
Jiang Xingyu menghela nafas dalam-dalam ketika melihat jalanan sudah sepi.
Pada dasarnya orang-orang zaman kuno tidur lebih awal. Tak lama setelah hari mulai gelap, jalanan akan terlihat sepi.
Tentu saja ketika kebanyakan orang sedang tidur, Rumah Bordil Bulan Bersalju mulai meriah hingga tengah malam.
Ia kembali pulang tidak melewati jalan utama, tapi melewati jalanan yang juga searah dengan Rumah Bordil Bulan Bersalju.
Saat melewatinya, ia mendengar suara alunan guqin dan meriahnya orang-orang yang berbahagia. Sesaat ia sangat penasaran dan ingin melihat seperti apa di dalam sana.
Sekarang ia mengenakan pakaian hitam, rambutnya diikat tinggi ekor kuda. Tidak memakai riasan apapun, tentunya tidak akan ada yang mengenalinya sebagai seorang wanita.
Ia berjalan mendekati Rumah Bordil tersebut, dimana sebelumnya bawahan Rumah Bordil inilah yang memiliki konflik dengannya saat ia menyelamatkan Ning Zhi dan Ning Xia.
Malam ini ia ingin melihat betapa bagusnya tempat ini yang justru menjadi penyokong ekonomi serta pendukung Pangeran Yuhao.
Saat ia hendak masuk, tiba-tiba sesosok pria bergegas keluar dari pintu, membuatnya secara refleks menghindar ke samping.
Pria itu di dorong keluar hingga terhuyung-huyung dan hampir jatuh. Untung saja tangannya memegang pilar sebagai penopang tubuhnya.
Itu adalah pria dengan wajah keras kepala, rambut berantakan, ekspresi mabuk dan penampilan ceroboh, membuat seseorang tidak bisa menebak berapa usianya.
Setelah itu seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun juga keluar. Tubuhnya sedikit gemuk, berpakaian mewah dan disertai riasan tebal. Keseluruhan penampilannya terlihat seperti seorang senior dalam Rumah Bordil tersebut. Di belakangnya diikuti dua pria berwajah garang.
"Tuan Shen, apa kau pikir Rumah Bordil kami adalah tempat penampungan sehingga kau bisa minum dengan gratis? hari ini aku akan melepaskanmu. Jika kau datang lagi tanpa membawa uang, kupastikan dua orang dibelakangku akan menendangmu sebelum kau memasuki pintu!" Ucap wanita tua lalu berbalik masuk kedalam.
"Tuan Shen sangat menyedihkan." Ucap seseorang.
"Benar. Tuan Shen menjadi Pengawas kelas tiga di usia muda. Sayangnya ketika pergi ke utara untuk menjalankan tugas, dia tiba-tiba menerima surat yang mengatakan bahwa Kediamannya kebakaran. Istrinya tidak bisa di selamatkan dan terkubur dalam lautan api, tanpa tulang dan abu yang tersisa. Tuan Shen bergegas kembali ke Ibukota, meskipun sudah di selidiki tapi pada akhirnya dia diberhentikan dari jabatannya." Kata yang lain.
"Siapa yang tidak tahu hubungan Tuan Shen dan Istrinya. Meskipun pernikahan keduanya belum genap tujuh tahun, tapi selama ini Tuan Shen memperlakukan Istrinya dengan baik, bahkan tidak pernah menikahi Selir. Katakan, bagaimana mungkin Tuan Shen bisa melupakan sosok wanita yang paling dicintainya dengan mudah? jika aku berada dalam posisinya, aku pasti akan melakukan hal yang sama."
__ADS_1
"Selain itu, Shu Bingyi puteri tertua dari Kediaman keluarga Shu belum menikah karena Tuan Shen, sebelumnya Nona Shu ingin menjadi Selirnya, tapi Tuan Shen tetap menolak."
"Benar sekali!"
Melihat penampilan Shen Qing atau yang lebih dikenal dengan panggilan Tuan Shen, orang-orang menahan nafas berulang kali, mereka prihatin dengan kisah hidupnya.
"Anggur, beri aku anggur, aku ingin anggur..." Shen Qing mengabaikan omongan orang-orang di sekitarnya, yang diinginkannya hanyalah minum anggur.
Awalnya Jiang Xingyu tidak memperhatikan ucapan semua orang, namun ketika mendengar bahwa Shu Bingyi menyukai Tuan Shen dan hingga saat ini belum menikah, hatinya tiba-tiba merasakan perasaaan aneh.
Sejak zaman Kuno wanita menikah lebih awal. Pada usia lima belas tahun pernikahan telah di tetapkan. Menikah di usia delapan belas tahun tidak akan terlambat, tapi jika tidak menikah lebih dari usia tersebut, tidak bisa dihindarkan dari gosip buruk.
Tentu saja bukan ini yang membuatnya merasa aneh, melainkan kebetulan bahwa ketika Tuan Shen keluar menjalankan tugas, Kediamannya kebakaran dan istrinya tidak bisa diselamatkan.
Ia merasa seperti ada konspirasi pembunuhan saingan cinta.
"Tuan Shen melampiaskan kesedihannya dengan mabuk-mabukan sepanjang hari. Jika terus seperti ini cepat atau lambat hidupnya akan berakhir." Seseorang mengungkapkan rasa simpatinya.
"Hei! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Tuan Shen sudah sangat menyedihkan, jangan menambahkan bahan bakar ke dalam api!" Seorang tidak setuju.
"Apa kau tidak akan sedih jika kehilangan seseorang yang paling kau cintai? apa kau justru akan bahagia? benar-benar tidak masuk akal!" timpa yang lain.
"..."
"Benar! Mengapa aku tidak mati? mengapa aku masih hidup?" Shen Qing jelas mendengarnya, kemudian berbalik pergi dengan pandangan putus asa.
Sebenarnya bukan karena ia tidak pernah berpikir untuk mati, hanya saja ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang paling dicintainya terkubur dalam lautan api hingga abunya pun tak tersisa.
Terlebih lagi ia selalu merasa bahwa Istrinya masih hidup.
Jiang Xingyu mengigit lidahnya. Walaupun ia merasa ucapannya tidak salah, tapi jika Tuan Shen benar-benar bunuh diri karena ucapannya, ini akan menjadi kesalahannya.
__ADS_1
Ah! Ia tidak punya pilihan selain mengikutinya, jangan sampai Tuan Shen benar-benar melakukan hal yang bodoh.
Beberapa saat kemudian Pangeran Yuhao, Shu Yinfeng dan Yan Zihang berjalan keluar dari Rumah Bordil.
Jika Jiang Xingyu tidak pergi, dipastikan konflik akan terjadi lagi.
Sedangkan saat ini Jiang Xingyu mengikuti Tuan Shen dalam jarak tertentu. Tentu saja ia tidak bisa terus mengikuti seperti ini, karena ia harus pulang dan tidur.
Setelah memikirkan suatu cara, ia bergegas menghalangi langkahnya. "Tuan Shen, aku mengundangmu untuk minum anggur denganku."
Shen Qing menghentikan langkahnya dan cepat berbalik, kemudian bertanya dengan harapan dan keraguan di matanya. "Kau mengundangku untuk minum? apakah benar?"
"Ya!" Jawab Jiang Xingyu yang terlihat seperti orang baik.
"Mengapa?" Shen Qing bertanya lagi.
Jiang Xingyu tersedak dan sebelum mengatakan sesuatu, suara Shen Qing terdengar lagi. "Aku tahu. Kau takut aku akan bunuh diri karena ucapanmu tadi. Jangan khawatir, aku tidak sebodoh itu. Setidaknya aku tidak akan mati sebelum menemukan Istriku."
Ia percaya bahwa kebakaran di Kediamannya bukan suatu kecelakaan, tapi disebabkan oleh manusia. Ia juga memiliki firasat bahwa wanita itu adalah dalangnya.
Ia sudah mendatanginya, namun wanita itu tidak mengakui dan sebaliknya berkata. "Mungkin Istrimu kasihan pada Keluarga Shen karena tidak bisa melahirkan keturunan. Karena kau tidak mau menikahi Selir, Istrimu memilih cara yang paling ekstrim untuk meninggalkanmu."
Jiang Xingyu tertegun, dengan mengatakan ini berarti pikiran Tuan Shen masih sadar dan sejak awal sudah menyadari tujuannya.
"Jika begitu aku tidak akan mengikutimu lagi. Aku pamit dulu, Tuan Shen." Ucapnya.
Tepat setelah berbalik, ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul di depannya.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading______