-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
044 - Bibi Rong Kembali


__ADS_3

Jiang Xingyu sangat yakin Pendeta ini pasti mengetahui sesuatu tentangnya. Jika tidak, bagaimana mungkin bisa tahu bahwa ia sedang mencari seseorang?


Atau mungkin sebelumnya Bibi Rong bertemu Pendeta ini dan mengatakan sesuatu tentangnya.


Pendeta tidak mengatakan omong kosong lagi. "Nona, orang yang kau cari sudah kembali. Tetapi tempat tinggalmu dipenuhi Aura Yin dan Yang, sebagai akibatnya akan mendatangkan bencana berdarah dalam waktu dekat."


"Bencana berdarah kepalamu! Pendeta yang bau, aku tidak akan mempercayai ucapan bodohmu. Tidak peduli apa tujuanmu, lebih baik pergilah sebelum amarahku memuncak. Jika tidak, jangan salahkan aku karena bersikap tidak sopan!" Bentak Jiang Xingyu disertai tatapan penuh amarah.


"Percayalah, Nona. Apa yang kukatakan sangat benar!" Pendeta meyakinkan.


Jiang Xingyu tidak tahan lagi, mengabaikan citranya lalu berteriak. "Ah! Semua orang, kemarilah! Pendeta ini memaksaku untuk menikah dengannya..."


Kuil Yun merupakan satu-satunya Kuil terbesar di Ibukota. Walaupun perayaan sudah berlalu, masih banyak orang yang masih datang dan pergi.


Oleh karena itu ketika mendengar teriakan, tidak peduli apakah benar atau salah, mereka yang berada disekitar segera berkumpul seperti akan menonton pertunjukan.


"Tidak mungkin! Apakah Pendeta benar-benar memaksa Pemuda ini untuk menikahinya?"


"Apanya yang tidak mungkin! Wajah Pemuda ini sangat tampan. Apalagi pada pandangan pertama Pendeta ini terlihat seperti bukan orang baik, jadi mungkin saja memang benar."


"Aku juga merasa begitu."


"Kau..." Pendeta tak bisa berkata-kata. Walaupun faktanya tidak benar, namun reaksi semua orang membuatnya sangat marah dan malu.


Tidak tahan mendengar beruntun cibiran, ia memilih pergi.


Jiang Xingyu tersenyum bangga, berjalan keluar, menaiki Kudanya dan kembali ke Ibukota. Adapun tentang bencana berdarah yang dikatakan Pendeta itu, dalam sekejap ia melupakannya.


Sebelum kembali pulang ia mengubah penampilannya seperti sebelumnya.


Segera setelah memasuki Kediaman, ia menerima tatapan aneh dari para Pelayan dan Penjaga. Namun lebih banyak menatapnya ketakutan.


Tidak perlu menebak, ia yakin reaksi mereka pasti berkaitan dengan apa yang terjadi di Jalan pagi tadi.


Sebelum akan memastikan apakah Bibi Rong sudah kembali atau belum, ia dihentikan oleh Kepala Pelayan dan mengatakan kalau Ayahnya sedang memanggilnya.


Seketika ia tahu mengapa Ayahnya memanggilnya.


...

__ADS_1


Di Ruang Belajar, Tuan Besar duduk sambil membaca buku.


Alisnya berkerut dan matanya sangat gelap seperti berada dalam suasana hati yang buruk.


Puterinya menyebabkan masalah diluar, jadi bagaimana mungkin suasana hatinya akan baik-baik saja?


Meskipun keempat Putera Pejabat itulah yang menyebabkan masalah lebih dulu, namun cara Puterinya memberi pelajaran sangat tidak tahu malu dan tidak pantas dilakukan seorang Wanita. Apalagi Wanita yang masih belum menikah!


Ia menghela nafas kesal dan melemparkan buku yang dibacanya ke meja.


"Tok tok tok..." Suara ketukan pintu terdengar diluar, diikuti suara Kepala Pelayan yang diutusnya untuk menunggu Puterinya kembali. "Tuan, Nona Sulung sudah datang."


"Biarkan dia masuk!" Suara tanggapan Tuan Besar terdengar dingin.


Setelahnya terdengar suara derit pintu terbuka diikuti langkah Jiang Xingyu.


"Ayah terburu-buru memanggilku, apakah ada sesuatu yang penting?" Walaupun sudah mengetahuinya, ia masih bertanya seperti Gadis polos.


"Apa kau yang benar-benar memukuli Putera-Putera Pejabat itu?" Lebih tepatnya Tuan Besar hanya ingin memastikan.


"Ya! " Jiang Xingyu tidak menyangkalnya.


Wajah Jiang Xingyu tenggelam dan matanya berubah dingin. Bukan karena ucapan Ayahnya, tapi karena Ayahnya mengarahkan jarinya padanya.


Namun ketika melihat Ayahnya menurunkannya, ia mengurungkan tindakannya, hanya kalimat cibiran yang keluar dari mulutnya.


"Aku tidak tahu malu dan tidak memiliki sopan santun? hah! Apa itu? apakah bisa dimakan atau digunakan? jika tidak bisa untuk apa aku harus peduli? selain itu selama bertahun-tahun Kediaman bukan hanya mengabaikanku, tapi juga memperlakukanku dengan buruk. Jika begitu untuk apa aku repot-repot peduli pada reputasi Kediaman?"


"Lagipula menurutku tindakanku tidak memalukan. Aku hanya melakukan pembalasan gigi ganti gigi dan mata ganti mata. Berani mengganggu dan melecehkanku, hanya membuat mereka tidak manusiawi selama 1 atau 2 bulan sudah cukup baik untuk mereka. Jika aku benar-benar marah, akibatnya pasti tidak akan sesederhana itu. Siapapun yang menyinggungku, aku pasti akan mengembalikannya berkali-kali lipat!" Lanjutnya dengan dominan.


Membuat Tuan Besar menggigil secara tak bisa dijelaskan. Seolah-olah tubuh bagian bawahnya juga terancam. Ia bahkan merasa kalimat terakhirnya digunakan untuk memperingatinya.


Memperingatinya agar tidak menyinggungnya.


"Jika tidak ada hal lain, aku akan pergi." Kata Jiang Xingyu mengabaikan reaksi Ayahnya, setuju atau tidaknya, ia langsung berbalik pergi.


Tuan Besar menghela nafas lega dan berencana untuk tidak menyinggung Puterinya yang sudah berubah mendominasi.


Setelah keluar dari Ruang Belajar Ayahnya, Jiang Xingyu berjalan menuju Paviliun Weiyang.

__ADS_1


Mengapa pergi ke Paviliun Weiyang alih-alih pergi ke Halaman Utara? itu karena sebelumnya dalam perjalanan ke Ruang Belajar Ayahnya, ia bertanya kepada Kepala Pelayan apakah Bibi Rong sudah kembali atau belum.


Ternyata ketika berada diluar dan mendengar berita tentang Nonanya dan segala perubahannya, karena terlalu bersemangat, Bibi Rong bergegas pulang dengan penampilan kotor. Hasilnya ia dihentikan dan dianggap orang gila oleh Penjaga Gerbang.


Kebetulan pada saat itu Kepala Pelayan berada disekitar dan sedang menunggu Nona Sulung kembali. Ketika mendengar keributan ia bergegas keluar guna melihat apa yang terjadi.


Setelah mengenali ternyata orang yang dihentikan Penjaga Gerbang adalah Bibi Rong, Kepala Pelayan membiarkannya masuk.


Kepala Pelayan memberitahu Bibi Rong kalau Nona Sulung sudah pindah ke Paviliun Weiyang, tapi sejak tadi pagi sudah keluar dan masih belum kembali, jadi ia memintanya untuk menunggu di Paviliun Weiyang.


Walaupun kebingungan mengapa Nonanya pindah Halaman, Bibi Rong tidak banyak bertanya dan menunggu dengan tenang.


Bibi Rong merupakan Master Beladiri. Walaupun bukan Master kelas satu, tapi kemampuannya masih cukup bagus. Oleh karena itu ketika seseorang mendekat kearah Paviliun Weiyang, ia segera mengetahuinya.


Reaksi pertamanya adalah Nonanya sudah kembali.


Ia bergegas keluar dan ketika melihat orang yang datang, seluruh tubuhnya membeku dan pandangannya tertegun.


"Nona Muda..." Bibi Rong berseru, tapi tidak tahu apakah sedang memanggil Jiang Xingyu atau Mendiang Nyonyanya.


Bibi Rong awalnya merupakan Pelayan pribadi Nalan Wangzi dan memanggilnya dengan sebutan Nona Muda. Walaupun Nalan Wangzi sudah menikah dan menjadi seorang Nyonya, Bibi Rong secara pribadi masih memanggilnya Nona Muda.


Sedangkan ketika Jiang Xingyu lahir, Bibi Rong memanggilnya dengan panggilan Nona Kecil.


Setelah Nalan Wangzi meninggal, secara alami Bibi Rong mewariskan panggilan Nona Muda pada Sang Nona Kecil.


Tidak seperti yang lain, Bibi Rong telah merawat Jiang Xingyu sejak masih kecil. Oleh karena itu ia paling memahami seperti apa sifat dan wajahnya. Bertahun-tahun yang lalu sebelum dan setelah Nonanya berubah bodoh, selain wajahnya, ia tidak merasakan sisi lainnya yang mirip dengan Mendiang Nyonyanya.


Tapi sekarang Nonanya yang sudah berubah sepenuhnya, anehnya memiliki aura yang sangat mirip dengan Mendiang Nyonyanya. Hanya berdiri diam saja sosoknya terlihat seperti tidak mudah didekati, sombong dan secara bersamaan sangat Mulia.


"Bibi Rong," Jiang Xingyu tersenyum lembut dan berjalan mendekatinya.


Panggilan tersebut segera menyadarkan Bibi Rong dari lamunannya. Pada saat yang sama sepenuhnya yakin kalau memang Nona Mudanya yang saat ini berdiri dihadapannya.


.


.


_____Happy Reading_____

__ADS_1


__ADS_2