-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
057 - Terluka


__ADS_3

Malam terasa tenang nan damai, namun Yuwen Junxiu tidak bisa tidur.


Setelah keluar dari Ruang Kerja, Ia berjalan ke arah Pohon Bunga Persik yang berada di tengah-tengah Halaman, berdiri dibawahnya seraya memandanginya dengan sorot mata yang dalam.


Apakah itu dia?


Dia ada di Ibukota?


Apakah dia benar-benar ada?


Sebenarnya siapa dia?


Orang yang memiliki aura jahat adalah takdirnya, inilah yang dikatakan Pria tua misterius yang kebetulan bertemu.


Pria tua itu berkata bahwa Ia akan mengalami malapetaka dengan seorang Wanita yang memiliki aura jahat.


Saat itu Ia tidak percaya. "Lelucon yang tidak masuk akal. Hidupku selalu menjadi milikku sendiri dan aku tidak akan membiarkan orang lain mengontrolnya, terlebih lagi seorang Wanita. Bahkan jika apa yang kau katakan benar, aku akan membunuh Wanita itu."


Pria tua justru berkata. "Jika dia mati, kau juga tidak akan hidup lama. Inilah takdirmu."


Ia tetap tidak akan pernah mempercayainya. Lagipula bagaimana mungkin takdir hidupnya berada ditangan seorang Wanita? tidak mungkin!


Sebelumnya Ia tidak mengerti mengenai aura jahat, oleh karena itu seiring berjalannya waktu Ia melupakannya.


Tapi hari ini, dimenit yang lalu, Ia merasakan aura jahat berfluktuasi disekitarnya. Aura semacam ini membuatnya terasa akrab dan Ia tahu bahwa itu bukanlah aura jahat yang lain, tetapi aura jahat yang dimaksud Pria tua.


Karena itu juga Ia bergegas menghampiri dan jika benar Wanita itu, Ia akan membunuhnya tidak peduli apakah perkataan Pria tua benar atau salah.


Disisi ini Yuwen Junxiu tidak bisa tidur karena memikirkan banyak hal. Disisi lainnya juga sama.


Pada akhirnya Jiang Xingyu berhasil membunuh ketiga Pembunuh, namun Ia pulang membawa cedera di bagian lengan kirinya.


Untungnya lukanya tidak terlalu parah sehingga masih bisa mengobatinya sendiri.


Keesokan harinya Ia tertidur hingga siang hari.


Bukan karena malas bangun, tapi karena semalam Ia tidak bisa tidur akibat rasa sakit di lengannya. Bahkan setelah menaburkan bubuk obat untuk menghentikan pendarahan dan penghilang rasa sakit, lukanya tidak akan langsung sembuh dan rasa sakitnya masih akan terasa.


Bibi Rong tidak mengetahui cedera Nonanya, ketika tidak melihat Nonanya berlatih seperti biasanya, batinnya bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan Nonanya.


Kemudian Ia bergegas untuk memastikan keadaannya, tapi yang Ia lihat Nonanya hanya membuka matanya sebentar seraya berkata masih ingin tidur lebih lama.


Bibi Rong menghela nafas lega lalu pergi menyiapkan makanan.

__ADS_1


Tepat saat hari mulai siang, Jiang Xingyu tiba-tiba terbangun karena terpaksa.


Paviliun Weiyang cukup dekat dengan Halaman Timur dan pendengarannya sangat tajam, oleh karena itu Ia mendengar sangat jelas suara nada Guqin yang berasal dari Halaman Timur.


Meskipun bernada tapi tidak mengandung daya tarik, tidak ada emosi dan tidak teratur, membuat orang yang mendengarnya merasa tidak nyaman.


Tak perlu ditebak, itu pasti permainan Guqin Jiang Linyao.


Dalam beberapa hari terakhir Jiang Linyao tidak mengganggunya karena dia masih tenggelam bahagia atas kemeriahan Festival Peony yang akan datang.


Selain itu dia masih sangat sibuk menyiapkan Gaun serta perhiasan yang cantik.


Bahkan yang sebelumnya tidak menyukai permainan Guqin, Kaligrafi, Catur, Menari dan Melukis, kini mulai bekerja keras untuk menguasainya.


Sebenarnya dalam beberapa hari terakhir Ia sudah terbiasa. Hanya ketika suasana hatinya sedang baik, Ia akan mengabaikannya.


Kali ini Ia sungguh kesal, beranjak dari tempat tidur, membersihkan wajahnya dan mengganti pakaiannya. Ia ingin keluar untuk sekedar berjalan-jalan di Kediaman.


-Halaman Timur-


Dengan sentuhan yang kasar, nada Guqin tiba-tiba berhenti diikuti suara marah kemarahan. "Sial! Mengapa selalu seperti ini?!"


Ia benar-benar sangat marah karena satu nada yang dimainkannya tidak kunjung benar. Selalu terdengar sumbang dan hancur.


"Nona sudah lama tidak bermain Guqin, jadi sedikit tidak terbiasa. Selama berlatih dengan giat, Nona pasti akan menguasainya dan menjadi yang paling menonjol di Festival Peony." Gadis Pelayan bernama Ming Er segera menghiburnya.


"Pada saat itu Nona bisa memilih Suami yang Nona idamkan." Ming Er masih melanjutkan sanjungannya.


"Itu pasti!" Jiang Linyao tersenyum bangga.


"Membosankan tinggal di Paviliun sepanjang waktu, ayo jalan-jalan ke Taman Belakang." Ucapnya lagi sambil beranjak pergi.


Taman Belakang Kediaman tidak terlalu besar, namun memiliki tata letak yang teratur. Selain bisa bersantai di Pondok Bambu yang unik, juga bisa menikmati indahnya Kolam Teratai serta bebatuan yang tertata rapi disekitarnya.


Ketika Jiang Linyao tiba di Taman Belakang, Ia melihat Jiang Xingyu juga ada di sana bersama Bibi Rong.


Suasana hatinya yang ceria seketika berubah buruk lagi.


Jiang Xingyu secara alami melihat Jiang Linyao, tapi mengabaikannya dan menganggapnya tidak terlihat.


Sialnya saat Ia berjalan menuju ayunan, Jiang Linyao tiba-tiba berlari menuju ayunan yang sama lalu duduk sambil mengangkat dagu kearahnya disertai senyum provokatif.


Jiang Xingyu berbalik menuju Pondok Bambu. "Bibi, ayo kita duduk di Pondok Bambu. Di sana sepertinya ada kue."

__ADS_1


Walaupun Ia mengatakannya pada Bibi Rong, tapi sebenarnya ditujukan pada Jiang Linyao.


Benar saja! Jiang Linyao segera melompat dari ayunan dan berlari menuju Pondok Bambu, mengambil kue yang ada di atas piring kecil dan memakannya.


Jika diperhatikan lebih teliti, sepertinya kue-kue tersebut sudah digerogoti tikus.


Jadi kali ini Jiang Xingyu menang.


Walaupun perilaku Jiang Linyao menyebalkan dan konyol, namun juga merupakan kesenangan baginya.


Kemudian matanya tertuju pada Bunga Peony yang tengah bertunas. "Bunga Peony bertunas dan sebentar lagi akan mekar. Bibi, apakah lebih baik memindahkannya ke Paviliun Weiyang?" tanyanya lagi.


"Tidak!" Jiang Linyao menyatakan keberatannya.


Setelah itu sosoknya berlari menuju Bunga Peony. Menilai dari kecepatan berlarinya, sepertinya dia takut akan didahului.


Lebih lucunya lagi ketika tiba didepan Bunga Peony, dia melingkarkan tangannya dalam postur memeluk.


"Kenapa tidak?" Jiang Xingyu bertanya seolah-olah kebingungan.


"Karena Bunga ini adalah milikku!" Kata Jiang Linyao.


"Kau bilang milikmu, jadi akan menjadi milikmu? bagaimana kalau kau berteriak memanggilnya dan lihat apakah dia bersedia menjadi milikmu atau tidak." Saran Jiang Xingyu disertai senyum main-main.


Namun tanpa diduga adegan yang begitu tidak masuk akal benar-benar terjadi.


"Peony, apakah kau bersedia menjadi milikku?" Jiang Linyao tanpa sadar menurut. Meskipun segera bereaksi setelah mengatakannya, sudah terlambat karena ucapannya tidak bisa ditarik kembali.


"Hahaha!" Bibi Rong tidak bisa menahan tawanya.


Wajah cantik Jiang Xingyu penuh senyuman, tapi tidak tertawa terbahak-bahak seperti Bibi Rong.


Ekspresi Ming Er berubah suram karena baru menyadari Nonanya telah dipermainkan.


Tentu saja di Taman Belakang tidak hanya ada mereka berempat, disekitarnya juga banyak Pelayan yang sedang bertugas.


Ketika para Pelayan mendengar teriakan Nona Ketiga, mereka ingin tertawa seperti Bibi Rong. Tapi sayangnya mereka tidak memiliki keberanian sebesar itu.


"Kau, kau mempermainkanku?!" Wajah Jiang Linyao terbakar amarah.


"Sejak kapan aku mempermainkanmu? bukankah karena otakmu yang terlalu bodoh? hal ini tidak ada hubungannya denganku." Jiang Xingyu mengangkat bahunya tidak peduli.


.

__ADS_1


.


_____Happy Reading_____


__ADS_2