-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
122 - Terjadi Masalah Di Paviliun Yuyan


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" Selir Mo bertanya begitu memasuki Paviliun Yuyan.


Bahkan tanpa menunggu jawaban, Ia bergegas memasuki Kamar Puterinya. Diikuti oleh sejumlah Pelayan.


Segera! Semua orang ketakutan melihat pemandangan dari pintu masuk. Membuat para Pelayan yang pemalu, berteriak sambil berlari keluar.


Apa yang mereka lihat?


Di Kamar Nona Ketiga, ada seorang Pria yang terbaring di tempat tidur tanpa pakaian...


Tidak perlu menebak-nebak apa yang terjadi.


Seorang Pria lajang dan seorang Gadis muda tinggal di ruangan yang sama, tidak ada sesuatu lain yang terjadi selain sesuatu khusus tersebut.


Kondisi Jiang Linyao sangat menyedihkan. Dia ketakutan dan bersembunyi di sudut tempat tidur, dengan keadaan telanjang disertai wajah memucat.


Kepolosannya hancur! Bagaimana Dia akan menikah nanti?


Dan Pria itu, walaupun sudah bangun, kondisinya masih linglung hingga tidak bisa berpikir dengan jelas.


Apa yang terjadi? mengapa tubuhku terasa lemas?


Salah!...


Rasa sakit dibelakang kepalanya mengingatkannya pada apa yang terjadi semalam. Setelah memasuki Paviliun Weiyang, Ia tiba-tiba merasakan sakit dibelakang kepalanya. Dan sekarang Ia terbangun seperti ini...


"Yao'er..." Selir Mo hampir pingsan, untungnya Bibi He segera memapahnya.


Selir Mo tidak peduli, Ia bergegas menghampiri Pria itu dan ingin menghajarnya.


Tapi karena tubuhnya lemah, Ia bahkan tidak bisa menarik kaki Pria itu.


Bibi He segera maju untuk membantu. Menarik Pria itu dari tempat tidur lalu menggulingkannya ke lantai.


Pria itu berteriak kesakitan. Saat melihat tubuhnya telanjang, Ia buru-buru mengambil pakaiannya yang berserakahan di lantai guna menutupi tubuhnya.


Pada saat yang sama Jiang Linxin datang. Kebetulan melihat pemandangan ini, wajahnya memucat ketakutan.


"Yao'er..." Selir Mo mencoba memeluk Puterinya, berencana untuk menenangkannya.


Namun begitu tiba dihadapan Puterinya, Ia dibuat terkejut dikala Puterinya mencakar kedua pipinya.


"Pergi, jangan datang, jangan datang padaku..." Jiang Linyao seperti kehilangan akal sehatnya.


Merasakan goresan menyakitkan dikedua pipinya, Selir Mo tidak berani mendekat lagi, hanya memandang Puterinya dengan mata tertekan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" teriaknya.


Karena pikirannya sedang kacau, Ia tidak bisa berpikir dengan benar.


Sebaliknya sikap Bibi He lebih tenang. Mengapa Pria ini ada disini? Bukankah seharusnya ada di Paviliun Weiyang? Mungkinkah Nona Sulung yang melakukannya? tidak! Semalam Nona Sulung dan Bibi He tidur nyenyak karena dupa aromaterapi.

__ADS_1


"Pelayan, cepat tangkap Pemetik Bungan ini!" Perintah Jiang Linxin.


Para Pelayan bergegas maju untuk menangkap Pria itu. Mereka menaati perintah walaupun sebenarnya sangat malu menangkap seorang Pria telanjang.


Karena masih dalam kondisi lemah, Pria itu ditangkap tanpa perlawanan.


"Lepaskan, biarkan aku pergi..." Teriaknya.


"Kau Pemetik Bunga, aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu..." Selir Mo sangat marah dan melampiaskannya dengan menendang Pria itu.


"Selir, tolong tenang dulu." Bibi He mencoba menghentikannya.


Selir Mo tidak memiliki energi lagi hingga terjatuh ke pelukan Bibi He.


Pada saat ini Pelayan Wanita bergegas masuk untuk melapor. "Tuan dan Selir Jing ada disini."


"Apa?" semua orang terkejut.


Awalnya Jiang Linxin berencana membiarkan masalah ini berakhir. Karena tidak akan berakhir baik jika Ayahnya mengetahuinya.


Tapi sekarang Ayahnya sudah datang, tidak ada pilihan lain selain menghadapinya.


Bibi He menghampiri Pria itu dan mengancamnya. "Ingat! Jika Tuan bertanya, kau harus mengatakan kalau Nona Sulung yang menyewamu untuk menghancurkan kepolosan Nona Ketiga. Jika kau tidak mengatakannya, seluruh Keluargamu tidak akan selamat!"


Seluruh tubuh Pria itu gemetar. Meskipun ketakutan, Ia buru-buru mengangguk.


Selir Mo tidak keberatan dengan ucapan Bibi He, justru sangat senang! Tapi berbeda dengan Jiang Linxin yang merasa sedikit salah.


Masuk kedalam, Tuan Besar melihat seorang Pria di sudut ruangan yang tengah dikendalikan oleh para Pelayan, pakaiannya acak-acakan dan membuat Selir Jing ketakutan. "Ah! Kenapa ada Pria disini?"


Wajah Tuan Besar menunjukkan amarah berapi-api. "Selir Mo, jelaskan padaku apa yang terjadi?"


Selir Mo segera berkata membawa kerapuhan diwajahnya. "Tuan, tolong beri keadilan untuk Yao'er. Pemetik Bunga ini berani masuk ke Kamar Yao'er dan menghancurkan kepolosannya."


"Tidak tahu apakah Pria ini benar-benar Pemetik Bunga ataukah kekasih Nona Ketiga. Mungkin sebelumnya sudah direncanakan." Selir Jing mencibir.


"Diam!" Selir Mo naik darah. "Kau bilang Dia kekasih Yao'er? apa maksudmu? jangan merusak reputasi Puteriku!"


"Apakah sekarang Nona Ketiga punya reputasi?" balas Selir Jing.


"Kau..." Selir Mo tidak bisa membantahnya.


Jika benar Pemetik bunga, maka Puterinya adalah korban. Tetapi jika sepasang kekasih yang melakukan zina, maka Puterinya telah melakukan dosa besar.


Tentu saja Tuan Besar tidak bermaksud menyalahkan ucapan Selir Jing. Sebaliknya dengan marah bertanya pada Pria itu. "Katakan, apakah kau Pemetik bunga atau pezina?"


Pria itu tidak bisa menahan momentum Tuan Besar, mengeluarkan keringat dingin dan dengan tubuh gemetar menjawab. "Tidak. Aku bukan Pemetik bunga ataupun pezina, a-aku, Nona Jiang pertama menyewa saya untuk menghancurkan kepolosan Nona Jiang ketiga..."


"Apa?!" Tentu Tuan Besar sangat terkejut.


"Apa? Nona Sulung yang melakukannya? Dia, bagaimana Dia tega berbuat seperti ini? tidak peduli seberapa buruk temperamen Yao'er, Dia tetap Saudara perempuannya." Selir Mo langsung meyakinkan tuduhan tersebut.

__ADS_1


Jiang Linxin dan Bibi He bekerja sama dengan cara menyerukan seruan duka. Seperti sangat sedih atas kejadian ini.


Melihat penampilan mereka, membuat Selir Jing ingin bertepuk tangan. Hanya saja waktunya tidak tepat.


Tuan Besar memerintahkan. "Pelayan, panggil Nona Sulung."


Segera setelah Jiang Xingyu datang, ketika melihat pemandangan di dalam ruangan, Ia terkejut. "Apa yang terjadi disini?"


"Itu Kau! Mengapa kau ingin menyakiti Yao'er?" amarah Selir Mo meluap.


Ekspresi Jiang Xingyu berubah dingin. "Selir Mo, apa maksudmu? mengapa aku ingin menyakiti Jiang Linyao? jika kau tidak punya bukti, jangan meludah omong kosong."


"Kau masih berdalih? Pria ini sudah mengaku. Kau menyewanya untuk menghancurkan kepolosan Yao'er." Tegas Selir Mo.


Ekspresi Jiang Xingyu semakin dingin, cahaya dingin dimatanya melesat kearah Pria itu. Membuat Pria itu ketakutan hingga menundukkan kepalanya.


"Katamu, aku menyewamu untuk menghancurkan kepolosan Jiang Linyao?" suaranya sangat lembut, tapi terdengar seperti sambaran petir di telinga Pria itu.


"Ini, ini..." Pria itu ragu sesaat, ketika memikirkan keselamatan Keluarganya, Ia segera mengangguk. "Ya."


"Jiang Xingyu, apa yang ingin kau katakan?" Tuan Besar bertanya.


"Apalagi yang bisa Dia katakan? Dia menghancurkan kepolosan Yao'er. Dia harus menanggung konsekuensinya!" Selir Mo tidak ingin memberinya kesempatan untuk membela diri.


"Mengapa Selir Mo sangat cemas? bahkan jika Pria ini seorang Tahanan, aku masih memiliki kesempatan untuk bertanya." Jiang Xingyu mencibir.


"Kau..." Selir Mo ingin mengatakan sesuatu, tapi Tuan Besar menyela. "Diam! Biarkan Dia bicara."


Jiang Xingyu tersenyum, kemudian bertanya pada Pria itu. "Kau berkata aku yang menyewamu? lalu katakan padaku kapan dan dimana aku menemuimu? warna pakaian apa yang kukenakan hari itu? dan berapa banyak uang yang kuberikan padamu?"


"..." Pria itu ragu lagi. Lebih tepatnya takut akan mengatakan sesuatu yang salah.


Kemudian Ia mengarahkan pandangannya pada Wanita tertentu.


Jiang Xingyu tersenyum acuh. "Mengapa kau menatap Bibi He?"


"Sa-saya tidak." Pria itu menyangkalnya.


Sedangkan Bibi He berpura-pura tetap tenang.


"Baiklah, kau tidak. Sekarang jawab pertanyaanku!" Jiang Xingyu tidak meneruskannya.


"I-ini, saya tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Saya bertemu Nona Jiang pertama di sebuah Gang. Hari itu Nona mengenakan pakaian berwarna ungu dan memberikan sepuluh Koin Perak pada saya, meminta saya untuk menghancurkan kepolosan Nona Jiang Ketiga." Ucap Pria itu. Namun matanya mengelak menghindari tatapan Tuan Besar.


"Benarkah? apa kau yakin ucapanmu sudah benar?" Jiang Xingyu bertanya secara santai.


"Jiang Xingyu, apa maksudmu? jangan menyesatkan Pria itu. Aku tahu kau tidak akan mengakui perbuatan jahatmu." Selir Mo takut jika terus bertanya, Pria itu akan mengatakan yang sebenarnya.


.


.

__ADS_1


_____Happy Reading_____


__ADS_2