
Di luar sana reputasi Puteri keduanya tidak terlalu baik. Jika di cap buruk oleh Permaisuri, Selir Mo tidak sanggup membayangkan bagaimana kehidupan Puterinya selanjutnya.
Namun jika tidak ada yang menyebarkannya, bagaimana mungkin Permaisuri akan mengetahuinya? mungkinkah...
"Selir Jing, apa maksudmu? apa kau ingin menyebarkan kejadian ini? apa kau tidak peduli pada reputasi Kediaman?" saat ini Selir Mo hanya tahu membalas tanpa menyadari kesalahannya.
"Aku tidak berkata akan menyebarkan kejadian ini. Terlebih lagi aku sangat peduli pada reputasi Kediaman. Sebaliknya kau membiarkan Nona Ketiga melakukan tindakan yang tidak seharusnya, bukannya mengajarinya dengan baik, kau malah menyalahkan orang lain." Lagi-lagi Selir Jing mencibir.
Ucapannya membuat Selir Mo mengingat sesuatu. Seakan merasa bersalah, Ia menatap Tuan Besar untuk menjelaskan. "Tuan, aku..."
Hanya saja sebelum kata penjelasannya diucapkan, Tuan Besar menyela. "Cukup! Kau membuatku kecewa!"
Jantung Selir Mo terasa sakit yang seolah-olah ditusuk ribuan pisau. Ekspresinya berubah ketakutan dan dengan suara 'Gedebuk!' Ia berlutut, menangis sambil memohon. "Tuan, Selir telah bersalah, tolong beri Selir kesempatan sekali lagi,"
"Ibu tidak bersalah, Ayah. Jiang Xingyu lah yang tmmenyakitiku dan Ibu hanya meminta keadilan untukku." Jiang Linyao membela Ibunya tanpa menyadari situasinya.
Meminta keadilan?
Kata-kata ini segera mengundang reaksi para Pelayan yang telah mengetahui seluruh kejadiannya. Mereka memandangnya seakan memandangi orang paling bodoh.
Mereka tidak menyangka seorang pelaku berani meminta keadilan dan itu diucapkan tanpa rasa bersalah.
"Keadilan? apa kau yakin menginginkan keadilan?" tanya Tuan Besar tanpa amarah, tapi tatapan matanya semakin dingin.
"Aku..." Jiang Linyao tidak tahu harus berkata apa.
Seakan khawatir Puterinya masih mengatakan sesuatu yang salah, Selir Mo buru-buru menyela. "Tidak Tuan. Masalah ini awalnya kesalahan Yao'er, jadi Yao'er yang akan menanggung akibat atas kesalahannya."
"Masalah ini berhenti sampai disini. Jika terulang lagi jangan salahkan Ayah karena bersikap kasar." Tuan Besar tidak ingin melanjutkan lagi, kemudian pergi begitu saja.
Setelahnya semua orang kembali ke tempatnya masing-masing, kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.
__ADS_1
.....
Setelah lewat tengah hari, Chen Ziyue akhirnya bangun tapi tubuhnya masih sangat lemah.
"Chen Ziyue, mengapa kau tiba-tiba kembali? apakah terjadi sesuatu pada Pangeran Yin?" Feng Yuqie menghujani berbagai pertanyaan.
"Dia baik-baik saja. Tidak terjadi masalah apapun padanya. Sebelumnya kami bertemu Puteri Yanning yang hendak menuju ke Ibukota. Pangeran Yin khawatir akan terjadi sesuatu padanya diperjalanan, jadi memintaku mengantarnya sampai ke Ibukota. Hanya saja dalam perjalanan kami bertemu dengan sekelompok Pembunuh. Aku tidak ingin dia terluka, jadi aku memintanya pergi sementara aku menangani para Pembunuh. Sekarang aku tidak tahu dimana dia berada dan semoga dia baik-baik saja." Ketika menyangkut Puteri Yanning, Chen Ziyue menjadi gugup.
"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa padanya. Aku akan segera mengutus Bawahanku untuk mencarinya." Kata Feng Yuqie yang sudah mengetahui pemikiran Chen Ziyue terhadap Puteri Yanning.
"Aku juga ingin pergi..." Chen Ziyue tetap khawatir.
Karena tubuhnya masih sangat lemah, setelah bergerak sedikit itu mempengaruhi lukanya dan membuat lukanya kembali terbuka. Jika hanya rasa sakit Ia bisa menahannya, tapi dengan tubuh yang lemah Ia benar-benar tidak bisa berbuat apapun.
"Apa yang kau lakukan?! Apa kau tidak menyadari kondisimu sendiri? mungkinkah kau ingin mati?! Apa kau pikir aku tidak akan membantumu menemukannya?" Feng Yuqie memandang Chen Ziyue dengan mata merendahkan.
Hanya demi seorang Wanita dia rela melakukan apapun. Bahkan tidak peduli pada tubuhnya sendiri. Jika tubuhnya dalam kondisi baik, tidak akan ada yang menghalanginya. Tapi sekarang dia hampir mati namun masih mengutamakan seorang Wanita.
"Baiklah. Maaf telah merepotkanmu." Ucapnya disertai perasaan tak nyaman.
"Istirahatlah dengan baik. Jika kondisimu sudah membaik, kau bebas melakukan apapun. Aku tidak akan menahanmu lagi." Kata Feng Yuqie lalu berbalik pergi.
Beberapa saat setelahnya Yuwen Junxiu datang diikuti Ning Rui dibelakangnya.
Chen Ziyue tidak tahu bagaimana harus menyapa.
Pria ini memiliki kemampuan yang sama menakutkannya dengan Pangeran Yin. Oleh karena itu Ia kagum sekaligus takut.
"Berbaring saja, biarkan Ning Rui membantumu mengganti perban." Sikap Yuwen Junxiu selalu dingin seperti saat berbicara dengan orang asing.
"Terima kasih Pangeran. Terima kasih Tuan Muda Ning." Kata Chen Ziyue dengan sopan.
__ADS_1
Ia tidak begitu mengenal Ning Rui, hanya pernah bertemu beberapa kali. Namun ia mengetahui bahwa Ning Rui merupakan murid Dokter jenius Mo Yu yang kemampuan Medisnya tentu luar biasa.
"Ya." Jawab Ning Rui sekilas.
Kemudian perlahan melepas pakaian Chen Ziyue, melepaskan perbannya, membersihkan lukanya, mengoleskan obat lalu membalutnya dengan perban yang baru, hingga akhirnya kembali memakaikan pakaiannya.
Gerakannya cepat dan rapi. Memang layak menjadi murid Dokter jenius pertama.
"Sudah selesai. Saudara Chen bisa bangun dari tempat tidur setelah beristirahat selama beberapa hari lagi." Ucap Ning Rui setelah menyelesaikan tugasnya.
Kemudian mengalihkan pandangannya dengan mata naif penuh harap. "Paman Guru, aku ingin makan sup kepala rusa."
"Pergilah ke Restoran Chilan. Pesan apapun yang kau inginkan." Suara Yuwen Junxiu terdengar tidak berdaya.
"Baiklah, aku pergi dulu." Ucap Ning Rui kemudian segera pergi.
.....
Jiang Xingyu berpikir lebih baik pergi ke Rumah Medis dan membiarkan Dokter mengobati lukanya. Walaupun Ia sudah mengoleskan obat luka dan penghilang rasa sakit, tapi kualitas obatnya tidak bisa diandalkan.
Khawatir akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh, khawatir akan membuang waktunya untuk berlatih Beladiri, akhirnya Ia memutuskan pergi ke Rumah Medis.
Namun kali ini Ia pergi tanpa membawa Bibi Rong.
Sekarang dengan keahlian Nonanya, Bibi Rong berpikir tidak akan ada yang berani menindasnya, oleh karena itu Ia tidak mengikutinya. Sebaliknya tetap berada di Paviliun untuk mengawasi gerak-gerik ketiga Agen mata-mata.
.
.
_____Happy Reading____
__ADS_1