
Begitu Jiang Xingyu dan Puteri Yanning tiba di lantai tiga, seorang pelayan menyambut dengan hormat. "Tuan Puteri, Nona Jiang, silahkan."
Puteri Yanning langsung masuk ke ruangan VIP 2 karena mengira tidak ada siapapun di dalam.
Segera setelah pintu dibuka, ia berdiri mematung. Mengapa pelayan tidak memberitahu bahwa ada orang didalam?
Sedangkan Jiang Xingyu sudah merasakan nafas beberapa orang didalam. Hanya saja ia terlambat menghentikan kecerobohan temannya.
Kemudian suara Pangeran Yin terdengar. "Kenapa kau berdiri saja? cepat masuk."
Puteri Yanning hanya menanggapi "Oh," lalu menarik temannya.
Saat Jiang Xingyu melangkah masuk dan tatapannya kebetulan bertemu pria itu, jantungnya seketika berdebar.
Tidak ingin terjebak oleh perasaannya, ia berjalan kearah meja, duduk lalu mengambil sepotong kue dan mengunyahnya.
Sikapnya sangat santai seolah sedang berada di rumahnya sendiri.
"Enak sekali," ucapnya memuji tanpa ragu.
"Tentu saja. Makanan milik keluarga Feng adalah yang terbaik." Ujar Ning Rui dengan ekspresi bangga.
"Benar. Favoritku adalah makanan di Restoran Chilan dan teh serta kue di Paviliun Mingxiang. Selama aku bisa keluar dari Istana, aku akan mengunjungi dua tempat ini." Puteri Yanning juga memuji.
Jiang Xingyu selalu merasakan garis pandang jatuh padanya. Tidak perlu menebak, ia yakin pasti pria itu. Merasa sangat risih, ia mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan dingin.
Namun di mata Yuwen Junxiu, tatapan wanitanya terlihat sangat lucu, yang membuatnya tidak bisa menahan senyum.
Tidak! Kali ini Jiang Xingyu tersesat.
Kue di tangannya jatuh di atas meja, yang langsung menarik perhatian semua orang.
"Air liurmu mengalir keluar." Yuwen Junxiu mengerutkan alisnya.
Jiang Xingyu segera bereaksi dan benar saja, air liurnya mengalir tanpa sadar.
Ketika semua orang melihat ini, mereka tidak bisa menahan tawa. Membuat ekspresi Jiang Xingyu semakin malu. "Apa yang lucu? jika kalian pergi keluar dan tersenyum pada para wanita, reaksi mereka akan sama sepertiku. Selain itu, jika bukan karena takut pada identitas kalian, mereka pasti langsung menerkam kalian."
Ucapan ini memang benar. Mereka adalah para pria tampan terkemuka yang kemanapun mereka pergi, akan membuat kaum wanita tergila-gila.
"Xingyu benar. Hanya saja kalian yang tidak memperhatikan ekspresi para wanita itu." Puteri Yanning setuju.
Setelah jeda, ia melanjutkan. "Dua hari yang lalu aku melihat beberapa wanita bergegas menghampiri Guru Su, dan Guru Su langsung mengusir mereka."
"Tapi Paman Guru tidak pernah mengusir Nona Jiang, juga tidak menendangnya. Apa itu berarti Paman Guru menyukai Nona Jiang?" Ning Rui menyuarakan keraguannya.
"Uhuk, uhuk..." Jiang Xingyu sedang makan kue, saat mendengar kalimat terakhir, ia tersedak.
__ADS_1
Dan mata semua orang tanpa sadar menatap Yuwen Junxiu, ingin melihat bagaimana reaksinya.
Mereka merasakan aura dingin dan melihatnya sedang menyipitkan mata, terlihat tidak senang.
Namun nyatanya Yuwen Junxiu sedang memikirkan ucapan Ning Rui.
Merasakan aura dingin Paman Gurunya, Ning Rui menyadari telah mengatakan sesuatu yang salah. Lantas ia buru-buru menjelaskan. "Paman Guru, aku tidak bermaksud begitu. Tapi anda memang tidak pernah menghindari ataupun menendang Nona Jiang. Aku merasa... Oh! Kenapa kau memukulku?" Sebelum selesai berbicara, kepalanya di tampar oleh gadis di sampingnya.
"Apa kau sangat ingin melihatku ditendang oleh Paman Gurumu?" ucap Jiang Xingyu seolah-olah sangat marah.
"Ya! Tapi, apa kau pernah ditendang?" tanya Ning Rui berterus terang.
Membuat amarah Jiang Xingyu meledak. Ia berdiri dan secara provokatif berkata. "Kau sengaja membuatku kesal?! Apa kau berani bertarung denganku?"
Ia tidak impulsif, melainkan sengaja menggunakan kesempatan ini untuk bertarung. Karena tangannya sudah lama gatal ingin bertarung dengannya.
"Ayo! Siapa yang tidak berani? tapi kau jangan menggunakan Belatimu!" Balas Ning Rui dengan agresif.
"Cih! Itu karena kau takut kalah!" Jiang Xingyu mencibir.
"Kau..." Ning Rui tak bisa berkata-kata.
Sedangkan mereka yang lain hanya menonton, tidak ada yang melarang.
"Untuk menghindari cedera yang tidak disengaja, bertarung beladiri saja." Pangeran Yin menyarankan.
Kemudian semua orang pindah ke halaman belakang.
"Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman, segera hentikan." Pangeran Yin masih mengingatkan.
Segera! Keduanya terjerat dalam pertarungan beladiri. Selain menonaktifkan serangan mematikan, keduanya tidak menyembunyikan kemampuan atau metode serangan masing-masing.
Beladiri Jiang Xingyu kasar dan berubah-ubah setiap waktu, membuat Ning Rui tidak bisa menyesuaikannya. Sedangkan gerakan Ning Rui sangat halus, membuat Jiang Xingyu sering salah tanggap.
Bisa dikatakan pertarungan keduanya sangat seimbang.
Kecuali Yuwen Junxiu, semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka Jiang Xingyu bahkan bisa menyamai gerakan Ning Rui.
"Awalnya aku berpikir apakah harus membiarkan bocah itu berbelas kasih atau tidak. Tapi nyatanya Nona Jiang memiliki skill yang bagus." Feng Yuqie memuji sambil terus mengamati pertarungan.
"Kuakui Nona Jiang memang benar-benar jenius." Pangeran Yin menimpali.
Mereka merasakan bahwa dalam beberapa hari saja, kekuatan internal Jiang Xingyu telah meningkat pesat dan telah terkonsolidasi sepenuhnya. Dengan kata lain, dia yang baru saja mencapai Master beladiri level tiga, mampu bersaing seimbang dengan Master beladiri level tiga puncak.
Wanitanya dipuji, dalam lubuk hati Yuwen Junxiu ada rasa bangga yang bahkan tidak disadarinya.
Sedangkan Puteri Yanning dengan bangga berkata. "Itu Wajar! Saat pertama kali bertemu Xingyu, aku merasa dia sangat luar biasa."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Paman, bagaimana perasaanmu tentang Xingyu? atau, pergilah dan bicara pada Ayahanda. Biarkan Ayahanda memberimu pernikahan dengan Xingyu. Selama kau berbicara, Ayahanda pasti akan setuju. Selain itu, apa ada cara untuk mencegah Xingyu menikahi Pangeran Yuhao? bagaimanapun aku tidak ingin melihat Xingyu melompat ke dalam lubang api, dan aku tidak ingin melawannya suatu saat nanti."
Puteri Yanning terlalu fokus berbicara pada Pamannya, sehingga tidak menyadari bahwa wajah pria tertentu sangat gelap.
Yuwen Junxiu tidak senang karena Puteri Yanning menginginkan Jiang Xingyu dan Pangeran Yin bersama.
Meskipun ini bukan pertama kalinya Puteri Yanning mengatakan ini, kali ini situasinya berbeda. Karena sekarang Jiang Xingyu adalah wanitanya, bagaimana mungkin menikahi orang lain?
"Ning'er, jangan berbicara sembarangan." Tegur Pangeran Yin yang takut keponakannya akan di benci oleh pria yang kini seluruh wajahnya sangat gelap.
Namun ia tidak keberatan dengan ucapan keponakannya. Jiang Xingyu merupakan satu-satunya keturunan keluarga Nalan, meski bukan demi keluarga Nalan, ia tidak akan membiarkan Jiang Xingyu jatuh kedalam lubang api. Selain itu ia memiliki kesan baik tentangnya, yang tidak menutup kemungkinan untuk bersama dengannya dalam ikatan pernikahan.
Tentu saja premisnya adalah Jiang Xingyu dan sahabatnya tidak saling berhubungan. Lebih tepatnya tidak saling menyukai.
"Paman, Xingyu..." Puteri Yanning masih akan berbicara.
"Paman pasti akan membantu Nona Jiang." Ucap Pangeran Yin guna meyakinkan keponakannya.
Baru sekarang Puteri Yanning mengangguk puas.
Di sisi lain, pertarungan belum mencapai titik kemenangan ataupun kekalahan. Menilai dari kondisi, Jiang Xingyu tampak sangat kelelahan. Jika pertarungan terus berlanjut, dia pasti akan dikalahkan dalam beberapa gerakan.
Melihat sudah hampir waktunya hasil ujian di umumkan, Pangeran Yin berteriak. "Hentikan. Di lain waktu kalian berdua bisa bertarung lagi. Sekarang sudah waktunya hasil ujian di umumkan, ayo pergi ke gerbang Istana."
Begitu mendengar ini, Jiang Xingyu dan Ning Rui berhenti secara bersamaan.
"Xingyu, apa kau baik-baik saja?" tanya Puteri Yanning terdengar khawatir.
"Tidak apa-apa. Hanya saja bocah ini tidak bertarung dengan benar. Dia selalu menghindar dan membuatku kehilangan banyak energi untuk bisa menyerangnya." Jiang Xingyu mengeluh.
"Jadi, apa aku harus menerima serangan anehmu? aku bukan orang bodoh!" Balas Ning Rui tidak terima.
"Bagaimanapun, aku pemenangnya!" Ucapnya lagi dengan bangga.
Benar! Menurut aturan pertarungan, penilaian akhir bisa dinilai dari kondisi, jadi Ning Rui memang menang. Oleh karena itu tidak ada yang menyangkal ucapannya.
Tentu saja tidak dengan Yuwen Junxiu, yang justru berkata. "Dia lebih berbakat darimu. Tidak lama lagi dia bisa mengalahkanmu dengan mudah." Ucapan ini adalah fakta yang sesungguhnya.
Ekspresi bangga di wajah Ning Rui seketika lenyap. "Paman Guru, bisakah anda menuangkan air dingin pada orang lain saja? kenapa harus padaku?" tanyanya dengan getir.
Dan sayangnya Yuwen Junxiu tidak menanggapi.
.
.
_____Happy Reading_____
__ADS_1