
Jiang Xingyu dengan marah berkata. "Jika kau cerdas, katakan yang sebenarnya. Jangan menganggap kami sebagai orang bodoh. Membohongi Jiang Mansion, kau tidak akan sanggup menanggung konsekuensinya."
"Jiang Xingyu, kau mengancamnya." Selir Mo panik.
"Memangnya kenapa jika aku mengancamnya?" Jiang Xingyu tersenyum ironis.
"Kau..." Selir Mo hendak membantah, tapi lagi-lagi Tuan Besar menyela. "Tutup mulutmu!"
Ekspresi gelap menguasai wajah Tuan Besar, matanya penuh amarah saat menatap Selir Mo.
Membuat nyali Selir Mo menciut, diam menunduk tidak berani berbicara lagi.
"Katakan yang sebenarnya! Jika kau masih berbohong, hati-hati dengan seluruh kehidupan Keluargamu." Kali ini Tuan Besar yang mengancam.
Mengejutkan Pria itu sehingga buru-buru berkata. "Saya akan mengatakannya. Saya tidak akan berbohong. Sekitar tengah hari kemarin, seorang Wanita paruh baya datang menemui saya. Memberi saya sepuluh Koin Perak sebagai biaya untuk menghancurkan kepolosan Nona Jiang pertama. Saya benar-benar tidak tahu mengapa saya muncul di Kamar Nona Jiang ketiga. Dan..."
Reaksi Selir Mo cukup cepat. Sebelum Pria itu melanjutkan bicara, Ia menyela. "Jiang Xingyu, masalahmu sendiri yang menyebabkan Yao'er seperti ini. Kau yang bersalah dalam hal ini."
Kemudian Ia menatap Tuan Besar sembari memohon. "Tuan, anda harus memberi keadilan untuk Yao'er."
Tuan Besar memandang Puteri pertamanya. "Bagaimana pendapatmu?"
"Tentu saja aku sangat terkejut karena seseorang ingin menyakitiku." Jiang Xingyu berpura-pura marah. "Katakan seperti apa Wanita itu, atau karakteristik apa yang dimilikinya?"
"Wanita itu menutupi kepalanya dengan topi besar. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saya hanya tahu bahwa Dia sedikit gemuk dan suaranya sengaja diubah." Kata Pria itu.
"Benar." Tiba-tiba Pria itu berseru. Seakan memikirkan sesuatu, Ia berkata lagi. "Saat Wanita itu menyerahkan uang pada saya, saya melihat tahi lalat di punggung tangan kiri Wanita itu, seukuran kuku ibu jari."
Seketika semua orang terkejut dan menatap Bibi He. Semua orang di Kediaman mengetahui bahwa ada tahi lalat seukuran kuku ibu jadi di punggung tangan kiri Bibi He.
Mungkinkah Wanita itu benar-benar Bibi He?
Karena hati nurani bersalah, Bibi He secara refleks menyembunyikan tangan kirinya. Yang secara tidak langsung membenarkan ucapan Pria itu.
"He Mu, Bibi He..." Tuan Besar menatap tajam.
Membuat seluruh tubuh Bibi He gemetar ketakutan. Tidak mau menyerah, Ia berlutut sambil berkata. "Tuan, Hamba tidak bersalah. Semua orang di Kediaman mengetahui kalau Hamba memang memiliki tanda tahi lalat, oleh karena itu sangat mudah bagi seseorang untuk membingkai Hamba."
"Kalau begitu, dimana kau saat tengah hari kemarin? siapa yang bisa bersaksi untukmu?" Tuan Besar bertanya, tapi bukan berarti mempercayai.
"Ini..." Bibi He tidak tahu bagaimana harus menjawab. Dan keraguannya menunjukkan bahwa Dia sedang berbohong.
"Kenapa kau diam saja?" Tuan Besar bertanya lagi.
__ADS_1
"Tuan..." Selir Mo mencoba bersaksi untuk Bibi He, namun Tuan Besar memelototinya. "Diam! Sepertinya masalah ini memang perbuatanmu."
"Tidak!" Bibi He panik, tidak memperdulikan konsekuensinya, Ia segera mengakuinya. " Tidak, Tuan. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Selir. Itu Hamba. Hamba merencanakan niat buruk pada Nona Sulung karena Hamba membencinya. Hamba sendiri yang melakukannya. Selir tidak bersalah."
"Bibi.." Selir Mo sangat cemas.
Takut Selir Mo akan membelanya, Bibi He berkata lagi. "Selir, maafkan Nubi. Ini semua salah Nubi. Nubi hanya ingin Selir hidup dengan baik."
Bagaimana mungkin Selir Mo tidak mengerti. Bibi He mengakui semuanya sendiri karena ingin melindunginya. Tidak ingin pengorbanannya sia-sia, Ia pun berhenti bicara dan hanya menatapnya dengan sedih.
"Karena kau sudah mengaku bersalah, maka Jiang Mansion tidak akan mentolerir Pelayan yang berhati jahat sepertimu. Kemarilah, seret Bibi He keluar! Hukum mati!" Perintah Tuan Besar.
"Tuan..." Selir Mo terkejut. Awalnya Ia mengira Bibi He akan dihukum dengan hukuman papan kayu lalu diusir dari Kediaman, tapi siapa sangka Tuan Besar langsung menjatuhkan hukuman mati.
"Tutup mulutmu! Apa kau ingin dihukum juga?!" Tuan Besar meraung marah.
"..." Membuat Selir Mo bungkam.
Sedangkan setelah bereaksi, Bibi He menangis histeris lalu bersujud. "Nubi, He Mu, mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya pada Selir Mo."
Tidak ada yang takut mati dan tidak ada yang mau mati. Tapi sekarang tidak ada kesempatan baginya untuk memilih, Ia hanya bisa menerima takdirnya.
"Tuan, bagaimana dengan Pria ini?" Selir Jing bertanya.
Baru saat inilah Tuan Besar mengingat Pria itu, menatapnya dengan dingin dan memerintahkan. "Bunuh!"
"Selanjutnya aku serahkan padamu." Ucap Tuan Besar pada Selir Jing, kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Kemarilah, seret Bibi He dan Pria ini keluar!" Perintah Selir Jing.
"Tidak! Tidak, tidak..." Selir Mo bergegas memeluk Bibi He.
Empat Penjaga masuk menjalankan perintah, menyeret Pria itu lalu menarik Bibi He dari pelukan Selir Mo.
"Tidak! Bibi, Bibi..." Selir Mo memegang erat pakaian Bibi He, menolak untuk melepaskannya.
"Selir..." Bibi He menangis haru.
"Selir Mo, lepaskan! Tindakanmu sama seperti menentang perintah Tuan." Ucap Selir Jing dengan tegas.
"Jing Rong, kau..." Selir Mo sangat marah.
"Selir Ibu, lepaskan!" Jiang Linxin menyela.
__ADS_1
"Selir, cepat lepaskan Nubi." Ucap Bibi He sambil mencoba melepaskan tangan Majikannya.
"Tidak Bibi, tidak..." Selir Mo tetap bersikukuh tidak ingin melepaskan.
Membuat Jiang Linxin tidak bisa menahannya lagi, bergegas melangkah maju dan memukul tangan Ibunya.
"Xin'er, kau..." Selir Mo berteriak kesakitan. Tidak bisa memegang pakaian Bibi He lagi, otaknya terstimulasi hingga pingsan.
Melihat perpisahan hidup dan mati seperti ini, Jiang Xingyu dan Selir Jing tidak bersimpati. Bukan karena tidak punya hati, tapi karena mereka tidak akan pernah bersimpati pada musuh.
Sedangkan Jiang Linyao tetap diam ketakutan. Saat semua orang melihatnya lebih teliti, mereka menyadari bahwa Dia telah berubah bodoh.
Jiang Xingyu tidak berencana berurusan dengannya lagi. Sebaiknya Dia tetap bodoh seumur hidupnya, jika tidak, Ia tidak akan pernah melepaskannya.
Dengan berakhirnya masalah ini, semua orang kembali ke tempatnya masing-masing.
Begitu Jiang Xingyu dan Selir Jing pergi, wajah Jiang Linxin berubah ganas dan sorot matanya menunjukkan amarah yang membara.
....
Hari ini kepolosan puteri kedua Selir Mo hancur dan orang kepercayaannya meninggal, yang paling bahagia tidak diragukan lagi adalah Selir Jing.
Tentu saja ada juga Selir Ketiga, Shu Ying.
Walaupun Tuan Besar sangat marah karena masalah hari ini, Ia tetap harus pergi ke Istana untuk melaporkan masalah Puterinya pada Kaisar.
Jika tidak, saat Puterinya tidak menghadiri Festival Peony, musuhnya akan menggunakan kesempatan ini untuk melengserkan jabatannya.
Tuan Besar tidak memberitahu Kaisar seluruh kejadiannya. Ia hanya mengatakan seorang pemetik bunga menyelinap memasuki Kamar Puteri ketiganya dan menghancurkan kepolosannya.
Sedangkan sebagai hukuman, Ia mengatakan sebagaimana kebenarannya.
Meski sebagian besar pelaku kejahatan harus diserahkan kepada Pemerintah, Jiang Zhang Wei selaku Menteri Pengadilan masih memiliki kuasa untuk menanganinya langsung ditempat.
Mengenai laporannya, Kaisar tidak ragu. Karena Ia tahu betapa pentingnya kepolosan seorang anak perempuan. Ia juga tahu penjagaan Jiang Mansion tidak begitu ketat sehingga tidak mustahil dimasuki oleh pemetik bunga.
Mengenai kesedihan Pejabat Jiang, Kaisar tidak bisa berbuat apapun. Hanya membiarkannya kembali setelah beberapa kalimat penghiburan.
Di malam hari, Selir Mo terbangun beberapa kali. Terus menerus menangis hingga pingsan, membuat kondisinya semakin buruk.
Hanya Jiang Xingyu yang tidak terpengaruh, masih berlatih menggambar Simbol Jimat di Kamarnya. Kemudian pergi ke Rumah Kayu dipertengahan malam.
.
__ADS_1
.
_____Happy Reading_____