365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
100# 288HMH


__ADS_3

Hari minggu, hari dimana Queen dan keluarganya bersantai dan berkumpul di rumah. Andaikata salah satu dari mereka memiliki acara, mereka di izinkan pergi setelah shalat Dzuhur berjamaah di rumah. Karena, menurut Ayah dan Bunda, kebersamaan tidak akan pernah terulang. Maka, sebisa mungkin mereka menyisihkan satu hari saja untuk duduk bercengkrama bersama keluarga. Bertukar pikiran dan berbagi segala perasaan. Itulah kunci keharmonisan keluarga Ayah dan Bunda.


Ayah yang seorang militer selalu mempunyai aturan dirumah. Meskipun dirinya memiliki kasih sayang yang tak terbatas kepada anak-anak sambungnya, Ayah tetap memberikan aturan ala militer nya di dalam rumah. Tidak boleh ada yang melanggar. Bila melanggar, akan dikenakan sangsi dan segera meminta maaf secara terbuka di depan keluarga. Begitulah... semua bertujuan untuk saling mengenal dan tidak menyimpan apapun atau semuanya sendirian. Karena, Ayah tidak mau bila antara dirinya dan istri, antara anak dengan anak, antara anak dengan orang tua, menyimpan sesuatu yang tidak terselesaikan atau masalah yang tidak diketahui hingga berakhir dengan kefrustrasian di salah satu anggota keluarganya.


Seluruh anggota keluarga memiliki hak yang sama dalam mengungkapkan isi hati dan masalah yang terpendam. Menasihati dan memberi saran, juga menjadi hak yang sama. Anak-anak mereka sudah cukup dewasa dalam mengemukakan pendapat mereka dan orang tua tidak juga menggurui dalam segala hal. Mereka lebih membagi pengalaman dari apa yang pernah mereka lewati, sehingga anak-anak mereka mampu berpikir dan menyimpulkan segala sesuatu dari cerita yang mungkin sama persis dengan situasi yang sedang di jalani dari masing-masing anak.


Kalau dalam militer, mereka memiliki psikolog untuk mengecek mental dan apa yang terpendam dari para prajurit, agar para prajurit tetap kuat menghadapi segala situasi apa pun yang sedang terjadi atau yang akan terjadi. Menjadi abdi negara, itu bukan hal yang main-main. Semua harus terjaga, baik itu fisik maupun mental mereka.


Dengan diterapkan nya aturan tersebut oleh Ayah Andra di dalam rumah tangganya. Setidaknya bila sedang menghadapi masalah, keluarga terlebih dahulu lah yang mengerti kondisi mental masing-masing anggota keluarga. Bukan mencari pelampiasan diluar dan bercerita kepada orang yang belum tentu memberikan solusi yang baik bagi mereka.


"Jadi, apa ceritamu dalam satu minggu ini Thar?" Tanya Ayah saat mereka semua berkumpul di ruang keluarga setelah sarapan.


"Ya.... hanya sibuk dengan persiapan pernikahan yang belum rampung juga. Beruntung sih, keluarga Kimmy itu gak rewel. Jadi, Athar tidak begitu stress. Terutama, om Bobby dan Tante Nia, mereka sangat-sangat membantu dan sangat memperhatikan segala hal yang terkecil yang mungkin saja Athar lupa." Terang Athar.


"Kalau Kimmy?" Tanya Ayah lagi.


"Kimmy sih sedikit rewel," Ucap Athar seraya tersenyum.


Ayah dan Bunda ikut tersenyum. Mereka paham bila menghadapi pernikahan itu sangat lah stress, walaupun itu hanya sekedar Ijab Kabul saja, tanpa adanya perayaan. Tetap saja yang namanya akan mengadakan suatu yang akan menjadi kenangan dikemudian hari, akan sangat menyita pikiran. Apa lagi Athar yang akan mengadakan resepsi besar dengan tamu undangan yang tidak sedikit.


Sebenarnya dari awal, Athar dan Kimmy hanya ingin resepsi kecil-kecilan saja. Tetapi, mengingat orang tua Athar dan Kimmy bukan lah orang biasa yang memiliki banyak kolega dan rekan bisnis, tentu saja perayaan sederhana tidak cocok untuk keluarga mereka. Karena menjaga perasaan dari para kolega dan rekan bisnis yang bisa jadi terjadinya salah paham karena merasa tidak di undang. Toh, akhirnya Athar pasrah dan mengerti setelah beberapa kali berdiskusi dengan orang tua nya, calon istri dan juga kedua calon mertuanya.


"Ya.. wajar kalau begitu," Ucap Bunda seraya tersenyum kepada Athar.


"Tapi, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Ayah lagi.


"Insya Allah Yah," Sahut Athar.


"Dan kamu Queen?" Ayah menatap Queen yang sedari tadi tampak termenung dan tidak fokus dalam pembahasan tentang apa yang sedang Athar hadapi.


Queen tampak tidak mendengar pertanyaan dari Ayah. Dia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Queen..." Tegur Bunda.


"Ah...?" Queen terperanjat dan menatap Ayah dan Bunda.


"Mikir apa sih?" Tanya Bunda lagi.


Queen tersenyum tipis dan terlihat salah tingkah.


"Kamu baik-baik saja kan?, kemarin saat kamu pulang berlibur, Ayah lihat kamu seperti orang yang sedang jatuh cinta. Lah kok, pagi ini kamu lesu?" Cecar Ayah seraya mendekatkan wajahnya kehadapan Queen.


"Ah... gak.. gak apa.." Sahut Queen yang terlihat gugup.


"Queen, ayolah.. kita harus saling terbuka. Kalau tidak dengan kita, kamu dengan siapa membagi beban pikiran mu, atau apa yang sedang kamu hadapi. Jujurlah, biar kita bisa saling memahami." Ucap Bunda.

__ADS_1


Queen menatap satu persatu anggota keluarga nya itu. Lalu, ia menghela nafas panjang dan menundukkan pandangan nya.


"Queen, apapun yang terjadi denganmu, keluarga lah yang akan melindungi, menjebatani, membantu dan tempat berpulang. Ayo nak, ceritakan pada kamu," Ucap Ayah.


Queen mengangkat wajahnya dan sekali lagi menatap anggota keluarga nya.


"Baiklah, ada yang sedang dekat dengan Queen." Ucap Queen. Ia sengaja mengatakan bila dirinya hanya sekedar dekat, bukan sebagai kekasih. Hal itu, karena Queen takut malu bila gagal lagi.


"Oh, yang kemarin datang ke butik?" Celetuk Athar.


"Raka?" Sambung Ayah.


Queen menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa dia? Oh iya, Bunda dengar, dia sudah memiliki anak, apa betul Queen?"


Queen menatap Ayah, yang tampak salah tingkah. Ia paham, bila Ayah lah yang membocorkan rahasia itu kepada Bunda. Karena di dalam keluarga itu, hanya Ayah lah yang mengetahui cerita lengkap tentang Raka.


"Anaknya sudah meninggal, dihari Queen pergi berlibur. Terus, tiga hari kemudian dia menyusul Queen ke Maldives."


Semua terdiam mendengar cerita Queen.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un..." Ucap mereka secara bersamaan.


"Terus?" Tanya Athar yang tampak penasaran.


"Masa begitu doang?" Keluh Athar dengan wajah kecewa.


"Ya, hanya itu." Queen tertawa geli.


"Lalu, apakah kamu mau serius dengan dua?" Tanya Ayah.


Queen kembali menundukkan pandangan nya.


"Queen, kamu cinta dengan dia?" Cecar Bunda.


Queen menatap kedua orangtuanya itu dan kembali tersenyum.


"Kita lihat saja nanti," Celetuk Queen.


"Ya tidak bisa, bawa dia kesini, jangan bertemu diluar. Kalai dia serius, dia harus mendekati diri kepada keluarga kita. Tujuannya hanya untuk keselamatan kamu Queen. Lagi pula, Ayah ingin mengenal pribadi orang yang sedang mendekati kamu."


Queen pun, terlihat gelisah.


"Apa yang Ayah katakan itu benar Queen. Oh iya, ada yang mau melamar kamu loh, bila memang Raka tidak terlihat serius atau dia bermasalah, atau ada saja yang menjadi pertimbangan kami sebagai orang tua, lebih baik kamu menerima lamaran lelaki yang datang tempo hari."

__ADS_1


Ayah menatap Bunda dengan tak percaya.


"Hah?" Siapa?" Tanya Queen dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Si dosen itu?" Tanya Ayah dengan wajah yang terlihat tidak senang.


"Iya, dia kan tampan, mapan dan baik kayak nya." Ucap Bunda.


"Sebentar..." Potong Queen yang terlihat panik.


"Yang Ayah dan Bunda maksud itu siapa? Adik iparnya Tika bukan?" Tebak Queen dengan wajah yang cemas.


Ayah dan bunda pun mengangguk dengan ragu, secara bersamaan.


"Hah! Dia becanda kali ya? Kapan dia datang?" Tanya Queen yang masih belum percaya.


"Sa-sa-saat kamu liburan, ada dua kali dia datang mencari mu. Yang pertama dia langsung mengatakan niat kedatangan dia kerumah ini, yaitu ingin meminang kamu dengan cara ta'aruf. Yang kedua, dia datang dan bertemu dengan Ayah. Sayangnya dia pulang dengan terburu-buru." Ucap Bunda seraya melirik Ayah yang mulai tersenyum jahil.


Queen pun, menatap Ayah dengan tatapan curiga.


"Ayah apakan dia, sampai dia pulang terburu-buru?" Tanya Queen dengan tatapan menyelidik.


"Gak Ayah apa-apakan kok, dia bilang mau pulang, sudah begitu saja." Ayah mencoba membela dirinya.


"Apaan, Ayah mu menggertak dia dengan pura-pura meminta pistol kepada Bunda." Ucap Bunda dengan wajah yang kesal kepada Ayah.


"Ya, kan di cek mental nya dulu. Masa mau jadi menantu Ayah, gak di cek dulu mental nya." Ayah masih membela dirinya.


"Memang kamu jahil aja!"


"Hahahaha...! Bagus Yah...!" Celetuk Queen.


"Bagus kan? Nah, sekarang Ayah mau cek mental Raka. Bawa dia kesini dua kali dua puluh empat jam. Bila tidak, jangan pernah dekati anak Ayah. Jangan pernah temui dia diluar. Ayah akan memanggil ajudan untuk menjagamu dari dia." Tegas Ayah.


Queen pun melebarkan kedua matanya, mulut nya ternganga. Ia tidak percaya dengan apa yang dibilang Ayah Andra.


"Kenapa? Ayah yang turun tangan atau Ayah Gunawan?" Tanya Ayah Andra.


Queen menelan salivanya dan terlihat panik.


Queen mengenal Ayah Gunawan dengan baik, karena dia pernah tinggal beberapa waktu dengan Ayah Gunawan. Ayah Gunawan sedikit dingin dan terkesan kejam. Bahkan, Queen pernah melihat Ayah Gunawan menampar bawahannya karena tidak disiplin. Walaupun Ayah Gunawan sudah pensiun, tetapi dia masih di berikan para ajudan untuk menjaga dirinya.


"Bagaimana?" Desak Ayah Andra.


"I-i-iya, ba-ba-baik lah." Ucap Queen dengan terbata.

__ADS_1


"Good..." Sahut Ayah seraya mengacungi ibu jarinya.


__ADS_2