
Keesokan paginya saat Bibi Rong berbelanja bahan makanan, ia mampir untuk melihat Qing Bei dan Qing Jiao. Sepasang Saudara kecil yang tempo hari diselamatkan Nonanya.
Setelah kembali, ia menyampaikan kepada Nonanya. "Kondisi Nona Qing Jiao hampir baikan, Dokter berkata dia bisa pulang untuk lebih bersantai."
"Baiklah, beri mereka uang lagi dan biarkan mereka mengurus hidup mereka sendiri. Katakan juga mereka tidak perlu balas budi." Ucap Jiang Xingyu.
"Tapi Nona..." Bibi Rong menunduk dengan pandangan malu-malu.
"Tapi apa?" tanya Jiang Xingyu.
"Bibi tahu Nona menyelamatkan mereka dan memberi mereka banyak uang, ini sudah merupakan kebaikan yang cukup besar untuk mereka. Tapi Nona, mereka tidak memiliki Orang Tua dan tidak memiliki tempat tinggal, Bibi khawatir..." Bibi Rong ragu-ragu dan takut Nonanya akan menyalahkannya karena terlalu bersimpati.
Jiang Xingyu mengerti apa maksud Bibi Rong. "Biarkan aku memikirkannya dulu. Untuk saat ini biarkan mereka tetap tinggal di Rumah Medis." Ucapnya.
Melihat Nonanya tidak menolak, wajah Bibi Rong seketika berubah ceria. Ia menanggapi dengan senyuman kemudian pergi memasak.
Saat ini Jiang Xingyu mempertimbangkan apakah harus membiarkan Qing Bei dan Qing Jiao tinggal di Rumah terlantar atau tidak. Lagipula ia berencana menjadikan Rumah itu sebagai Markas pribadinya, sebelumnya hanya berencana, tapi sekarang sepertinya ia harus benar-benar melakukannya.
Daripada membiarkan sepasang Saudara kecil terlantung-lantung dijalanan, lebih baik membiarkan keduanya tinggal disana. Selain bisa memberi mereka makan dan minum, ia akan memberi mereka uang sebagai biaya jika mereka mau membantunya bersih-bersih Rumah.
Namun ia tidak bisa menempati Rumah itu begitu saja, terlebih dahulu ia harus meminta persetujuan Fang Xinxin.
Jika Fang Xinxin setuju, ia akan membeli Rumah itu dari Fang Mansion dan mendapatkan Akta Tanah beserta Rumahnya.
Segera setelah makan siang, ia berencana untuk berjalan-jalan di Taman Belakang guna mencerna makanannya, kemudian lanjut tidur siang.
Tapi sepertinya Dewi Perencana tidak berpihak padanya.
Saat Ia baru saja keluar dari Paviliunnya, seorang Gadis Pelayan berlari panik kearahnya. Ia pernah melihat Pelayan ini, bukankah Pelayan disamping Selir Jing?
Tiba-tiba firasat buruk muncul dihatinya, mungkinkah terjadi sesuatu pada Selir Jing?
Benar saja!
__ADS_1
"Nona Sulung, Selir Mo, setelah Selir Mo meminum Gingseng yang dikirim oleh Selir Jing, dia muntah darah dan jatuh koma. Bahkan mengatakan kalau Selir Jing sengaja meracuninya. Sekarang Nona Kedua memerintahkan untuk menangkap Selir Jing dan membawanya ke Pengadilan Kediaman untuk diinterogasi." Lapor Pelayan dengan wajah panik.
"Apa?!" Bibi Rong terkejut.
Sedangkan Jiang Xingyu tetap tenang, karena Ia tahu masalah ini akan terjadi cepat atau lambat.
"Bibi, cepat pergilah ke Paviliun Yuxiang. Kecuali Pelayan kepercayaan Selir Jing, Bibi harus mengawasi semua Pelayan lain. Tidak boleh ada dari mereka yang keluar dan orang luar tidak izinkan masuk. Jika ada yang berani mengabaikan perintahmu, beri pelajaran yang akan selalu mereka ingat. Juga pergi cari tahu apakah ada suatu benda yang seharusnya tidak ada disana, jika memang ada segera hancurkan." Jiang Xingyu memberi perintah.
Walaupun tidak yakin apakah Selir Mo memiliki kaki tangan di Paviliun Yuxiang, ia merasa perlu berhati-hati dan berjaga-jaga.
"Ya!" Bibi Rong segera pergi bersama Gadis Pelayan setelah menerima perintah.
Setelah itu Jiang Xingyu pergi ke Pengadilan Kediaman dengan langkah yang tentunya tidak tergesa-gesa.
Jika tergesa-gesa bukankah artinya ia akan terjatuh pada perangkap Selir Mo?
Selain itu ia pergi kesana bukan untuk membantu Selir Jing, melainkan ingin melihat bagaiman Selir Jing menangani masalah ini.
Saat kakinya berjalan beberapa langkah, suara dibelakangnya menghentikannya. "Nona tunggu..."
Setelah mendengar ini Jiang Xingyu tiba-tiba menyadari bahwa telah melupakan satu hal. Terakhir kalinya Bibi Lan mengingatkannya bahwa ada racun pada makanannya. Karena sebelumnya mengira Bibi Lan bersekutu dengan Selir Mo untuk meracuninya, Ia tidak memikirkan bagaimana Bibi Lan tahu ada racun pada makanannya.
Tidak sampai sekarang setelah Bibi Lan mengatakannya sendiri, ia mungkin tidak akan pernah tahu kalau sebenarnya Bibi Lan mengetahui tentang Medis.
Sungguh luar biasa bagi Selir Mo untuk menempatkan seseorang yang mengerti Medis dan Racun disisinya.
Ia menatap Bibi Lan dalam-dalam, tidak berbicara tapi setuju untuk membiarkannya mengikutinya.
Bibi Lan secara alami tahu apa yang dipikirkan Nona Sulung, namun Ia tidak mengatakan apapun. Daripada membuang waktu untuk menjelaskan sesuatu yang tidak perlu, lebih baik menggunakan tindakan untuk membuktikan dan meyakinkannya.
Baru saja tiba diluar Halaman Pengadilan Kediaman, Jiang Xingyu dan Bibi Lan mendengar pertengkaran.
"Awalnya kupikir Nona Kedua merupakan Wanita bijaksana, tapi nyatanya tidak lebih hanyalah Wanita bodoh. Kau tidak memiliki bukti tapi berani melakukan ini padaku, apa kau tidak takut melemparkan batu pada kakimu sendiri? walaupun kau seorang Nona Kedua, tapi di Kediaman ini aku adalah Tetuamu. Dengan memukulku hingga seperti ini, apa kau tidak takut akan dianggap tidak hormat pada Tetua?"
__ADS_1
Saat ini Selir Jing ditangkap oleh beberapa Pelayan. Ia lemah dan tidak bisa membebaskan diri. Ada bekas tamparan dipipi kirinya disertai darah disudut bibirnya.
Dari segi ini saja bisa dilihat kalau tamparan yang diterimanya tidak ringan dan jauh lebih kejam dari tamparan yang diberikan Jiang Xingyu pada Jiang Linyao waktu itu.
Walaupun Bibi Lu datang bersama Selir Jing, dia juga ditangkap dan tidak bisa membebaskan diri.
Pelayan yang sempat melapor pada Jiang Xingyu adalah Pelayan yang sebelumnya diperintahkan Selir Jing untuk menunggunya keluar.
Ucapan Selir Jing tidak banyak mengandung amarah, tapi penuh ejekan.
Bukan Ia tidak ingin marah, namun tamparan Jiang Linxin membuatnya lebih ingin mengejeknya.
Saat ini yang berdiri dihadapan Selir Jing adalah Jiang Linxin. Ia memang menyesal karena bertindak impulsif dengan menamparnya.
Namun apa lagi yang bisa Ia lakukan? masalah ini dirangkai oleh Ibunya dan Ia tidak bisa menundukkan kepalanya hanya karena membuat kesalahan kecil.
Oleh karena itu Ia mengigit bibirnya lalu berkata. "Aku melakukannya karena sekarang Ibuku sedang sekarat. Selir Jing, Ibuku meminum obat dari Gingseng yang diberikan olehmu. Walaupun bukan kau yang meracuni Ibuku, tapi kau tidak bisa terhindar dari kesalahan ini."
"CIH! Pikiranmu sempit sekali! Jika kau tidak tahu siapa yang meracuni Ibumu, seharusnya kau menyelidikinya dan menemukan pelakunya, bukannya langsung menyalahkanku, menangkap dan bahkan menamparku!" suara Selir Jing sangat dingin.
"Aku memang akan menyelidikinya. Tapi kau juga merupakan pelaku atas masalah ini dan untuk memutuskan hukumanmu, aku akan menunggu Ayah." Jiang Linxin berkata demikian karena ia tidak memiliki hak untuk menangani masalah ini.
"Kau..." Selir Jing tidak bisa berkata-kata.
"Kenapa? apa kau harus kembali berdandan dulu sebelum Ayah datang?" Jiang Linxin berbalik mencibir.
"Omong kosong!" Bantah Selir Jing dengan amarah meluap-luap.
"Kalau begitu diamlah dan tunggu sampai Ayah kembali." Jiang Linxin melontarkan ejekan lagi.
.
.
__ADS_1
______Happy Reading_____