
"Apa? Raja Chonglou? maksudmu?..." Tubuh Ruan Jianmu bergetar.
Ini pertama kalinya Ia melihat Raja Chonglou yang sangat terkenal.
Rumor mengatakan bahwa Dia setampan Pangeran Yin. Melihatnya secara langsung, ternyata memang benar. Secara khusus kekuatan dan statusnya dapat di gambarkan sebanding dengan Kaisar. Dan Dia adalah eksistensi yang lebih menakutkan dari Pangeran Yin dan Kaisar.
Kerajaan Chonglou memiliki wilayah seluas Provinsi, memiliki kekuatan yang sebanding dengan suatu Negara. Bukan hanya Kaisar Ling Timur yang cemburu pada kekuatannya, tiga Kekaisaran lainnya juga sama.
Bisa menghindari dan tidak pernah memprovokasinya, adalah tindakan terbaik.
Raja Chonglou sendiri dikenal kejam, banyak akal serta mendominasi. Dia dianggap sebagai salah satu orang paling menyusahkan di Benua ini.
Pangeran Yuche berpikir sejenak, lalu berkata. "Tidak. Aku harus memberitahu Ayahanda. Jianmu, kau tidak boleh memberitahu siapapun tentang hal ini."
"Ya." Ruan Jianmu menganggukkan kepalanya.
....
Kecepatan Pria berbaju hitam sangat cepat. Dia berada jauh dari pusat Kota hanya dalam beberapa tarikan nafas. Tidak peduli seberapa cepat gerakannya, Dia tidak bisa mengalahkan kecepatan Pria yang mengejarnya.
Yuwen Junxiu segera menyusul. Untuk mencegahnya melarikan diri, Ia mengeluarkan kipas yang tergantung di pinggangnya dan menyerang Pria itu.
Pria berbaju hitam merasakan bahaya datang. Sudah terlambat untuk menghindar, dengan suara 'Poof' Dia memuntahkan seteguk darah dan tubuhnya jatuh ketanah.
Disaat yang sama Yuwen Junxiu menurunkan Wanitanya dihadapan Pria itu.
"Katakan, siapa yang mengirimmu?" suara Jiang Xingyu datar, tapi ekspresinya sangat dingin.
Mulut Pria berpakaian hitam bergerak, tapi tidak mengatakan apapun. Sebaliknya Yuwen Junxiu berseru. "Tidak!"
Sebelum Jiang Xingyu bereaksi, Yuwen Junxiu sudah mendatangi Pria itu dan menjepit pipinya, tapi sudah terlambat...
Pria itu memuntahkan darah hitam, matanya tertutup dan nafasnya perlahan menghilang.
"Ini..." Jiang Xingyu terkejut.
"Dia menyembunyikan kantung racun di mulutnya dan bunuh diri." Ekspresi Yuwen Junxiu sangat suram.
Segera! Berita bahwa pembunuh menargetkan Jiang Xingyu, menyebar dalam waktu yang singkat. Berbahaya tapi gagal, membuat mereka yang menginginkan kematian Jiang Xingyu terbakar amarah.
Di antaranya adalah Pangeran Yuhao dan Lin Jiayun.
Setelah Pangeran Yuhao mendengar bahwa pembunuhan gagal, Ia sangat marah hingga hampir membalikkan meja.
"Sialan! Sebenarnya siapa Pria berbaju ungu itu?" ucapnya dengan geram.
"Aku tidak tahu pasti identitasnya. Aku hanya mendengar Dia sedang bersama Pangeran Yin." Kata Lin Jiayun.
"Murong Yinlu?!" tidak peduli seberapa besar kebenciannya, Pangeran Yuhao tidak berani memusuhi Paman Kekaisarannya itu.
"Hao, kau terlalu impulsif. Seharusnya kau merencanakannya terlebih dahulu agar tidak menyebabkan masalah jika ditemukan." Lin Jiayun mengungkapkan ketidakpuasannya.
__ADS_1
"Aku lalai. Jika Jiang Xingyu tidak mati, aku tidak bisa tenang." Pangeran Yuhao menyadari kesalahannya. Seakan mengingat sesuatu, Ia bertanya. "Ngomong-ngomong, pembunuh itu?"
"Menelan racun, bunuh diri." Ucap Lin Jiayun.
Pangeran Yuhao menghela nafas lega. Hanya saja Jiang Xingyu tidak terbunuh, yang membuatnya tidak bahagia. "Aku bisa membunuhnya lagi. Aku tidak percaya Dia akan beruntung setiap saat."
"Tapi, untuk berjaga-jaga, jangan menggunakan Bawahanmu." Lin Jiayun menyarankan.
Pada saat ini Pangeran Yuche memasuki Istana menemui Kaisar, untuk melaporkan apa yang dilihatnya tadi.
"Raja Chonglou ada di Ibukota?" Kaisar terkejut. Setelah ketakutan, nafasnya menjadi dingin.
Raja Chonglou datang ke Ibukota tanpa pemberitahuan, yang membuatnya harus waspada. Karena keberadaan Raja Chonglou merupakan ancaman terbesar yang tidak bisa disingkirkannya.
"Kau kembali dulu. Jangan katakan pada siapapun." Ucap Kaisar.
"Ya. Ananda undur diri." Jawab Pangeran Yuche, memberi hormat lalu pergi.
Kemudian, Kasim Tu yang berdiri di samping Kaisar, berkata dengan suara berat. "Yang Mulia, Raja Chonglou tidak akan datang ke Ibukota tanpa tujuan."
"Zhen juga berpikir begitu. Sebenarnya untuk apa Dia datang?" Kaisar penasaran. "Selain itu Dia menyelamatkan Jiang Xingyu? siapa yang ingin membunuh Gadis itu?"
"Haruskah Hamba mengirim seseorang untuk menyelidiki?" tanya Kasim Tu.
"Tentu saja. Raja Chonglou tidak mudah dihadapi, kau harus berhati-hati." Kaisar memperingatkan.
"Ya." Kasim Tu mengangguk dengan hormat.
Membuat Puteri Yanning menyambar sumpitnya, dan berteriak dengan marah. "Xingyu, bagaimana kau bisa tetap tenang? seperti tidak terjadi apapun padamu?"
Jiang Xingyu mengambil kembali sumpitnya sambil berkata. "Aku baik-baik saja. Tidak perlu bersikap seolah terjadi sesuatu yang buruk."
"Kau..." Puteri Yanning tidak bisa berkata-kata.
"Tuan Puteri sedang mengkhawatirkan. Jangan bersikap seperti Keledai yang tidak punya hati." Ning Rui mencibir.
Jiang Xingyu memelototinya. "Hei bocah, tidak bisakah kau diam saja?"
"Siapa yang kau panggil bocah?" Ning Rui membalas dengan emosi. Kata 'bocah' benar-benar membuatnya sangat jengkel.
"Bocah! Bocah! Bocah!" Jiang Xingyu terus memprovokasinya.
"Kau..." Ning Rui tidak tahu bagaimana harus membantah, jadi Ia meminta bantuan pada Paman Gurunya. "Paman, Dia bilang aku masih bocah,"
"Kau memang masih bocah." Sayangnya Yuwen Junxiu tidak membantunya.
"Hahaha!" Semua orang tidak bisa menahan tawa.
Jiang Xingyu tidak mengatakan apapun, dan menundukkan kepalanya untuk makan. Hanya saja Ia merasa tidak nyaman saat merasakan atapan yang terus tertuju padanya.
Ia mendongak dan bertemu dengan tatapan pahit Puteri Yanning yang menatapnya sepanjang waktu.
__ADS_1
Kemudian Ia segera menghiburnya. "Aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi aku benar-benar baik-baik saja. Jika Tuan ini tidak menyelamatkanku, aku masih bisa menghindarinya."
Dengan kalimat ini, Yuwen Junxiu tidak senang. Wanita ini tidak membutuhkannya untuk diselamatkan? hal ini membuatnya sedikit kesal.
Tentu saja tidak ada yang menyadari perubahan ekspresinya.
"Huh! Aku tidak percaya!" Ucap Puteri Yanning.
Jiang Xingyu tersedak dan hampir tercekik oleh daging di mulutnya. "Jika kau tidak percaya padaku, maka aku tidak bisa berkata-kata lagi."
Kemudian Puteri Yanning menatapnya dengan penuh perhitungan. "Atau..."
"Atau apa?" Jiang Xingyu menyipitkan matanya.
"Bagaimana kalau kita bertarung? jika kau menang, aku akan mempercayaimu." Kata Puteri Yanning sambil tersenyum.
Naif! Adalah kesadaran pertama Jiang Xingyu. "Baiklah!" Ucapnya langsung setuju.
Yuwen Junxiu, Feng Yuqie dan Pangeran Yin, optimis dengan skill Jiang Xingyu. Seseorang yang bisa bertarung imbang dengan Master akhir kelas dua seperti Pangeran Yuhao, tentu kemampuannya tidak bisa diremehkan.
Selanjutnya, setelah menyelesaikan semua hidangan, mereka datang ke tempat kosong di Halaman belakang Restoran Chilan.
"Bertarung dengan tangan kosong, atau menggunakan senjata?" tanya Jiang Xingyu.
"Untuk menghindari terluka, bertarung dengan tangan kosong saja." Jawab Puteri Yanning, tanpa banyak berpikir.
"Baiklah. Jangan menyesal." Jiang Xingyu tersenyum.
"Aku tidak akan menyesal." Balas Puteri Yanning dengan yakin.
Segera! keduanya mulai bergerak.
Tidak butuh waktu lama hingga terjadi pemandangan luar biasa.
Jiang Xingyu meraih bahu Puteri Yanning. Dengan satu gerakan, Ia melemparnya ketanah.
Semua orang terpana melihat adegan ini. Bahkan Puteri Yanning tidak bisa mempercayainya dan kini dalam kondisi linglung.
Hanya seperti ini? Ia dilempar ketanah dalam satu gerakan? tidak, tidak benar...
"Ayo lagi. Sebenarnya aku belum siap." Bukan karena Ia tidak tahu malu, tapi karena benar-benar tidak bisa menerimanya.
Jiang Xingyu menanggapi dengan senyuman. "Aku akan menyerang lagi. Kali ini kau harus siap."
"Kali ini aku benar-benar siap." Ucap Puteri Yanning dengan percaya diri.
.
.
____Happy Reading____
__ADS_1