365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
36# 344HMH


__ADS_3

Dua minggu sudah Queen di Korea. Hari ini, ia dan Tika bersiap untuk pulang ke Indonesia. Liburan mereka sangat menyenangkan. Sayangnya masih banyak tempat yang belum sempat mereka jejaki. Selama 3 hari mereka harus diam di hotel karena sama-sama terserang influenza. Hal itu tentu saja merusak banyak rencana mereka berdua.


Saat ini mereka berdua berada di Bandara. Mereka makan siang serta memesan segelas Americano untuk mereka nikmati sambil menunggu pesawat mereka tiba.


Queen dan Tika membuka peta wisata Korea dan membicarakan tempat yang tidak sempat mereka kunjungi dan akan menjadi wish list mereka, bila suatu saat kembali ke negara itu.


"Eh, foto-fotonya transfer ke gue dong," Pinta Queen sambil membuka laptopnya dan ia taruh di atas meja.


"Ya elah Queen, kenapa gak dari kemaren sih," Keluh Tika sambil mengeluarkan ponsel dan kamera nya.


"Sorry deh, gue juga mau transfer foto yang ada di kamera gue buat lu. Mau gak lu? Ketemu sama elu tuh susah, maklum orang sibuk. Jadi sekarang yah..." Bujuk Queen.


Dengan mengerutkan dagunya, Tika menyerahkan memory card nya kepada Queen.


"Gitu dong, sebentar doang kok. Kan elu yang paling banyak foto-foto. Hehehe.."


"Iya... Iya.." Sahut Tika sambil menyantap makanan ringan yang berada di hadapannya.


Queen mengeklik folder yang berasal dari memory card milik Tika lalu mentransfer nya ke folder laptopnya. Mentransfer foto yang lumayan banyak itu, memakan waktu 20 menit. Sambil menunggu, mereka kembali berbincang.


"Si Raka gak menghubungi elu?" Tanya Queen disela perbincangan mereka.


Tika terdiam beberapa saat, setelah itu ia membuka ponselnya dan memperlihatkan kepada Queen jejak panggilan Raka di ponselnya.


Queen terdiam dan memperhatikan semua panggilan masuk di ponsel Tika. Semua dari Raka. Hampir setiap hari lelaki itu menghubungi Tika. Pagi, siang dan malam.


Queen meraih ponsel Tika dan memperhatikan jejak panggilan terakhir disana.


"Dua puluh menit yang lalu?" Tanya Queen sambil menatap Tika.


Tika mengangguk dan tersenyum kecil.


"Dia nanya apa sama elu?" Tanya Queen lagi.


"Ya nanyain elu lah, masa nanyain gue."


"Kan barangkali nyaman sama elu," Ucap Queen sambil tersenyum canggung.


"Gila lu, dia tahu kali, kalau gue punya calon. Dia itu hubungi gue tiga kali sehari, sudah seperti minum obat. Hanya karena kepo sama elu. Gue deh yang jadi korban nya, gue laporan terus."

__ADS_1


"Laporan apa?" Tanya Queen penasaran.


"Laporan apa saja. Dia nanya elu sudah makan belum? Lu lagi apa? Lu sehat gak? Lu sekarang bahagia gak? Ampuuuunnn..... gue! Calon laki gue saja, gak pernah begitu. Hhhhhh...!"


Queen terdiam, ia menyerahkan ponsel Tika kembali.


"Kenapa ya Tik, hidup gue complicated banget. Walaupun sebenarnya, nasib gue sama si Raka Itu sama."


"Memang nya Raka kenapa?" Tanya Tika penasaran.


"Dia gak cerita tentang hidup nya sama elu?"


"Ya enggak lah, ngapain dia cerita sama calon istri orang? Elu pun aneh.." Ucap Tika sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Queen.


Queen tersenyum geli, lalu ia menatap Tika dengan seksama.


"Yah gitu, waktu malam dia nyusul gue di cafe, kita sempat berbincang sebelum kembali ke Hotel. Yah, dia cerita semua tentang kisah cinta dia." Ucap Queen.


"Sorry gue potong, biasanya.. kalau laki-laki mau cerita dan jujur begitu. Tandanya dia nyaman sama elu dan dia kepengen deketin elu."


"Ya gue tahu." Ucap Queen sambil mengusap wajah nya.


"Satu point penting adalah.. ternyata selama ini dia sering gagal, ya karena orang tuanya gitu."


"Hah?" Tika tercengang mendengar cerita Queen tentang Raka.


"Maksudnya?" Tanya Tika lagi.


"Orang tuanya seperti.orang tua Antoni gitu. Dan yang paling parah..." Sambung Queen.


"Kenapa? Kenapa?" Tanya Tika penasaran.


"Ya masalah Naysilla itu.."


"Ahh... gue ngerti... itulah mengapa Naysilla bunuh diri?"


"Nah..." Queen mengangguk dan membenarkan ucapan Tika.


"Wah kalau sampai bunuh diri, kira-kira lu tahu gak apa yang di katakan orang tuanya Raka?"

__ADS_1


Queen menggelengkan kepalanya, ia tidak bertanya tentang masalah itu lebih mendetil.


"Sadis juga ya orang tuanya.." Sambung Tika.


"Itulah yang membuat gue juga merasa agak gimana gitu. Lu tahu kan sejarah gue sama Antoni bagaimana? Duh.. mending kalau sudah berhubungan lama dan di perjuangkan. Kalau sama saja kayak Antoni gimana?" Tanya Queen.


Tika mengangguk pelan, ada benarnya untuk menghindari cerita yang sama di dalam hidup. Karena rasa trauma itu tidak main-main dan sangat sulit untuk dilupakan.


"Iya sih, kalau gue kan, calon mertua gue memang baik. Dari dulu gue pacaran sama calon laki gue, selalu di tanya " Tika, kapan mau nikah sama anak Ibu?" Begitu deh..." Ucap Tika dengan gaya bicaranya yang mencoba meniru gaya bicara calon mertuanya.


Queen tersenyum kecil, lalu ia menatap layar laptop nya.


"Eh, sudah.. Gue transfer juga ya ke memory card elu, foto yang ada di memory gue?" Ucap Queen dengan bersemangat.


Tika mengangguk dan terus menatap Queen yang sedang asik dengan laptopnya.


"Ya Allah Queen, lu ketemu laki-laki yang punya orang tua seperti valak semua. Horor amat hidup lu. Tapi sayang aja, Raka itu kan baik banget. Gue cuma berharap, bila Raka memang serius sama elu. Kali ini dia lah yang memperjuangkan elu. Masalah restu, ya bisa kapan saja lah. Secara yang perempuan nya kan elu. Sedangkan mereka laki-laki, mereka kan gak butuh wali kali.." Gumam Tika.


Queen yang sedang asik dengan laptopnya pun melirik Tika yang baru saja bergumam.


"Hah? Lu ngomong apaan? Ngomong kayak orang lagi kumur-kumur. Gak jelas, gak kedengaran sama gue."


"Ah, kagak... gue cuma lagi kumur-kumur barusan," Ucap Tika sambil tersenyum salah tingkah.


"Gak jelas ah.." Ucap Queen sambil menyerahkan memory card milik Tika.


"Makasih ya, itu juga sudah gue transfer foto yang ada sama gue." Ucap Queen sambil tersenyum manis kepada Tika.


"Iya... sama-sama.."


Tiba-tiba terdengar panggilan untuk penumpang dengan nomor penerbangan yang sama dengan penerbangan mereka. Mereka pun bersiap-siap memasukkan barang mereka yang tercecer di atas meja. Lalu, menaruh uang tips untuk pelayanan cafe itu dan mereka pun beranjak menuju ke pesawat yang akan mereka tumpangi.


Setelah mendapatkan bangku yang sesuai dengan nomor yang tertera di boarding pass mereka, mereka pun bisa duduk dengan nyaman. Sayang nya, kali ini mereka tidak mendapatkan bangku yang bersebelahan. Queen berada di belakang bangku Tika.


Setelah pesawat take off, Queen yang merasa jenuh pun mencoba untuk melihat-lihat foto liburan dirinya dengan Tika dari folder foto yang baru saja di transfer dari memory card milik Tika.


Satu demi satu foto yang berada di folder itu Queen lihat. Tak jarang ia tersenyum sendiri melihat seru nya momen liburan dirinya dengan Tika. Hingga sampailah di foto yang mengabadikan dirinya dengan Raka. Queen terdiam menatap foto itu, ia menghela nafas berat dan mencoba melewati foto itu.


Tetapi ternyata, ada banyak sekali foto dirinya dengan Raka yang di abadikan oleh Tika. Terutama saat mereka sedang berada di Bukchon Hanok Village. Queen menatap foto dirinya yang sedang berhadapan dengan Raka saat mereka berdua memakai kostum Permaisuri dan Raja. Lalu, ia melihat tangan Raka yang melingkar di pinggang rampingnya. Queen ingat betul momen itu, hingga ia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ada perasaan rindu yang menyerang hatinya. Entah mengapa, sejak perpisahan waktu itu. Ia mulai memikirkan Raka. Tetapi, ia terus mencoba memungkirinya.

__ADS_1


Queen tidak ingin jatuh cinta lagi. Tetapi tampaknya, hatinya yang kosong telah mengkhianati dirinya sendiri.


__ADS_2