
Begitu meninggalkan Kediaman, Jiang Xingyu melihat Pamannya berdiri tidak jauh.
Ia menghampiri sambil bertanya. "Paman, sudah berapa lama kau disini?"
"Tidak lama," Nalan Wangyu tersenyum.
Mengetahui Pamannya berbohong, Jiang Xingyu menggelengkan kepalanya. "Aku biasanya keluar di jam seperti ini. Paman bisa datang di jam yang sama."
"Baiklah." Jawab Nalan Wangyu sedikit canggung.
Kemudian keduanya berjalan bersama.
Saat memikirkan sesuatu, Nalan Wangyu berkata. "Paman sudah melihat temanmu. Vitalitasnya memang terluka parah. Paman sudah memberinya vitalitas dan sekarang Dia baik-baik saja."
"Apa?" Jiang Xingyu tertegun, tidak menyangka Pamannya bersedia memberikan vitalitasnya sendiri pada orang lain. "Terima kasih, Paman."
"Kau sangat sopan pada Pamanmu. Apa kau menganggap Pamanmu sebagai orang luar?" mata Nalan Wangyu berkedip sedih.
Membuat Jiang Xingyu tertegun, kemudian Ia meraih lengan Pamannya dan berkata dengan manja. "Kedepannya Yu'er tidak akan sopan pada Paman. Jika ada yang tidak bisa Yu'er lakukan, Paman akan membantu."
"Ini baru keponakan Paman." Nalan Wangyu mengangkat tangannya untuk menyentuh kepala keponakan tersayangnya.
Tentu saja baik Jiang Xingyu ataupun Nalan Wangyu tidak menyadari, di Kedai Teh tidak jauh, sepasang mata dingin tengah menatap mereka.
Semakin dingin tatapan tersebut dikala melihat adegan kasih sayang keduanya.
Mengenai siapa orang itu, bukankah itu Yuwen Junxiu?
Kini Yuwen Junxiu sedang bersama Pangeran Yin. Tengah berbicara, Pangeran Yin terkejut ketika merasakan aura dingin menakutkan.
"Hei, ada apa denganmu? apa yang kau lihat?" Pangeran Yin bertanya.
Tetapi sebelum Yuwen Junxiu menjawab, Ia mengikuti pandangannya.
Kebetulan Ia melihat dua orang berpakaian hitam berjalan melewati Kedai Teh. Satu tinggi dan satu pendek, seorang Pria dan Wanita.
Terlihat Wanita itu sedang merangkul lengan Pria, sedangkan Pria itu menyentuh kepala Wanita dengan penuh kasih sayang.
"Siapa?" karena hanya melihat punggungnya, Ia tidak tahu siapa keduanya.
"Siapa lagi kalau bukan Jiang Xingyu? Wanita itu benar-benar tidak tahu malu. Berkeliaran ditengah malam dengan seorang Pria." Ucap Yuwen Junxiu dengan jijik.
__ADS_1
"Apa?" Pangeran Yin sedikit terkejut. "Apa kau tidak salah?" tanyanya lagi sambil menatap sosok Wanita itu yang memang mirip dengan Nona Jiang.
Mengapa Dia selalu keluar tengah malam? apa yang Dia lakukan?
Saat Ia terus memperhatikan keduanya, Pria itu tiba-tiba melihat kearahnya.
Dan ketika melihat wajah Pria itu, Ia bangkit dari kursinya dengan tatapan tidak percaya, tertegun dan terkejut.
Melihat reaksi Pangeran Yin, Yuwen Junxiu menyadari ada sesuatu yang salah. Ia pun bertanya. "Ada apa?"
Mendengar suara disampingnya membuat Pangeran Yin bereaksi kembali. Saat melihat kejalan lagi, keduanya sudah menghilang.
"Apa kau yakin Wanita yang barusan itu benar-benar Nona Jiang?" karena sesuatu, Ia harus memastikannya.
"Benar Dia." Jawab Yuwen Junxiu.
Setelah dikonfirmasi, Pangeran Yin terkulai lemas di kursinya serta bergumam pada dirinya sendiri. "Bagaimana mungkin? bukankah Dia sudah mati?"
Yuwen Junxiu mengernyitkan dahinya. Ia secara alami tahu Pangeran Yin tidak membicarakan Jiang Xingyu, tetapi membicarakan Pria di sampingnya.
Tapi siapa Pria itu hingga membuat Pangeran Yin tidak berdaya?
Tidak bisa menebak, Ia bertanya. "Siapa Dia?"
Yuwen Junxiu terkejut.
Ia tidak mengenal Nalan Wangyu, namun Ia tahu sedikit tentangnya.
Nalan Wangli dan Nalan Wangyu merupakan Pahlawan sejati. Dewa Perang milik Kekaisaran Ling Timur. Sayangnya keduanya meninggal di Medan Perang lima tahun yang lalu.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Pangeran Yin berkata Pria itu adalah Nalan Wangyu, mungkinkah Dia tidak mati saat di Medan Perang lima tahun yang lalu?
....
Ketika Nalan Wangyu melihat Pangeran Yin, Ia menyadari Pangeran Yin mengenalinya. Oleh karena itu Ia segera membawa keponakannya pergi.
Jiang Xingyu terkejut dengan tindakan Pamannya, setelah tiba di tempat tertentu, Ia bertanya. "Paman, ada apa?"
"Awalnya Paman merasa ada seseorang yang menatap kita. Saat melihat sekeliling, Paman bertemu dengan tatapan Pangeran Yin. Paman membawamu pergi secepat mungkin untuk menghindari Pangeran Yin mengenali kita." Ucap Nalan Wangyu acuh tak acuh.
"Aku khawatir Dia telah mengenali kita." Jiang Xingyu menghela nafas khawatir.
__ADS_1
"Ya. Sepertinya Pangeran Yin sudah mengenali kita. Untung saja Dia tidak segera bereaksi, sehingga tidak bisa mengejar kita." Nalan Wangyu berkata dengan percaya diri.
"Apakah akan menimbulkan masalah untuk Paman?" Jiang Xingyu merasa cemas.
Melihat keponakannya mengkhawatirkannya, Nalan Wangyu berkata. "Yu'er tidak perlu khawatir. Sebenarnya Paman ingin menemui Pangeran Yin. Hanya saja waktunya belum tepat."
"Untuk apa Paman menemuinya?" Jiang Xingyu kebingungan.
"Ini..." Nalan Wangyu sedikit ragu apakah harus memberitahu masalah itu pada keponakannya atau tidak.
"Tidak masalah jika Paman tidak ingin mengatakannya. Aku tidak akan bertanya lagi." Ucap Jiang Xingyu sambil tersenyum.
"Tidak. Paman merasa kau berhak mengetahui masalah itu. Paman hanya khawatir kau akan bertindak impulsif setelah mengetahuinya." Ekspresi Nalan Wangyu berubah serius.
Jiang Xingyu mengerutkan alisnya, merasa masalah tersebut tidak sederhana dan jelas terkait dengannya.
"Paman, aku bukan Gadis kecil lagi. Aku tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak." Ucapnya juga dengan wajah serius.
Dengan ini, Nalan Wangyu merasa keponakannya benar-benar sudah dewasa. Ia mengambil nafas dalam-dalam kemudian berkata. "Masalah ini tentang kematian Kakekmu dan Paman dalam pertempuran lima tahun yang lalu. Faktanya pemberontakan terjadi karena sebuah konspirasi. Kaisar ingin mendapatkan kembali kekuatan militer yang dipimpin Kakekmu. Dia berkolusi dengan musuh untuk mengepung Kakekmu dan Paman, yang menyebabkan kami berdua meninggal."
"Apa?!" Seketika Jiang Xingyu membelalakkan matanya.
"Pada saat itu ada pengkhianat disekitar kami. Karena penghianat itulah persiapan kami kurang saat menghadapi pertempuran. Salah satu pengkhianatnya adalah seorang Letnan yang memperlakukan Paman seperti saudara kandung. Dia mengatakan pada Paman bahwa kekuatan Keluarga Nalan membuat Kaisar ketakutan. Karena alasan inilah Kaisar ingin menarik kekuatan militer yang dipimpin Kakekmu."
"Karena dendam, Paman tidak ingin mati begitu saja. Jiwa Paman berubah menjadi Roh Jahat, menyerap sejumlah besar jiwa musuh yang meninggal hingga kekuatan Paman meningkat pesat. Tapi karena Paman tidak bisa menyerap semua kekuatan itu, Paman jatuh dalam tidur panjang. Setengah bulan yang lalu saat Paman terbangun, Paman segera kembali ke Ibukota untuk menyelidiki kejadian waktu itu. Ternyata memang benar konspirasi yang dirancang Kaisar untuk menghancurkan Keluarga Nalan. Paman benar-benar tidak menyangka, kami yang selalu rendah hati, kami yang jarang kembali ke Ibukota, tetap tidak bisa menghindari kecurigaan Kaisar."
"Lalu untuk apa Paman menemui Pangeran Yin?" Jiang Xingyu bingung akan hal ini.
Semua orang tahu hubungan Pangeran Yin dan Kaisar sangat baik. Setelah Kaisar naik tahta, Pangeran Yin bisa tinggal di Ibukota dengan bebas. Mungkin saja ada keterlibatan Pangeran Yin dalam masalah ini.
Nalan Wangyu secara alami mengerti maksud keponakannya. Ia menjawab. "Awalnya Paman mengira Pangeran Yin juga terlibat, tapi setelah Paman menyelidikinya, ternyata Pangeran Yin juga mengalami masalah waktu itu. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu Paman pernah bertemu Pangeran Yin, Paman mendengar percakapan antara Dia dan orang kepercayaannya, Chen Ziyue. Mereka sedang mencari semua pihak yang terlibat dalam pembunuhan di Istana Changtian, pada hari keenam di bulan juni, lima tahun yang lalu. Dan Komandan Pasukan Penjaga Istana, Yu An..."
"Tunggu..." Saat mendengar akhir kalimat, Jiang Xingyu tiba-tiba teringat pada yang terjadi malam itu di ruang terbuka di samping Rumah Kayu.
"Yu'er, ada apa?" Nalan Wangyu bertanya cemas.
"Suatu malam, aku bertemu dengan seorang teman Pangeran Yin. Dia sedang mengejar dan bertarung dengan seorang Pria. Lima tahun yang lalu, hari keenam di bulan juni, Istana Changtian. Pria itu berusia sekitar empat puluh tahun, tidak tinggi dan sedikit gemuk. Karena jaraknya terlalu jauh, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Kemudian aku melihat teman Pangeran Yin mengeluarkan sebuah Token, sikap Pria itu berubah drastis dan menjadi sangat hormat. Mungkinkah Pria itu adalah Yu An?" kata Jiang Xingyu.
.
.
__ADS_1
_____Happy Reading_____