
Saat ini Jiang Xingyu dan Puteri Yanning sudah tiba dilantai dua, menempati salah satu meja yang kosong, memanggil Pelayan dan hendak memesan hidangan. Namun dihentikan oleh Pelayan yang berada dilantai tiga tadi.
"Tuan Puteri, tamu terhormat di Ruangan VIP Pangeran Yinlu mengundang Anda dan teman Anda untuk makan bersama." Kata Pelayan dengan hormat.
"Apa?!" Puteri Yanning tercengang ketika mendengarnya.
Ia tidak salah dengar. Dewa jahat mengundangnya dan Xingyu untuk makan bersama? ini, ini pasti tidak mungkin!
"Tamu terhormat di Ruangan VIP Pangeran Yinlu mengundang Tuan Puteri dan Nona untuk makan bersama." Pelayan secara alami mengetahui penyebab reaksi Puteri Yanning. Ia mengatakannya lagi untuk memperjelas.
"Tidak mungkin!" Puteri Yanning masih tidak bisa mempercayainya.
Jiang Xingyu mengerutkan alisnya, menilai dari ketakutan Puteri Yanning, mungkinkah orang didalam Ruangan itu adalah orang jahat? jika bukan, mengapa Puteri Yanning begitu ketakutan?
Berpikir seperti ini, ia lalu bertanya. "Mengapa kau terlihat ketakutan? mungkinkah orang itu tidak mudah dihadapi? atau bukan orang yang baik?"
"Tidak! Bukan seperti itu, hanya saja aura orang itu terlalu dingin, membuat siapapun yang mendekatinya seperti tertekan." Puteri Yanning berkeringat dingin ketika berbicara tentang orang itu.
Jiang Xingyu merasa tidak berdaya dan hanya bisa mengangguk sebagai tanda mengerti.
Seseorang yang kekuatan internalnya dan Beladirinya mencapai tingkat tertentu, secara alami akan memiliki aura yang cukup menakutkan, membuat siapapun yang mendekatinya merasa tertekan dan tertindas, sama seperti aura yang dimiliki Pria berbaju ungu itu.
"Kalau begitu tidak usah terima undangannya, kita makan disini saja." Ucapnya dengan santai.
"Tidak!" Puteri Yanning langsung menolak.
"Kenapa?" Jiang Xingyu kebingungan.
"Konyol untuk menolak undangannya! Jika kita makan disini, kita mungkin tidak akan bisa makan enak, ya karena makan enak sangatlah mahal." Berbicara tentang makanan, Puteri Yanning mencoba menyingkirkan rasa takutnya.
Walaupun ia takut pada Dewa Jahat, tapi bukan berarti ia tidak ingin makan enak.
Selain itu ia tidak pernah menyinggungnya. Juga, sejujurnya ia bukan takut, hanya saja ia tidak tahan dengan aura dinginnya.
Selain itu semua hidangan di Restoran Chilan sangat mahal, bahkan ia yang merupakan seorang Puteri tidak mampu membayar hidangan tertentu, dan hanya mampu membayar hidangan umum.
Dengan ini ia menggandeng tangan Jiang Xingyu dan menariknya keatas menuju Ruangan VIP sebelumnya.
Jiang Xingyu lagi-lagi mengerutkan keningnya, kini ia memiliki pemahaman lain tentang Puteri Yanning, ya dia seorang Foodie.
Ketika tiba didepan pintu Ruangan, Puteri Yanning berhenti lalu mengambil nafas dalam-dalam, jelas kegugupannya masih belum menghilang.
Setelahnya ia membuka pintu, masuk dan menyapa dengan sopan. "Tuan Yuwen,"
"Duduklah." Kata Yuwen Junxiu sekilas.
__ADS_1
Puteri Yanning menganggukkan kepalanya kemudian memperkenalkan rekannya. "Perkenalkan, ini..."
Hanya sebelum ia menyelesaikan ucapannya, suara menyela terdengar di belakangnya. "Itu kau!"
"Apa yang terjadi?" Puteri Yanning terkejut kemudian berbalik, ia melihat Jiang Xingyu menatap Dewa Jahat seolah-olah mengenalinya.
Dengan pikiran ini, ia tercengang. "Xingyu mengenal Dewa Jahat?"
Sedangkan kini Jiang Xingyu memandang Yuwen Junxiu dengan pandangan terkejut. Sebelumnya Murong Yanning mengatakan bahwa orang di Ruangan ini memiliki aura dingin yang membuat siapapun merasa tertekan, ia diam-diam membandingkannya dengan Pria berjubah ungu, tidak disangka ternyata benar-benar orang yang sama.
"Dunia yang sempit!" Gumamnya tanpa sadar.
"Kenapa bukan aku?" Yuwen Junxiu juga menatap Jiang Xingyu dan bertanya dengan suara datar, auranya tidak sedingin seperti sebelumnya, tapi masih memberi perasaan tertekan.
"Kupikir itu Hantu!" Kata Jiang Xingyu dengan raut wajah kesalnya.
Saat ucapannya selesai, sosoknya mendekati meja dan duduk langsung disebelah Yuwen Junxiu, membuat Puteri Yanning ingin menariknya.
Namun melihat Dewa Jahat tidak marah, ia mengurungkannya lalu mengikuti Jiang Xingyu untuk duduk, tapi duduk dengan jarak tertentu dari Dewa Jahat. Pikirannya masih berantakan hingga ia masih belum bisa bereaksi.
Pada saat ini, Ning Rui yang sedang duduk disebelah kanan Paman Gurunya, dapat melihat dengan jelas rupa teman Puteri Yanning, ucapannya terdengar terkejut. "Itu kau!"
"Kenapa bukan aku?" Jiang Xingyu menjawab seperti ucapan Yuwen Junxiu.
"Hahaha!" Puteri Yanning tidak bisa menahan tawanya, bersamaan dengan kegugupannya yang perlahan telah berkurang.
Sedangkan Jiang Xingyu memelototi Ning Rui, tapi tidak mengatakan apapun.
Setelah itu makan siang bersama dimulai, tentu saja tidak berjalan dengan damai.
"Singkirkan sumpitmu!"
"Mengapa aku harus menyingkirkan sumpitku?"
"Karena aku yang pertama kali melihat makanan ini!"
"Kau sangat pelit!"
"Kau tidak tahu malu!
Puteri Yanning dan Ning Rui sama-sama tercengang ketika melihat Jiang Xingyu dan Yuwen Junxiu sedang berebut makanan dengan sumpit.
"Ada apa ini?" batin keduanya.
Mengenai Jiang Xingyu, mereka tidak memiliki pemikiran yang aneh. Tapi tentang Yuwen Junxiu, mereka bertanya-tanya kapan dia begitu naif?
__ADS_1
Seseorang yang biasanya terlihat seperti Gunung Es, bagaimana bisa melakukan tindakan naif seperti berebut makanan dengan orang lain? terlebih lagi dengan seorang Wanita?
Apapun itu mereka tidak peduli, yang mereka inginkan sekarang adalah makan.
Hasilnya, Puteri Yanning dan Ning Rui, dua orang pecinta kuliner, mulai bergulat dengan makanan dan tidak lagi memperhatikan dua orang yang sedang berdebat.
"Kau bukan hanya pelit, tapi juga tidak tahu bagaimana caranya mengasihi seorang Wanita. Hanya orang buta yang akan menyukaimu Pria sepertimu!" Jiang Xingyu tidak bisa merebut makanan dari sumpit Yuwen Junxiu, ia sangat marah hingga rasanya paru-parunya akan meledak.
Setelah mendengar kalimat kutukan ini, Puteri Yanning berkeringat dingin dan daging panggang yang berada di sumpitnya tanpa sadar jatuh ke meja, ia pun buru-buru menarik Jiang Xingyu. "Apa kau gila?!"
Ia ingin mengingatkannya tentang sesuatu, tapi ia terlalu takut mengatakannya dihadapan Dewa Jahat.
Tidak bisa berbuat apapun dan sangat cemas hingga rasanya ingin pingsan saja.
"Kau Wanita bukan hanya tidak tahu malu, tapi juga tidak senonoh. Bahkan ditengah malam mengajak seorang Pria untuk minum anggur. Hanya orang bodoh yang akan menikahi Wanita sepertimu." Yuwen Junxiu jauh lebih tenang dibandingkan dengan kemarahan berapi-api Jiang Xingyu.
Terutama penampilannya yang malas, sombong dan tak terkalahkan, membuat Jiang Xingyu semakin marah.
Ia ingin meninju wajah arogan itu, sayangnya ia tidak bisa mengalahkannya.
Puteri Yanning menghela nafas lega ketika melihat Dewa Jahat tidak marah.
Walaupun ia merasa Dewa Jahat tidak normal hari ini, tapi ia tidak berpikir lebih jauh, ya itu karena ia tidak begitu mengenalnya.
"Banyak sekali Wanita yang menyukai Paman Guru, sayangnya Paman Guru tidak menyukai satupun dari mereka. Namun ada Wanita yang semalam memeluk Paman Guru dengan mesra, dan sepertinya dia sangat menyukai Paman Guru. Walaupun aku tidak melihat wajahnya dengan jelas, aku yakin dia tidak buta. Jika dia bisa lari, tentu penglihatannya tidak bermasalah." Ucap Ning Rui yang dengan polosnya membela Paman Gurunya.
"Uhuk-uhuk..."
Jiang Xingyu sedang minum sup, ketika mendengar ucapan ini, sesendok sup yang baru tiba dimulutnya seketika dimuncratkan kembali.
Untungnya ia bereaksi tepat waktu dengan memutar kepalanya kebelakang, sehingga sup yang dimuncratkan tidak mengenai siapapun.
Frasa 'Wanita yang memeluk Paman Guru pasti sangat menyukai Paman Guru' juga frasa 'Jika dia bisa lari, tentu penglihatannya tidak bermasalah'.
Bukankah kedua frasa ini ditujukan padanya? namun semalam ia memeluk Pria itu karena hanya memanfaatkannya.
Bagian mananya yang dianggap sangat menyukainya? bahkan memeluknya sangat erat?
Ia mengakui bahwa wajah Pria ini memang sangat tampan, penampilannya memang cocok dengan tipe Pria idealnya. Namun sayangnya Pria ini sangat pelit dan kejam, tidak tahu bagaimana memperlakukan Wanita dengan lembut.
.
.
______Happy Reading_____
__ADS_1