
Jiang Xingyu tahu, hari ketika ia kembali hidupnya tidak akan damai.
Salah! Seharusnya hari ketika ia kembali, Jiang Mansion tidak akan pernah damai lagi.
Ia tidak buru-buru keluar, tetap duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya, kepalanya sedikit menunduk melihat melalui celah jendela pecah siapakah yang datang, dan ternyata yang datang adalah musuhnya yang lain.
Di Halaman luar ketika Jiang Linyao tidak menemukan orang yang dicarinya, ia menebak seharusnya ada didalam Rumah. Namun ia tidak ingin masuk kedalam.
Alasannya bukan karena Ibunya telah memperingatinya untuk tidak memprovokasi Jiang Xingyu, melainkan karena Ruangan didalam sangat jelek dan kumuh, benar-benar tidak cocok untuknya.
Jadi sekarang ia berdiam diri di Halaman luar dan berteriak kearah Rumah Utama. "Jiang Xingyu, keluar sekarang juga! Aku ingin melihat apakah otakmu benar-benar sudah normal atau masih bodoh!"
Jiang Xingyu tetap bersantai ditempat tidurnya, ketika mendengar teriakan lagi, ekspresinya berubah dan sudut mulutnya menyeringai.
Meskipun seorang Jiang Linyao tidak layak untuk ia perhatikan, dia tetaplah musuhnya. Walaupun tidak akan menimbulkan ancaman, sampai kapanpun dia ditakdirkan tidak pernah menerima maaf darinya.
Ia berdiri dan berkata. "Aku masih bodoh atau tidak, apa hubungannya denganmu? lagipula apa yang akan kau lakukan padaku?"
Bersamaan dengan kata terakhirnya, ia sudah keluar dan kini menatap Jiang Linyao dengan senyum provokasi.
Jiang Linyao sudah bertemu didepan Gerbang tadi, namun ketika melihat wajah secantik Bidadari, ia tidak bisa menahan rasa cemburunya. Bahkan kebenciannya dihatinya semakin meningkat.
Ia menggertakkan gigi disertai kilatan ganas dimatanya. "Apa yang akan kulakukan? tentu saja merusak wajahmu yang seperti ****** rendahan!"
Dengan jentikan jarinya, ujuk cambuk ditangannya melayang kearah wajah Jiang Xingyu. Serangan ganasnya seperti ingin menghancurkan wajah cantik tersebut.
Jiang Xingyu tidak menghindar ataupun melawan. Ia hanya berdiam ditempat seakan-akan membiarkan ujung cambuk mengenai wajahnya.
Jiang Linyao tersenyum senang berpikir serangannya akan menghancurkan wajah musuhnya. Namun didetik berikutnya kecelakaan tiba-tiba terjadi dan membuat wajah tersenyumnya terlihat lucu.
Ketika ujung cambuk hendak tepat sasaran, ia melihat Jiang Xingyu melambaikan tangan kanannya dan dalam sekejap cambuknya terbelah tiga.
Xiao Chi yang berada dibelakang Nonanya, menutup mulutnya karena takut akan berteriak.
__ADS_1
Bagaimana Nona Sulung melakukannya? mengapa hanya dalam sekali lambaian tangannya, cambuk Nona langsung patah? bahkan patah menjadi tiga bagian?
Karena sesuatu yang tidak ketahui penyebabnya, Jiang Linyao tiba-tiba merasa takut hingga sekali lagi meragukan apakah Wanita cantik ini Hantu atau bukan.
Tapi ketika melihat Jiang Xingyu memegang Belati kecil, penyebabnya jelas sekarang. Rasa takut yang baru saja ia rasakan kembali digantikan amarah. "Dasar ****** kecil rendahan! Beraninya kau memotong cambuk kesayanganku. Lihat apa yang akan kulakukan padamu!"
Ia sangat marah dan mengabaikan fakta bahwa cambuknya baru dipotong dalam hitungan detik. Jika lebih memperhatikannya, ia akan menyadari Jiang Xingyu bukan Gadis lemah seperti sebelumnya.
Adapun ketakutan Jiang Linyao tadi, Jiang Xingyu melihatnya dengan jelas. Ia memang sengaja membiarkannya melihat Belati Naganya.
"Jiang Linyao, sepertinya otakmu yang sedang bermasalah. Jika begitu aku tidak keberatan membantumu mengembalikan otakmu seperti semula." Provokasi Jiang Xingyu.
"Kau..." Jiang Linyao semakin marah, tapi sebelum kata-katanya selesai, suara 'PLAK!' tiba-tiba terdengar.
Ia memegang pipi kirinya yang terasa amat sakit. Kedua matanya menatap Jiang Xingyu dengan ngeri dan terkejut. Ia terkejut karena Jiang Xingyu berani menamparnya. Namun lebih ngeri karena ia bahkan tidak melihat bagaimana dia melakukannya.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" Xiao Chi juga terkejut dan langsung menghampiri Nonanya untuk melihat keadaannya.
'PLAK!' suara tamparan terdengar kedua kalinya. Suara tamparan berasal dari Jiang Linyao yang menampar Pelayannya. "Menurutmu apa aku terlihat baik-baik saja?"
Xiao Chi memegang pipinya yang sakit akibat tamparan itu. Hatinya marah dan tidak terima, tetapi ia tidak berani bersuara lagi.
Jiang Linyao menatap musuh bebuyutannya. Kedua pupil matanya merah pekat akibat amarah memuncak. "Beraninya kau menamparku?!"
Aura Jiang Xingyu berubah dan ekspresinya sangat dingin, posturnya berubah seperti Nona terhormat, Agung dan bermartabat. "Bagaimana jika aku menamparmu?! Puteri Selir rendahan sepertimu beraninya sombong didepan Nona terhormat sepertiku! Jika aku tidak memberimu pelajaran dan mengingatkanmu, sepertinya kau selamanya akan bertindak seperti Nona sah dan selamanya tidak akan menyadari identitasmu sendiri!"
Kalimat ini memang fakta yang sebenarnya. Namum hal itu masih dengan kejamnya menembus batin Jiang Linyao.
Sekarang ia tidak hanya semakin marah, namun juga ingin rasanya memakan Jiang Xingyu hidup-hidup.
"Kau tidak perlu mengingatkanku. Lagipula kualifikasi apa yang Gadis bodoh sepertimu menempati posisi Nona sah?! Jangan lupa, jika bukan karena Ibumu yang tanpa malu merebut Ayahku, posisi Nyonya seharusnya menjadi milik Ibuku. Sedangkan posisi Nona sah akan menjadi milikku dan Kakakku!" Jiang Linyao membalas dengan nada sombongnya.
Diluar sana banyak orang tidak menyukainya dan Kakaknya hanya karena status Puteri Selir. Tidak peduli bagaimana semua orang menghina, ia akan diam saja dan menahannya.
__ADS_1
Tetapi dihadapan Jiang Xingyu, dihadapan Puteri dari orang yang membuatnya menyandang status rendah ini, sampai kapanpun ia tidak akan diam saja. Semakin diingatkan, semakin akan membuatnya marah.
'PLAK!'
Tamparan lain mendarat dipipi kanan Jiang Linyao bersamaan dengan ekspresi Jiang Xingyu yang semakin dingin.
Nalan Wangzi adalah Ibu kandung pemilik tubuh yang secara alami merupakan Ibunya juga. Ia tidak akan membiarkan orang lain menghina Ibunya. Lagipula Jiang Zhang Wei lah yang lebih dulu menikahi Ibunya hanya untuk memperkuat posisinya sebagai Pewaris Keluarga.
Kedua pipi Jiang Linyao terasa panas dan nyeri, disertai jejak telapak tangan berwarna merah pekat.
Namun secara mengejutkan ia tidak berteriak ataupun marah, sebaliknya berubah gila dan bergegas kearah Jiang Xingyu seperti Serigala kelaparan.
"Ah! Aku akan membunuhmu! Aku ingin kau mati!" Jiang Linyao berteriak seperti kehilangan akal sehatnya.
Tapi bagaimana mungkin Jiang Xingyu tetap diam saja dan membiarkannya menerkamnya?
Ketika Jiang Linyao hampir menerkamnya, secepat kedipan mata ia menghindar kesamping. Tidak berhenti, kaki kanannya tiba-tiba memutar kebelakang dan menendang perut Jiang Linyao hingga melayang keudara.
"Nona..." Xiao Chi sangat terkejut dan ingin menolong Nonanya. Namun tindakannya tidak bisa mengalahkan kecepatan Jiang Xingyu.
Tidak berhenti setelah menendangnya, Jiang Xingyu dengan seringai kejamnya menarik kaki Jiang Linyao yang melayang diudara kemudian melemparnya ketanah.
"Ahh..."
Jiang Linyao jatuh ketanah seperti Anjing yang sedang memakan kotoran. Perutnya sangat sakit dan dadanya terasa sesak, tidak bisa bernafas selama beberapa saat.
"Nona..." Xiao Chi segera menghampiri Nonanya. Ia semakin cemas ketika Nonanya tidak sadarkan diri.
.
.
______Happy Reading_____
__ADS_1