-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
106 - Menjadi Berita Hangat


__ADS_3

Pada permainan berikutnya banyak dari mereka yang mengikuti dimana seorang Gadis cantik memasang taruhannya.


Membuat Jiang Xingyu terkejut karena Ia hanya memasang taruhan secara acak dan nyatanya benar-benar beruntung!


Dalam kurun waktu kurang setengah jam, sepuluh Koin Perak awal miliknya telah berjumlah Dua Ribu sehingga mengejutkan Penjudi lainnya.


"Hah! Bukankah itu Jiang Xingyu?" Di tengah keramaian, seseorang mengenalinya.


Ia tidak peduli walaupun dikenali, tapi tidak dengan Puteri Yanning yang terlalu gugup hingga menariknya pergi.


Karena merasa sudah memenangkan banyak uang, Ia tidak menolak kemudian pergi meninggalkan Rumah Judi.


Segera! Berita Jiang Xingyu datang ke Rumah Judi dan memenangkan Dua Ribu Koin Perak, terdengar pertama kali oleh Feng Yuqie.


Yang mengejutkannya bukan seberapa banyak uang yang dimenangkan Jiang Xingyu, tapi bagaimana Dia bisa memenangkan seluruh permainan. Keterampilan Judi seluar biasa apa yang Dia kuasai?


Jika Jiang Xingyu memang memiliki keterampilan Judi luar biasa, Ia benar-benar tidak ingin Dia datang lagi. Bagaimana jika Dia memenangkan seluruh Rumah Judi Yiyuan? bukankah akan membuatnya bangkrut hingga menangis darah?


Disisi lain setelah meninggalkan Rumah Judi, Jiang Xingyu mengajak Puteri Yanning untuk makan siang bersama. Karena setelahnya Ia akan kembali pulang.


Tentu saja dua berita hangat tiba terlebih dahulu di Keluarga Jiang.


Berita pertama ialah Jiang Xingyu pergi ke Rumah Judi dan memenangkan Dua ribu Koin Perak, berita kedua adalah saat Dia bertemu dan berjabat tangan dengan Pangeran Yin.


Dua berita tersebut mengejutkan Tuan Besar, namun yang lebih mengejutkan adalah berita kedua.


Pangeran Yin dikenal kejam, pemberontak dan pemarah, jika Puterinya sampai menyinggungnya, konsekuensinya bukanlah yang sanggup Dia tanggung.


Selain itu berita bahwa Puterinya pergi ke Rumah Judi dimana ada berbagai jenis orang, hal ini membuat dadanya naik turun karena amarah.


Ia tidak bisa menunggu Puterinya di Ruang Belajar, oleh karena itu Ia langsung menunggunya di Halaman Depan.


Tepat ketika kesabarannya hampir habis dan Ia akan memerintahkan Bawahannya untuk mencari Puterinya, seseorang yang ditunggunya telah datang.


"Kau Gadis pemberontak, berani sekali memprovokasi Pangeran Yin. Apakah karena kau telah bosan hidup terlalu lama? ataukah menurutmu Jiang Mansion terlalu damai hingga kau memprovokasi orang seperti itu? juga, kau adalah seorang Gadis yang berstatus Nona Sulung, bagaimana bisa kau pergi ke Rumah Judi? kali ini tindakanmu telah benar-benar mencoreng reputasi Jiang Mansion!" Amarah Tuan Besar langsung meledak saat melihat Puterinya.


Jiang Xingyu tidak marah, sebaliknya dengan lemah berkata. "Sudahkah Ayah melihat bagaimana perlakuan Pangeran Yin padaku? bagian mananya yang disebut memprovokasi? lagipula bukankah Jiang Mansion baik-baik saja? Ayah sangat peduli pada reputasi, apakah reputasi bisa dimakan?"


"Kau..." Tuan Besar tidak bisa berkata-kata karena dadanya terlalu sesak penuh amarah.


Walaupun reputasi tidak bisa dimakan, tapi sangat penting!

__ADS_1


"Setelah Ayah memarahiku, apakah reputasi Jiang Mansion akan berubah? ataukan akan berubah secemerlang Berlian?" Jiang Xingyu bertanya lagi dan sikapnya yang acuh tak acuh hampir membuat Tuan Besar gila.


"Ayah sangat peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Aku ingin tahu apa yang orang lain berikan kepada Ayah sebagai gantinya?"


"..."


"Karena orang lain tidak bisa memberikan apapun pada Ayah, mengapa Ayah harus begitu peduli dengan pendapat mereka? selama Kaisar tidak melakukan sesuatu yang buruk pada Ayah dan Jiang Mansion, itu sudah cukup!"


"Sudahlah! Aku akan kembali ke Paviliunku." Setelah itu Ia pergi tanpa menunggu tanggapan Ayahnya.


Tuan Besar kebingungan dengan ucapan Puterinya. Setelah bereaksi, Puterinya telah pergi menjauh. Ia sangat marah hingga tubuhnya terasa lemas, untung saja Kepala Pelayan membantu memapahnya.


-Paviliun Weiyang-


Bibi Rong menatap Nonanya dengan sorot mata khawatir, membuka mulutnya tapi tidak bisa mengatakan sepatah katapun.


Ia ingin bertanya tentang apa yang terjadi dengan dua berita tersebut, namun Ia takut Nonanya akan menganggapnya terlalu ikut campur.


Jiang Xingyu secara alami mengetahui pikiran Bibi Rong, Ia pun menghiburnya dengan mengatakan. "Bibi jangan khawatir, aku baik-baik saja."


"Ya. Selama Nona baik-baik saja." Ucap Bibi Rong disertai perasaan bersyukur.


Dan Bibi Lan yang sedang menyapu Halaman, entah mengapa alisnya terlihat berkerut.


"Mengapa Bibi Lan mengkhawatirkanku?" batinnya.


Sejak memasuki Paviliun Weiyang, Bibi Lan tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk padanya, bahkan membantunya beberapa kali. Sekarang kekhawatiran terlihat jelas dimatanya.


Mungkin Ia harus mengatur waktu untuk berbicara dengannya, tapi tidak sekarang.


Kemudian Ia kembali ke Kamarnya untuk membersihkan diri.


Awalnya Ia berencana pergi ke Rumah terlantar di pagi hari, tapi tertunda karena Puteri Yanning menariknya keluar untuk menyambut Pangeran Yin.


Melihat hari belum memasuki sore, setelah membersihkan diri Ia keluar lagi.


Namun untuk menghindari dikenali, Ia memakai pakaian Pria dan sebelum pergi, agar Bibi Rong tidak khawatir, Ia berpamitan dengan mengatakan ingin berlatih Beladiri.


.....


Di Rumah terlantar, di Halaman Depan masih dipenuhi debu dan dedaunan kering. Di Aula Utama juga masih dipenuhi jaring Laba-laba, intinya masih terlihat sangat suram.

__ADS_1


Sedangkan Halaman Belakang kini terlihat bersih dan rapi. Membersihkannya bertujuan untuk bersembunyi serta menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, oleh karena itu hanya Halaman Belakang yang dibersihkan.


Ketika Jiang Xingyu tiba, Ning Zhi sedang mengganti pakaian Ning Xia. Sedangkan Fang Xinxin tengah duduk bersantai seolah sedang menyaksikannya.


Yang pertama merasakan kedatangannya adalah Fang Xinxin, Ia segera berlari keluar dan dengan semangat berteriak. "Xingyu, kau disini."


Jiang Xingyu menyambutnya dengan senyuman dan mengangguk sebagai jawaban.


Saat langkahnya menuju Halaman Belakang, Ning Zhi dan Ning juga merasakannya. Karena tidak tahu siapa yang datang, mereka segera bersembunyi.


Tidak melihat sepasang Saudari itu, Fang Xinxin kebingungan berkata. "Kemana mereka pergi? bukankah sebelumnya masih disini?"


Ning Zhi dan Ning Xia yang sedang menyembunyikan diri di sudut Ruangan secara fisik dan nafas, saat melihat ternyata Jiang Xingyu, mereka keluar lalu menyapa. "Nona, kau disini."


Dalam sikap mereka secara tidak sadar ada rasa hormat.


"Ya. Bagaimana kondisi kalian?" tanya Jiang Xingyu.


"Terima kasih atas perhatian Nona. Kondisi kami hampir pulih, namun kami masih belum bisa menggunakan kekuatan fisik ataupun Internal." Jawab Ning Zhi.


"Tidak masalah selama kalian baik-baik saja. Istirahatlah dulu, akan akan pergi melihat-lihat disekitar." Ucap Jiang Xingyu seperti biasa tanpa senyum diwajahnya.


"..." Ning Xia membuka mulutnya mencoba mengatakan sesuatu, tapi segera ditarik oleh Ning Zhi sebagai peringatan.


Jiang Xingyu melihatnya namun tidak mengatakan apapun dan hanya berbalik pergi, serta memberi isyarat pada Fang Xinxin agar mengikutinya.


Ia tahu Ning Zhi dan Ning Xia memiliki sesuatu untuk dikatakan padanya, tapi karena mereka tidak mengatakannya, secara alami Ia tidak akan mengambil inisiatif untuk bertanya.


Selanjutnya Ia membawa Fang Xinxin ke ruang terbuka di samping Rumah, tempat Ia berlatih Beladiri sebelumnya. Meski berada tepat di sebelah Rumah, mereka yang berada didalam tidak bisa mendengarkannya.


"Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?" Fang Xinxin bertanya.


"Ya. Aku berencana membeli Rumah Terlantar ini. Namun sebelum itu aku ingin mengetahui pendapatmu?" Ucap Jiang Xingyu tidak menyembunyikan niatnya.


"Benarkah?" Fang Xinxin sangat senang lalu berkata. "Aku tidak keberatan dengan rencanamu. Namun aku masih ingin tinggal disini dan menjaga Makam Ibuku." Rumah ini memiliki semua kenangan indahnya bersama sang Ibu, Ia tidak ingin pergi kemanapun.


"Tentu saja." Jiang Xingyu tersenyum sebagai bentuk persetujuan.


.


.

__ADS_1


_____Happy Reading_____


__ADS_2