
Keesokan harinya...
Adapun yang terjadi pada Pangeran Yuhao. Setelah kembali ke Kediamannya, Ia mengunci diri di Ruang Belajar.
Merasakan sakit yang tak tertahankan, Ia bersikukuh tidak ingin memanggil Dokter.
Ia takut! Takut akar kehidupan benar-benar hancur. Takut hal ini akan menyebar, dan takut kehilangan kualifikasi untuk mewarisi tahta.
Mengetahui bahwa Pangeran Yuhao sakit, Jenderal Lin memberitahu Puteranya setelah kembali dari Pengadilan Istana.
Suasana di Kediaman Pangeran Yuhao tidak begitu bagus, terutama di Halaman Utama. Semua Bawahan diusir, hanya Penjaga pribadinya, Yi Fei dan Yi Mei yang kini mondar-mandir di depan pintu.
Melihat Lin Jiayun datang, mereka bergegas menyambutnya sambil berkata. "Tuan Muda Lin, kau akhirnya datang."
"Ada apa dengan Hao?" Lin Jiayun bertanya cemas.
"Pangeran berkata sedang tidak sehat, jadi Bawahan memanggil Dokter untuk memeriksanya. Tapi Pangeran justru mengusirnya. Selain itu, temperamen beliau juga sangat buruk. Bawahan tidak tahu apa yang terjadi padanya." Kata Yi Mei disertai raut wajah kebingungan.
"Aku akan pergi melihatnya." Lin Jiayun bergegas masuk.
Ia mendorong pintu lalu menutup pintu dengan punggung tangannya.
Begitu melihat Pangeran Yuhao, Ia sangat terkejut.
Dia sedang berbaring di atas meja, wajahnya yang tampan saat ini tampak lesu, dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya Dia tidak tidur sepanjang malam.
"Hao, ada apa denganmu?" Lin Jiayun buru-buru berjalan menuju meja.
Pangeran Yuhao menceritakan semua yang terjadi tadi malam.
Setelah mendengarnya, Lin Jiayun sangat marah. Bahkan perasaan baik yang Ia rasakan terhadap Jiang Xingyu, seketika lenyap. "Sialan! Beraninya mereka menyakitimu."
"Kita tidak bisa membiarkannya hidup." Ia merasakan bahwa Jiang Xingyu adalah ancaman.
Tanpa diduga, Gadis yang tampaknya lemah, ternyata memiliki beberapa kemampuan. Juga memiliki pendukung kuat dibelakangnya.
"Aku juga ingin Dia mati! Tapi jika Dia mati tanpa alasan, mereka akan mencurigaiku." Pangeran Yuhao menggertakkan giginya.
"Walaupun mereka mencurigaimu, jika tidak memiliki bukti, mereka tidak akan mengatakan apa-apa." Kata Lin Jiayun.
Seketika mata Pangeran Yuhao berbinar saat mendengarnya. "Apa kau punya rencana?"
"Saat ini tidak. Tapi jangan khawatir, serahkan masalah ini padaku." Lin Jiayun menyakinkan.
"Baiklah." Jawab Pangeran Yuhao.
Setelah hening beberapa saat, Lin Jiayun bertanya. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? kau tidak bisa terus menahannya seperti ini."
"Atau, mari temukan seseorang yang bisa dipercaya dan memintanya bertanya pada Dokter bagaimana menangani luka seperti ini." Ini adalah jalan terbaik yang di pikirkan Pangeran Yuhao sepanjang malam.
"Baiklah. Aku akan mengaturnya." Kata Lin Jiayun, berjalan ke sisi Pangeran Yuhao dan meletakkan tangannya di bahunya.
__ADS_1
Gerakannya tanpa diduga sangat lembut!
Ada juga sepasang mata yang memandang dengan penuh kasih sayang, membuat orang lain mau tidak mau memikirkan kearah sentimen yang berbeda.
Tidak mungkin mereka berdua adalah...
"Hao, tidak apa-apa jika hanya menyakitkan. Tapi jika benar-benar hancur, aku juga akan menemukan cara agar kau mendapatkan semua yang kau inginkan." Ucap Lin Jiayun.
Walaupun kulit Pangeran Yuhao tampak lesu, kini ekspresinya mengungkapkan kelembutan yang langka. "Jiayun, hal paling beruntung dalam hidupku adalah bertemu denganmu. Kau bersedia melakukan apapun untukku, tapi kita tidak ditakdirkan..."
Berbicara tentang kalimat terakhir, suaranya sangat pahit. Dan ucapannya terganggu sebelum selesai. "Karena kita tidak bisa mengubah takdir, maka hadapi dengan tenang. Selama kita baik-baik saja dan tulus satu sama lain, bukankah bagus?" ucap Lin Jiayun.
Pangeran Yuhao terdiam sesaat, lalu berkata. "Ya. Namun, di Istana, jika kita tidak naik lebih tinggi, kita hanya akan direndahkan. Aku tidak bisa terus seperti ini."
"Aku akan membantumu!" Lin Jiayun berkata dengan yakin.
"Terima kasih, Jiayun."
"Antara kau dan aku, tidak perlu ada kata terima kasih!"
Kemudian keduanya saling memandang sambil tersenyum.
Setelah itu Lin Jiayun kembali pulang, karena luka Pangeran Yuhao tidak bisa ditunda lebih lama.
Situasi di Jiang Mansion...
Setelah makan siang, Jiang Xingyu teringat belum mencuci pakaian Pria itu. Ia segera mengeluarkannya dan bersiap untuk mencucinya.
"Tidak. Aku akan mencucinya sendiri." Jiang Xingyu menolak.
"Baiklah." Bibi Rong tidak memaksa.
Jiang Xingyu memanfaatkan waktu makan siang para Pelayan, untuk mencuci pakaian. Oleh karena itu tidak ada orang di samping sumur di Halaman Belakang selain dirinya.
Sepotong pakaian dicuci tanpa banyak waktu, kemudian Ia membawanya kembali ke Paviliun Weiyang untuk di keringkan.
Jika dikeringkan di Halaman, bukankah akan terekspos?
Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Ia memutuskan untuk menggantungnya di kamarnya.
Membuat Bibi Rong tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Nona, jemuran ada di Halaman. Kau akan membawanya kemana?"
Jiang Xingyu merasa getir dalam hatinya, dan benar-benar menyesal membawa pulang pakaian Pria itu.
Ia tersenyum, lalu kembali ke kamar tanpa menjawab pertanyaan Bibi Rong.
Walaupun kebingungan, Bibi Rong tidak berani mengganggu urusan Nonanya.
Hari ini Jiang Xingyu tidak pergi kemanapun, hanya mengurung diri dikamar sambil berlatih menggambar Simbol Jimat.
Keesokan harinya, setelah para kandidat menyelesaikan ujian dan keluar dari ruang ujian, Puteri Yanning datang lagi untuk mengajak Jiang Xingyu keluar.
__ADS_1
"Xingyu, Chen Ziyue keluar dari ruang ujian hari ini. Paman Yin mengundang kita ke Restoran Chilan untuk merayakannya." Ucap Puteri Yanning.
Sebelum Jiang Xingyu mengatakan sesuatu, Puteri Yanning menariknya seolah-olah khawatir Ia tidak akan pergi.
Jalan utama tampak lebih ramai dari biasanya, kebanyakan dari mereka adalah para kandidat yang baru keluar dari ruang ujian.
Puteri Yanning melihat ke sekeliling dengan serius, seperti sedang mencari sesuatu, tapi juga seperti menghindari sesuatu.
Begitu tiba di lantai pertama Restoran Chilan, Jiang Xingyu merasakan serangan mematikan tertuju padanya.
Disaat yang sama di Ruangan VIP tertentu, Yuwen Junxiu berdiri di dekat jendela. Saat merasakan serangan tersebut, Ia menoleh dan kebetulan melihat anak panah melesat kearah Jiang Xingyu.
Wajahnya berubah suram, tanpa banyak berpikir, sosoknya melesat pergi.
Membuat mereka yang berada di ruangan yang sama, bergegas lari ke jendela untuk melihatnya.
Dalam sekejap, Yuwen Junxiu mendekati Jiang Xingyu.
Sedangkan saat ini Jiang Xingyu mendorong Puteri Yanning menjauh, untuk menghindari anak panah. Tepat sebelum mengambil tindakan, Ia merasakan pinggangnya dipegang oleh sebuah tangan besar.
Ia sangat terkejut, juga menyadari bahwa tangan ini tidak diragukan lagi adalah untuk menyelamatkannya. Tapi ketika melihat ternyata Pria itu, sebuah pikiran melintas dibenaknya. 'Pria ini seperti santo pelindungnya, yang akan muncul setiap kali Ia dalam bahaya.'
Pria itu menuntunnya untuk membungkuk lalu berputar, dan anak panah langsung menyerempet sisi kiri lengan bajunya.
Adegan ini terjadi begitu cepat sehingga pengunjung lainnya tidak menyadarinya. Ketika mereka mendengar suara 'Ding!' dan sebuah anak panah jatuh ke tanah, mereka berteriak ketakutan.
Pria berpakaian hitam dalam kegelapan, saat melihat serangannya gagal, Dia segera pergi.
"Bawa aku untuk mengejar orang itu..." Ucap Jiang Xingyu pada Pria disampingnya.
"Hei..." Puteri Yanning bereaksi, namun hanya melihat punggung keduanya sudah pergi.
"Ning'er, naik dan tunggu didalam." Ucap Pangeran Yin yang entah kapan berada di belakangnya.
Di lantai dua sebuah Kedai Teh di samping Restoran Chilan, dua Pria berdiri di dekat jendela, menyaksikan adegan pahlawan menyelamatkan kecantikan.
Salah satunya adalah Ruan Jianmu, Pria yang sebelumnya berselisih dengan Puteri Yanning. Satunya lagi adalah seorang Pria berusia sekitar dua puluh lima tahun, memiliki fitur wajah tampan yang tidak kalah dengan Pangeran Yuhao.
Dan Pria ini adalah saudara tiri Pangeran Yuhao, Putera dari Selir Ruan, bergelar Pangeran Tertua, Murong Yuche.
Pangeran Yuche sangat terkejut saat melihat wajah yang tidak asing baginya, sambil bergumam. "Mengapa Dia datang?"
"Sepupu, siapa Dia?" tanya Ruan Jianmu, yang tidak yakin siapa yang dimaksud sepupunya.
"Raja Chonglou. Yuwen Junxiu." Suara Pangeran Yuche terdengar dingin.
.
.
____Happy Reading____
__ADS_1