365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
58# 325HMH


__ADS_3

Raka termenung di kantornya, kemarin ia baru saja melakukan serangkaian test kelayakan untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Jonathan, putranya.


Raka terus berdoa, bila dirinya bisa menjadi pendonor demi keselamatan putranya itu bersama mantan kekasihnya Lala.


Raka yakin sekali bila Jonathan adalah putranya. Karena Raka sangat mengenal Lala. Selama bersama dengan Lala, gadis itu tidak pernah dengan orang lain. Selain Max yang ia pergoki pada malam mereka mengakhiri hubungan mereka.


Lagi pula, fisik dan wajah Jonathan sangat mirip dengan dirinya. Itulah mengapa Raka tidak menyangkal ataupun mempertanyakan tentang Jonathan.


Raka tampak gelisah, ia menjadi tidak konsentrasi dengan apa pun yang sedang ia lakukan. Terlebih, Queen kini menjauh dari dirinya. Ia ingin sekali berjumpa atau menghubungi Queen. Tetapi, Raka tahu betul Queen itu tidak akan merespon segala panggilan dan apa pun dari dirinya.


Raka tampak frustasi, sebenarnya saat ini, ia ingin dukungan dari Queen dan dekat dengan gadis itu. Raka paham mengapa Queen kecewa. Karena pada awalnya ia hanya bercerita bila dirinya hanya hidup bersama. Tidak ada hadirnya seorang anak dari hubungan nya dengan Lala.


Saat itu Queen pun acuh saja, dari situ ia merasa Queen bisa menerima masa lalunya. Maka, kemarin ia berusaha jujur untuk Queen lebih mengenal masa lalu yang baru saja ia ketahui. Bukan niatnya untuk membohongi Queen. Hanya saja, ia pun baru saja mengetahuinya dan memutuskan memberitahu Queen apa yang sedang ia hadapi saat ini.


Raka tidak menyalahkan Queen, hanya saja, ia merasa sedikit putus asa karena Queen yang sudah mulai ingin dekat dengan nya, kini tiba-tiba menjauh.


Dreeeet...! Dreettt..!


Dering ponsel Raka, mengejutkan dirinya yang sedang termenung memikirkan nasib percintaan nya dan juga nasib Jonathan.


Raka melirik layar ponselnya dengan malas. Tetapi, tiba-tiba ia terlihat antusias dan langsung meraih ponselnya.


"Halo!" Serunya, saking ia merasa hidupnya penuh harapan kembali.


"Hai, aku juga minta maaf atas kejadian kemarin," Ucap Queen dari ujung sana.


"Tidak-tidak... tidak apa-apa. Kamu tidak salah, aku lah yang salah."


"Aku yang salah, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kepada kamu yang sedang memiliki masalah."


Raka hampir menangis mendengar ucapan dari Queen.


"Punya waktu hari ini?" Tanya Queen.


"Iya selalu ada untuk mu," Sahut Raka.


"Jemput aku di hotel ya, terus kita ke rumah sakit, menjenguk Jonathan. Aku sudah membelikan dia mainan robot."


Kali ini air mata berlinang di pipi Raka. Ia tidak menyangka Queen akan menerima masa lalunya.


Entah apa yang mengubah gadis itu hanya dalam satu malam saja. Yang jelas, Raka sangat bahagia setelah mendengar ucapan Queen.


"Baik, aku akan kesana sekarang juga," Ucap Raka dengan bersemangat.


...


Tidak butuh waktu lama, Raka sudah sampai di depan hotel milik Queen. Ia beranjak turun dari mobilnya dan masuk kedalam hotel tersebut.


Terlihat Queen berdiri di depan resepsionis dengan tampilan yang sangat anggun dan berkelas.

__ADS_1


Queen memakai rok span berwarna hitam, sepanjang betis nya yang berisi layaknya padi. Gadis itu juga memakai hem berbahan sifon berwarna cokelat. Rambut hitam nya dibiarkan tergerai dengan indah. Riasan wajahnya pun, membuat wajah Queen semakin cantik dan terlihat segar.


Sepasang sepatu hak tinggi berwarna hitam serta clutch berwarna senada melengkapi penampilan Queen yang kini sedang tersenyum kepada Raka.


"Hai," Sapa Queen saat Raka menghentikan langkahnya tepat di depan Queen.


Tanpa kata, Raka langsung memeluk Queen.


Queen terkejut saat Raka memeluk dirinya.


"Terima kasih. Tanpa kamu, aku semakin risau menghadapi ini sendirian. Aku butuh kamu, aku lega kamu menghubungi aku." Bisik Raka di telinga Queen.


Semua pegawai Queen yang sedang berada di lobby hotel itu pun, memandangi mereka. Rata-rata dari mereka tersenyum melihat pemandangan Raka yang sedang memeluk Queen.


"Hmmm, Raka.. aku malu," Ucap Queen sambil melepaskan pelukan Raka.


"Ah, maaf.. Aku terlalu gembira." Raka terlihat salah tingkah dan melirik orang-orang yang berada disana.


"Tidak apa-apa, ayo kita berangkat," Ucap Queen.


Raka pun mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Queen.


Queen melirik para pegawainya yang sedang menatap dirinya dan Raka.


"Kalian kembali bekerja ya,"


Ucapan Queen membuat para pegawainya menjadi salah tingkah.


Raka tersenyum saat Queen mengabaikan tangan nya. Lalu, ia menyusul Queen dan membukakan pintu mobil untuk Queen.


Mobil mewah milik Raka pun, beranjak meninggalkan halaman hotel Queen dan langsung menuju ke rumah sakit saat itu juga.


Di dalam mobil, mereka saling diam dan salah tingkah. Terutama Queen yang memikirkan anggapan para pegawainya saat melihat Raka memeluk dirinya di lobby hotel.


"Sorry, aku.."


"Tidak apa-apa," Ucap Queen.


"Ah, iya.." Raka menjadi mati kutu saat Queen memotong ucapan nya.


"Sudah makan?" Raka berusaha mengalihkan topik.


"Sudah,"


"Hmmm, terima kasih sudah mau menjenguk Jonathan," Ucap Raka lagi.


"Sama-sama," Queen melirik Raka dan tersenyum tipis.


"Maaf kalau aku mengecewakan mu dengan masa lalu ku,"

__ADS_1


Queen menatap Raka dan tersenyum.


"Semua orang punya masa lalu. Maaf, kemarin aku mungkin sedikit sensitif dan capek saja dengan serangkaian urusan tentang Antoni," Ucap Queen, lalu ia menundukkan wajahnya.


"Semoga dia dihukum dengan berat,"


"Dia dinyatakan sakit jiwa, mungkin dia bebas dan di rehabilitas di rumah sakit jiwa. Atau bagaimana proses hukumnya, aku kurang paham. Ayah-ayah ku yang mengurus itu semua. Pokoknya aku ingin lelaki itu menjauh dari ku dan jangan pernah muncul dihadapan aku lagi," Ucap Queen.


Sebenarnya Queen merasa iba kepada Antoni. Bagaimana pun, kenangan bersama dengan Antoni semuanya indah. Kecuali ucapan orang tuanya dan hari dimana mereka terpaksa harus berhenti untuk saling mencintai.


"Oh begitu, yah.. aku juga berharap dia ditahan. Biar kamu nyaman untuk melanjutkan hidup tanpa dia mengusik hidup mu."


Queen mengangguk dan tersenyum. Lalu, ia membuang pandangannya ke luar jendela mobil milik Raka.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Raka pun, memasuki halaman rumah sakit dimana Jonathan sedang dirawat.


Setelah mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobilnya, Raka pun beranjak turun dan membukakan pintu mobil untuk Queen.


Queen beranjak turun dengan membawa bungkusan kado untuk Jonathan. Lalu, mereka berdua bergegas masuk kedalam rumah sakit tersebut.


Saat berada di lorong lantai, dimana kamar Jonathan berada, jantung Queen mendadak berdegup kencang. Ini adalah pengalaman pertama baginya menemui anak dari lelaki yang sedang dekat dengan dirinya.


Raka dan Queen berdiri di depan sebuah ruang VVIP, di sanalah Jonathan dirawat. Terlihat dari papan nama yang ada di depan pintu ruangan itu. Nama pasien Jonathan terpampang dengan jelas.


Jantung Queen semakin berdegup kencang. Ia terlihat sedikit ragu untuk masuk.


Saat Raka hendak membuka pintu ruangan itu, pintu itu pun terbuka. Tampak Lala yang hendak keluar dari ruangan itu. Lala pun tersenyum kepada Raka. Lalu, senyumnya pun sirna saat melihat Queen yang cantik dan terlihat sangat perfect sebagai seorang wanita, berdiri disamping Raka.


Lala terlihat sedikit malas, ia menghirup nafas dengan wajah yang malas.


"Hai La, Jonathan sedang apa?" Sapa Raka.


"Baru selesai makan. Ini dia meminta aku untuk membelikan buah anggur kesukaan nya." Sahut Lala sambil tersenyum kepada Raka.


"Oh, begitu. Oh.. iya.., kenalkan, ini Queen. Queen, ini Lala," Ucap Raka, mencoba memperkenalkan dua orang wanita yang sedang berada di hadapannya itu.


"Oh, Lala," Ucap Lala sambil menyodorkan tangan nya.


"Queen, senang berke......"


"Aku jalan dulu ya.. Silahkan bila mau bertemu Jonathan," Ucap Lala kepada Raka. Tanpa mempedulikan Queen yang sedang memperkenalkan dirinya.


"I-iya," Ucap Raka yang terlihat serba salah melihat sikap Lala yang acuh dan tak ramah kepada Queen.


Lala pun, beranjak dari hadapan mereka berdua.


Queen menatap Lala yang berjalan di lorong itu. Ia merasa Lala tidak menyukai dirinya. Atau tepatnya, Lala tidak menyukai Queen dekat dengan Raka.


"Ayo masuk," Raka menggandeng tangan Queen.

__ADS_1


Queen yang sedang menatap Lala, mengalihkan pandangannya kepada Raka. Lalu, ia pun tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2