
"Tidakkah Nona khawatir dengan memasukkan serigala liar ke Paviliun?" tanya Bibi Rong cemas.
"Untuk saat ini aku hanya ingin menemani Selir Mo bermain. Beri dia harapan lalu hancurkan hingga berkeping-keping, bukankah lebih menyenangkan?" ungkap Jiang Xingyu penuh semangat.
Bibi Rong tidak punya pilihan selain menyetujuinya. "Apa yang Nona katakan benar. Tapi Bibi masih harus mengawasi mereka. Hanya dengan memanfaatkan kesempatan, kita bisa melawan dengan cara yang indah."
"Itu wajar. Tapi Bibi tidak perlu mengawasi mereka disaat-saat biasa, cukup awasi ketika mereka bertukar kontak dengan Selir Mo. Selain itu beberapa hari sekali berikan mereka pekerjaan yang paling mereka benci." Kata Jiang Xingyu.
"Ya." Bibi Rong Rong tersenyum.
Setelah itu Jiang Xingyu kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Bibi Rong kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
...
"Nona, tidak ada bahan makanan di dapur, Bibi akan keluar dulu untuk membelinya." Kata Bibi Rong ketika melihat Nonanya duduk di anak tangga.
"Agak membosankan berdiam diri disini, aku akan ikut dengan Bibi," ucapnya sambil berdiri.
"Tapi Nona..." Bibi Rong melirik ke halaman samping.
"Tidak perlu khawatir. Untuk saat ini mereka tidak akan berani melakukan sesuatu." Pungkas Jiang Xingyu dengan santainya.
Bibi Rong mengangguk walaupun hatinya masih khawatir.
...
Tiba di jalanan ramai, Jiang Xingyu menghela nafas tertekan. Mengapa sesuatu selalu terjadi setiap kali Ia keluar?
Saat ini seorang pencuri mengulurkan tangannya pada kantong uang Bibi Rong.
Namun karena pencurinya hanyalah seorang anak lelaki berusia dua belas tahun, ia dan Bibi Rong membiarkannya pergi.
Tapi siapa sangka sebaliknya anak lelaki justru berlutut. "Nona, adikku sedang sakit parah. Tolong selamatkan adikku, sebagai imbalannya aku bersedia menjadi budak Nona untuk seluruh sisa hidupku."
Segera setelah berkata, dia diserang secara verbal oleh orang-orang disekitarnya.
"Yo, pengemis ini keluar untuk menipu lagi," ucap seorang pria dewasa.
"Bahkan dengan tipuan yang sama," timpa yang lain.
"Bocah pengemis ini telah berkeliaran disini selama tiga hari, tidak tahu berapa banyak orang yang telah dia tipu."
"Jangan mempercayainya Nona,"
__ADS_1
"Benar! Tidak tahu berapa banyak orang baik hati yang telah tertipu olehnya,"
Jiang Xingyu tidak mendengarkan ataupun memperdulikan ucapan mereka.
Hanya dari ekspresinya, ia mengetahui anak lelaki ini bukan penipu. Sedangkan mengapa mencuri, mungkin karena tidak punya pilihan lain.
"Nona..." Mata basah Bibi Rong memandang Nonanya. Ia tersentuh oleh ucapan anak lelaki itu dan ingin membantunya.
"Dimana adikmu?" tanya Jiang Xingyu.
Sontak oang-orang disekitar kembali memperingatinya.
"Hei Nona, bukankah sudah kami peringatkan? kau hanya akan membuang-buang uang jika mempercayainya."
"Ya benar!"
"Jangan tertipu pada wajah polos bocah itu,"
Jiang Xingyu tidak mengatakan apapun, hanya menatap anak lelaki dan menunggu jawabannya.
"Apakah Nona benar-benar akan menyelamatkan adikku?" anak lelaki bertanya untuk memastikan.
"Aku harus tahu dulu apa penyakit adikmu. Jadi untuk saat ini aku tidak bisa memastikan apakah adikmu bisa diselamatkan atau tidak." Jiang Xingyu tidak bisa berjanji begitu saja.
"Hei Nona, mengapa kau..."
Banyak orang yang masih ingin membujuk, tetapi sebelum selesai berbicara, mereka terpana ketika ditatap oleh mata dingin menakutkan.
Setelah itu Jiang Xingyu dan Bibi Rong mengikuti anak lelaki menuju pinggiran selatan Kota.
Tetapi sebelum itu ia meminta Bibi Rong untuk memanggil Dokter dari Rumah Medis terdekat.
Setelah dua perempat jam atau sekitar setengah jam, sekelompok kecil orang datang ke sebuah Rumah kosong.
Rumahnya tidak terlihat kecil tapi dari luar tampak seperti Rumah pribadi milik keluarga besar.
Hanya saja Rumah ini terletak di pelosok dan disekelilingnya dipenuhi vegetasi, bahkan tidak ada satupun orang dalam radius seratus meter. Seperti sebuah Rumah yang terisolasi.
Ekspresi Dokter berubah drastis dan berkata tidak akan masuk kedalam, sebaliknya meminta pasien yang akan diobati untuk dibawa keluar.
"Dokter, kenapa seperti ini?" Bibi Rong mengerutkan keningnya. Diikuti ekspresi kebingungan anak lelaki.
Tentu saja Jiang Xingyu mengetahui alasannya.
__ADS_1
Saat pertama tiba, ia merasakan aura suram yang berasal dari dalam, tapi aura tersebut tidak berbahaya.
Menilai dari ekspresi Dokter yang sangat ketakutan. Pasti karena ada rumor buruk atau mungkin sebelumnya telah terjadi sesuatu yang buruk di Rumah ini.
"Sebaiknya bawa pasiennya keluar dulu." Dokter tidak menjawab pertanyaan.
Bukan tidak ingin menjawab, tapi lebih bingung harus menjawab bagaimana. Jika menjawab mungkin akan membuat mereka ketakutan.
"Bibi, ayo masuk." Jiang Xingyu berinisiatif masuk terlebih dahulu.
Bibi Rong dan anak lelaki hanyalah orang biasa dan pasti akan ketakutan dengan hal yang berbau mistis. Dokter tidak mengatakan yang sebenarnya adalah untuk kebaikan mereka, juga agar tidak meninggalkan bayangan buruk di hati mereka.
Begitu masuk kedalam Rumah, mereka disambut dengan halaman luas dengan lapisan debu tebal dimana-mana serta daun-daun layu di tanah.
Aula utama tepat berada didepan, tentu saja sudah bobrok disertai jaring laba-laba merajalela di manapun. Bisa dikatakan tempat ini sangat sunyi dan suram.
Mereka mengikuti anak lelaki ke aula utama, tempat dimana adiknya berada.
Sesampainya didalam, mereka melihat seorang gadis berusia sepuluh tahun berbaring telentang di atas ranjang yang sudah tidak layak. Pakaiannya compang-camping, memiliki tubuh kurus dan wajahnya sangat pucat.
Tanpa menunggu instruksi Nonanya, Bibi Rong segera maju mendekati gadis itu, berinisiatif untuk menggendongnya keluar.
Anak lelaki ingin membantu, tapi setelah menyadari bahwa tubuhnya sangat lemah, ia mengurungkannya dalam raut wajah bersalah.
"Tidak apa-apa. Bibi sangat kuat dan bisa melakukannya sendiri." Bibi Rong menghiburnya.
Pada saat yang sama mata Jiang Xingyu tertuju pada sosok yang telah memperhatikan mereka dari dekat dinding. Lebih tepatnya sosok tubuh roh.
Tubuh roh tersebut tidak memiliki aura jahat. Sedangkan mengapa ada disini dan tidak bereinkarnasi, mungkin karena tidak bisa melupakan semua yang terjadi dalam masa hidupnya.
Dia adalah gadis berusia lima belas tahun. Keseluruhan penampilannya tergolong indah, mengenakan hanfu berwarna merah muda dengan kualitas yang cukup bagus. Sekilas tampak seperti Nona dari keluarga kaya.
Awalnya pandangan tubuh roh tertuju pada gadis yang sekarat seakan sangat mengkhawatirkan kondisinya.
Sesaat setelah merasakan seseorang menatapnya, dia tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan bertemu dengan tatapan seorang Nona cantik.
Dia tercengang sejenak dan bertanya-tanya apakah manusia ini bisa melihatnya?
Disaat berikutnya dalam sekejap kedipan mata, tubuhnya melintas tepat didepan mata pemilik wajah yang sangat cantik.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading____