-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
116 - Menemukan Herbal Berharga


__ADS_3

Kembali ke jalan utama, ia pergi untuk membeli kertas dan tinta. Namun ketika hendak memasuki Toko Kaligrafi terbesar di Kota, ia melihat Puteri Yanning.


Kini Puteri Yanning bersembunyi disudut secara diam-diam, melihat Toko Kaligrafi seperti sedang kesurupan. Meski penasaran, ia tidak menghampiri dan hanya melihatnya dari kejauhan.


Sesaat kemudian seorang pria keluar dari Toko Kaligrafi. Puteri Yanning bergerak sedikit seolah ingin keluar, tetapi berhenti lagi.


Pria itu berpakaian satin berwarna putih, rambut hitam diikat dengan pita kain berwarna senada, fitur wajah tampan, alis panjang hingga ke pelipisnya, tatapan mata teduh serta kulit putih bersih.


Sungguh seorang pria rupawan!


Tiba-tiba sebuah tebakan melayang dibenaknya, mungkinkah dia adalah pria yang disukai Puteri Yanning?


Apapun itu! Ia tidak ingin menyibukkan diri dengan urusan orang lain. Saat berbalik hendak pergi, Puteri Yanning juga berbalik hingga tatapan mereka pun bertemu.


Memikirkan apa yang mungkin telah dilihat oleh temannya, Puteri Yanning merasa malu. "Xingyu, kau, mengapa kau disini?"


Secara alami Jiang Xingyu tidak menghindarinya. "Aku berencana pergi ke Toko Kaligrafi untuk membeli kertas dan tinta."


"Oh! Kalau begitu biarkan aku menemanimu." Ucap Puteri Yanning yang berpura-pura tetap tenang.


Dengan itu, keduanya memasuki Toko Kaligrafi.


Sesampainya di dalam Toko, Jiang Xingyu penasaran melihat padatnya pelanggan. "Bisnis disini sangat bagus."


"Ujian besar akan berlangsung beberapa hari lagi. Para talenta dari seluruh Kekaisaran harus mempersiapkan semuanya. Seperti pena, tinta, kertas dan batu tinta." Puteri Yanning memberitahu.


"Pantas saja begitu ramai." Seru Jiang Xingyu.


Selesai membeli keperluannya, ia langsung keluar dari Toko Kaligrafi, pada saat yang sama perutnya mulai bernyanyi hingga membuat Puteri Yanning tertawa.


"Aku juga belum makan siang. Ayo pergi ke Restoran Chilan." Ucapnya disertai tawa ria.


Walaupun sudah lewat waktu makan siang, Restoran Chilan masih penuh pengunjung. Untungnya keduanya bisa menempati ruangan VIP milik Pangeran Yin, jika tidak, mereka tidak akan punya tempat duduk.


Setelah cukup kenyang, mereka kembali ke Kediamannya masing-masing.


Dalam perjalanan pulang, Jiang Xingyu merasakan tatapan yang selalu mengikutinya. Namun tidak memberinya kesan buruk sehingga membuatnya ingin tahu siapakah pemilik tatapan tersebut.


Oleh karena itu ia berjalan menuju gang kecil dan setelah tidak ada orang, ia berteriak. "Keluar!"


Pihak lain sepertinya tidak berniat terus bersembunyi, setelah mendengar teriakannya, sesosok tubuh keluar dari balik dinding.


"Tuan Shen?" gumamnya dalam hati.


Kini penampilan Tuan Shen jauh lebih normal dibandingkan sebelumnya. Meskipun masih terlihat kasar, setidaknya rambutnya sudah rapi serta wajahnya sudah bersih.


"Bisa menemukanku dengan mudah, kesadaran Nona cukup tajam." Ucap Shen Qing yang tidak menyembunyikan keterkejutannya.


"Tuan Shen, kenapa kau mengikutiku?" tanya Jiang Xingyu tanpa berbasa-basi.


"Aku mengikuti Nona karena ingin berterima kasih. Sebelumnya Nona membawaku ke Rumah Medis serta meninggalkan uang untukku." Ucapnya dengan tulus.

__ADS_1


Jiang Xingyu menganggukkan kepalanya lalu berkata. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? terus mabuk? tidak makan dan minum? seharusnya Dokter Yang sudah memberitahu seluruh kondisimu."


Pada titik ini Shen Qing justru bersemangat. "Tidak! Aku tidak akan mabuk lagi. Aku ingin hidup dengan baik untuk menemukan Istriku."


"Jika begitu, pastikan kau melakukan apa yang kau katakan padaku hari ini. Hiduplah dengan baik."


"Aku akan melakukannya. Adapun uang yang Nona tinggalkan untukku, aku tidak akan membayarnya sekarang. Tapi jangan khawatir, cepat atau lambat aku pasti akan membayarnya." Ucap Shen Qing yang terdengar serius.


"Tidak perlu membicarakan ini sekarang. Urusanmu jauh lebih penting." Jiang Xingyu menanggapi dengan senyum mengerti.


"Terima kasih." Shen Qing menundukkan kepala sebagai bentuk ketulusannya.


Kemudian Jiang Xingyu melanjutkan langkahnya kembali pulang.


Di malam hari ia pergi ke Rumah Kayu seperti biasanya.


Karena insiden terakhir kali, ia sangat berhati-hati setiap kali keluar. Bukannya takut, tapi untuk menghindari masalah yang tidak perlu.


Vitalitas Fang Xinxin belum sepenuhnya pulih, dia masih menyembuhkan diri di tempat tertentu. Agar tidak mengganggu, ia juga tidak menemuinya.


Kali ini ia tidak bermeditasi seperti biasanya, langsung memanggil Ning Zhi dan Ning Xia untuk bertarung.


Setelah satu putaran, sekali lagi ia merasakan peningkatan yang nyata dalam kemampuannya.


Semua orang menjadi lebih serius saat berlatih beladiri. Bahkan Qing Bei dan Qing Jiao juga demikian.


Namun setelah menyelesaikan latihan, keduanya mulai bermain-main, saling kejar-kejaran di ruang terbuka.


Karena kakinya pendek, langkah Qing Jiao selalu menjauh dari saudaranya.


"Baiklah. Aku menunggumu untuk menangkapku." Kata Qing Bei.


Keduanya memang terlihat bermain-main, tapi nyatanya tengah berolahraga lari.


"Ah..."


Tiba-tiba teriakan terdengar dari arah Qing Bei. Semua orang mendengarnya dan setelah melihat sekeliling, mereka melihat Qing Bei jatuh ketanah.


Namun mereka tidak membantunya.


Jika tidak belajar menanggung rasa sakit, bagaimana dia bisa bertahan menghadapi kejamnya dunia ini?


Qing Bei tidak menangis apalagi bersedih, sebaliknya menganggap rasa sakitnya sebagai sesuatu yang wajar.


"Kenapa? tidak berlari lagi?" Qing Jiao bertanya secara provokatif. Karena ia tahu mereka tidak bisa lemah dan tidak bisa menyerah karena hal kecil.


"Wah! Ini Ganoderma Lucidum. Aku pernah melihatnya di buku Dokter Yang." Qing Bei tidak menjawab pertanyaan saudarinya. Hanya berbaring di tanah sambil menatap tanaman di depan matanya.


Selama perawatan saudarinya di Rumah Medis, ia bosan karena tidak melakukan apapun. Dokter Yang berbaik hati menunjukkan buku tentang Herbal kepadanya, dan ia mempelajarinya dengan serius.


"Ganoderma Lucidum?"

__ADS_1


Mereka tentunya sangat terkejut, bagaimana bisa ada herbal di tempat ini?


Meski ragu, mereka segera berlari mendekati Qing Bei.


Dari tampilan luarnya, itu benar-benar Ganoderma Lucidum! Memiliki ukuran sebesar telapak tangan orang dewasa, tapi tidak ada yang tahu berapa usianya.


"Sangat aneh! Di tempat seperti ini benar-benar ada Herbal Ganoderma Lucidum?" Ning Xia mendesah keheranan.


Herbal semacam ini umumnya tumbuh di hutan lebat yang terjal. Tentu bukan berarti tidak tumbuh di rerumputan pegunungan seperti ini, hanya saja kemungkinannya sangat kecil.


Tiba-tiba Ning Xia memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau kita mencarinya lagi? mungkin saja masih ada."


"Kau pikir Ganoderma Lucidum seperti rumput liar? yang bisa kau lihat dimana-mana?" Ning Zhi menanggapi dengan senyum merendahkan.


"Hem, benar juga." Ning Xia berkata tidak yakin, namun masih bangkit berniat mencari lagi.


"Saudari, bagaimana dengan herbal ini?" tanya Qing Bei pada Dewi penyelamatnya.


"Ambillah lalu simpan dengan baik. Mungkin saja akan berguna." Kata Jiang Xingyu.


"Baiklah." Kemudian Qing Bei menggalinya dengan hati-hati.


"Wah!" Tiba-tiba teriakan terdengar dari arah Ning Xia.


Dan semua orang melihatnya sedang berjongkok di depan rerumputan.


"Apa saudari menemukan Ganoderma Lucidum lagi?" tanya Qing Jiao yang bergegas menyusulnya.


"Tidak." Jawab Ning Xia.


Membuat Jiang Xingyu dan Ning Zhi saling memandang.


Dan secara mengejutkan Ning Xia berkata lagi. "Namun, ini sepertinya Polygonum Multiflorum..."


Herbal Polygonum Multiflorum tidak sebanding dengan Ganoderma Lucidum, tapi juga merupakan tanaman herbal yang langka.


Ning Xia mengatakan 'sepertinya' yang berarti belum terkonfirmasi kebenarannya.


Dibawah tanaman merambat serta rerumputan yang subur, sesuatu sebesar kepalan tangan orang dewasa terlihat.


Jiang Xingyu, Ning Zhi dan Ning Xia tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang herbal, oleh karena itu mereka tidak bisa memastikan jenis sebelum digali sepenuhnya.


Sebaliknya, Qing Bei hanya melihatnya sebentar kemudian berseru gembira. "Ini benar-benar Polygonum Multiflorum!"


Membuat mereka semua terkejut sekaligus berpikir apakah ada herbal lainnya di tempat ini?


Berpikir demikian, Jiang Xingyu berkata. "Mari kita cari lagi. Mungkin saja masih ada yang lainnya."


.


.

__ADS_1


_____Happy Reading_____


__ADS_2