-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
033 - Pindah Ke Paviliun Weiyang


__ADS_3

Setelah pertemuan Aula berakhir, memanfaatkan hari yang masih belum gelap, Tuan Besar mengganti pakaiannya dengan pakaian resmi kemudian pergi menuju Istana Kekaisaran.


Ia pergi ke Istana karena ingin melaporkan kepada Yang Mulia Kaisar bahwa Puterinya sudah kembali. Hal itu bertujuan agar Kaisar menarik pasukan yang sebelumnya dikirim untuk mencari keberadaan Puterinya.


.....


Paviliun Weiyang dibersihkan dalam kurun waktu singkat dan Jiang Xingyu langsung masuk tanpa membawa apapun dari Halaman Utara. Lagipula memang tidak ada sesuatu yang berharga di Halamannya.


Ketika langit mulai gelap, Tuan Besar kembali dari Istana. Tanpa berganti pakaian, ia langsung menuju Paviliun Weiyang untuk menyampaikan titah lisan Kaisar pada Puterinya.


Titah Lisan Kaisar. 'Besok pagi Jiang Zhang Wei dan Jiang Xingyu pergi ke Istana untuk menghadapnya.'


Sejak awal Jiang Xingyu sudah menduganya, jadi ia tidak sedikitpun terkejut. Adapun mengapa Kaisar memanggilnya, itu bukan karena Kaisar peduli padanya, tetapi karena Kaisar mengetahui bahwa ia sudah berubah dan ingin memastikannya sendiri.


Malam hari saat sinar Rembulan jatuh dengan tenang diatas dedaunan dan bunga-bunga. Dilantai dua Paviliun Weiyang yang menjadi Kamarnya, Jiang Xingyu berdiri didekat jendela dan pandangannya melihat keatas Langit malam berbintang. Tanpa tau sebabnya, keningnya tiba-tiba berkerut.


Ia sedang memikirkan kehidupannya setelah datang ke Zaman Kuno. Sudah beberapa hari namun ia belum sepenuhnya beradaptasi ataupun sepenuhnya menerimanya.


Tidak ada Ponsel, tidak ada Komputer, tidak ada hal-hal berteknologi tinggi, ini membuat kehidupannya terasa sangat membosankan. Jika bisa, ia ingin kembali ke Dunianya, kembali ke Zaman Modern.


Menghela nafas tak berdaya, kemudian pikirannya berkelana pada Cincin berwarna merah yang melingkari jari manisnya. Mengingatnya lagi, ia mengangkat tangan kanannya dan melihatnya dengan hati-hati.


Ketika sedang melihat Cincin, entah mengapa ia merasa seperti melihat ilusi pemandangan lain dibaliknya. Namun ia segera kembali sadar. Ketika melihatnya lagi sudah tidak merasakan apapun.


Ia berpikir mungkin karena terlalu kelelahan hingga menyebabkannya berhalusinasi.


"Sudah larut, waktunya tidur." Ucapnya pelan lalu menutup jendela. Melangkah kearah tempat tidur, berbaring diatas kasur yang empuk, menutupi tubuhnya dengan selimut dan dengan tenang menjelajah ke Alam Mimpi.


Disisi ini ia tertidur lelap, namum disisi lain ada beberapa orang yang tidak bisa tidur.


Malam yang tenang ditemani oleh semilir angin sepoi-sepoi yang bertiup pelan. Langit berwarna hitam pekat namun didampingi oleh Rembulan yang bersinar terang. Walaupun suasananya tenang, namun keindahan sinar Bintang-Bintang di Langit membuat malam terasa begitu memabukkan.


Di Halaman yang tidak disebutkan namanya, tepat dibawah Pohon Bunga Persik, seorang Pria mengenakan Jubah malam berwarna Ungu sedang berdiri dengan posisi kedua tangan dibelakang punggungnya. Tubuhnya memancarkan aura ketidakpedulian dan keterasingan. Selalu membuat seseorang memiliki perasaan yang sulit didekati.

__ADS_1


Fitur wajahnya tampan dan dingin. Namun saat ini kedua alisnya berkerut. Tatapan matanya sangat dalam dan tidak terduga.


Pria itu adalah Juwen Junxiu.


Kali ini ia datang ke Ibukota karena memiliki hal-hal penting yang harus diurus. Untuk menghindari agar tidak dikenali oleh orang-orang tertentu, ia harus menyamarkan identitasnya.


Selarut ini ia tidak tertidur karena sedang menunggu berita dari Sahabatnya, Feng Yuqie.


Sesaat setelahnya langkah kaki terdengar di belakangnya, ia tidak berbalik karena tahu Sahabatnya sudah kembali.


Setelah langkah kaki semakin mendekat, sebuah suara memasuki telinganya. Namun suara itu terdengar seperti bukan milik Sahabatnya, melainkan terdengar seperti milik Pemuda yang belum dewasa. "Paman Guru, aku mendengar kau sedang mengejar seorang Wanita dijalanan. Bagaimana? apakah kau sudah menangkapnya?"


Suara itu milik seorang Pemuda yang berusia sekitar 12 tahun. Wajahnya yang masih belum dewasa terlihat tampan bagaikan patung tiga dimensi yang terbuat dari ukiran batu giok. Suaranya terdengar bersemangat dan dipenuhi rasa ingin tahu.


Pemuda tersebut bukan orang lain, dia adalah pemilik ikan panggang yang sebelumnya dicuri oleh Jiang Xingyu.


"Enyah!" Begitu satu kata mendominasi keluar, sebelum ekspresi Yuwen Junxiu berubah buruk, tawa Feng Yuqie terdengar lebih dulu. "Hahaha!"


Pada akhirnya bukan hanya tidak menangkapnya, tapi juga diminta ganti rugi oleh para Pemilik Toko. Sungguh tindakan konyol yang mengundang tawa.


Tiba-tiba ia merasakan tatapan tajam yang membuatnya segera menahan tawanya. "Aku tidak akan tertawa lagi."


"Paman Guru, jika kau mengejar seorang Wanita, apakah itu karena kau menyukainya? jika begitu, apakah kau berhasil menangkapnya?" Pemuda yang bernama Ning Rui bertanya lagi.


Tanpa menunggu jawabannya, ia kembali meneruskan kata-katanya. "Guru berkata, Paman Guru tidak muda lagi dan sudah waktunya menikahi seorang Isteri. Tetapi selama ini Paman Guru tidak pernah menyukai seorang Wanita. Sekarang Paman Guru mengejar Wanita itu, apakah artinya sebentar lagi Paman Guru akan menikah?"


Seorang Guru tertentu tidak tahu bahwa dia telah di jual oleh Muridnya.


"Puft! Hahaha..." Feng Yuqie tidak bisa menahannya lagi. Ia sungguh mengagumi keberanian bocah ini.


Yuwen Junxiu menatap Ning Rui. Ekspresi wajahnya sangat buruk dan terlihat berusaha menahan amarahnya. "Bocah, siapa yang mengatakan aku menyukai Wanita itu?"


"Ah?" Ning Rui terkejut sesaat kemudian bertanya lagi. "Jika tidak suka, mengapa Paman Guru mengejarnya?"

__ADS_1


Meskipun Feng Yuqie menganggap drama pendek ini sangat menyenangkan. Tapi ia benar-benar takut Sahabatnya tidak bisa menahan amarahnya dan akan melukai Ning Rui.


Sebelum benar-benar terjadi, ia buru-buru berkata. "Paman Gurumu tidak menyukai Wanita itu. Justru Paman Gurumu memiliki dendam dengan Wanita itu. Paman Gurumu mengejarnya karena ingin balas dendam."


Dengan jawaban ini ia berharap Ning Rui tidak akan bertanya lagi. Namun ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkannya.


Bukannya diam, Ning Rui justru berubah cemas dan menanyakan beruntun pertanyaan. "Apa?! Musuh? apa Paman Guru sudah menangkap Wanita itu? apa Paman Guru sudah balas dendam?"


"Tentu saja! Dengan Beladiri Paman Gurumu, tidak ada yang tidak bisa ditangkap olehnya." Untuk meyakinkannya, Feng Yuqie terpaksa berbohong.


"Benar juga. Tapi..." Ning Rui hendak mengatakan sesuatu, tapi disela sebelum mengatakannya.


"Baiklah! Kau kembali istirahat dulu. Aku dan Paman Gurumu masih memiliki sesuatu yang penting untuk didiskusikan." Ucap Feng Yuqie yang tahu tidak bisa melanjutkan drama ini lagi. Jika tidak, menilai dari ekspresi gelap diwajah Sahabatnya, ia yakin Sahabatnya akan langsung menendangnya dan Ning Rui jika masih tidak berhenti.


"Oh! Jika begitu, Paman Guru, Saudara Feng, aku akan kembali beristirahat dulu." Ketika sampai pada urusan bisnis, Ning Rui tahu ia tidak bisa melanjutkan lagi. Setelah menjawab dan memberi hormat, ia berbalik arah dan pergi beristirahat.


Setelahnya Feng Yuqie dan Yuwen Junxiu juga pergi kearah Ruang Belajar.


Didalam Ruang Belajar, keduanya duduk berseberangan dan suasananya berubah serius.


"Orang itu sangat tajam. Aku hampir ditemukan ketika mengikutinya, untung saja aku langsung pergi. Hari ini aku tidak berhasil menemukan tempat tinggalnya. Junxiu, sebelum kita memiliki bukti yang kuat, kita tidak boleh bertindak gegabah. Jika kita membangkitkan kewaspadaannya dan membuatnya kabur, itu tidak akan menguntungkan kita." Ekspresi Feng Yuqie sangat buruk seperti sedang berada dalam masalah.


"Orang itu bisa lolos dari kejadian tahun itu. Kemudian bersembunyi di Ibukota dan membuat Kaisar tidak menemukannya selama 5 tahun. Dari segi ini saja, kemampuannya jelas tidak buruk." Suara Yuwen Junxiu sangat tenang dan ekspresinya tetap datar.


Feng Yuqie mengerutkan alisnya dan berkata. "Sekarang kita tidak punya pilihan selain menunggu Pangeran Yinlu kembali. Aku khawatir hanya dia yang bisa meyakinkan orang itu untuk menceritakan apa yang terjadi saat itu."


"Lakukan sesuai yang kau katakan saja." Yuwen Junxiu setuju.


.


.


______Happy Reading_____

__ADS_1


__ADS_2