
Keesokan paginya Jiang Xingyu bermeditasi dan berlatih Beladiri. Setelah sarapan pagi, Ia melanjutkan berlatih menggambar simbol Jimat.
Kemudian sesudah makan siang, Ia mengajak Bibi Rong dan memanggil Paman Liu, lalu keluar.
Namun saat menuju Halaman Depan, Ia dihentikan oleh Ayahnya.
Wajah Tuan Besar sedikit muram, menandakan Ia tidak bisa melupakan kejadian kemarin. Nadanya pun meninggi. "Kau mau kemana lagi?"
"Keluar dan jalan-jalan." Jawab Jiang Xingyu.
"Bagaimana seorang Gadis keluar setiap hari? kali ini jika kau keluar, tidak tahu apa lagi yang akan terjadi!" Tuan Besar memarahi.
"Urusanku, Ayah tidak perlu khawatir! Jika Ayah punya banyak waktu, pergilah ke Paviliun Yuxiang. Kudengar Selir Jing memiliki sesuatu untuk diperlihatkan pada Ayah, jadi lebih baik simpan dengan baik emosi Ayah dan gunakan nanti saja." Balasnya disertai sikap santai.
Selir Jing sudah selesai memeriksa buku Akuntan Kediaman dan berencana menunjukkannya pada Ayahnya hari ini. Setelah Ayahnya membacanya, emosinya pasti akan meledak!
"Kau..." Tuan Besar tidak bisa berkata-kata.
"Aku mengatakannya demi kebaikan Ayah. Jika terjadi sesuatu pada Ayah, Jiang Mansion pasti akan berakhir." Jiang Xingyu berkata dengan prihatin.
"Sial!" Tuan Besar mengumpat, menunjukkan seberapa besar kemarahannya.
Puterinya terus mengatakan untuk kebaikannya, tetapi setiap kata yang diucapkannya selalu mengutuknya.
"Nona..." Melihat kemarahan Tuan Besar, Bibi Rong mencoba mengingatkan Nonanya.
Jiang Xingyu juga mengetahui bahwa Ia tidak bisa melanjutkan perdebatan, Ia pun memberikan jaminan yang langka. "Ayah jangan marah, aku berjanji tidak akan melakukan hal buruk saat berada diluar."
Amarah Tuan Besar perlahan mereda setelah mendengarnya. Ia juga tahu tidak bisa menghentikan Puterinya, tidak menghentikannya lagi, hanya mendengus dan berbalik pergi.
Beberapa saat kemudian Ia teringat akan ucapan Puterinya sebelumya. Mengatakan bahwa Selir Jing memiliki sesuatu untuk diperlihatkan padanya, karena Puterinya yakin Ia akan marah setelah melihatnya, mungkin sesuatu tersebut tidak sederhana.
Setelah memikirkannya, Ia memutar arah menuju Paviliun Yuxiang.
Dan Jiang Xingyu serta Bibi Rong juga keluar, bersama Paman Liu sebagai Kusir Gerbong.
Begitu tiba diluar gerbang Paviliun Yuxiang, Tuan Besar mendengar Selir Jing dan Bibi Lu berbicara didalam.
"Bibi, kenapa tidak menunjukkan Buku Akuntan selagi Tuan berada di Kediaman?" tanya Bibi Lu.
"Aku juga berpikir begitu, tapi aku khawatir Tuan akan marah setelah melihatnya, itu tidak baik untuk kesehatannya. Aku hanya tidak menyangka ternyata Selir Mo sangat serakah. Dia menganggap semua di Kediaman ini sebagai miliknya sendiri." Selir Jing mencibir.
Diluar Gerbang ekspresi Tuan Besar berubah.
__ADS_1
Sebelumnya Ia mungkin tidak akan mempercayai ucapan Selir Jing, tapi setelah begitu banyak insiden terjadi, Ia tidak lagi mempercayai Selir Mo.
Ia bergegas masuk dan dengan marah bertanya. "Apa yang kau bicarakan? apa maksud Selir Mo sangat serakah?"
"Tuan?" Selir Jing dan Bibi Lu terkejut melihat kedatangan Tuan Besar secara tiba-tiba.
"Cepat ambil Bukunya dan tunjukkan padaku!" Tuan Besar memerintahkan.
"Ya." Selir Jing langsung bereaksi. Ia bergegas menuju kamarnya, membuka lemarinya dan mengeluarkan Buku Akuntan yang cukup tebal.
Setelah membalik halaman pertama dan membacanya, wajah Tuan Besar tenggelam, halaman kedua, halaman ketiga...
Hanya melihat sepertiganya, Ia sudah tidak tahan lalu melemparkan Buku Akuntan keatas meja dengan amarah berapi-api.
Melihat ini, walaupun ketakutan Selir Jing memberikan secangkir teh guna untuk meredakan amarahnya.
"Bajingan! Benar-benar bajingan!" Umpat Tuan Besar.
Selama tiga tahun, Selir Mo bertindak serakah untuk mendapatkan banyak uang.
Ia hanya melihat sepertiganya dan setelah perhitungan secara kasar, ada ribuan Koin Emas yang digelapkan Selir Mo.
Bagaimana Ia tidak marah. Ribuan Koin Emas! Adalah biaya setengah tahun untuk semua orang di Kediaman.
"Walaupun hal ini merupakan masalah besar, untuk saat ini kau tidak usah memperdulikannya. Sekarang tanggung jawabmu adalah mengurus Kediaman, kuharap kau tidak akan mengecewakanku seperti Selir Mo." Kata Tuan Besar yang disertai sorot mata harapan.
"Ya. Selir berjanji tidak akan mengecewakan Tuan." Selir Jing menjawab dengan teguh. Walaupun sebenarnya Ia kecewa karena Tuan Besar tidak meneruskan masalah Buku Akuntan.
Melihat Selir Jing bersikap bijaksana, Tuan Besar menghela nafas lega. "Baiklah. Aku kembali dulu. Lakukan tugasmu dengan baik dan jangan lupa untuk menjaga kesehatanmu."
Setelah mendengarnya, wajah Selir Jing menunjukkan ekspresi lembut nan penuh kasih. Ia pun berkata. "Terima kasih atas perhatian Tuan."
....
Jiang Xingyu bersama Bibi Rong menjemput sepasang Saudara kecil, setelah membeli beberapa barang, mereka menuju Rumah terlantar.
"Nona, Rumah itu..." Ketika Paman Liu mendengarnya, Ia mengeluarkan keringat dingin karena berpikir Nona Sulung tidak mengetahui rumor buruk mengenai Rumah itu, jadi Ia berniat memberitahunya.
Hanya saja sebelum selesai berbicara, Nona Sulung menyela. "Jangan khawatir, Paman Liu. Aku tahu itu hanya rumor."
Meskipun masih bingung dan ketakutan, Ia tidak berani melanggar ucapannya.
Setelah tiba di Rumah terlantar dan setelah turun dari Gerbong, Qing Bei tertegun. "Bukankah ini Rumah yang kita tinggali sebelumnya?"
__ADS_1
Seakan mengingat sesuatu, ekspresinya perlahan berubah gelap.
Jiang Xingyu sekilas mengetahui apa yang dipikirkan Qing Bei, Ia pun tersenyum. "Benar. Aku sudah membeli Rumah ini. Mulai sekarang kalian berdua akan tinggal disini. Tolong bantu aku membersihkannya dan melakukan pekerjaan Rumah lainnya."
"Benarkah?" tanya Qing Bei keheranan.
"Tentu saja benar." Jawab Jiang Xingyu memastikan.
Setelah menerima konfirmasinya, Qing Bei merasa malu atas apa yang baru saja dipikirkannya. Wajahnya kemerahan dan Ia pun tidak berani menatap Nona penyelamatnya lagi.
Lagi-lagi Paman Liu terkejut saat mendengar Nona Sulung membeli Rumah berhantu ini.
Namun Ia hanya seorang Pelayan yang tidak memenuhi syarat untuk bertanya.
"Ayo masuk dulu. Paman Liu, tolong bantu aku memindahkan barang-barang didalam Gerbong kedalam Rumah." Kata Jiang Xingyu.
"Ya, Nona." Paman Liu segera menanggapi.
Tidak banyak barang didalam Gerbong, hanya alat-alat untuk memasak, bahan makanan serta kebutuhan inti lainnya.
Begitu Jiang Xingyu serta yang lain menuju Halaman Belakang, Fang Xinxin yang berada di dekatnya segera berteleportasi. Disaat berikutnya ekspresinya tiba-tiba berubah, karena merasa tidak nyaman, Ia buru-buru mundur menjauh.
Alasannya karena Ia akan terluka jika berada di dekat banyak orang, begitupun mereka sebaliknya.
Ia tidak berani mendekat dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Sorot matanya yang polos seakan-akan Ia telah dianiaya.
Jiang Xingyu tidak berdaya, tapi tidak memperhatikannya lagi dan terus berjalan menuju Halaman Belakang.
Pada saat yang sama Ning Zhi dan Ning Xia berjalan keluar.
Kemudian keduanya menyapa dengan hormat. "Tuan."
Jiang Xingyu menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. Lalu Ia memperkenalkan sepasang Saudara kecil.
Setelah saling berkenalan dan menyapa, Ning Zhi dan Ning Xia mengajak keduanya untuk tinggal di Halaman Samping.
Melihat semuanya sudah selesai dibersihkan dan dirapikan, Jiang Xingyu kembali bersama Bibi Rong.
Pada siang hari Ia tidak bisa melakukan apapun disini, jadi lebih baik kembali ke Rumah untuk berlatih menggambar simbol Jimat. Sedangkan untuk Beladiri, Ia akan datang pada malam hari agar lebih tenang serta berkonsentrasi.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____