
Mentalitas Jiang Linyao telah menjadi maniak sejak dahinya terluka. Walaupun lukanya sudah di tutupi dengan poni, hatinya masih belum berdamai.
"Nona, Guru Li yang akan mengajarkanmu keterampilan seni sudah datang, Selir Mo memintamu datang ke Aula Utama untuk memberi hormat." Ming Er segera memberitahu Nonanya setelah mendapat pesan dari Pelayan lain.
"Mengapa aku harus memberi hormat padanya?" Kata Jiang Linyao tidak senang.
"Nona, ini adalah peraturannya. Seorang Guru sama terhormatnya dengan seorang Ayah. Peraturan ini harus dilakukan. Semacam mengungkapkan rasa hormat pada seorang Guru. Nona, kau juga tahu kalau Gadis berbakat Bai Yinran juga belajar dibawah bimbingan Guru Li. Juga banyak Gadis yang awalnya tidak begitu terkenal, dalam sekejap mata terkenal berkat ajaran Guru Li. Setelah belajar dengan Guru Li dalam jangka waktu tertentu, keterampilan Nona pasti segera meningkat. Setelahnya Nubi yakin Nona pasti akan menjadi yang paling menonjol di Festival Peony nanti." Ming Er mencoba membujuk.
Ketika Jiang Linyao mendengarnya, bukan hanya tidak marah, ia justru menyetujui memberi hormat pada Guru Li.
"Baiklah. Ayo pergi." Ucapnya sambil berjalan keluar diikuti oleh Ming Er dibelakang.
.....
Karena awalnya Jiang Linyao tidak mau datang, waktu tertunda beberapa saat dan itu membuat Selir Mo merasa malu. "Guru Li, saya benar-benar minta maaf telah membuat Anda menunggu. Saya akan meminta Pelayan untuk memanggilnya lagi.
"Tidak masalah, Selir Mo. Mungkin Nona Ketiga sedang bersiap sebelum menemui saya dan itu tentunya memerlukan waktu." Guru Li tidak mempermasalahkannya.
Selir Mo tidak berpikir demikian karena ia tahu seperti apa temperamen Puteri keduanya.
Oleh karena itu ia tetap menginstruksikan Pelayan untuk memanggilnya lagi. Namun ia menghela nafas lega ketika Pelayan kembali dan melaporkan bahwa Puterinya sudah datang.
Ketika Jiang Linyao berjalan ke tengah Aula, ia menghentikan langkah kakinya, membungkuk dengan hormat seraya berkata. "Jiang Linyao memberi hormat pada Guru Li."
Walaupun posturnya kurang anggun dan nada bicaranya kurang sopan, itu tetap mengejutkan Selir Mo. Ia tidak menyangka Puterinya yang biasanya selalu bersikap angkuh, ternyata bisa memperlihatkan sikap seanggun ini.
Tentu saja gerakan Jiang Linyao diajarkan oleh Pelayannya. Walaupun pada awalnya tidak puas, akhirnya ia bersedia melakukannya setelah mendengarkan beberapa kata dari Pelayannya.
__ADS_1
"Yao'er, Guru Li akan mengajarimu keterampilan Seni. Jika ingin mempelajarinya, kau harus memberikan secangkir teh sebagai bentuk hormat dari seorang Murid untuk Gurunya." Kata Selir Mo yang masih khawatir Puterinya akan bertindak tidak sopan.
Namun sepertinya kekhawatirannya tidak berguna karena saat ini Jiang Linyao dengan patuh mengambil cangkir teh yang diserahkan padanya oleh Pelayan, berjalan mendekati Guru Li lalu berkata. "Yao' er mohon bimbingan Guru Li."
Ketika kata-kata ini keluar, Selir Mo kembali terkejut.
Sejak kapan temperamen Puterinya berubah begitu baik?
"Ya!" Jawab Guru Li sekilas, mengambil cangkir teh, meminumnya dan tidak mengatakan apapun lagi. Tapi wajahnya yang tersenyum tidak memberi kesan bahwa sikapnya sombong.
"Saya sudah menyiapkan tempat istirahat untuk Guru Li. Silakan Guru Li beristirahat dan mulai mengajar sore nanti. Selama waktu tertentu, saya harus merepotkan Guru Li." Kata Selir Mo.
"Ini mudah untuk dikatakan. Selir Mo, saya akan menjelaskannya terlebih dahulu. Dasar keterampilan seni Nona Ketiga sangat lemah, jika ingin segera meningkat, maka harus belajar lebih giat. Mungkin saja dalam prosesnya akan mengalami kesulitan tertentu." Guru Li menjelaskan.
"Apa yang dikatakan Guru Li benar. Oleh karena itu saya harus merepotkan Guru Li untuk membimbing Puteriku." Ucap Selir Mo disertai nada dan sikap yang sopan.
"Selir Mo terlalu sungkan. Saya akan melakukan yang terbaik." Balas Guru Li dengan sikap yang sama.
.....
Setelah meminum obat dari Dokter, cedera di lengan kiri Jiang Xingyu perlahan membaik dan tidak terasa sangat menyakitkan seperti sebelumnya.
Hari ini ia tinggal di Paviliunnya dalam damai dan pikirannya berkelana tentang cara menghasilkan uang.
Apakah harus berjudi lagi?
Tapi jika Rumah Judi Yiyuan bangkrut, apakah ia akan diburu?
__ADS_1
"Sudahlah! Pikirkan nanti saja." Gumamnya.
Disisi lainnya lengannya sudah cukup pulih dan bisa melakukan gerakan tertentu, artinya ia sudah bisa berlatih Beladiri.
Tidak berlatih Beladiri selama dua hari membuat Bibi Rong sangat khawatir dan mengira Nonanya sedang tidak enak badan.
Karena sekarang cederanya sudah cukup pulih, secara alami ia akan pergi menemukan tempat yang bagus untuk berlatih. Tetapi tidak sekarang karena Bibi Rong berkata ingin menemui sepasang Saudara kecil.
Itu juga setelah Bibi Rong mengatakannya, ia teringat akan keberadaan mereka dan memang sudah waktunya pergi mengunjungi mereka.
Juga karena mengingat mereka, ia tiba-tiba memikirkan sebuah tempat yang bagus untuk berlatih. Ya itu adalah Rumah terlantar dipinggiran selatan Kota.
Di sebelah Rumah terlantar terdapat Halaman yang cukup luas. Tempatnya berhantu dan bagian terpenting tidak ada orang dalam radius 100 meter. Di tambah vegetasi yang mengelilinginya, tempat itu memang sangat cocok untuknya.
Tempat yang sangat tenang akan membuatnya lebih berkonsentrasi dalam pelatihannya.
Dengan pikiran ini ia memutuskan memilih Rumah terlantar sebagai tempat pelatihannya.
Tapi sekarang lebih baik pergi menemui sepasang Saudara kecil, kemudian pergi ke Rumah terlantar pada malam harinya.
Setelah makan siang ia dan Bibi Rong pergi keluar.
Namun dalam perjalanan menuju Rumah Medis tertentu, ia benar-benar ingin menangis.
Mengapa setiap kali ia keluar selalu terjadi suatu insiden? Mengapa Ruang dan Waktu selalu bertentangan dengannya? Apa salahnya sehingga ia selalu mengalaminya?
.
__ADS_1
.
_____Happy Reading_____