
Jiang Xingyu mengerutkan keningnya ketika memikirkan insiden-insiden yang terjadi setiap kali dirinya keluar. Kali ini jika bukan karena sesuatu yang penting, Ia benar-benar tidak ingin keluar.
Hanya saja keberuntungan dan kesialan tidak bisa dipilih, apalagi ditebak kapan datangnya.
Saat berjalan-jalan santai di Jalan ramai Ibukota, tiba-tiba sepotong kue jatuh dari udara dan secara kebetulan menimpa kepalanya.
Tidak sakit, tapi membuatnya sangat tidak nyaman. Terutama ketika melihat tempat dimana kue itu jatuh.
Rasa kesal muncul dihatinya dan dengan dorongan hati Ia mengambil kue yang jatuh di tanah lalu berjalan dengan langkah agresif menuju Kedai Teh.
Orang-orang yang berada disekitar mengeluarkan keringat dingin ketika melihat ekspresi menakutkan seorang Wanita yang begitu cantik. Mereka juga penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi, tapi mengurungkannya setelah memikirkannya lagi.
Setelah Jiang Xingyu tiba dilantai dua Kedai Teh, Ia mendengar suara yang cukup keras. Tidak salah lagi suara itu milik dua Wanita yang sedang bertengkar.
"Tempat duduk ini milikku! Selain aku, tidak ada yang boleh menempatinya!" Suara yang begitu mendominasi bergema dilantai dua Kedai Teh.
Saat ini Shu Yinxue meletakkan kedua tangannya di masing-masing pinggangnya. Sikapnya yang mendominasi terlihat seperti Preman jalanan.
Orang yang dihadapinya juga seorang Gadis Muda, berusia sekitar lima belas tahun, mengenakan Hanfu merah mempesona, rambutnya diikat tinggi dengan pita berwarna senada, fitur wajahnya sangat indah, namun keseluruhan penampilannya memiliki jejak berdebu.
Gadis itu kini menginjak kursi dengan kaki kanannya disertai kedua tangannya melingkari dadanya. Gerakannya tidak sopan tapi tidak membuat orang merasa tidak nyaman ketika memandangnya.
Dia mengangkat dagunya dengan bangga, sudut bibirnya sedikit terangkat memperlihatkan senyum provokasi.
Pada pandangan pertama sepertinya Gadis ini memiliki identitas luar biasa. Identitas yang pasti jauh lebih tinggi dari Shu Yinxue.
Mungkin karena takut pada identitas keduanya, para Pengunjung lainnya hanya duduk diam di kursinya masing-masing. Tidak ada yang berani maju walaupun hanya sekedar melerai.
Jiang Xingyu tidak peduli pada pertengkaran keduanya, karena yang Ia pedulikan hanyalah siapa yang melemparkan kue keluar jendela. Melihat posisi keduanya serta kue-kue yang berserakahan diatas meja, tidak perlu menebak pasti kuenya berasal dari sini.
__ADS_1
"Cih! Tempat ini milikmu? apakah namamu terukir disini? atau apakah Kedai Teh ini milik Keluargamu? bahkan jika memang milik Keluargamu, tempat ini dibuka untuk berbisnis. Tidak ada peraturan yang mengatakan tempat duduk ini hanya milik orang tertentu." Gadis itu mencibir.
"Jadi apa? jika aku mengatakan tempat ini milikku, berarti milikku! Apa yang akan kau lakukan?" Balas Shu Yinxue disertai amarah meledak-ledak.
"Apa kau pikir aku tidak akan melakukan sesuatu padamu? jika kau membuatku kehilangan kesabaran, aku akan menjatuhkanmu disini dengan cara yang paling buruk!" Ucap Gadis itu yang kesabarannya hampir terkuras habis.
Sejak kecil Shu Yinxue selalu menentangnya, selalu mencari masalah setiap kali bertemu. Ia bukan orang yang berhati sempit, namun jika ada yang terus-menerus mengganggunya, Ia tidak akan berdiam diri lagi.
"Ka-kau berani?" Suara Shu Yinxue terdengar gemetar.
Bukan ketakutan, sebaliknya dengan nada ancaman berkata "Murong Yanning, jika kau berani melukaiku, aku akan meminta Bibi Shu untuk melaporkannya pada Yang Mulia Kaisar. Setelahnya Yang Mulia pasti akan menghukummu!"
Murong Yanning, satu-satunya Puteri Dinasti Kekaisaran Ling Timur, lahir dari rahim seorang Wanita berstatus Permaisuri.
Shu Yinxue Puteri seorang Pejabat Istana, tapi sangat berani memprovokasi seorang Puteri suatu Negara. Bahkan berencana meminta Bibinya yang hanya berstatus Selir, melaporkan Puteri Yanning pada Kaisar.
Meminta Kaisar untuk menghukum Puteri semata wayangnya, bukankah teori ini sangat konyol? bahkan terlalu lucu jika dijadikan lelucon?
Suara dingin yang menarik perhatian semua orang.
Ketika semua orang melihat sang pemilik suara, mereka tidak bisa menahan keterkejutan.
Wanita itu mengenakan Hanfu berwarna lavender, rambutnya hanya diikat dengan gaya sederhana. Auranya yang kuat membuat semua orang berpikir bahwa dia merupakan Master Beladiri.
Tentu saja intinya adalah penampilannya. Tanpa tambahan riasan ataupun aksesoris, penampilannya sangat memukau.
Namun kata-katanya menyebabkan semua orang menarik nafas dingin.
Selir Shu lebih Agung dari Kaisar?
__ADS_1
Kalimat ini adalah suatu kejahatan. Apapun alasannya tidak boleh dikatakan sembarangan.
Walaupun ucapan Jiang Xingyu sedikit salah, justru membuat Puteri Yanning sangat senang.
Sedangkan Shu Yinxue sama sekali tidak menyadari kesalahannya. Alasannya karena begitu melihat siapa yang muncul, hatinya sudah terbakar amarah.
"Itu kau! Kau yang merampok tempat dudukku terakhir kali! Sekarang kau berani muncul di hadapanku?!" Shu Yinxue menggertakkan giginya, berjalan selangkah demi selangkah yang terlihat akan menyerang.
Jiang Xingyu mencibir dalam hatinya. Namun Ia tidak memiliki pikiran untuk berdebat. Lagipula dirinya datang kesini karena ingin tahu siapa yang melemparkan kue hingga menimpa kepalanya.
"Siapa yang melemparkan kue ini keluar jendela?" tanyanya disertai ekspresi serius.
"Dia!" Puteri Yanning menunjuk Shu Yinxue, tak luput menyertakan ekspresi sombong.
"Itu aku! Apa? kau sangat marah? tidak terima? lalu ingin membalas?" Shu Yinxue mengakuinya tanpa sedikitpun rasa bersalah.
"Apakah menurutmu aku tidak berani melakukan sesuatu padamu?" Jiang Xingyu menatapnya dengan mata ironis.
"Apa kau berani?" Shu Yinxue mengangkat dagunya dengan bangga.
Jiang Xingyu tidak berbicara lagi dan langsung menggunakan tindakan nyata untuk membuktikan keberaniannya.
Dimata semua orang yang terkejut, Ia mengambil sepiring kue utuh dimeja tamu sebelah lalu menemplokkannya pada wajah Shu Yinxue.
Dan karena tidak percaya pihak lain akan benar-benar melakukan sesuatu padanya, Shu Yinxue tidak memasang pertahanan apapun.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____