Nona tenanglah. Setelah Nona kembali dari Istana, Selir akan mengantarnya secara pribadi ke Paviliun Weiyang."
"Untuk apa masih linglung disini?! Cepat pergi dan bawakan pakaian yang lain. Kali aku harus memeriksanya sendiri." Bentak Tuan Besar pada Selir Mo yang sedang linglung.
Selir Mo terperanjat kaget. Walaupun hatinya tidak terima, ia tetap patuh dan tidak berani mengucapkan omong kosong lagi. "Ya. Selir akan mengambilnya sekarang."
Begitu berbalik ia melihat kedatangan Puteri pertamanya diikuti oleh dua Pelayan dibelakangnya. Salah satu Pelayan memegang nampan dengan kain terlipat rapi diatasnya. Tidak perlu menebak, ia tahu itu adalah pakaian.
"Lin'er memberi salam pada Ayah." Jiang Linxin berjalan ke arah Ayahnya dan memberi salam.
"Ya." Respon Tuan Besar tidak peduli dan sepertinya kemarahannya belum mereda.
Jiang Linxin tidak keberatan. Ia menoleh pada Ibunya sambil berkata. "Lin'er membawa pakaian lain. Ibu Selir tidak perlu mengambilnya lagi."
Selir Mo tersenyum dan mengangguk. Ia senang karena Puterinya muncul disaat yang tepat.
Jiang Linxin mengalihkan pandangannya pada Jiang Xingyu dan meminta maaf. "Semalam Ibu Selir datang padaku dan bertanya apakah aku memiliki pakaian baru yang layak. Aku mencarinya di lemariku namun tidak menemukan satupun pakaian baru yang layak. Kemudian aku meminta Ibu Selir untuk bertanya pada Yao'er karena mungkin saja Yao'er memilikinya. Dan..."
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Jiang Xingyu mengernyitkan alisnya dan menyelanya.
Jiang Linxin tertegun sejenak, kemudian dengan sabar melanjutkan. "Maksudku, setelah mendengar keributan tentang pakaian rusak, Pelayanku tiba-tiba mengingat kalau beberapa waktu yang lalu aku membeli pakaian baru menggunakan uang pribadiku. Hanya saja aku lupa pernah membelinya. Sekarang aku membawa pakaiannya untuk Saudari tertua. Semoga Saudari tertua menyukainya."
Sebelum Jiang Xingyu menanggapi, Tuan Besar lebih dulu berkata. "Tidak perlu memperdulikan suka atau tidak. Yu'er, cepatlah masuk dan ganti pakaianmu. Jika menundanya lagi, kita akan benar-benar terlambat."
"Baiklah, Ayah." Ucapnya sekilas kemudian pandangannya teralih pada Jiang Linxin. "Saudari pertama, terima kasih atas pakaian ini." Ucap Jiang Xingyu dengan senyum tipis, mengambil pakaian tersebut lalu berjalan masuk ke Paviliunnya.
Melihat kesempatan tiba, Selir Mo buru-buru pergi karena sangat mengkhawatirkan luka Bibi He.
.
.
_____Happy Reading_____
__ADS_1