
"Jiang Xingyu, kau sendiri yang memintanya!" Kali ini Jiang Linyao benar-benar marah dan secara naluriah tangannya menyentuh pinggangnya.
Ia semakin marah ketika menyadari tidak membawa cambuknya. Ketika melihat batu kerikil di tanah, Ia segera mengambil dan melemparkannya.
Bibi Rong tanpa sadar ingin membantu Nonanya menyingkirkan batu itu, tapi berhenti setelah melihat. isyarat Nonanya.
Adapun batu kerikil yang akan mengenainya, Jiang Xingyu menghindar kesamping, memutar kaki kanannya dan menendang batu dengan akurat.
Sebagai hasilnya batu itu segera kembali dengan cara yang sama.
Gerakannya yang begitu elegan membangkitkan seruan kekaguman para Pelayan yang sengaja menghentikan tugasnya.
Sejujurnya Jiang Xingyu tidak bermaksud demikian. Ia menggunakan kakinya untuk melawan karena lengannya sedang cedera dan tidak nyaman melakukan gerakan yang disertai kekuatan internal.
"Ah..."
Batu kerikil memantul kembali dengan cara yang sama, secara kebetulan mengenai dahi bagian kiri Jiang Linyao dan itu menyebabkan teriakan yang bergema di Taman Belakang.
Walaupun mengenai dahinya, tapi tidak menimbulkan pendarahan dan hanya memar membiru.
"Nona..." Ming Er segera menghampiri.
"Ming Er, coba lihat bagaimana dahiku, apakah parah? apakah akan cacat?" Jiang Linyao bertanya dengan panik.
"Nona jangan khawatir, walaupun lukanya memar tapi tidak ada pendarahan. Bengkak dan memarnya akan sembuh dalam beberapa hari, selain itu tidak akan meninggalkan bekas." Ming Er buru-buru menghibur.
Jiang Linyao menghela nafas lega.
Ketika menyadari siapa pelakunya, wajahnya berubah ganas. "Jiang Xingyu, beraninya kau melukaiku! Lihat bagaimana aku membereskanmu."
Setelah itu Ia mendekat dan mengangkat tangannya guna menyerang balik.
Sikap Jiang Xingyu dan Bibi Rong sangat tenang. Keduanya tidak sekalipun menganggap Jiang Linyao sebagai lawan.
__ADS_1
Sedangkan disisi sana para Pelayan justru mengucurkan keringat mereka untuk Nona Sulung karena takut Nona Ketiga benar-benar akan menyakitinya.
Tapi di detik berikutnya kenyataan memberitahu bahwa kekhawatiran mereka tidak diperlukan.
Jiang Xingyu melambaikan tangan kanannya dan dengan mudahnya menghalangi tangan Jiang Linyao yang hendak menyerang wajahnya.
Tidak menyerah! Jiang Linyao mengangkat kakinya guna menyerang dengan tendangan tapi lagi-lagi dihentikan dengan tendangan yang sama.
Ketika hendak menyerang lagi, telinganya samar-samar mendengar jeritan kemarahan Ayahnya.
"Berhenti!" Suara kemarahan Tuan Besar terdengar tidak jauh.
Saat Jiang Linyao berteriak sebelumnya, orang-orang yang berada dalam jarak tertentu mendengarnya. Ada yang langsung menuju sumber suara karena penasaran dan ada juga yang pergi melapor pada Majikannya masing-masing.
Oleh karena itu Pelayan yang datang ke Taman Belakang semakin bertambah dan kini Tuan Besar, Selir Mo dan Selir Jing juga datang.
Tuan Besar sangat marah melihat kedua Puterinya berselisih lagi. Tidak perlu bertanya ataupun menebak, Ia tahu Puteri ketiganya yang pertama kali menyerang.
"Nona, Tuan ada disini." Ming Er buru-buru mengingatkan.
Namun karena terlalu marah, Jiang Linyao mengabaikannya.
Sedangkan Jiang Xingyu tidak berencana bermain lagi. Ketika Ayahnya serta yang lain mendekat, Ia segera mundur kebelakang.
Tapi sepertinya Jiang Linyao tidak berencana menyerah. Sebelum menyerang, suara kemarahan Ayahnya terdengar lagi.
"Hentikan!"
Suara Tuan Besar semakin keras dan itu sontak membuat Jiang Linyao terkejut.
Semua orang melihat memar yang membengkak di dahi bagian kirinya. Wajahnya yang cantik terlihat jelek dengan adanya memar ini.
"Yao'er, ada apa dengan dahimu? siapa yang melakukannya?" Selir Mo mendekati Puterinya.
__ADS_1
Secara alami Tuan Besar yakin memar tersebut pasti disebabkan oleh Puteri pertamanya. Sebelum mengatakan sesuatu, suara keluhan Puteri ketiganya terdengar lebih dulu. "Ayah, ini perbuatan Jiang Xingyu. Dia melukai wajahku karena tidak ingin aku menghadiri Festival Peony."
"Tuan, Anda harus memberi Yao'er keadilan." Selir Mo tentu tahu bahwa Puterinya yang salah.
"Tuan, itu tidak benar. Nona Ketiga yang lebih dulu melempar batu pada Nona Muda dan Nona Muda hanya menendang mengembalikannya, siapa sangka batunya akan mengenai dahi Nona Ketiga. Tuan, ini bukan salah Nona Muda." Bibi Rong tidak terima saat Nonanya disalahkan.
"Diam! Ketika Majikan sedang berbicara, Pelayan tidak memiliki hak untuk ikut campur! Apakah kau tidak mengetahui aturan ini?" Selir Mo membentak Bibi Rong.
Kemudian memandang Tuan Besar sambil berkata. "Walaupun Yao'er bersalah lebih dulu, tapi Yao'er yang sekarang terluka. Selir tidak bisa membiarkannya begitu saja."
"Selir Mo, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Jelas Nona Ketiga yang lebih dulu melempar batu pada Nona Sulung, jika tidak menendang batunya, maka Nona Sulung yang akan terluka. Jika demikian apa kau juga akan menuntut keadilan untuk Nona Sulung?" Selir Jing mencibir.
"Kau..." Jika memang demikian, secara alami Selir Mo tidak akan mempermasalahkannya.
Tentu ini hanya pikirannya yang tidak berani di ungkapkan. Sebaliknya Iq berteriak pada Selir Jing. "Perhatikan identitasmu! Tidak ada tempat bagimu untuk berbicara disini!"
"Yo! Ada apa dengan identitasku? bukankah sama sepertimu? sama-sama berstatus Selir? jika kau bersuara, mengapa aku tidak bisa?" Selir Jing justru sangat senang karena menemukan bahan untuk mengejek musuhnya.
"Kau..." Selir Mo benar-benar sangat marah. Didetik berikutnya tubuhnya bergetar dikala menyadari bahwa apa yang dikatakannya memang salah. Ia pun buru-buru mengganti topik. "Tuan, Festival Peony akan segera tiba. Tapi dengan adanya memar ini, Yao'er mungkin tidak akan bisa berpartisipasi."
"Ayah, Festival Peony kali ini sangat langka dan ini merupakan kesempatan bagiku untuk berpartisipasi. Tapi sekarang wajahku..." Jiang Linyao menimpali ucapan Ibunya.
"Selir Mo dan Nona Ketiga terlalu banyak berpikir. Festival Peony masih sebulan lagi. Sedangkan memar di wajah Nona Ketiga akan hilang dalam beberapa hari, jelas bukan masalah besar. Justru sebaliknya, masalah besarnya terletak pada seorang Puteri Selir yang secara terbuka menyerang Nona Sulung, jika sampai terdengar oleh Permaisuri, bukan hanya Nona Ketiga yang tidak dapat berpartisipasi, mungkin juga di cap buruk oleh Permaisuri. Kalian pasti tahu apa yang akan terjadi setelahnya." Selir Jing lagi-lagi menginjak luka yang tersimpan rapat di batin Selir Mo dan Puterinya.
"Jing Rong, kau..." Jantung Selir Mo berdegup kencang dan dengan gugup memandang Tuan Besar. "Tuan..."
Ia ingin menjelaskan, tapi entah mengapa kata yang ingin diucapkannya seketika menghilang begitu tiba diujung bibirnya.
.
.
____Happy Reading_____
__ADS_1