
Keesokan harinya...
Setelah sarapan pagi, Jiang Xingyu kembali ke kamarnya untuk berlatih menggambar simbol jimat.
Meskipun ia telah melakukan sesuatu setiap hari, hidupnya masih terlalu monoton.
Di kehidupan sebelumnya, meski sebagai agen pembunuh ia banyak menganggur di samping tugas-tugasnya, tapi ada banyak hal menarik untuk dinikmati. Misalnya menonton TV, mendengarkan musik, berselancar di internet, pergi ke BAR, balapan Drag, berenang, Dll.
Sedangkan di kehidupan saat ini, selain berlatih beladiri, menggambar simbol jimat dan konflik dengan Selir Mo, selebihnya ia tidak melakukan apapun. Kehidupan seperti ini terasa hambar baginya.
"Bibi, apa Jiang Xingyu ada?"
Saat sedang bergulat dengan pikirannya, tiba-tiba ia mendengar suara wanita dari halaman. Tidak perlu melihatnya, siapa lagi selain Puteri Yanning?
"Masuklah." Ucapnya sebelum Bibi Rong menjawab.
Segera! Puteri Yanning berlari menaiki anak tangga yang mengarah ke ruangan di lantai dua.
Puteri Yanning masuk ke kamar Jiang Xingyu untuk pertama kalinya dan cukup terkejut. Tata letak kamar ini sangat sederhana, kecuali furnitur berkualitas biasa, tidak ada dekorasi lainnya.
"Kamarmu terlalu sederhana!" Puteri Yanning menggelengkan kepalanya.
Jiang Xingyu tidak peduli. Sebaliknya berkata acuh tak acuh. "Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Untuk apa mendekorasi kamar begitu mewah?itu hanya sia-sia."
"Segera pergi?" Puteri Yanning kebingungan.
Seakan memahaminya, ia berkata sambil tersenyum. "Benar. Dalam beberapa bulan kau akan memasuki usia menikah. Tentu saja kau akan meninggalkan tempat ini."
Melihatnya telah salah paham, Jiang Xingyu tidak berencana untuk menjelaskan. Karena ia tidak bisa memberitahu Puteri Yanning bahwa ia akan meninggalkan tempat ini untuk berkelana, tentu saja setelah balas dendamnya tuntas!
Dan setelah berbicara, Puteri Yanning menjadi khawatir. "Tapi Xingyu, kau tidak benar-benar akan menikahi Pangeran Yuhao kan?"
"Iya atau tidak, apakah aku bisa menentang dekret Kaisar?" tanya Jiang Xingyu.
"Tapi kau bisa menikah dengan Pamanku. Selama Pamanku berbicara, Ayahanda pasti akan setuju." Ucap Puteri Yanning sangat yakin.
Jiang Xingyu tak berdaya dan tidak ingin membicarakan topik ini lagi. "Katakan padaku, kau datang kesini untuk apa?"
Puteri Yanning mengedipkan matanya. "Aku ingin mengajakmu keluar untuk bersenang-senang. Hari ini hasil ujian akan keluar. Ayo kita lihat."
Jiang Xingyu tersenyum penuh arti, karena ia tahu Puteri Yanning pasti memiliki tujuan lain. Bukankah untuk melihat pemuda bernama Tang Wenyuan?
Meski begitu ia tidak menolak ajakannya, dan pergi setelah berganti pakaian.
__ADS_1
Ibukota sangat ramai hari ini, entah itu di jalanan ataupun di Restoran. Dan kebanyakan dari mereka adalah para sarjana muda.
Hari ini hasil ujian akan keluar, yang mana merupakan titik balik besar bagi orang-orang berbakat yang mengikuti ujian. Walaupun waktu pengumuman ujian masih lama, mereka menunggu sambil bersenang-senang.
Sedangkan waktu pengumumannya siang hari, di depan gerbang Istana.
Saat ini Jiang Xingyu dan Puteri Yanning sedang berjalan-jalan santai.
Puteri Yanning bertanya setelah mengingat sesuatu. "Oh ya, Xingyu, aku dengar kau mematahkan pergelangan tangan Shu Yinxue?"
"Ya." Jawab Jiang Xingyu sekilas.
"Hahaha!" Puteri Yanning tidak bisa menahan tawanya. "Akhirnya dia tidak bisa menggangguku lagi. Jika bukan karena takut menimbulkan masalah untuk Ibunda, aku pasti akan melakukan sesuatu yang lebih kejam dari sekedar mematahkan pergelangan tangannya."
Dengan obrolan ini, keduanya tidak menyadari ada orang lain yang mendengarnya juga.
Benar! Sekelompok orang berjalan dalam jarak tiga meter di belakang keduanya.
Dan kelompok ini secara kebetulan adalah Pangeran Yuhao, Lin Jiayun, Lin Jiayin, Shu Yinfeng, Yan Zihang dan satu lagi yang merupakan Nona kedua dari Kediaman Fang, Fang Jinse.
Setelah melihat dua gadis di depan mereka, wajah kelompok tersebut berubah suram.
Terutama Pangeran Yuhao, kemarahannya bukan karena obrolan mereka. Tapi karena Jiang Xingyu merupakan duri di hatinya yang tidak bisa disentuh. Ketika menyebut atau melihatnya, aura pembunuhan di tubuhnya tak bisa di kendalikan.
Aura pembunuhan ini sangat kuat sehingga membuat Puteri Yanning merasakannya juga.
Takut terjadi sesuatu yang buruk, Jiang Xingyu segera menarik Puteri Yanning ke Kedai Teh terdekat.
Begitu masuk, ia tidak segera mencari meja. Sebaliknya menarik Puteri Yanning untuk bersembunyi di belakang pintu, lalu memintanya melihat keluar melalui celah pintu untuk melihat apakah ada sesuatu yang mencurigakan.
Segera! Keduanya melihat sekelompok orang lewat di depan Kedai Teh.
"Bagaimana?" Puteri Yanning bertanya dengan gugup.
"Aura pembunuhan berasal dari Pangeran Yuhao." Ucap Jiang Xingyu disertai senyum pahit.
Mendengar ini membuat Puteri Yanning sangat terkejut. Ia tidak menyangka kebencian Pangeran Yuhao pada tunangannya sendiri hingga mencapai titik pembunuhan.
Melihat kekhawatirannya, Jiang Xingyu segera mengganti topik. "Karena kita sudah disini, ayo minum teh. Aku akan mentraktirmu."
Tanpa menunggu tanggapan, ia berbalik menuju meja kasir. Namun ia diberitahu bahwa tidak ada meja yang kosong.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Paviliun Mingxiang saja? Itu juga milik Keluarga Feng dan di sana ada ruangan VIP untuk Pamanku." Puteri Yanning menyarankan.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo pergi." Ucap Jiang Xingyu.
Paviliun Mingxiang yang terletak di seberang jalan Restoran Chilan, merupakan salah satu tempat paling makmur di Ibukota.
Paviliun Mingxiang hanya berfokus pada kelas atas. Meskipun bukan tempat yang bisa dikunjungi orang biasa, tentu saja ada banyak orang kaya di Ibukota sehingga juga ramai pengunjung.
Namun hanya lobi di lantai pertama dan ruangan pribadi di lantai dua yang di buka untuk umum. Sedangkan ruangan VIP di lantai tiga dikhususkan untuk individual tertentu. Karena efek kedap suara sangat bagus sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat berdiskusi hal penting.
Tentu saja ruangan VIP ini tidak bisa di dapatkan dengan indentitas, tetapi dengan uang!
Setiap pemilik ruangan VIP, tidak peduli berapa kali datang dalam setahun, biaya tahunan tetap harus dibayar. Tidak peduli berapa banyak orang yang dibawa, teh dan makanan ringan semuanya gratis.
Saat ini tepatnya diluar Paviliun Mingxiang, sebuah kecelakaan terjadi.
Jiang Xingyu menghela nafas tak berdaya. Ia benar-benar bertemu dengan dengan kelompok Pangeran Yuhao.
"Xingyu..." Puteri Yanning ingin pergi.
"Tidak apa-apa. Ayo masuk." Jiang Xingyu tersenyum, tidak berencana untuk menghindar.
Pada saat ini tiga orang pria menuruni anak tangga yang menuju lantai pertama. Pria yang berjalan di depan berusia sekitar dua puluh lima tahun, ekspresinya tenang dan santai. Identitasnya adalah Pangeran tertua, Murong Yuche.
Ketika Pangeran Yuche melihat kelompok yang datang, ia sedikit terkejut lalu berkata disertai senyum nakal. "Oh! Saudara ketiga tampak sangat menikmati. Membawa tunangan dan kekasih keluar bersama, apa kau tidak takut menimbulkan masalah?"
Mendengar kata-kata ini, semua orang tertegun sejenak lalu kemudian menoleh ke belakang secara bersamaan. Sontak tatapan mereka tertuju pada dua gadis yang berdiri dua meter dari mereka.
Membuat ekspresi semua orang berubah.
"Jiang Xingyu, untuk apa kau disini? apa kau mengikuti kami?" Lin Jiayin yang impulsif, segera terbakar amarah.
Tanpa menunggu Jiang Xingyu menanggapi, Puteri Yanning berbicara lebih dulu. "Lelucon! Apa yang mengikuti? Paviliun Mingxiang bukan milikmu, mengapa kita tidak bisa datang?!"
"Kau..." Lin Jiayin ingin membantah, tapi ditegur oleh saudaranya. "Jiayin, diamlah!"
Kemudian Lin Jiayun memandang Puteri Yanning dan berkata dengan sopan. "Jiayin tidak sopan terhadap Puteri, harap Puteri berbaik hati untuk memaafkannya."
"Cih!" Puteri Yanning mencibir dan tidak mengatakan apapun lagi.
Dan setelahnya, Pangeran Yuche menampakkan ekspresi terkejut. "Ah, ternyata bukan begitu. Ben Wang berpikir, karena Nona Jiang merupakan tunangan saudara ketiga, seharusnya kemanapun selalu bersama saudara ketiga."
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____