
"Ah!" Ketika pintu terbuka Miaojie seketika berteriak.
Tanpa menunggu instruksi Nonanya Bibi Rong langsung masuk, hanya setelah beberapa tarikan nafas ia menarik Miaojie keluar.
Miaojie memberontak dan menolak untuk keluar, tapi ia hanyalah orang biasa yang tidak memiliki kekuatan, bagaimana mungkin bisa melawan Bibi Rong yang notabenenya seorang Master Beladiri.
Begitu Miaojie keluar, ruam diwajahnya terlihat oleh semua orang. Walaupun langsung menutupinya dengan tangannya, tapi tangannya juga dipenuhi ruam.
Tiba-tiba semua orang berteriak dan secara refleks mundur menjauh.
"Ini, ini..." Selir Mo juga mundur ketakutan.
"Ruam apa diwajahnya?"
"Aku tidak tahu. Tapi ini sangat menakutkan,"
"Ruam ini seharusnya bukan cacar,"
"Kalau bukan cacar, lalu apa?"
Kebanyakan orang tahu tentang cacar, tapi tidak banyak yang melihatnya secara langsung.
Ketika beberapa Pelayan melihat gejalanya mirip dengan cacar, mereka ketakutan.
"Ruam diwajahnya pasti cacar,"
"Mungkin saja!"
"Jika memang cacar, kita akan terinfeksi jika tidak menjauhinya."
"Cacar sangat menakutkan!"
Semua orang semakin terkejut dan mundur menjauh lagi. Bahkan beberapa Pelayan yang berada di bagian belakang langsung berlari keluar Halaman.
Sedangkan mereka yang berada ditengah dan didepan, hanya bisa berdiri mematung karena tidak memiliki keberanian untuk melarikan diri, ya karena Nona Sulung dan para Selir masih belum pergi.
Hanya tiga orang yakni Jiang Xingyu, Bibi Rong dan Bibi Lan yang paling tenang. Karena mereka tahu bahwa ruam tersebut bukan cacar yang tentunya tidak akan menular.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Ketika mendengar diskusi bahwa ruam diwajahnya adalah cacar, Miaojie tidak bisa mempercayainya.
"Saudari Miaozhu, aku..." Tanpa sadar ia berjalan kearah Miaozhu dan mencoba untuk meyakinkannya bahwa ruam diwajahnya bukanlah cacar.
Namun saat kakinya melangkah, Miaozhu buru-buru mundur menjauh dengan ekspresi ngeri.
Miaozhu tidak bisa mengabaikan fakta bahwa ia tidur seranjang dengan Miaojie, yang membuatnya mungkin juga terinfeksi. Ia tidak ingin terinfeksi! Ia tidak ingin mati!
"Pelayan, cepat seret Miaojie keluar Mansion!" Selir Mo begitu ketakutan hingga suaranya bergetar.
Awalnya ia mengira Jiang Xingyu lah yang melakukan sesuatu pada Miaojie, tidak disangka ternyata Miaojie terkena cacar.
Saat perintah terdengar, tidak ada Pelayan yang berani maju.
__ADS_1
Selir Mo sangat marah ketika melihat tidak ada yang bergerak maju. Namun sebelum kalimat kemarahannya keluar, suara permohonan Miaojie terdengar. "Tidak! Selir Mo, tolong jangan usir Nubi. Tolong selamatkan Nubi."
"Menyelamatkanmu? bagaimana caranya aku menyelamatkanmu?" Selir Mo sangat marah. Jika bisa diselamatkan, tentunya ia akan menyelamatkannya.
Tapi cacar ini, bagaimana caranya ia menyelamatkannya?
"Mengapa kalian linglung seperti orang gila? jika tidak mengusirnya, apa kalian ingin terinfeksi? apa kalian ingin terkena cacar juga?" Selir Mo meraung, untuk pertama kalinya mengabaikan citra baiknya didepan banyak orang.
Juga, hidupnya kini dalam bahaya, citra apalagi yang harus ia pertahankan?
Namun semua orang hanya saling dorong mendorong, tetap tidak ada yang berani maju.
"Kalian..." Selir Mo sangat marah hingga dadanya terasa sesak. Disaat yang sama Puteri keduanya datang."Yao'er, cepat keluar! Disini bukan tempat dimana kau bisa sembarang masuk!"
Ia sangat cemas dan takut Puterinya akan terinfeksi. Terlebih lagi ia harus segera membereskan masalah ini.
Tapi sepertinya Jiang Linyao tidak mendengarkan ucapan Ibunya. Hanya melihat wajah Miaojie dipenuhi ruam menakutkan, sedangkan wajah Jiang Xingyu
tetap sangat cantik seperti biasanya.
Ia terpana. Apa yang terjadi? mengapa Miaojie yang terkena? bukankah seharusnya Jiang Xingyu?
Ming Er juga terpana. Apakah mungkin Miaojie menginginkan 'Obat Pencahar' untuk dirinya sendiri? dan bukan untuk Jiang Xingyu? apakah Miaojie benar-benar meminumnya untuk dirinya sendiri?
Jiang Linyao segera bereaksi, karena tidak bisa menerima hasilnya ia berteriak lepas kendali. "Apa yang terjadi? bukankah seharusnya Jiang Xingyu yang terkena Bubuk Trichosanthes? mengapa berubah Pelayan ini?"
Mendengar ucapan Nonanya, Ming Er mengutuknya dalam hatinya dan sudah terlambat untuk menghentikannya.
Semua orang sekali lagi terkejut, mata mereka tertuju pada Jiang Linyao.
Sedangkan mereka Pelayan bodoh hanya menampakkan emosi berkaca-kaca. Semakin bingung setelah mendengar ucapan tersebut.
"Yao'er, apa yang kau bicarakan?" Selir Mo terkejut. Ucapan Puterinya terdengar lugas, bagaimana mungkin ia tidak tahu apa maksudnya.
Tanpa diduga Puterinya yang meminta Miaojie untuk meracuni Jiang Xingyu.
"Aku..." Jiang Linyao membuka mulutnya, tapi sebelum selesai mengatakannya, dengan suara 'PLAK!' tamparan mendarat di pipinya. Sebelum ia bisa bereaksi, suara kemarahan Ibunya terdengar. "Diam!"
Sebenarnya Selir Mo bertanya karena terlalu terkejut. Setelah bertanya ia menyesalinya.
Seharusnya ia tidak menanyakannya, jika Puterinya mengatakan yang sejujurnya, situasinya akan semakin buruk.
"Ibu memukulku?" dipukul pertama kali oleh Ibunya, tentu saja Jiang Linyao tidak bisa menerimanya.
Ia tidak memperhatikan ucapan Ibunya, hanya memegang pipinya yang berdenyut nyeri seraya menatap Ibunya dengan mata tidak percaya.
Setelah menampar Puterinya Selir Mo menyesal dan tertekan. Namun jika tidak melakukannya, ia tidak akan bisa menghentikan kecerobohan Puterinya.
Melihat ini, Jiang Xingyu mengerti bahwa rencana busuk ini bukan atas perintah Selir Mo, melainkan rencana pribadi Jiang Linyao.
"Mengapa masih disini? cepat keluar!" Selir Mo menatap Puterinya dan sekali lagi membentaknya.
__ADS_1
"Selir Mo, semua orang bertanya-tanya apa maksud ucapan Nona Ketiga." Selir Jing menghentikan. Ucapannya seakan menyiratkan bahwa Jiang Linyao tidak boleh pergi sebelum menjelaskannya.
Awalnya ketika kata cacar keluar, ia juga ketakutan. Tapi melihat ekspresi Nona Sulung tetap tenang, ia merasa lega tanpa bisa dijelaskan. Tampaknya masalah ini tidak sesederhana seperti yang terlihat.
Jika begitu, tentunya ia akan mengikuti rencananya.
"Diam! Kau tidak berhak berbicara disini!" Selir Mo cemas dan berteriak pada Selir Jing.
"Hak apa yang Selir Mo miliki hingga memerintahku? apakah Selir Mo melupakan identitas diri sendiri lagi?" Selir Jing tidak kesal, namun kata cibiran tetap keluar dari bibirnya.
"Kau..." Selir Mo terdiam. Walaupun statusnya adalah Selir, tapi ia telah bertanggung jawab atas urusan Rumah Tangga selama bertahun-tahun, secara alami ia menganggap dirinya sebagai Nyonya.
Ia tertegun ketika menyadari bahwa Jiang Xingyu juga disini, ketika melihat senyum wajahnya, ia tahu masalah ini tidak akan selesai dengan mudah.
Menarik nafas dalam-dalam lalu berkata dengan membawa nada tenang sebanyak mungkin. "Nona, Selir pikir ada kesalahpahaman dalam hal ini. Lebih baik Nona kembali dulu, biarkan Selir yang menyelidikinya. Setelah menemukan kebenarannya, Selir akan melaporkannya pada Nona. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nona, Selir tidak akan bisa menjelaskannya pada Tuan."
Jiang Xingyu terkekeh, senyumannya membuat semua orang kedinginan. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebaliknya minta Puterimu untuk menjelaskan apa maksud ucapannya. Mengapa ucapannya terdengar seakan berniat jahat padaku?"
Selir Mo tahu Jiang Xingyu tidak akan melepaskan Puterinya, tapi bagaimanapun ia tidak akan diam saja ketika Puterinya diintimidasi.
Oleh karena itu ia tidak punya pilihan lain selain berbicara omong kosong. "Sepertinya Nona salah paham, Yao'er tidak bermaksud demikian. Sekarang Pelayan ini dalam masalah, biarkan Selir yang mengurusnya. Jadi Nona tidak perlu khawatir."
"Selir Mo jangan lupa, Pelayan ini adalah Pelayan Nona Sulung. Walaupun Selir Mo sementara waktu mengurus urusan Rumah Tangga atas nama Mendiang Nyonya, tapi urusan Nona Sulung, selama Nona Sulung tidak setuju, siapapun tidak memiliki hak untuk ikut campur." Ucapan Selir Jing seakan untuk kebaikan Selir Mo, tapi semua orang tahu maksudnya tidak seperti demikian.
"Kau..." Selir Mo tidak terima dan menatap Selir Jing dengan mata ganas. Mencoba menyangkalnya, tapi ucapan Selir Jing tidak salah. Jika menyangkal ia akan berada dalam masalah yang lebih besar.
Sedangkan setelah Jiang Linyao diteriaki oleh Ibunya, ia tidak bisa bereaksi selama beberapa waktu, dan kini kebingungan melihat perdebatan yang terjadi didepan matanya.
Setelah bereaksi tiba-tiba sarafnya terstimulasi, ia mengangkat tangan kanannya dan mendaratkannya di wajah Ming Er Pelayannya.
'PLAK' suaranya sangat keras hingga membuat semua orang serempak menatapnya.
Bahkan Miaojie yang sedang menangis, secara refleks berhenti.
"Tidak berguna! Bukankah kau mengatakan bahwa Pelayan ini sudah mencampurkan Bubuk Trichosanthes pada makanan Jiang Xingyu? kenapa sekarang Jiang Xingyu baik-baik saja? katakan padaku kenapa?!" Jiang Linyao seperti Binatang gila saat ini. Wajahnya ganas dan raungannya menakutkan, membuat para Pelayan bergidik ngeri
Mereka tahu Nona Ketiga sangat sombong dan selalu bertindak dominan, tapi mereka belum pernah melihatnya bertindak gila seperti sekarang.
.
[Ungkapan hati Author]
Hai semuanya, author mohon maaf atas jalan cerita yang membosankan ini yahh...
Sebenarnya banyak yang request agar cerita ini dipercepat dan tidak bertele-tele, tapi author tidak setuju.
Author ingin cerita ini berjalan secara alami tanpa dipercepat atau sebagainya.
Buat kalian yang suka cerita ini dan bersedia mendukung cerita ini dengan cara like, komen, vote dan rate, author ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Sedangkan untuk kalian yang hanya jadi Silent Readers, terima kasih juga sudah bersedia membaca cerita amburadul ini..
__ADS_1
.
______Happy Reading_____