
Ming Er berlutut dan bersujud. Ia juga kebingungan dan secara refleks berkata. "Nona, Nu-Nubi tidak tahu apa yang terjadi,"
"Tidak tahu? bagaimana mungkin kau tidak tahu? bukankah sebelumnya kau mengatakan bahwa semuanya sudah beres? lalu apa yang terjadi sekarang? katakan! Mengapa bukan Jiang Xingyu yang terkena racunnya? mengapa berubah Pelayan ini?!" Jiang Linyao kehilangan akal sehatnya, ia tidak sadar apa yang seharusnya dikatakan dan apa yang seharusnya tidak dikatakan.
Setelah mengatakannya, ia menendang Ming Er hingga membuatnya tersungkur ketanah.
Ming Er tidak terima, tapi tidak memiliki keberanian untuk melawan.
Namun disebelahnya Selir Mo bereaksi, menampar Puterinya seraya meneriakinya. "Diam! Apa kau pikir masalah ini tidak cukup besar?!"
"Kau menamparku lagi? ahh! Aku membencimu! Aku sangat membencimu..." Ditampar yang kedua kalinya, Jiang Linyao benar-benar kehilangan akal sehatnya kemudian tanpa pemberitahuan mendorong Ibunya.
Tidak ada yang mengharapkan perilaku Jiang Linyao akan segila ini, dan Selir Mo tidak menyangka Puterinya akan mengambil tindakan padanya.
Karena kekuatan Puterinya terlalu besar, dan karena ia tidak memiliki sedikitpun pertahanan, seluruh tubuhnya langsung terjatuh ketanah disebelahnya.
Kejadiannya datang begitu cepat sehingga semua orang tidak dapat bereaksi.
Mereka hanya melihat tubuh Selir Mo jatuh ketanah yang secara kebetulan disebelahnya ada Petak Bunga yang dibagian pinggirannya dipenuhi oleh batu, dan kepala samping Selir Mo menghantam batu hingga langsung mengeluarkan darah.
"Ah!" Semua orang begitu ketakutan. Bahkan Jiang Linyao mematung ditempat dengan tatapan bodohnya.
Hanya kedua Pelayan Selir Mo yang bernama Nuying dan Nujing, buru-buru bereaksi dan secara bersamaan melangkah maju untuk membantu Majikannya.
"Selir, Selir Mo..." Nuying dan Nujing memanggil dengan suara bergetar kepanikan, tapi Selir Mo tetap tidak sadarkan diri.
Setelahnya Nujing berteriak kearah kerumunan Pelayan yang lain. "Cepat panggil Dokter..."
Dengan teriakan sekeras ini, semua Pelayan bereaksi dan seorang Pelayan yang bertugas di Halaman Timur, segera berlari keluar memanggil Dokter.
Disisi lain Jiang Xingyu tidak menyangka bahwa Jiang Linyao akan bertindak gila dan mendorong Ibunya sendiri.
Sejujurnya saat Selir Mo hendak jatuh, ia bisa saja menangkapnya. Namun pertanyaannya adalah, mengapa ia harus menangkapnya? mengapa ia harus menyelamatkannya?
Begitupun juga dengan Bibi Rong, ia sangat membenci Selir Mo. Jadi mengapa ia harus membantunya? bukankah sangat bagus membiarkan Selir Mo mendapatkan sedikit karma atas perbuatan jahatnya selama ini?
Karena saat ini Selir Mo tidak sadarkan diri, Nuying dan Nujing tidak berani memindahkannya dan hanya sabar menunggu Dokter datang.
Dokter belum datang, dan yang datang lebih dulu adalah Jiang Linxin.
__ADS_1
Ia begitu ketakutan setelah mendengar laporan dari Pelayannya. Saat melihat kondisi Ibunya dengan matanya sendiri, seluruh tubuhnya tidak berhenti gemetar. Hampir jatuh, tapi untungnya Pelayan pribadinya yang bernama Yuzui, buru-buru datang menahannya.
Walaupun ia tidak menyukai Ibunya karena telah membuatnya menyandang identitas rendahan, hingga membuatnya dijauhi dan dicaci oleh banyak orang, tapi ini tetap Ibu Kandungnya, bagaimana mungkin ia benar-benar tidak memiliki perasaan kasih sayang untuk Ibunya yang telah berjuang melahirkannya?
Air matanya seketika mengalir deras.
"Ibu, Ibu Selir..." Jiang Linxin segera berlutut disamping Ibunya dan memanggil dengan cemas.
Selir Mo bisa mendengar panggilan Puteri pertamanya, tapi ia sangat pusing dan lemas, sama sekali tidak bisa menjawab ataupun bereaksi lainnya.
"Dimana Dokter? apa kalian sudah memanggil Dokter?" tanya Jiang Linxin pada para Pelayan disekitarnya. Suaranya terdengar sangat khawatir.
"Jawab Nona Kedua, seorang Pelayan sudah pergi memanggil Dokter, tapi mungkin memerlukan beberapa waktu..." Nuying buru-buru menjawab.
Ketika melihat pemandangan ini, semua orang menunjukkan rasa simpati dan kasihan.
Tentu saja tidak termasuk Jiang Xingyu dan beberapa orang yang tidak peduli.
Jiang Linxin merasa lega ketika mendengar jawaban ini, tapi sebelum Ibunya dipastikan baik-baik saja, kekhawatiran dihatinya tidak akan menghilang.
Tiba-tiba ia berdiri dan dengan cepat berjalan kearah Jiang Linyao yang masih tertegun, mengangkat tangan kanannya dan melayangkan tamparan yang disertai dengan kutukan. "Sepanjang waktu, apa lagi yang bisa kau lakukan selain membuat masalah? apa kau akan puas setelah menyakiti semua orang disekitarmu?"
Tamparan ini sangat berat sehingga pipi Jiang Linyao langsung merah dan membengkak.
Awalnya ia merasa sangat bersalah setelah mendorong Ibunya, ia ketakutan dan terpana selama beberapa waktu.
Namun ia tidak pernah berpikir bahwa Saudarinya juga akan menamparnya, tiba-tiba rasa bersalah dihatinya digantikan dengan amarah. "Kau juga menamparku?! Mengapa kau juga menamparku?"
"Ya! Aku menamparmu! Kau membuat Ibu Selir terluka seperti ini, apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun?" Jiang Linxin menutup mata atas kemarahan Saudarinya, tapi melihatnya masih tidak menyadari kesalahan yang dilakukannya, amarah dihatinya semakin meluap.
"Tidak! Itu karena Ibu yang menamparku lebih dulu!" Balas Jiang Linyao seperti Serigala mengamuk, disertai dengan kepalan dikedua tangannya.
"Tidak masuk akal! Kau telah melakukan kesalahan besar dan Ibu Selir hanya mencoba menghentikanmu. Lagipula dia adalah Ibu kita, bagaimana kau bisa melawannya dan mendorongnya dengan kejam?" untuk pertama kalinya Jiang Linxin berteriak dan mengabaikan citra baiknya didepan banyak orang.
Tapi dimata semua orang sikapnya yang seperti ini tidak salah. Siapapun akan sangat marah jika berada diposisinya.
"Aku tidak peduli!" Jiang Linyao meraung, berbalik dan melarikan diri.
Jiang Linxin tidak mencegahnya, hanya kembali berlutut disamping Ibunya.
__ADS_1
Pada saat yang sama Dokter telah datang.
Dokter tersebut adalah seorang Pria tua berusia lima puluhan. Memang benar bahwa Pria tidak diizinkan memasuki Halaman Pelayan Wanita, tentu saja Dokter tidak termasuk, ya itu karena profesi Dokter tidak membedakan antara Pria dan Wanita. Tugasnya adalah mengobati dan menyelamatkan Pasien yang terluka.
"Dokter, cepat lihat Ibuku." Ucap Jiang Linxin dengan cemas ketika melihat Dokter telah datang.
Walaupun awalnya Dokter dipanggil untuk melihat kondisi Miaojie, tapi Selir Mo juga mengalami kecelakaan, tentunya Dokter lebih dulu menangani Selir Mo.
Sedangkan Miaojie juga ketakutan dengan apa yang terjadi, sampai sekarang masih berada dalam keadaan linglung.
Begitu Dokter melihat kondisi luka dikepala Selir Mo, ia mengeluarkan sebotol porselen dari Kotak Obatnya.
Isi didalamnya hanya obat biasa dan bukan obat ajaib, tentu efeknya juga biasa saja, tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Setelah itu Dokter meminta Pelayan Nujing untuk memiringkan kepala Selir Mo, bertujuan agar lebih mudah mengobatinya. Kemudian membuka penutup botol obat dan menaburkan sedikit isinya secara perlahan, setelah selesai membalutnya dengan perban.
Jiang Linxin sedang menyaksikan dengan hati yang semakin ketakutan. Ingin bertanya bagaimana kondisi Ibunya, tapi tidak berani karena takut akan menggangu diagnosa Dokter.
Setelah semuanya selesai, Dokter berkata. "Walaupun kondisi Selir Mo tidak mengancam nyawanya, tapi luka dikepalanya tidak ringan. Oleh karena itu perlu istirahat selama jangka waktu tertentu, menjaga ketenangan pikiran, tidak boleh emosi dan tidak boleh banyak berpikir. Jika tidak konsekuensinya akan semakin buruk dan mungkin akan meninggalkan gejala sisa. Ketika saya kembali, saya akan memberikan resep perawatan, ingatlah mengirim seseorang untuk mengambil obat dan meminumnya tepat waktu setiap harinya."
Mendengar ini Jiang Linxin menghela nafas lega. Ia tahu luka dikepala Ibunya cukup parah, tapi untungnya tidak mengancam nyawa.
"Terima kasih Dokter. Yuzui, pimpin Dokter ke Ruang Akuntan." Perintahnya pada sang Pelayan.
"Tidak! Dokter, tolong jangan pergi, bantu aku lihat kondisiku dulu. Apa yang terjadi padaku?" Miaojie tergesa-gesa berteriak menghentikan.
Teriakannya membuat semua orang mengingat akan keberadaannya.
"Ini..." Ketika melihat ruam diwajah Miaojie, Dokter terkejut dan tanpa sadar menganggapnya cacar.
Jiang Linxin mengalihkan pandangannya pada Miaojie, walaupun ia hanya mendengar laporan dari Pelayannya secara kasar, mengatakan bahwa Nona Ketiga bekerja sama dengan Pelayan dari Paviliun Weiyang yang bernama Miaojie untuk meracuni Jiang Xingyu.
Racunnya tidak mengenai sasaran, sebagai gantinya justru Pelayan Miaojie yang terkena. Sungguh logika yang aneh.
Karena rencananya terungkap dan menimbulkan masalah besar, Ibunya menampar Saudarinya guna menghentikannya mengekspos seluruh kejadiannya.
Saudarinya tidak terima kemudian mendorong Ibunya hingga membuat kepala Ibunya terbentur pada batu.
.
__ADS_1
.
_____Happy Reading_____