
Queen yang baru saja sampai dirumah nya, terus tersenyum mengingat kebersamaan dengan Raka pada hari ini. Sikap perhatian dan romantis Raka terus mengusik hatinya.
Queen beranjak dari ranjang nya dan meraih kalender yang berada di atas meja nakas nya. Ia mengamati kalender tersebut, lalu ia kembali tersenyum. Tidak terasa, sudah 3 bulan ia mengenal Raka.
Queen meraih sebuah pena dari dalam laci nakas, lalu ia menyilang tanggal dimana ia pertama kali bertemu dengan Raka. Lalu, ia menyilang tanggal dimana ia terjebak di dalam lift bersama dengan Raka. Serta tanggal-tanggal lain nya saat dirinya bertemu dengan Raka.
Queen kembali tersenyum dan menaruh kalender dan pena itu di atas meja nakas. Lalu, Queen merebahkan dirinya kembali diatas ranjang.
Queen menghela nafas panjang. Tidak bisa ia pungkiri, bila saat ini dirinya sangat tertarik dengan Raka.
Hari-hari nya kini selalu di isi oleh senyuman dan candaan dari lelaki itu. Semangat hidup Queen pun, kembali bergejolak. Ia ingin segera melangkah untuk hidup bahagia. Entah itu bersama dengan Raka atau lelaki lain yang di siapkan Tuhan untuk dirinya.
Queen benar-benar sudah melupakan Antoni. Sejak Antoni berusaha merebut kesucian dirinya, Queen benar-benar jijik dengan lelaki itu.
Kabar terakhir yang Queen dengar dari Ayah Andra tentang Antoni Adalah, lelaki itu benar-benar mengalami gangguan jiwa. Maka, Antoni tidak bisa di proses secara hukum. Antoni sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa di dekat kediaman orang tuanya dan mendapatkan perawatan disana.
Queen meras miris dengan nasib Antoni. Lelaki humoris, tampan dan dewasa itu, harus berakhir di rumah sakit jiwa dan menyandang status sebagai ODGJ.
Orang tua Antoni pun tak kalah terguncang. Ibunya Antoni mengalami stroke dan Ayahnya harus melewati masa sulit ini sendirian. Buah dari kesombongan dan keegoisan orang tua Antoni benar-benar harus dibayar mahal oleh mereka semua.
Sedangkan Queen, ia kini mulai bisa merasakan manisnya hidup kembali. Tentu saja itu semua karena hadirnya lelaki yang tak terduga, yang telah menyelamatkan dirinya di sebuah Mall, saat ia di hadang oleh Antoni. Dan kini, lelaki itu tinggal selangkah lagi bisa membuat hati Queen luluh.
Queen memejamkan kedua matanya, ia menyebut nama Raka sebelum ia tertidur lelap. Lelaki itu kini sudah menguasai pikiran nya. Queen pun tertidur dengan perasaan yang berbunga. Sudah lama ia tidak merasakan tidur dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Sudah lama.... lama sekali.
...
"Dari mana saja kamu?"
Raka nyaris saja melompat karena terkejut mendengar suara nyonya Amara yang menggema di ruang keluarga rumah miliknya.
__ADS_1
Raka menoleh dan menatap nyonya Amara yang terlihat kesal dengan dirinya.
Raka mengacuhkan Ibunya itu dan terus berjalan menuju ke kamarnya.
Merasa diabaikan, nyonya Amara pun mengikuti Raka yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa.
"Raka!"
Raka terus mengabaikan nyonya Amara dan membuka pintu kamarnya. Saat ia hendak menutup pintu kamarnya, dua orang bodyguard menahan pintu kamar tersebut. Hingga nyonya Amara berhasil masuk kedalam kamar Raka.
Plakkkkk!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Raka.
Raka menatap Ibunya dengan mata yang memerah.
"Anak sialan kamu! Di panggil orang tua kok seperti tidak mendengar? Apa kamu tuli? Apa kamu tidak menganggap aku Ibumu lagi!" Air muka nyonya Amara begitu emosi saat ini.
"Anak itu bagaimana orang tuanya loh Bu, kalau orang tuanya tidak mendengarkan anak nya, buat apa anak nya mendengarkan orang tua? Orang tua kok seperti diktator!" Ucap Raka seraya melepaskan kaos nya dan melemparkannya ke keranjang kotor yang berada di sudut kamarnya.
"Raka! Kamu lama-lama kurang ajar ya! Apa karena kamu bergaul dengan wanita bernama Queen itu!"
Raka yang sedang beranjak ke kamar mandi, seketika menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh dan menatap nyonya Amara dengan mata yang tajam. Lalu, ia menghampiri nyonya Amara bagaikan orang yang seperti sedang kesetanan.
Raka meraih kedua bahu Ibunya dan menatap Ibunya dengan tatapan yang kejam. Saat ini, Raka seperti bukan dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Ibunya itu yang selalu ingin ikut campur dengan kehidupannya. Terutama masalah wanita mana yang sedang dekat dengan dirinya.
"Ra-Ra-Raka.." Seketika nyonya Amara gemetar melihat sikap Raka yang tidak biasa. Ia hampir saja tidak mengenali anak nya yang selama ini penurut dan sopan kepada dirinya.
"Dari mana!" Bentak Raka.
__ADS_1
"I-Ibu tahu dari Lala."
Raka melepaskan cengkraman tangan nya dari bahu nyonya Amara. Lalu, ia mengusap wajahnya dan memijat pelipisnya.
"Raka, dari pada dengan wanita itu. Lebih baik kamu menikah dengan Lala ya nak. Sudah jelas kan, bila Lala adalah Ibu kandung dari anak mu. Jadi kalian bisa menjadi....."
"Stop Bu..! Stop! Aku muak dengan Ibu yang selalu mengatur hidup ku! Aku muak dengan Ibu yang selalu ikut campur hingga siapa saja yang sedang dekat dengan ku, selalu Ibu ganggu!"
"Masalah Lala, sudah cukup! Dia hanya masa lalu. Memiliki anak dari dia, bukan berarti harus kembali dengan dia lagi kan? Aku tegaskan sama Ibu, AKU SUDAH TIDAK MENCINTAI LALA LAGI!"
"Tapi Raka... ini semua demi...."
"Jonathan? Apa bedanya aku menikah dengan tidak menikah dengan Lala? Aku akan bertanggung jawab Bu..! Aku akan melakukan apa saja asal dia selamat! Aku Ayah kandungnya. Bukan berarti aku harus bersama dengan Lala!"
"Sudah, akhiri semua politik kotor Ibu..! Aku muak! Aku stress gara-gara Ibu yang egois! Aku muak dengan keluarga ini! Sekarang, biarkan aku memilih wanita yang aku inginkan dan jangan sekali-kali mengganggu Queen. Bila Ibu berani mengganggu Queen, Ibu dan Lala akan berurusan dengan ku!"
"Jangan kira selama ini aku diam, aku takut dengan Ibu. Aku menghormati wanita yang telah mengandung dan merawat ku hingga besar. Tapi Ibu, Ibu tidak mengerti bagaimana layaknya menjadi orang tua yang mensupport anak sendiri, membuat anak menjadi lebih baik!"
"Jangan salahkan sikap ku kali ini. Ini semua karena keegoisan Ibu sendiri. Sudah! Akhiri ini semua!"
Raka benar-benar mengamuk kali ini, yang membuat Ibunya terdiam tanpa mampu berkata-kata.
"Masalah Jonathan, biar aku yang urus. Ibu gak perlu ikut campur!" Tegas Raka, Lalu ia beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Raka tahu, dirinya sangat keterlaluan karena sudah membentak Ibu kandungnya sendiri. Raka membasuh wajahnya untuk meredam emosi tang hinggap di hatinya saat ini.
Bila saja nyonya Amara tidak menyebut nama Queen, mungkin Raka tidak akan emosi seperti ini.
Raka sangat takut bila Queen menjauh dari dirinya. Sudah payah ia membangun kepercayaan Queen dan mendapatkan cinta gadis itu. Ia takut Queen akan pergi seperti kebanyakan gadis yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya. Tentu saja itu semua ulah nyonya Amara. Karena, hanya nyonya Amara lah yang mampu membuat para gadis mundur dari hidup Raka.
__ADS_1
Raka tidak ingin di atur lagi, sudah cukup ia mengabdi kepada Ibunya. Bersabar mengikuti apa mau Ibunya. Tetapi, tidak dengan Queen. Raka benar-benar ingin hidup dengan Queen. Tidak dengan wanita mana pun, termasuk Ibu dari anak kandungnya sendiri.
"Kurang ajar Lala ini!" Umpat nya sambil mendengus kesal.