-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
150 - Dianggap mata-mata


__ADS_3

Keesokan paginya Jiang Xingyu bangun di jam seperti biasanya.


Sontak ia terkejut melihat dekorasi ruangan disekelilingnya. Disaat yang sama menyadari bahwa tadi malam dirinya tertidur akibat kelelahan. Raja Chonglou pasti membawanya ke Kediaman rahasia Feng Yuqie.


Memikirkan apa yang terjadi semalam, ia sangat kesal sekaligus takut. Jika bukan karena tubuhnya yang tiba-tiba tersedot ke dalam ruang cincin, jika seandainya Raja Chonglou tidak menemukannya tepat waktu, ia terlalu takut memikirkan bahwa dirinya hampir saja menjadi makanan roh jahat.


Ia perlahan berdiri sambil merapikan pakaiannya. Rambutnya berantakan tapi untungnya Bibi Rong selalu mengatur rambutnya dengan gaya sederhana, sehingga mudah baginya untuk meniru.


Keluar ruangan, matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Ia berjalan menghampiri Ning Rui yang sedang bermeditasi di halaman. "Saat Pamanmu bangun, katakan padanya aku sudah pergi."


Tepat setelah kepergiannya, pintu ruang belajar terbuka dan seorang pria berpakaian ungu berjalan keluar, sambil mengerutkan keningnya ke arah menghilangnya gadis yang pergi tanpa mengucapkan terima kasih.


Sedangkan agar tiba di Kediaman lebih awal, Jiang Xingyu terbang di atas atap di sepanjang jalan.


Namun ia terlalu percaya diri akan keterampilan peringan tubuhnya yang diyakininya tidak akan membuat kesalahan. Hingga akhirnya ia tidak sengaja membuat kesalahan saat kakinya menginjak ubin atap.


Benar saja! Beberapa saat kemudian ia merasakan dua aura pembunuh mendekat di belakangnya. Ia yakin dirinya telah disalahpahami sebagai musuh.


Bagaimanapun tidak baik baginya untuk melawan karena beladiri pihak lain berada di atasnya. Selain itu jika ingin bersembunyi di ruang dimensi, terlebih dahulu ia harus mencari tempat yang sepi.


Untungnya ada sebuah gang didepannya. Ia segera melompat dari atap, menggunakan pikirannya dan menghilang begitu saja.


Dua orang yang mengejar di belakang segera mengikuti melompat dari atap, tapi keduanya tidak menemukan target setelah mencari ke semua sisi.


"Tuan, kita kehilangan target." Ucap seorang pria yang terlihat seperti pengawal pribadi.


"Menurutmu, siapa yang mengirimnya untuk memata-matai Ben Wang?" tanya seorang pria yang terdengar dingin.


"Tidak mudah menebaknya. Jika bukan Pangeran Yuche, pasti Pangeran Yuhao." Jawab pengawal tersebut.


"Kenapa bukan Paman Yin?" pria dingin bertanya lagi, kali ini suaranya terdengar acuh tak acuh.


"Dengan kemampuan Pangeran Yin, sangat mudah baginya untuk mengetahui apa yang ingin dia ketahui. Selain itu tidak mudah untuk menemukan mata-matanya." Ucap sang pengawal.


Pria yang menyebut dirinya sebagai Ben Wang, tidak berbicara dan hanya menatap pengawalnya dengan dingin.


Membuat pengawal tersebut ketakutan. "Tuan, bawahan tidak bermaksud begitu. Bawahan hanya..."


"Tidak! Kau benar!" Pria dingin menyela.

__ADS_1


Di ruang dimensi meskipun Jiang Xingyu tidak bisa melihat situasi diluar, ia bisa merasakan nafas orang diluar serta mendengar percakapan tersebut.


Dan dari apa yang mereka bicarakan, ia menebak identitas pria yang suaranya terdengar dingin adalah Pangeran kedua, Murong Yuxuan.


Beberapa saat kemudian setelah dialog percakapan selesai, kedua pria tersebut pergi. Tapi Jiang Xingyu tidak segera keluar. Ia menebak mereka mungkin saja hanya sedang bersembunyi.


Tiba-tiba! Kepala manusia muncul dihadapannya dan secara naluriah membuatnya terkejut.


"Kau hampir membuatku mati ketakutan." Ucapnya disertai tatapan tidak puas.


"Ah? kenapa?" jawab roh cincin.


"Bisakah kau mengganti pakaianmu? ruang disini berwarna putih dan pakaianmu juga putih, setiap kali kau muncul membuatku ketakutan karena aku hanya melihat kepalamu." Ucap Jiang Xingyu.


Roh cincin membeku sejenak, kemudian bereaksi. "Oh. Aku mengerti." Kemudian ia berputar dan pakaiannya putihnya langsung berubah berwarna hijau.


Meskipun Jiang Xingyu telah melihat banyak hal fantasi, ia masih tidak bisa menahan keterkejutannya setelah roh cincin mengganti bajunya hanya dengan cara berputar saja.


Kemudian ia duduk bersila. Tempat disini hanya terlihat seperti hamparan awan putih, tentunya di semua tempat sangat bersih.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau menjadi roh cincin?" tanyanya yang sangat penasaran mengenai hal ini.


Entah mengapa Jiang Xingyu merasa bahwa ingatan yang dilupakan oleh roh cincin pasti hal yang sangat penting.


Mungkin ada kebencian di kehidupan sebelumnya dan di kehidupan ini? apa yang sebenarnya terjadi?


Sudahlah! Suatu saat nanti ia pasti akan mengetahuinya.


Beberapa waktu kemudian...


Saat merasakan tidak ada gerakan diluar, ia yakin mereka sudah pergi jauh. Oleh karena itu ia menggunakan pikirannya untuk keluar dari ruang dimensi.


Agar tidak terjadi hal yang sama, kali ini ia tidak lagi terbang di atas atap, melainkan berjalan menuju jalan utama.


Namun nyatanya Jiang Xingyu terlalu meremehkan kesabaran dua orang yang mengikutinya.


Pangeran Yuxuan dan pengawalnya tidak pergi jauh. Mereka telah mengamati lingkungan disekitar. Ada dua cara jika target ingin pergi, pertama terbang di atas atap atau berjalan kaki yang mengarah ke jalan utama.


Dengan ini, mereka pergi ke kedai teh yang berada di seberang gang dan duduk di dekat jendela di lantai dua. Mengintai dengan cara yang halus.

__ADS_1


"Ikuti dia dan temukan kesempatan untuk membunuhnya." Pangeran Yuxuan memerintahkan.


Tidak peduli apakah target adalah mata-mata atau bukan, lebih baik membunuhnya untuk berjaga-jaga. Karena hanya orang mati yang paling aman.


"Ya." Jawab seorang bawahan.


Jiang Xingyu masih tidak tahu bahwa dirinya sedang diincar. Karena ada begitu banyak orang di jalan dan pihak lain telah menyembunyikan nafasnya, jadi wajar saja jika dia tidak menyadarinya.


Sebelum pulang Jiang Xingyu memutuskan untuk sarapan semangkuk mie. Ia berpikir untuk mencari kedai mie dengan jumlah pengunjung paling banyak.


Kedai mie yang memiliki banyak pengunjung seharusnya rasanya tidak buruk.


Belum menemukan kedai mie, ia justru bertemu seseorang.


"Nona Jiang, kebetulan sekali. Apa kau keluar untuk sarapan juga? jika begitu bolehkah aku mengundangmu untuk sarapan denganku?" terdengar suara penuh kegembiraan seolah telah memenangkan lotere.


Melihat Lu Junqing menghampirinya dengan penuh semangat, Jiang Xingyu tersenyum tak berdaya. Namun ia tahu alasan antusiasme Lu Junqing terhadapnya.


"Tentu saja." Ucapnya disertai anggukan kepala.


Yang membuat senyum Lu Junqing semakin merekah. "Nona Jiang, kau ingin sarapan apa?"


"Mie. Apa kau tahu dimana kedai mie yang enak?" tanya Jiang Xingyu.


"Kau bertanya pada orang yang tepat! Aku tahu dimana kedai mie paling enak di Ibukota. Selain itu setiap hari ramai pengunjung, bahkan kesulitan untuk menemukan tempat duduk." Jawab Lu Junqing dengan bangga.


Kemudian keduanya pergi ke kedai mie tertentu. Setibanya di sana, kedai tersebut memang ramai pengunjung. Melihat ke sekeliling, mereka benar-benar tidak menemukan tempat duduk.


Untung saja ada dua orang yang telah selesai makan, kemudian meninggalkan meja yang terdapat dua tempat duduk.


Lu Junqing segera berlari menuju meja tersebut seolah takut ada orang lain yang merebutnya. Tindakannya yang kekanak-kanakan membuat Jiang Xingyu menyerukan kata 'Naif!'


Melihat Nona Jiang masih berdiri, Lu Junqing segera memanggilnya. "Cepat duduk disini."


Jiang Xingyu tersenyum tipis lalu menghampirinya. Saat hendak duduk, kursinya direbut oleh seorang gadis cantik.


.


.

__ADS_1


_____Happy Reading_____


__ADS_2