-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
117 - Rencana Licik


__ADS_3

Semua orang tidak keberatan dan segera mulai mencari.


Kemudian...


"Aku menemukan Herbal lain,"


"Aku menemukan Polygonum Multiflorum lagi,"


"Ada juga Gingseng liar,"


"Walaupun aku tidak tahu namanya, ini pasti Herbal juga,"


"???"


Semua orang menghela nafas terkejut, mengapa ada banyak tumbuhan Herbal disini?


Akan tetapi Herbal yang mereka temukan belum digali, karena efeknya akan berkurang jika tidak langsung digunakan.


"Aku yakin Herbal-Herbal ini tidak tumbuh sendiri. Mungkin dulunya tempat ini merupakan Taman Herbal, tapi sudah lama ditinggalkan. Mungkin sudah tidak banyak yang tersisa." Tebak Jiang Xingyu.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" Ning Xia bertanya.


"Selain kita, seharusnya tidak ada orang lain yang mengetahui tempat ini. Perhatikan saja jika ada sesuatu yang mencurigakan. Untuk saat ini jangan menggali Herbal jika tidak dibutuhkan, karena tidak baik jika hanya disimpan saja." Kata Jiang Xingyu.


Setelah memikirkannya, Ia berkata lagi. "Juga, besok salah satu dari kalian pergilah ke Kota untuk membeli Buku Herbal, cari tahu jenis Herbal-Herbal ini serta manfaatnya."


"Ya." Jawab mereka serempak.


"Oh ya..." Tiba-tiba sebuah pikiran melintas dibenaknya, membuat matanya menyipit disertai senyuman disudut bibirnya. "Kualitas tanah disini sepertinya sangat bagus. Kita bisa membeli bibit Herbal, menanamnya dan menjualnya setelah panen. Dengan cara ini, kita tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan."


Semua orang dengan gembira menyatakan persetujuan mereka. Berikutnya, Ning Zhi serta yang lain mulai membagi pekerjaan, sementara Jiang Xingyu kembali pulang.


Dalam beberapa hari terakhir, karena tidak ingin bertemu dengan Pangeran Yuhao dan mengalami konflik lagi, Ia berhati-hati setiap kali melewati Rumah Bordil.


Sedangkan saat ini Pangeran Yuhao, Yan Zihang dan Shu Yinfeng, duduk bersebrangan di sebuah Ruangan elegan di Rumah Bordil, minum teh sambil menikmati alunan musik.


Baru setelah musik selesai, Pangeran Yuhao menyuruh mereka yang bermain musik untuk keluar, melihat kearah Yan Zihang lalu bertanya. "Zihang, bagaimana hasilnya?"


Ia bertanya tentang penyelidikan tiga hari yang lalu. Bukan karena Ia merasa memerlukan waktu tiga hari untuk menyelidiki Jiang Xingyu, tetapi tepat tiga hari yang lalu terjadi kerusuhan di sebuah daerah tidak jauh dari Ibukota. Kaisar mengirimnya untuk mengatasinya dan Ia baru kembali sore tadi.


"Dia pergi ke Rumah Judi." Jawab Yan Zihang singkat.


"Berjudi?" ekspresi Pangeran Yuhao berubah suram.


"Apakah Dia sangat kekurangan uang? bukankah Dia baru saja memenangkan dua ribu Koin Perak? ataukah Dia kecanduan judi?" kata Yan Zihang dengan jijik.

__ADS_1


.....


Keesokan harinya Jiang Xingyu tidak keluar pada siang hari, jadi rencana Selir Mo tidak dapat dilaksanakan.


"Kapan Dia akan keluar?" tanya Selir Mo kesal.


"Selir tidak perlu khawatir. Jika Dia tidak keluar hari ini, besok atau lusa Dia pasti akan keluar." Ucap Bibi He menghibur.


Benar saja...


Setelah satu hari berlalu, Jiang Xingyu merasa bahwa Ia harus pergi menemui Gurunya. Jika tidak, Ia akan menjadi sasaran amarah Gurunya lagi.


Tepat saat langkah kakinya memasuki Gang, tiba-tiba lima orang Pria berusia tiga puluhan mengelilinginya, mengenakan pakaian biasa yang tampak seperti Pria-Pria bodoh!


Pria yang berdiri paling depan memegang Belati, menunjuk kearahnya seraya berkata. "Serahkan semua uangmu! Jika tidak, jangan salahkan kami karena bertindak kasar!"


Mata Jiang Xingyu menyipit merasa kelima Pria bodoh ini tidak sederhana hanya merampoknya.


Berpikir demikian, Ia berpura-pura takut dengan bertanya. "Jika aku memberikan semua uangku, apakah kalian akan melepaskanku?"


"Cih! Benar-benar Gadis naif! Kami masih harus merusak kepolosanmu! Kalau tidak, em bagaimana mengatakannya..." Ucap Pria lain, tapi sebelum selesai mengatakannya, kepalanya ditampar oleh rekannya disertai bentakan. "Diam!"


Walaupun Pria itu belum selesai bicara, Jiang Xingyu sudah mengerti maksudnya.


"Siapa yang memberitahumu bahwa kami diperintahkan oleh seseorang? kami melakukannya atas keinginan kami sendiri, saudara-saudara, bukankah begitu?" seorang Pria buru-buru menjelaskan.


"Oh! Lalu mengapa kalian ingin merusak kepolosanku?" tanya Jiang Xingyu.


"Karena..." Pria yang kepalanya ditampar hendak berkata lagi, hanya setelah mengucapkan satu kata, rekannya menghentikannya lagi karena khawatir Dia akan mengatakan sesuatu yang salah lagi.


Pada saat yang sama mereka menyadari bahwa target sama sekali tidak ketakutan.


Kemudian seorang Pria membentak karena memiliki firasat tidak nyaman. "Tidak ada alasan lain! Sekarang kau harus bekerjasama dengan kami, jika kau memberontak, kami akan bersikap lebih kejam!"


"Benarkah?" Jiang Xingyu tersenyum dingin, berhenti berbicara omong kosong dan mulai menyerang.


Kelima Pria tidak menyangka target tiba-tiba menyerang, apalagi Beladiri nya ternyata sangat tinggi.


Tentu saja mereka akan berpikir demikian karena mereka hanya memiliki kemampuan layaknya kucing berkaki tiga.


Setelah beberapa serangan asal, mereka dipukuli hingga jatuh ketanah disertai ratapan menyakitkan.


"Kau, kau, kau..." Mereka memandangnya dengan ngeri.


"Nona, t-tolong maafkan kami..." Salah satu Pria memohon belas kasihan.

__ADS_1


Jiang Xingyu tidak menggubrisnya, sebaliknya bertanya dengan dingin. "Kuberi satu kesempatan lagi. Siapa yang memerintahkan kalian?"


"Ini..."


Mereka saling memandang, bisa dikatakan tidak ada yang berani mengatakan kebenarannya. Oleh karena itu mereka hanya bisa memohon.


"Nona, tolong ampuni aku. A-aku berjanji tidak akan berbuat jahat lagi..." Seorang Pria memohon sambil bersujud.


"Aku tidak pernah berbaik hati pada musuh. Sebelumnya aku telah memberimu kesempatan, kau lah yang tidak menginginkannya." Belati Naga tiba-tiba muncul ditangannya dan mengeluarkan seberkas cahaya menyilaukan.


Bayangannya berkedip melewati semuanya. Disaat yang sama seorang Pria terjatuh disertai tenggorokan berlumuran darah.


"Ah!" Mereka yang tersisa berteriak ngeri.


"Bagaimana?" suara dingin Jiang Xingyu terdengar seperti Hakim kematian.


"A-aku akan mengatakannya..." Seorang Pria akhirnya tidak bisa menahannya.


Namun diteriaki oleh Pria lain. "Bungsu, kau..."


"Bos, jika tidak mengatakannya, kita semua akan mati." Si Bungsu menyela.


"..." Pria yang dipanggil Bos membuka mulutnya, tapi tidak bisa berkata-kata.


"Jika kami mengatakannya, akankah Nona membiarkan kami pergi?" tanya si Bungsu yang terdengar gemetar.


"Tentu saja! Itu jika jawaban kalian membuatku puas." Ucap Jiang Xingyu, tangannya memutar memainkan Belati Naga.


Meski demikian, si Bungsu tetap mengatakannya. "Beberapa hari yang lalu seorang Wanita mendatangi kami. Karena mengenakan Topi besar, kami tidak bisa melihat wajahnya. Dari penampilannya Wanita itu sedikit gemuk dan suaranya terdengar seperti berusia empat puluhan. Dia berkata berasal dari Kediaman Jenderal Lin, Nona Lin Jiayin memerintahkannya menemukan sekelompok Pria untuk merusak kepolosan Jiang Xingyu."


"Lin Jiayin?" Jiang Xingyu mengerutkan kening merasa ada yang salah.


Bukan tidak mungkin Lin Jiayin yang melakukannya, namun keganjalannya bukanlah seharusnya Dia tidak memberitahu identitas aslinya?


Sudahlah! Lagipula Ia tidak mempercayai sekelompok Pria bodoh ini!


"Pergilah!" Ucapnya dengan dingin.


"Ya. Terima kasih, Nona..." Kemudian mereka melarikan diri seakan telah terbebas dari Penjara Kematian.


.


.


_____Happy Reading_____

__ADS_1


__ADS_2