
"Aku sudah memberitahu namaku. Jika kalian ingin balas dendam, datang saja ke Jiang Mansion. Aku pasti akan menyambut kalian dengan meriah." Jiang Xingyu berkata dengan nada dan sikap arogan. Mengabaikan semua orang yang masih terkejut, ia berbalik pergi.
Baru setelah sosoknya tidak terlihat lagi, semua orang bereaksi dengan ekspresi masih tidak percaya.
"Apa?! Dia benar-benar Jiang Xingyu?"
"Astaga! Aku tidak pernah menyangka ternyata Wanita cantik itu adalah Jiang Xingyu."
"Jiang Xingyu benar-benar kembali dan benar-benar berubah. Tetapi hal yang paling tidak terduga ternyata dia berubah sangat cantik."
"Bahkan lebih cantik dari Nona Lin."
"Pada waktu itu Nalan Wangzi merupakan Wanita paling cantik diseluruh Ibukota. Puterinya, bagaimana mungkin jelek?"
Kisah Jiang Xingyu diganggu oleh sekelompok Pemabuk menyebar sangat cepat.
-Kediaman Pangeran Yuhao-
Karena sebelumnya Pangeran Yuhao mengutus Bawahannya untuk memantau pergerakan Jiang Xingyu, sebelum kisahnya menyebar, ia mendengarnya lebih dulu.
Setelah mendengar semuanya terutama apa yang dilakukan Jiang Xingyu, Pangeran Yuhao sangat terkejut dan bertanya-tanya apakah benar-benar dia yang melakukannya.
Sebelumnya ia hanya mendengar berita tentang perubahan otaknya. Sedangkan tentang wajahnya yang berubah sangat cantik, ia tidak pernah mendengarnya.
"Kemana dia pergi?" ia bertanya pada Bawahannya yang datang melapor.
"Ampuni Hamba, Yang Mulia. Awalnya Hamba mengikutinya, tetapi Hamba kehilangan jejak." Bawahan tersebut berlutut dan memohon ampun karena gagal menjalankan tugas.
Pangeran Yuhao lagi-lagi terkejut. Walaupun Bawahannya bukan Master kelas satu, tapi masih memiliki kemampuan yang cakap dan bisa dikatakan sebagai Master kelas dua. Ia tidak pernah berpikir Bawahannya akan gagal mengikuti Jiang Xingyu.
Namun dibandingkan memikirkan apakah Jiang Xingyu memiliki kemampuan atau tidak, ia lebih percaya gagalnya tugas Bawahannya adalah karena suatu kecelakaan.
"Pergilah!" Ucapnya sekilas.
"Terima kasih, Yang Mulia." Tidak dihukum, Bawahan tersebut menghela nafas lega, mengucapkan terima kasih lalu beranjak pergi.
...
Sebelumnya setelah Jiang Xingyu berbalik pergi meninggalkan kerumunan, ia menyadari ada yang mengikutinya.
__ADS_1
Mungkin karena pihak lain meremehkannya dan tidak menyembunyikan nafasnya, ia menyadarinya dengan mudah.
Dalam hidupnya apa yang paling ia benci adalah diikuti karena niat tertentu.
Tentu saja ia tidak akan berisiniatif memulai pertarungan. Bukan karena malas, tapi karena ia tidak ingin membuang-buang waktunya. Apalagi karena tidak mengetahui seberapa besar kekuatan pihak lain, lebih baik jangan bersikap impulsif.
Tapi bukan berarti ia akan membiarkan pihak lain mengikutinya.
Oleh karena itu ia memasuki Toko Pakaian dan berniat mengganti pakaiannya.
Walaupun ia merasa tidak ada manfaatnya bagi seorang Wanita untuk berpura-pura seperti Pria, tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini lebih baik baginya untuk memakai pakaian Pria. Setelah melapisi beberapa riasan diwajahnya, bahkan jika orang lain masih mengenalinya sebagai seorang Wanita, tapi setidaknya tidak akan mengenali identitasnya sebagai Nona Sulung Jiang Mansion.
Setelah mengganti pakaiannya ia tidak keluar dari pintu utama, melainkan keluar dari pintu samping. Kemudian berjalan kearah depan lagi dengan tujuan ingin mengetahui siapa yang mengikutinya.
Benar saja, didekat Kedai kecil yang tidak jauh dari Toko Pakaian, seorang Pria dengan pakaian berwarna biru laut dari waktu ke waktu terus melihat kearah pintu utama Toko Pakaian. Menilai dari desain pakaian yang dikenakannya, sepertinya dia merupakan Penjaga dari Keluarga Besar.
Pria itu menunggu lama tapi tak kunjung melihat sosok targetnya keluar. Sesaat ia tiba-tiba merasakan firasat buruk dan buru-buru berjalan masuk kedalam Toko Pakaian.
Setelah mencari dan tidak menemukan targetnya, ia mengerutkan dahinya. "Apakah Wanita itu menyadarinya?"
Sejujurnya ia tidak mau mengakui tebakannya sendiri. Tapi karena tidak bisa menemukan alasan lain yang cocok, ia terpaksa mengakuinya.
Di tempat persembunyiannya, melihat Pria yang mengikutinya pergi, Jiang Xingyu bergantian mengikutinya.
Sedangkan karena tidak pernah berpikir akan berbalik diikuti oleh targetnya, Pria itu tidak waspada dan berjalan dengan langkah santai.
Beberapa waktu kemudian setelah melihat Pria itu memasuki Kediaman Pangeran Yuhao, ekspresi Jiang Xingyu berubah suram. "Pangeran Yuhao?"
Awalnya ia tidak akan menghubungkan Pria yang mengikutinya hari ini dengan seseorang yang ada diatas atapnya tadi malam, tapi sekarang keduanya jelas berhubungan dengan Pangeran Yuhao.
Matanya menyipit tajam dan karena tidak ingin membuang-buang waktu lagi, ia berbalik pergi kearah lain, membeli seekor Kuda, menaikinya dan pergi keluar IbuKota.
Setelah keluar dari Ibukota, ia mengurangi kecepatan Kudanya bertujuan agar lebih leluasa mencari Bibi Rong.
Walaupun tidak memiliki harapan, ia pantang menyerah dan tetap mencari. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya mencari disepanjang rute menuju Kuil Yun, tapi juga mencari diseluruh area yang berada dalam lingkupnya.
Berjam-jam kemudian ketika tak kunjung menemukan Bibi Rong, ia menghentikan langkanya dan menitipkan Kudanya pada Penjaga Gerbang Kuil, memasuki Kuil untuk berdoa lalu keluar sesudahnya.
Setelah beristirahat sejenak, ia berencana kembali ke Ibukota. Hanya saja sebelum kakinya melangkah keluar dari pintu Kuil, seorang Pendeta tiba-tiba menghentikannya. "Tuan, tolong tunggu sebentar."
__ADS_1
Pendeta itu berusia sekitar 50 tahun. Mengenakan pakaian Pendeta berwarna biru tua dan memegang spanduk vertikal bertuliskan 'Peramal Dewa' ditangan kirinya. Ciri-ciri normal, kulit coklat gelap, janggut lebat abu-abu, alis abu-abu, serta mata sipit yang membuat orang merasa tidak nyaman.
Jiang Xingyu sangat tidak menyukai Peramal ataupun Dukun semacam ini. Oleh karena itu nadanya terdengar tidak ramah. "Apakah ada sesuatu?"
"Selain pakaian, tidak salah lagi Anda merupakan seorang Wanita." Ucap Pendeta.
Jiang Xingyu menatap Pendeta dan tanpa malu berkata. "Tidak ada hubungannya denganmu apakah aku seorang Pria atau Wanita. Lagipula aku tidak pernah mengatakan kalau diriku seorang Pria. Bahkan berdasarkan dari wajah dan suaraku, orang bodoh pun tahu aku seorang Wanita."
Seketika wajah Pendeta memerah karena malu. Ia merasa seperti telah mengangkat batu besar dan menghantamnya pada kakinya sendiri.
Jiang Xingyu tidak pernah memiliki kesan yang baik pada Peramal seperti ini. Alasannya karena kebanyakan hanya akan menipu uang, jadi ia berjalan pergi karena tidak ingin meladeninya lagi.
"Hei Nona, aku belum meramalmu," Sang Pendeta buru-buru menghentikan dan membuat Jiang Xingyu semakin kesal. "Aku tidak butuh ramalanmu!"
"Yakinlah, Nona. Ramalanku sangat akurat." Pendeta tidak menyerah.
"Aku tidak punya uang!"
"Tidak perlu uang. Nona tidak perlu membayar."
"Tidak ada yang gratis di Dunia ini."
"Tapi ada seseorang yang ditakdirkan di Dunia ini. Tolong percayalah, Nona. Ramalanku sangat akurat."
Jiang Xingyu tidak percaya ada seseorang yang ditakdirkan. Terlebih lagi ada banyak orang yang datang ke Kuil Yun, mengapa hanya ia yang merupakan orang yang ditakdirkan? bukankah artinya ia orang yang ditakdirkan akan ditipu oleh Pendeta ini?
"Sebelumnya Nona memiliki kehidupan yang buruk. Tidak hanya merindukan sosok seorang Ibu, tapi juga ada seorang Ayah yang tidak menyayangi Nona. Bahkan Nona tidak akur dengan para Saudari Nona." Ekspresi Pendeta sangat percaya diri.
"Lumayan. Cukup Akurat." Jiang Xingyu memuji tanpa ragu. Tapi bukan berarti ia akan percaya.
Pendeta tersenyum dan melanjutkan. "Namun ada satu orang yang memperlakukan Nona dengan sangat baik, kini orang itulah yang sedang Nona cari."
Tiba-tiba kesabaran Jiang Xingyu sudah habis, menatap langsung pada Pendeta itu dan bertanya. "Katakan! Sebenarnya apa tujuanmu?"
.
.
______Happy Reading_____
__ADS_1