
"Halo apa kabar jeung Farah...." Sapa nyonya Amara seraya mencium pipi kiri dan kanan Bunda Farah.
"Baik, silahkan duduk.." Bunda mempersilahkan nyonya Amara untuk bergabung dengan dirinya dan tante Nia.
Hari ini teman Bunda yang datang hanya tante Nia saja, selebihnya tante Rara dan tante Naya, tidak datang. Karena tante Naya sedang sakit dan tante Rara pun sudah pindah ke luar kota dan tidak bisa datang karena baru saja kehilangan suami nya yang berpulang ke pangkuan Ilahi pada minggu lalu.
"Kok cuma berdua?" Tanya nyonya Amara seraya beranjak duduk di samping Bunda Farah.
"Iya, yang lain nya tidak bisa datang," Sahut Bunda Farah.
"Oh begitu. Oh iya, apa kabar jeung Nia..?"
"Baik," Sahut tante Nia seraya tersenyum kepada nyonya Amara.
"Oh iya, nyonya Amara ini Ibunya teman anak saya ya?" Ucap Bunda tanpa berbasa basi sebelumnya.
Nyonya Amara sempat terkejut saat Bunda mengetahui siapa dirinya. Ia terlihat grogi dan menundukkan pandangan nya. Ia tidak menyangka bila Bunda Farah termasuk orang yang tidak banyak basa basi dan langsung kepada intinya saja.
"Te-Teman anak nya jeung Farah? Siapa ya?" Tanya nyonya Amara, berpura-pura polos.
"Anak saya Queen. Anak nya jeung Amara, Raka kan?"
Nyonya Amara kembali terdiam. Ia tidak menyangka bila Bunda juga mencari informasi tentang dirinya. Yang nyonya Amara lupa adalah, siapa suami dan siapa Bunda Farah sebenarnya. Mencari informasi tentang siapa pun sangat mudah bagi keluarga Bunda Farah.
"Ah... iya, anak saya Raka namanya. Saya tidak menyangka ya, bila anak kita juga berteman." Nyonya Amara terlihat gugup.
Bunda Farah tersenyum dan menoleh kepada karyawannya dan melambaikan tangannya.
Seorang karyawan di cafe milik Bunda pun menghampiri mereka. Bunda pun meminta karyawan nya membawakan buku menu untuk kedua teman semeja nya.
Setelah tante Nia dan nyonya Amara memesan makanan dan minuman. Karyawan Bunda Farah pun bergegas untuk memberitahukan kepada koki dapur dan barista untuk membuat pesanan mereka.
"Jadi, jeung Farah kok tahu bila saya Ibunya Raka?" Tanya nyonya Amara yang masih terlihat salah tingkah.
"Ah... iya, sebenarnya saya sudah bertemu dengan Raka. Karena dia merupakan teman dari anak saya, saya mencari tahu asal usul Raka dan keluarga nya. Bukankah itu tidak masalah? Soalnya itu semua menyangkut keselamatan anak saya. Saya harus mengerti latar belakang siapa saja yang sedang dekat dengan anak saya." Tegas Bunda.
Nyonya Amara tersenyum ragu, lalu ia mengangguk dengan perlahan.
"Hmmm, tidak diragukan lagi, betapa cerdasnya wanita ini," Batin nyonya Amara seraya menatap Bunda Farah dengan seksama.
"Tetapi, saya tidak bermaksud apa-apa kok Jeung, pertemuan kita juga tidak disengaja."
"Hmmmm, ya... tidak masalah Jeung... apa salahnya bila kita juga berteman," Sahut Bunda Farah seraya tersenyum dengan wajah yang bersahabat.
Nyonya Amara pun menghela nafas lega. Awalnya dia takut bila Bunda Farah akan marah setelah mencium maksud dari dirinya mendekatkan diri kepada Bunda Farah. Tetapi, ternyata Bunda Farah tidak marah. Tentu saja itu semua membuat nyonya Amara merasa malu, sekaligus kagum kepada Bunda Farah yang tidak selalu mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting.
Cerminan orang tua yang tegas dan tidak membesar-besarkan hal kecil sudah membuat nyonya Amara paham dengan karakter Queen yang tentunya tidak akan jauh dari karakter Bunda Farah. Ia pun semakin bersemangat untuk berbesan dengan Bunda Farah.
...
"Hmmm... Raka.."
"Ya?" Sahut Raka seraya menggenggam tangan Queen saat mereka makan siang bersama di sebuah restoran disela kesibukan mereka di kantor pada hari Senin ini.
"Hmmm...."
"Kenapa Queen?" Tanya Raka penasaran. Mereka masih saling memanggil nama. Belum ada panggilan sayang untuk masing-masing dari mereka. Karena hubungan mereka yang masih terbilang baru hitungan hari, jadi mereka masih pada masa penyesuaian dalam sebuah hubungan.
"Hmmm.. gimana ya ngomong nya," Ucap Queen dengan ragu-ragu.
"Ngomong saja, tidak apa-apa. Kenapa sih?"
"Yakin?"
__ADS_1
"Yakin lah, ada apa? Asal kamu jangan meminta hubungan kita berakhir saja," Raka langsung mewanti-wanti dengan apa yang kemungkinan akan dia dengar.
"Hmmm, bukan, bukan itu,"
"Terus?" Raka menatap Queen dengan seksama.
"Hmmm, anu... hmmm..."
"Queen, ada apa?" Raka menggenggam erat tangan Queen untuk memastikan gadis itu agar segera mengungkapkan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
"Raka, Ayah ku meminta kamu datang kerumah ku. Bila kamu tidak datang hari ini atau maksimal besok, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi."
Raka mengerutkan keningnya dan menatap Queen dengan tatapan bingung.
"Kenapa begitu?"
"I-i-iya... mereka mau kenal dengan orang yang sedang dekat dengan ku dan.... bila ingin mengajak ku jalan, kamu harus menjemput aku dirumah. Tidak boleh tanpa seizin mereka." Terang Queen.
Raka mengulum senyumnya dan menundukkan pandangan nya.
"Kok senyum-senyum sih?" Tanya Queen dengan wajah yang terlihat risau.
"Lah, dari kemarin kan aku mau langsung ke rumah mu kan? Yang tidak memperbolehkan siapa?"
"Aku sih," Sahut Queen dengan menekuk wajahnya.
"Benar kan, apa kata ku? Aku harus mengantar dan menjemput wanita itu dari dan di depan pintu rumah nya."
"Maaf, kemarin aku hanya...."
"Tidak apa-apa," Potong Raka.
"Maksudnya?" Tanya Queen yang menatap Raka dengan seksama serta mulut yang ternganga.
"Aku siap mendatangi rumah mu, aku siap memenuhi segala syarat yang di minta oleh orangtuamu. Tidak ada masalah bagiku. Memang seharusnya seperti itu," Pungkas Raka.
"Masih manusia kan?" Tanya Raka seraya menatap Queen dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
Mata Queen membulat, ia tidak percaya bila Raka tidak peduli dengan segala kemungkinan yang akan terjadi bila Raka bertemu dengan Ayah Andra.
"Aku hanya takut, masalahnya.. bila Ayah tidak suka dengan seseorang, bisa jadi hubungan kita akan berakhir," Ucap Queen.
"Tidak, tidak akan berakhir kalau kita tidak mengakhirinya Queen," Tegas Raka.
"Tapi Raka..."
"Percayalah kepadaku." Ucap Raka seraya menepuk punggung tangan Queen dengan lembut.
"Kamu yakin?" Tanya Queen sekali lagi.
"Ya.." Sahut Raka seraya melanjutkan santap siang nya.
"Yakin?" Tanya Queen sekali lagi dengan wajah yang gelisah.
"Iya... yakin seratus persen." Tegas Raka.
Queen menelan salivanya dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi di restoran itu.
"Baiklah, tetapi ada satu permintaan ku," Ucap Queen seraya menatap Raka lekat-lekat.
"Apa?" Raka kembali menghentikan santap siang nya. Ia menaruh sendok dan garpu nya di atas piring, seraya kembali menatap Queen dengan wajah yang terlihat serius.
"Jangan bilang kita sudah pacaran."
__ADS_1
Raka terdiam sejenak, lalu ia menghela nafas dalam-dalam.
"Bilang saja kita sedang pendekatan. Aku takut bila..."
"Ok ok, aku paham. Kamu sudah pernah menjelaskan nya kepadaku. Kamu takut kalau ternyata aku bukan orang yang tepat atau hanya singgah saja? Kamu malu dengan keluarga mu. Begitu?" Potong Raka.
Queen menghela nafas dan terdiam seraya menundukkan wajahnya.
"Queen, mau aku kamu akui hanya teman atau hanya sekedar kenalan, tidak masalah. Yang terpenting, siapa yang akan bersanding dengan mu di pelaminan nanti," Tegas Raka.
"Siapa?" Tanya Queen berpura-pura tidak paham.
"Ya aku lah," Sahut Raka dengan wajah yang tampak begitu yakin.
Queen membuang pandangannya, diam-diam ia mengulum senyum nya.
"Gitu ya?"
"Iya lah," Sahut Raka seraya menyendok kan makanan nya dan memasukkan nya ke dalam mulutnya. Lalu, ia menatap Queen terpaku sambil mengunyah makanan nya.
"Kenapa?" Tanya Raka seraya mencolek tangan Queen yang pipinya mulai memerah.
"Tidak apa-apa," Sahut Queen.
"Apa besok atau malam ini mau langsung ku lamar?"
"Eh, jangan! jangan!" Ucap Queen seraya mengangkat kedua tangan nya.
Raka terkekeh melihat ekspresi Queen yang begitu takut akan segera dilamar oleh dirinya.
"Kenapa sih? Masih belum yakin dengan ku?" Tanya Raka.
"Bu-bukan begitu. Orangtuaku kan sedang sibuk mempersiapkan pernikahan Athar. Ini bukan waktu yang tepat," Terang Queen.
Raka tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia paham sekali bila Queen belum seratus persen percaya dengan hubungan mereka ini, yang baru seumur jagung.
"Jadi, kapan aku bisa datang? Malam ini?" Tanya Raka lagi.
"Ja-ja-jangan malam ini..."
"Terus? Besok?"
"I-i-iya boleh.. Biar aku bilang dulu dengan orangtuaku ya," Ucap Queen dengan wajah yang terlihat memohon.
Raka tersenyum dan mengusap pipi Queen dengan lembut.
"Baiklah, persiapkan dirimu." Ucap Raka.
"Kok aku?" Tanya Queen dengan mengerutkan keningnya.
"Ya aku sih santai saja, yang gak santai itu kamu. Jadi yang harus mempersiapkan mental itu justru kamu," Terang Raka.
Queen terdiam dan menatap Raka dengan tatapan tak percaya.
"Kamu gak grogi atau gimana gitu? Tidak sama sekali?" Tanya Queen penasaran.
Raka menggelengkan kepalanya dan tersenyum dengan manis.
"Bagaimana bisa?" Tanya Queen lagi.
"Aku datang dengan niat baik, untuk apa aku takut? Yang harus aku takuti itu adalah, kalau aku niat untuk bermain-main denganmu dan datang seakan aku serius denganmu." Pungkas Raka.
Queen kembali terdiam, apa yang dikatakan Raka memang benar. Tampaknya lelaki ini tidak sedang bermain-main dengan apa saja yang menjadi tujuan nya. Itulah Raka, ia bersikap dengan santai dalam situasi apa pun itu. Bila apa yang harus dihadapi, maka dia akan hadapi dengan yang sesuai dengan tujuan dan maksud hatinya.
__ADS_1
"Ok, kita lihat besok," Ucap Queen dengan nada menantang kepada Raka.
"Ok, siapa takut," Sahut Raka seraya mengedipkan sebelah matanya kepada Queen.