
Tuan Besar mondar-mandir dengan perasaan gelisah. Puterinya sudah hampir satu jam berada di Istana Shuyi, mengapa sampai sekarang masih belum kembali?
Sesaat setelahnya ketika melihat Puterinya kembali dengan kondisi baik-baik saja, ia akhirnya melepaskan hatinya yang gelisah. "Yu'er, mengapa lama sekali?"
"Butuh setengah jam untuk bertemu Selir Shu. Sisa waktunya kami hanya mengobrol biasa." Jiang Xingyu menanggapinya dengan santai.
"Baiklah! Ayo kita kembali." Ucap Tuan Besar tidak ingin tahu.
Di Istana Shuyi Selir Shu segera mengutus seseorang untuk memanggil Puteranya.
Setengah jam kemudian Pangeran Yuhao datang dengan langkah terburu-buru.
Pangeran Yuhao tidak sabar dan langsung bertanya. "Ibu Selir, Anda mengutus seseorang untuk memanggil Ananda dan mengatakan kalau Jiang Xingyu sudah kembali? sebenarnya apa yang terjadi?"
Faktanya ketika ia mendengar kabar tentang Jiang Xingyu, reaksi pertamanya adalah diam-diam pergi ke Jiang Mansion untuk mencaritahu. Namun sebelum kakinya melangkah keluar dari Kediamannya, utusan Ibunya mendatanginya terlebih dahulu dan menyampaikan sebuah pesan.
Selir Shu bersandar dan kini ekspresinya terlihat tidak baik, bahkan semburat kelelahan terlihat diwajahnya. Ketika mendengar pertanyaan Puteranya, ia menjawab. "Ya! Jiang Xingyu sudah kembali dan sepenuhnya berubah. Ayahmu sudah memanggilnya ke Istana dan Ibu sudah bertemu dengannya."
"Lalu?" tanya Pangeran Yuhao tidak sabar.
Selir Shu tidak buru-buru menjawab dan berbalik bertanya. "Menghilangnya Jiang Xingyu ada hubungannya denganmu?"
Batin Pangeran Yuhao menegang. "Apakah Gadis bodoh itu mengatakan sesuatu pada Ayah Kaisar dan Ibu?"
Walaupun sudah menebaknya, ia tetap bertanya guna untuk memastikan. "Ibu Selir, mengapa Anda bertanya seperti itu? apakah Jiang Xingyu mengatakan sesuatu pada Anda?"
Selir Shu menggelengkan kepalanya dan memberitahu Puteranya semua yang sebelumnya Jiang Xingyu katakan padanya.
Pangeran Yuhao menyipitkan matanya dengan curiga. Apakah ada kebetulan seperti itu? atau apakah Gadis itu sengaja menyembunyikan kebenarannya?
"Juga, Gadis itu meminta kepada Ayahmu untuk membatalkan kontrak pernikahan." Sambung Selir Shu.
Pangeran Yuhao tentu sangat terkejut sekaligus bahagia. Tetapi ucapan Ibunya didetik berikutnya bagaikan sebaskom air dingin yang dituangkan keatas kepalanya.
"Ayahmu tidak menyetujuinya dan mengancam bagi siapapun yang menentangnya akan dihukum dengan hukuman melanggar Dekrit Kekaisaran." Selir Shu tidak berdaya ketika mengatakan kalimat ini.
"Jika begitu Ananda tidak keberatan untuk membunuhnya yang kedua kalinya. Ananda tidak percaya dia sangat beruntung setiap saat." Ucap Pangeran Yuhao dengan tatapan haus darah.
"Jangan impulsif!" Selir Shu mengingatkan. "Kali ini bukan hanya Ayahmu yang mencurigaimu, tapi Pangeran lainnya juga. Sekarang mereka tidak mengeksposmu karena tidak memiliki bukti. Jika kau sampai tertangkap basah oleh mereka, Ibu tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi padamu."
Pangeran Yuhao tiba-tiba menyadari bahwa dirinya memang impulsif.
Untuk saat ini sepertinya ia harus menahannya. Lagipula masih ada setengah tahun sebelum waktu pernikahan tiba, dan dalam waktu setengah tahun ia tidak percaya tidak bisa membatalkan kontrak pernikahan konyol ini.
"Hao'er, ingatlah. Untuk saat ini jika tidak ada sesuatu yang penting, jangan temui Nona Lin dulu. Jangan sampai musuhmu menggunakan kesempatan disaat seperti ini untuk mencari kesalahanmu." Selir Shu mengingatkan.
"Ibu Selir tenanglah. Ananda tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak." Pangeran Yuhao berjanji.
"Baiklah. Ibu lelah, kau boleh pergi sekarang." Kata Selir Shu terdengar seperti memang kelelahan.
__ADS_1
"Ibu Selir istirahatlah dengan baik dan tidak perlu memikirkan masalah ini." Setelahnya Pangeran Yuhao pamit undur diri.
-Jiang Mansion, Paviliun Weiyang-
Setelah Jiang Xingyu kembali dari Istana, Selir Mo datang bersama dua Pelayannya dan membawa kantong uang ditangannya.
"Nona, Selir datang mengembalikan uang Anda." Ucap Selir Mo dengan rendah hati seraya menyodorkan kantong uang tersebut.
Jiang Xingyu tanpa basa-basi langsung mengambilnya kemudian menghitungnya. Ketika jumlahnya memang pas, ia berkata. "Karena uangnya sudah dikembalikan, Selir Mo bisa pergi sekarang. Aku ingin beristirahat. Ingatlah! Jika tidak ada sesuatu yang sangat penting jangan mengganggu istirahatku."
"Selir akan mengingatnya." Sahut Selir Mo dengan amarah tertahan.
Melihat ekspresi Selir Mo, Jiang Xingyu tersenyum penuh kemenangan. Barulah setelah puas ia menutup Gerbang Paviliunnya.
Sedangkan Selir Mo dengan wajah muramnya kembali ke Halaman Timur. Namun ia tidak pergi ke Paviliunnya, melainkan pergi ke Paviliun Samping tempat tinggal Bibi He.
Saat ini didalam kamar dan diatas tempat tidur, Bibi He berbaring dengan posisi tengkurap. Wajahnya terlihat pucat dan nafasnya sangat lemah.
Tadi pagi Bibi He dihukum dengan hukuman 20 papan. Walaupun sudah diobati oleh Dokter terbaik, luka separah itu tidak akan langsung sembuh dalam waktu singkat.
"Nyonya, mengapa Anda disini? Nubi..." Melihat kedatangan Nyonyanya, Bibi He berusaha bangun guna menyambutnya. Tetapi sesaat setelah tubuhnya digerakkan, rasa sakitnya semakin bertambah parah.
"Bibi, kau sedang terluka. Tidak perlu memperdulikan formalitas." Selir Mo bergegas menahannya.
"Tapi Nyonya..." Bibi He masih ingin mengatakan sesuatu, tapi Selir Mo langsung menyela. "Tidak ada tapi. Sekarang yang harus Bibi lakukan adalah beristirahat ditempat tidur sampai sembuh."
"Ya." Bibi He terpaksa menurut.
Berbicara tentang Jiang Xingyu, ekspresi Selir Mo berubah suram. "Tidak peduli seberapa besar perubahannya, aku tidak akan pernah melepaskannya. Suatu saat nanti aku pasti akan membalaskan semua penghinaan ini."
"Namun sekarang dia sulit dihadapi. Bukan hanya berubah pintar, tapi juga memiliki kemampuan Beladiri. Bahkan Yao'er dikalahkan olehnya." Ia terpaksa mengakui perubahan Jiang Xingyu.
Bibi He menganggukkan kepalanya. Seakan mengingat sesuatu, ia berkata. "Nubi memiliki rencana, tapi tidak tahu apakah Nyonya menyetujuinya."
"Apa rencananya?" tanya Selir Mo dengan sepasang mata berbinar.
"Sebagai seorang Nona Sulung, dia tidak mungkin dilayani oleh satu Pelayan saja. Oleh karena itu Nubi merasa sudah waktunya mengirim beberapa Pelayan untuk melayaninya." Bibi He tersenyum penuh makna.
Selir Mo langsung mengerti. Bibi He memintanya mengirim beberapa Pelayan ke Paviliun Weiyang. Pertama sebagai bentuk kebaikan dimata Tuan Besar, kedua untuk mengawasi gerak-gerik Jiang Xingyu.
Melemparkan satu batu dan melumpuhkan dua Burung sekaligus.
"Rencana yang bagus! Lalu apakah Bibi sudah memiliki kandidat yang cocok?" wajah Selir Mo menunjukkan kegembiraan.
"Tentu Nubi sudah memilikinya. Hanya saja karena keadaan Nubi sekarang, rencana ini hanya bisa dikesampingkan untuk sementara waktu." Ucap Bibi He tak berdaya.
"Benar. Untuk saat ini lebih baik Bibi beristirahat. Setelah sembuh baru kita jalankan rencana ini." Selir Mo yang juga tak berdaya.
...
__ADS_1
Diluar sana berita kembalinya Jiang Xingyu telah menyebar keseluruh Ibukota.
"Aku dengar Jiang Xingyu sudah kembali,"
"Aku dengar Jiang Xingyu sepenuhnya sudah berubah,"
Kedua kalimat tersebut menjadi topik hangat dimana-mana. Namun belum ada yang terkonfirmasi kebenarannya.
Berita kembalinya Jiang Xingyu mengejutkan semua orang. Tetapi berita tentang perubahannya membuat semua orang lebih penasaran.
Tentu saja dua berita viral tersebut juga menyebar hingga ke Lin Mansion.
-Lin Mansion-
Beberapa waktu yang lalu Lin Jiayin dipukuli dibagian kedua pipinya. Setelah sehari bengkaknya sedikit berkurang tapi bekas tamparannya masih terlihat jelas.
Jika tidak menyentuh pipinya dan berbicara dengan lembut, maka tidak akan terasa sakit. Tetapi jika disentuh dan berbicara terlalu keras, rasa sakit yang amat sangat akan terasa lagi.
Selain itu Lin Jiayin belum sepenuhnya pulih dari 'Balas dendam Hantu Jiang Xingyu', dan jiwanya masih sedikit terganggu.
Ketika Mei Lan pergi ke Dapur mengambil semangkuk bubur sarang walet untuk Nonanya, ia melewati Halaman Belakang dan secara tidak sengaja mendengar Pelayan lain sedang bergosip.
"Aku mendengar Jiang Xingyu dari Jiang Mansion sudah kembali dan berubah tidak bodoh. Menurut kalian apakah Nona dipukuli olehnya sebagai bentuk balas dendam?" seorang Pelayan bertanya pada Pelayan lainnya.
"Mungkin saja. Tapi aku justru penasaran, bukankah kabarnya Jiang Xingyu sudah mati? mengapa bisa kembali? dan berubah tidak bodoh?" tanya Pelayan lainnya dengan bingung.
Setelah keributan beberapa waktu yang lalu, seluruh Kediaman mengetahui kalau Jiang Xingyu dibunuh oleh Nona mereka. Namun untuk detail lainnya mereka tidak mengetahuinya.
Ketika Mei Lan mendengar gosip tersebut, ia tanpa sadar berkeringat dingin karena masih sangat takut tentang apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Setelah keluar dari keterkejutannya, ia segera berlari menuju Kamar Nonanya dan berkata dengan cemas. "Nona, ini tidak baik. Nubi mendengar Jiang Xingyu sudah kembali dan berubah tidak bodoh."
Karena terkejut ia melupakan saat ini Nonanya masih dalam tahap pemulihan dan tidak bisa bergerak sembarangan. Sekali marah dan bergerak, cedera diwajahnya kembali menyakitkan dan tentu saja mempengaruhi pemulihannya.
Ketika menyadarinya, itu sudah terlambat.
"Apa?!" Lin Jiayin yang sedang berbaring ditempat tidur tiba-tiba langsung duduk.
Sebagai akibatnya cedera dikedua pipinya kembali terbuka dan membuat air matanya tanpa sadar mengalir keluar.
"Nona..." Mei Lan sangat menyesalinya. Seharusnya ia tidak mengatakan sesuatu yang akan membuat Nonanya marah.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin..." Lin Jiayin bergumam tak percaya dan rasa sakit dikedua pipinya memberitahunya bahwa ia sedang tidak bermimpi.
Tiba-tiba apa yang terjadi dibelakang Kuil Yun kembali muncul diotaknya.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading____