-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
114 - Dia Yang Menyembuhkanku?


__ADS_3

"Kau, kau, kau..." Ning Rui menunjuk Jiang Xingyu dengan gemetar. Tidak tahu apakah karena marah atau terkejut, bagaimanapun Ia tidak bisa berkata-kata.


Mengikuti tuduhannya, Feng Yuqie dan Yuwen Junxiu juga memandang dengan keraguan. Mereka berpikir apakah Pedang patah berkaitan dengannya?


"Apa yang kau tunjuk? itu karena Pedangmu yang berkualitas buruk!" Jiang Xingyu paling benci saat seseorang mengarahkan jari padanya.


"Kau! Pedangku tidak berkualitas buruk. Itu kau, itu kau..." Ning Rui sangat marah karena kenyatannya tidak demikian. Pedangnya sangat tajam hingga mampu memotong besi layaknya memotong sayuran.


"Jika Pedangmu tidak berkualitas buruk, bagaimana mungkin bisa patah?" Jiang Xingyu membalas.


Ning Rui tersedak dan hatinya mulai bertanya-tanya. Mungkinkah Pedangnya benar-benar berkualitas buruk?


Pedang ini diberikan oleh Tuannya, mengatakan bahwa Pedang biasa tidak bisa mematahkannya. Hanya senjata berkualitas tinggi yang mampu mematahkannya.


Mungkinkah Belati Jiang Xingyu lebih kuat dari Pedang miliknya?


Memikirkan kemungkinan ini, Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya berjongkok untuk mengambil bagian Pedangnya, memeluknya, menundukkan kepalanya dalam kesepian sambil bergumam dengan putus asa. "Maaf, Tuan. Aku tidak bisa melindungi Pedang yang Anda berikan padaku."


Suara sedih serta sosoknya yang kesepian membuat Jiang Xingyu merasa bersalah.


Sedangkan karena tidak melihat seluruh kejadiannya, Feng Yuqie dan Yuwen Junxiu tidak bisa ikut campur.


Namun saat melihat tatapan sedih Ning Rui, Yuwen Junxiu berkata. "Hanya sebuah Pedang. Kau bisa meminta satu lagi pada Tuanmu."


Bukannya bahagia, Ning Rui justru berkata dengan cemas. "Tapi aku mematahkan Pedang yang Guru berikan kepadaku. Apakah Beliau akan kecewa?"


"Tentu saja tidak! Tidak peduli seberapa bagus sebuah Pedang, cepat atau lambat pasti akan berkarat. Selama kau bahagia dan sehat, itu lebih penting dari apapun." Feng Yuqie menghibur.


"Benarkah?" Ning Rui bertanya, matanya berkilau dengan harapan serta ketidakpastian.


"Jika kau tidak percaya padaku, setidaknya kau percaya pada Paman Gurumu kan?" Feng Yuqie bertanya balik.


Ning Rui langsung melihat kearah Paman Gurunya, walaupun tidak mengatakan apa-apa, matanya yang penuh harap telah mengungkapkan pikirannya.


"Ya." Jawab Yuwen Junxiu dengan serius.


Setelah mendapatkan konfirmasinya, Ning Rui tertawa riang, membuang kesedihan serta kesepian yang baru dirasakannya. "Kalau begitu aku akan menyimpan Pedang ini. Meskipun sudah patah, ini adalah hadiah dari Guru. Aku tidak akan membuangnya."


Kemudian Ia buru-buru berbalik dan pergi.


"Nona Jiang, kau baik-baik saja?" Feng Yuqie bertanya dengan sopan.


Baru setelah mendengar ini, Jiang Xingyu menyadari bahwa tidak ada rasa sakit ditubuhnya, seolah-olah Ia tidak pernah terluka.

__ADS_1


Namun Ia juga menyadari seseorang pasti telah membantunya menyembuhkan lukanya.


Dan orang ini, itu pasti Pangeran Yin. Karena Pangeran Yin lah yang telah menyelamatkannya tadi malam.


"Aku baik-baik saja. Pangeran Yin! Dia menyelamatkanku dan menyembuhkanku, aku ingin berterima kasih padanya secara langsung." Ucapnya dengan kesopanan yang sama.


Seketika wajah Feng Yuqie mengembun dan ekspresinya terlihat aneh. Sementara wajah Yuwen Junxiu menjadi gelap dan matanya jelas terlihat marah.


Sial! Jelas Ia yang menyembuhkan lukanya, tapi Wanita ini akan berterima kasih pada Pangeran Yin? bukan padanya?


Melihat reaksi keduanya, Jiang Xingyu mengernyitkan dahinya karena kebingungan.


"Ahem!" Feng Yuqie terbatuk tidak wajar lalu menjelaskan. "Yin pergi ke Istana. Memang Yin yang menyelamatkanmu tadi malam, tapi Dialah yang menyembuhkanmu."


Berbicara tentang 'Dialah' Ia melirik Pria disebelahnya.


Karena identitas Yuwen Junxiu tidak boleh diungkapkan dan tidak boleh memanggilnya dengan nama lengkap di depan orang luar.


"Apa? bagaimana mungkin?" kalimat tersebut tidak diragukan lagi mengejutkan Jiang Xingyu.


Ia tidak meragukan ucapan Feng Yuqie, sebaliknya hanya tidak percaya bahwa Pria es kutub utara ini akan menyembuhkannya.


"Wanita, apa maksudmu?" mata dingin Yuwen menatap langsung kearah Jiang Xingyu.


"Terkejut? kenapa?" Feng Yuqie bertanya dengan bingung.


"Akankah kau percaya seseorang yang selalu melihatmu dengan mata tidak menyenangkan, akan menyembuhkanmu?" Jiang Xingyu menjawab dan bertanya secara retoris, mengabaikan bahwa Pria itu masih disini.


"Eh..." Feng Yuqie tertegun.


Baru kemudian Ia menyadari bahwa mereka berdua memang selalu berselisih setiap kali bertemu.


Wajah Yuwen Junxiu sangat suram dan auranya semakin dingin, membuat dua orang disekitarnya tidak bisa menahan gemetar.


"Dingin sekali. Sepertinya pakaianku terlalu tipis. Aku harus pulang dan berganti pakaian yang lebih tebal. Jika tidak, aku pasti akan sakit." Jiang Xingyu sengaja mengatakannya supaya menemukan alasan untuk pergi.


Kemudian Ia memandang Pria balok es tertentu lalu berkata tanpa ragu. "Tuan, terima kasih telah menyembuhkanku. Sebagai balasan, aku pasti akan mengundangmu makan siang dilain waktu. Selamat tinggal."


Tanpa menunggu jawaban, Ia menyelinap pergi.


Saat mendengar ucapan terima kasih, ekspresi dan aura Yuwen Junxiu perlahan kembali normal. Bahkan Ia mengingat kalimat undangan makan siang dari Wanita itu.


Disisi lain Feng Yuqie tidak bisa menahan tawanya. "Hahaha! Huh, auramu terlalu dingin, bahkan aku, aku juga ingin menambahkan..."

__ADS_1


Sebelum kata 'Pakaian' diucapkan, Ia menerima tatapan dingin yang membuatnya seketika bungkam.


Setelah keluar, Jiang Xingyu menyadari bahwa dirinya tidak berada di Kediaman Pangeran Yin. Disepanjang jalan Ia tidak melihat orang lain. Selain itu tempat ini tidak seperti Kediaman Utama, melainkan seperti sebuah Halaman dengan hanya beberapa Ruangan.


Ia langsung kembali pulang. Untung saja Penjagaan di Kediamannya tidak terlalu ketat sehingga Ia bisa kembali ke Paviliun Weiyang tanpa diketahui.


Di Paviliun Weiyang, Bibi Rong tidak menyadari bahwa Nonanya tidak ada sepanjang malam. Dipagi hari saat Nonanya tidak bangun untuk berlatih seperti biasanya, Ia tidak khawatir karena mengira Nonanya masih tidur.


Tidak sampai Ia melihat Nonanya yang berpakaian hitam memasuki Paviliun, Ia terkejut bertanya-tanya apa yang terjadi?


Secara alami Jiang Xingyu tidak mengatakan yang sebenarnya. Hanya mengatakan pagi-pagi sekali Ia pergi berlatih ditempat lain.


Tentu saja Bibi Rong tidak meragukannya, tetapi melihat Nonanya berlatih sangat keras membuat hatinya sakit.


Kemudian Ia meminta Nonanya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi sarapan sudah siap.


.....


Selama tiga hari berikutnya, Jiang Xingyu tidak keluar saat siang hari. Ia tetap tinggal di Kamarnya untuk berlatih menggambar Simbol Jimat. Lalu pergi berlatih Beladiri di Rumah terlantar pada malam harinya.


Tidak! Sekarang Rumah itu bukan lagi Rumah terlantar, melainkan Rumah Kayu.


Ketika memikirkan nama Rumah hari itu, Ia tiba-tiba berpikir bahwa nama Ning Zhi, Ning Xia, Qing Bei dan Qing Jiao, masing-masing memiliki karakter kayu. Jadi Ia mengambil karakter kayu tersebut sebagai nama Rumah.


Dan disaat Ia pergi ke Rumah Kayu, ada sebuah episode dimana Ia diikuti.


Pikiran pertama yang muncul dibenaknya adalah orang yang mengikutinya merupakan Bawahan Pangeran Yuhao, karena setelah kejadian malam itu, Ia yakin Pangeran Yuhao tidak akan membiarkannya begitu saja.


Setelah diikuti, tentunya Ia tidak langsung menuju Rumah Kayu. Sebaliknya memasuki Rumah Judi tertentu tapi hanya berkeliling saja. Baru setelah merasakan seseorang tidak lagi mengikutinya, Ia menyelinap ke Rumah Kayu.


Karena Ning Zhi dan Ning Xia berada dalam situasi tidak aman, mereka tetap tinggal di dalam Rumah. Dan karena rasa bosan, mereka bertanya padanya apakah ada sesuatu yang bisa mereka lakukan.


Sepasang saudara kecil juga berkata demikian. Kegiatan mereka memang membantu membersihkan Rumah, namun Rumah hanya dibersihkan disaat tertentu saja. Selebihnya mereka hanya bersantai.


Setelah mendengar keluhan mereka, Ia berpikir sejenak. Kemudian menyarankan agar Ning dan Ning Xia mengajari sepasang saudara kecil itu untuk berlatih Beladiri. Ia tidak menuntut mereka berdua untuk menjadi Master Beladiri, tapi setidaknya mereka harus memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri.


Selain latihan Beladiri, mereka berdua juga perlu berlatih Kaligrafi. Karena membaca dan menulis juga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan.


.


.


_____Happy Reading_____

__ADS_1


__ADS_2