-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas

-TIME TRAVEL- Gadis Pembunuh Medali Emas
120 - Paman?


__ADS_3

Tubuh Roh terkejut saat mendengarnya.


Awalnya Ia berpikir Gadis ini hanya curiga, jadi Ia tidak menganggapnya serius. Tapi siapa sangka ternyata sudah menyadari keberadaannya sejak awal.


Karena sudah ditemukan, secara alami Ia tidak berencana terus bersembunyi.


Meskipun Tubuh Roh pada umumnya melayang, mereka juga bisa berjalan. Terutama Tubuh Roh yang sudah mencapai tingkat kekuatan tertentu, dapat menyerupai Manusia dan mengeluarkan suara saat berjalan.


Mengikuti suara langkah kaki, sesosok hitam muncul dari kegelapan dengan mengenakan penutup kepala. Benar saja! Tanpa melihat wajahnya, dipastikan Identitasnya adalah laki-laki. Juga merupakan Roh Jahat.


Hanya saja auranya disembunyikan sehingga tidak bisa melihat seberapa tinggi basis kultivasinya.


Walaupun pihak lain tidak berniat jahat, untuk berjaga-jaga Jiang Xingyu masih mengeluarkan Belati Naga.


"Kau siapa? mengapa kau mengikutiku berulang kali?" tanyanya dengan waspada.


Merasakan kewaspadaannya, Roh Jahat berseru khawatir. "Yu'er..."


Panggilan tersebut mengejutkan Jiang Xingyu sesaat, Ia masih tidak bereaksi saat melihat Roh Jahat mengangkat tangannya untuk melepaskan penutup kepalanya.


Wajah yang familiar, namun Ia tidak bisa mengingatnya, membuatnya kebingungan dalam waktu yang lama.


"Kau siapa?" tanyanya lagi.


"Yu'er, aku Pamanmu! Apa kau tidak mengenali Pamanmu?" Roh Jahat berbalik bertanya, sorot mata penuh kasih menatap wajah Gadis cantik itu.


Lagi-lagi Jiang Xingyu tercengang saat mendengar kata Paman. Wajah Roh Jahat dihadapannya perlahan tumpang tindih dengan wajah di ingatannya.


Tidak salah lagi! Roh Jahat ini memang Pamannya yang meninggal di Medan Perang lima tahun yang lalu, Nalan Wangyu!


Ia tidak meragukan identitasnya walaupun kenyataannya Pamannya sudah meninggal. Karena Ia tahu Paman yang berdiri dihadapannya bukanlah Manusia, melainkan Tubuh Roh.


"Aku mengingatnya. Kau adalah Pamanku." Ucapnya biasa saja.


Ya! Itu karena Ia bukan Jiang Xingyu yang asli. Jadi tidak ada perasaan yang akrab.


Nalan Wangyu tidak mempermasalahkannya. Karena Ia sudah lama berpisah dengan Keponakannya, sehingga perasaan kekeluargaan secara bertahap memudar.


Walaupun demikian Ia sudah sangat senang bisa diingat. "Baguslah..."


"Ibumu, apa Dia baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


Jiang Xingyu mengernyitkan dahinya. Ternyata Pamannya bahkan tidak tahu kalau Ibunya sudah meninggal. Jika mengetahuinya Dia pasti sangat sedih.

__ADS_1


Walaupun begitu Ia tidak bisa menyembunyikan kenyataannya. "Ibuku, lima tahun yang lalu setelah menerima kabar bahwa Kakek dan Paman meninggal di Medan Perang, Dia sakit parah kemudian meninggalkanku sendirian."


"Apa?!" Nalan Wangyu terkejut, wajahnya penuh kesakitan yang tidak bisa disembunyikan.


Jiang Xingyu juga merasakan sakit hati dikala melihat ekspresi Pamannya.


"Paman, banyak hal yang sudah terjadi. Jangan terlalu bersedih." Ucapnya yang memang tidak pandai menghibur.


Nalan Wangyu kembali ke akal sehatnya. Tidak peduli seberapa besar rasa sakitnya, itu tidak akan mengembalikan Saudaranya. Dan agar tidak membuat Keponakannya khawatir, Ia mencoba menyingkirkan kesedihannya.


"Lalu bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini?" tanyanya.


Jiang Xingyu tidak menyembunyikannya dan memberitahu Pamannya tentang kejadian beberapa tahun terakhir, kecuali bahwa Ia bukanlah Jiang Xingyu yang asli.


Melihat Pamannya sangat marah hingga ingin langsung balas dendam, Ia segera menghentikannya. "Paman, tenanglah dulu. Biarkan aku yang membalas semua kebencian ini."


"Tapi..." Nalan Wangyu tidak yakin, tetapi sebelum ucapannya selesai, Ia melihat Keponakannya sudah berdiri tepat dihadapannya, membuatnya secara refleks mundur kebelakang. Karena takut Keponakannya salah paham atas tindakannya, Ia pun segera menjelaskan. "Yu'er, bukan begitu..."


Tentu saja Jiang Xingyu mengerti. "Paman mundur karena Paman merupakan Roh Jahat, Paman mundur karena takut melukai energi Yang ku."


"Kau..." Reaksi Nalan Wangyu seperti habis disambar petir, menatap Keponakannya dengan pandangan ketidakpercayaan.


Jiang Xingyu tersenyum. "Sebenarnya setelah kebodohanku disembuhkan, entah mengapa aku bisa melihat hal-hal mistis. Aura Yin sama sekali tidak berpengaruh padaku."


Butuh beberapa saat sebelum Ia bereaksi. "Kau bisa melihat hal semacam ini, apa kau tidak takut?" tanyanya.


"Awalnya aku memang sangat takut. Kemudian tidak lagi karena sudah terbiasa." Jiang Xingyu menjawab sambil tersenyum.


Nalan Wangyu menghela nafas lega. Tapi saat memikirkan hal lain, kecemasannya muncul lagi. "Kau memiliki tubuh Yin murni lima elemen, yang sangat mudah menarik nafsu Roh Jahat. Karena kau tidak terpengaruh oleh aura Yin, maka mulai sekarang Paman akan melindungimu."


Arus kehangatan kasih sayang keluarga mengalir di hati Jiang Xingyu.


Meski demikian Ia menolaknya. "Paman, aku tahu kau sangat mengkhawatirkanku. Namun aku bisa melindungi diriku sendiri. Selain itu tidak baik bagimu untuk muncul di keramaian."


Manusia yang memiliki aura Yang lemah tidak akan mempengaruhi Pamannya, tapi jika berdekatan dengan Manusia yang memiliki aura Yang kuat, Pamannya akan terpengaruh.


"Tapi..." Nalan Wangyu masih tidak percaya, karena baginya Keponakannya hanyalah seorang Gadis kecil.


"Paman," Jiang Xingyu menyela, disaat yang sama mengeluarkan Belati Naga serta Jimat Pembunuh Roh Jahat, lalu berkata lagi. "Paman yakinlah, aku bisa melindungi diriku dengan kedua benda ini. Selain itu aku memiliki Guru seorang Pendeta Tao, yang mengajariku bagaimana melawan Roh Jahat."


Nalan Wangyu menghela nafas. "Itu bagus. Tapi kau tetap harus memberitahu Paman jika kau membutuhkan bantuan."


"Baiklah." Akhirnya Jiang Xingyu tidak menolak lagi.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau lakukan selarut ini? berbahaya sekali." Nalan Wangyu baru ingat kalau Keponakannya keluar sendirian ditengah malam.


"Setiap malam aku pergi ke Rumah disana untuk berlatih Beladiri, karena hanya dengan memperkuat diri, aku bisa balas dendam." Kata Jiang Xingyu sangat tenang.


Ekspresi Nalan Wangyu menunjukkan kesedihan lagi. Bahkan hampir berkata akan membantu balas dendam.


Baru setelah mengingat ucapan Keponakannya, Ia menelan kembali kata-katanya.


"Jika begitu, bisakah Paman menemanimu?" tanyanya dengan khawatir, takut Keponakannya menolak.


Jiang Xingyu tersenyum. "Tentu saja."


Akhirnya ekspresi Nalan Wangyu menunjukkan kegembiraan.


"Ngomong-ngomong, dimana Paman selama lima tahun ini?" tanya Jiang Xingyu.


Membuat aura Yin Nalan Wangyu semakin pekat. "Paman tetap berada di Perbatasan selama ini. Paman bukannya tidak ingin kembali, tetapi tidak bisa."


Kalimat yang penuh ketidakberdayaan.


Benar! Karena tidak ingin mati begitu saja, Ia berubah menjadi Roh Jahat karena terlalu banyak keluhan.


Kemudian Ia dengan gila-gilaan menyerap jiwa Prajurit musuh. Karena menyerap terlalu banyak dan tidak bisa mencernanya, akhirnya jiwanya jatuh dalam tidur panjang.


Baru beberapa bulan yang lalu Ia berhasil mencerna semuanya. Setelah bangun Ia langsung kembali ke Ibukota.


Ia tidak membicarakan hal ini pada Keponakannya. Ia juga bahagia karena Keponakannya tidak bertanya.


Pada saat yang sama di tengah malam, Bibi He datang menemui Bibi Lan lagi.


"Lan Mei, apa kau sudah menemukan rencana yang bagus?" Bibi He bertanya.


"Ya..." Kemudian Bibi Lan memberitahu Bibi He tentang rencana tertentu.


Setelah keinginannya terpenuhi, Bibi He kembali membawa senyum bahagia.


Tidak sedikitpun meragukan Bibi Lan...


.


.


_____Happy Reading_____

__ADS_1


__ADS_2