
Pada malam harinya Jiang Xingyu tidak lagi berlatih Beladiri sendirian, melainkan memanggil Ning Zhi dan Ning Xia untuk bertarung dengannya. Karena hanya dengan pertarungan yang sesungguhnya, Ia dapat meningkatkan kemampuannya lebih cepat.
Tentu saja pertarungan satu persatu. Karena untuk kekuatannya saat ini, jika dua lawan satu, walaupun Ia bisa bertahan lama, akhirnya tetap saja kalah.
Bagaimanapun keduanya merupakan Master level tiga yang sebenarnya, sedangkan Ia baru berada di level awal Master kelas tiga.
Setelah beberapa putaran pertarungan melawan keduanya, Ia menemukan banyak kekurangannya sendiri, yang membuatnya lebih bersemangat dalam Berlatih.
....
Tiga hari kemudian, Ia mampu menggambar Simbol Jimat Pembunuh Hantu dalam waktu sepuluh detik. Namun menggambar dalam waktu tiga detik, untuk saat ini bisa dikatakan masih jauh.
Kertas dan tintanya sudah habis, Ia pun memutuskan untuk keluar tanpa makan siang.
Kali ini tidak membawa Bibi Rong karena Ia bukan hanya akan membeli kertas dan tinta, tapi juga akan mengunjungi Gurunya.
Sebelumnya Ia mengatakan akan menemuinya setiap lima hari sekali, namun sekarang sudah lewat seminggu. Takut Gurunya akan marah, sebelum mengunjunginya Ia membeli anggur berkualitas terbaik serta daging yang enak.
Untuk daging yang enak, Ia yakin hanya ada di Restoran Chilan. Oleh karena itu Ia memutuskan pergi kesana.
Namun saat kakinya baru tiba didepan pintu masuk Restoran Chilan, Ia bertemu dengan seseorang yang tidak ingin dilihatnya. Ya! Orang itu adalah Pria es kutub utara.
Dia mengenakan pakaian ungu tua, tubuh perkasa dan penampilannya yang malas tidak bisa menyembunyikan kepahlawanannya yang luar biasa.
Alis tebal terangkat sedikit memberontak dan dibawah bulu mata yang panjang dan sedikit melengkung, ada pandangan yang dalam dimata yang dingin. Pangkal hidung, bibir semerah kelopak mawar serta kulit putihnya, membuat penampilannya sempurna tanpa cacat.
Bukan pertama kalinya Ia melihat Pria ini, namun Ia masih tidak bisa menahan godaan ketampanan. Jika bukan karena Pria ini terlalu dingin dan memiliki temperamen yang buruk, Ia pasti akan kehilangan akal sehat.
Jika Pria ini adalah Pangeran Yin, Ia pasti akan melontarkan sedikit kalimat main-main.
Tapi kenyataannya Dia adalah Pria balok es. Lupakan saja! Ia tidak ingin mati muda.
Namun karena Pria ini telah menyembuhkan lukanya, Ia tidak bisa mengabaikannya. Oleh karena itu Ia menyapa dengan sopan. "Hai Tuan, apakah kau disini untuk makan siang?"
"Ya. Jika saya tidak salah ingat, Nona Jiang berkata akan mengundang saya untuk makan siang sebagai bentuk balasan?" Yuwen Junxiu mengingatkan.
"Benar. Tapi..." Wajah Jiang Xingyu berubah malu. Sebelumnya Ia mengatakannya hanya untuk formalitas saja, tidak disangka Pria ini akan mengingatnya.
Karena sudah disebutkan, tidak mungkin baginya untuk menolak. Tapi tidak sekarang.
Sayangnya sebelum selesai berbicara, Yuwen Junxiu menyela. "Kalau begitu, lebih baik sekarang saja daripada berjemur didepan pintu."
"Aku..." Jiang Xingyu sedikit malu.
"Kenapa? apakah Nona Jiang menyesalinya?" sela Yuwen Junxiu yang mengetahui Wanita ini pasti akan menolak.
Melihat berbagai pasang mata tertuju padanya, Jiang Xingyu menghela nafas berat. Pria ini sengaja mengatakannya!
__ADS_1
Bukankah hanya makan siang? apanya yang menyesal?
"Tentu tidak." Ucapnya disertai senyum kering.
Setelah keduanya memasuki Ruangan tertentu, Yuwen Junxiu memesan lebih dari selusin menu, yang membuat Jiang Xingyu menunjukkan wajah tercengang.
Melihatnya masih terus memesan, Ia buru-buru menyela. "Berhenti! Bisakah kita menghabiskan semuanya?"
Hanya anggur dan sayuran sudah seharga puluhan Koin Perak. Bukannya pelit, melainkan karena Ia tidak ingin membuang-buang banyak uang hanya untuk makan siang belaka.
"Apakah terlalu banyak?" Yuwen Junxiu berbalik bertanya.
"Ya. Terlalu banyak." Jiang Xingyu menjawab dengan gertakan giginya.
"Baiklah! Itu saja." Kata Yuwen Junxiu tidak lagi melanjutkan memesan.
"Atau, bagaimana jika urungkan saja setengahnya? aku hanya akan makan sedikit, lagipula kau tidak akan bisa menghabiskan semuanya kan?" Jiang Xingyu berkata disertai tatapan memohon.
Yuwen Junxiu mengangkat alisnya sedikit tidak senang. "Anda mengundang saya makan siang tapi Anda sendiri hanya akan makan sedikit? Bukankah sikap Anda sama dengan merendahkan saya?"
"Aku..." Jiang Xingyu tersedak karena maksudnya bukan demikian.
Tak berdaya, Ia hanya bisa minum teh. Namun mengapa bahkan teh ini terasa tidak enak? juga sesekali Ia memandangi Pria menyebalkan itu.
"Anda terus memandangi saya, ini membuat saya berpikir bahwa Anda menyukai saya." Menghadapi mata kesalnya, Yuwen Junxiu sengaja salah menafsirkan.
Hingga seketika juga seluruh wajah Yuwen Junxiu menghitam.
Jiang Xingyu juga terkejut saat melihatnya, tapi tidak merasa bersalah. Sebaliknya menganggapnya sangat lucu. Jika bukan karena ucapan yang terlalu percaya diri, Ia tidak akan kehilangan kendali bahkan sampai menyemburkan teh.
"Kau..." Amarah Yuwen Junxiu hampir meledak, tapi untungnya disela oleh suara ketukan pintu.
"Tamu, makanan sudah siap." Suara Pelayan terdengar diluar pintu.
"Masuk." Ucap Jiang Xingyu yang mengabaikan wajah suram Pria itu.
Saat Pelayan memasuki Ruangan, Yuwen Junxiu bangkit dan berkata tidak akan makan lagi, kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Jiang Xingyu dengan wajah terkejutnya serta Pelayan yang datang membawa makanan.
"Sial! Mengapa Dia memesan begitu banyak jika tidak ingin memakannya?" Jiang Xingyu mengeluh tidak puas tanpa bersalah atas kejadian menyemburkan teh.
"Tolong bungkus semuanya." Ucapnya pada Pelayan.
Jika begitu Ia akan membawa makanan ini untuk Gurunya.
.....
Rumah Gurunya berada di tepi Gunung di pinggiran timur Kota. Mirip dengan Rumah Kayu, tidak ada orang dalam radius seratus meter karena Gurunya tidak suka kebisingan.
__ADS_1
Begitu tiba dan melihat pintunya tidak tertutup rapat, Ia langsung mendorongnya.
Di Halaman, Gurunya sedang berbaring di kursi goyang dibawah pohon besar. Menikmati kesejukan alam dengan mata tertutup, memegang cangkir teh di satu tangan dan kipas kertas ditangan lainnya.
"Guru..." Ia menyapa, tetapi disela setelah hanya satu kata yang terucap.
"Guru? apakah kau masih ingat memiliki seorang Guru? kau mengatakan akan mengunjungiku setiap lima hari sekali, tapi ini sudah lewat seminggu." Wei Guang tiba-tiba berdiri dan menunjuk Muridnya dengan kipasnya. Seolah Muridnya telah melakukan kesalahan besar.
Tentu saja Jiang Xingyu tahu bahwa Gurunya tidak benar-benar marah padanya. "Oh! Bukankah aku sudah disini? lihat, aku membawa anggur dan daging yang enak untuk Guru. Aku juga datang untuk makan bersama Guru dan..." Ia buru-buru menghibur, namun sebelum ucapannya selesai, tiba-tiba embusan angin melewatinya dan kemudian anggur serta sebungkus makanan ditangannya, seketika menghilang.
Setelah bereaksi, Ia melihat Gurunya sudah meletakkan seguci anggur serta sebungkus makanan di atas meja batu, kemudian menyantapnya.
Membuatnya berseru kekaguman. "Sangat cepat?!"
Ia segera menyusul lalu duduk di kursi batu, saat tangan kanannya bergerak hendak mengambil sesuatu untuk dimakan, secepat kilat Gurunya meletakkan semuanya dalam pelukannya sambil berkata. "Jangan bergerak. Kau membawa anggur dan makanan ini untuk Guru. Apa kau tidak malu mengambilnya kembali?"
"..."
Tangan Jiang Xingyu tiba-tiba berhenti di udara dengan canggung.
"Tapi Guru, aku belum makan siang." Ucapnya yang disertai pandangan malu-malu.
"Itu urusanmu sendiri." Kata Wei Guang lalu melanjutkan menyantap makanannya.
"Tapi..."
Jiang Xingyu mengira Gurunya akhirnya membiarkannya makan bersama, namun kenyataannya ibaratkan menuangkan sebaskom air dingin padanya.
"Anggur dan daging ini berkualitas terbaik. Ingatlah membawa lebih banyak saat kau berkunjung lagi." Sebuah ucapan tanpa malu memasuki gendang telinganya.
Jika bukan karena Pria tua ini merupakan Gurunya, Ia pasti akan membalas dengan kepalan tangannya. Huh! Benar-benar membuatnya sangat kesal.
Setelah menyelesaikan makanannya, Wei Guang mengingatkan dengan tegas. "Ingatlah! Mulai sekarang kau harus berhati-hati saat memilih tempat untuk berlatih. Tubuh lima elemen murni sepertimu dengan mudahnya menarik Roh-Roh Jahat. Jika tidak berhati-hati, kau bahkan tidak akan mengetahui bagaimana kau mati."
"Ya, Guru." Jiang Xingyu menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan.
Kemudian Gurunya bertanya tentang Kultivasinya serta perkembangannya mengenai menggambar Simbol Jimat.
Dan Ia menjawab sebagaimana mestinya, tanpa mengurangi ataupun menambahkan.
Juga membuatnya sangat kagum karena dalam waktu yang singkat Gurunya bisa menemukan kekurangan dalam latihannya. Entah itu Kultivasi, Beladiri, ataupun menggambar Simbol Jimat.
.
.
____Happy Reading_____
__ADS_1