
Deru langkah kaki menggema di lorong kantor polisi. Terlihat beberapa orang polisi memberikan hormat kepada lelaki paruh baya yang datang dengan wajah yang tanpa senyuman. Disamping lelaki itu terlihat seorang wanita paruh baya yang tampak menangis dan terlihat khawatir.
Mereka adalah Ayah dan Bunda Queen. Yang langsung menuju ke lokasi dimana Antoni di tahan saat ini dan juga Queen berada bersama Raka.
Selang beberapa detik kemudian, terlihat Bapak Gunawan, Ayah kandung Queen yang datang bersama para ajudan nya. Ayah pun menghentikan langkahnya dan memberikan hormat kepada Bapak Gunawan. Karena pada awalnya, Bapak Gunawan adalah atasan Ayah sambung Queen yang menikahi Bunda. Jadi, mereka sudah kenal dengan baik dan terlebih kini bagaikan saudara sendiri.
"Apa kabar Pak?" Ucap Ayah kepada Bapak Gunawan dan menjabat tangan nya.
"Alhamdulillah, baik. Queen mana?" Tanya Bapak Gunawan.
"Saya juga baru datang, mari Pak, kita ke ruang BAP," Ucap Ayah sambil berjalan di samping Bapak Gunawan. Sedangkan Bunda terlihat sangat marah dan terus menangis.
Setengah berlari, Bunda memasuki ruang BAP dan menghampiri Queen yang sedang duduk di samping Raka yang terus menggenggam tangannya.
"Queen!" Bunda terlihat histeris begitu melihat putrinya itu.
"Bunda..." Queen beranjak dari duduknya dan memeluk Bunda dengan erat. Anak dan Ibu tersebut pun menangis di dalam pelukan.
"Kamu baik-baik saja kan nak? Apa yang terjadi?" Tanya Bunda yang tampak geram dengan Antoni yang sedang di interogasi dan duduk di sudut ruangan.
"Gak apa-apa Bun, Hal itu tidak terjadi. Hanya saja...., Queen merasa kotor, Queen merasa trauma, karena dia," Ucap Queen sambil menangis.
"Bun, Ayah... Ayah Gunawan, maafkan Antoni.." Antoni berlutut di depan ketiga orang tua Queen.
Ayah Gunawan dan Ayah terlihat geram dan emosi.
"Bangun kau brengsek!" Ucap Ayah sambil menarik kerah kemeja Antoni yang sedang berlutut.
"Andra.. sudah, kita bawa dia ke ruangan lain," Ucap Ayah Gunawan.
Ayah Andra mengurungkan niat nya untuk mendaratkan pukulan di wajah Antoni. Lalu, beberapa petugas membantu Antoni untuk berdiri dan hendak membawanya ke sebuah ruangan khusu untuk di interogasi Ayah Andra dan Ayah Gunawan.
Tamat lah riwayat Antoni. Dia lupa bila orang tua Queen bukan lah orang biasa. Ayah Gunawan, Ayah kandung Queen itu adalah seorang pejabat yang juga mantan militer. Ayah Gunawan juga termasuk orang terkaya di negara ini.
Sedangkan Ayah Andra adalah seorang militer yang memiliki jabatan tinggi. Dia juga mantan ajudan yang sempat terpilih mendampingi Ayah Gunawan saat masih muda.
__ADS_1
Menjadi seorang ajudan, itu tidak main-main. Hanya prajurit terpilih lah yang bisa mendampingi para pejabat dan juga Presiden.
Mendadak Antoni benar-benar ketakutan. Ia menyadari, berurusan hukum dengan Queen adalah sama dengan membuat diri dan karir nya akan hancur. Dia akan menerima pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Antoni pun mulai menyesali semua perbuatannya dan tentu saja ia merasa sangat bodoh.
"Anak saya mau dibawa kemana Pak?" Tiba-tiba saja, Ibunya Antoni terlihat panik dan memeluk Antoni untuk menahan putranya itu tidak di bawa ke lain ruangan.
Lalu, Ibunya Antoni pun melihat orang-orang yang ada di ruangan itu. Sontak saja ia terkejut melihat Queen dan keluarganya yang juga berada disana.
"Ada apa ini Antoni?" Tanya Ibunya dengan wajah yang bingung.
Bunda berdiri dari duduk nya dan menghampiri Ibunya Antoni. Dengan wajah yang penuh amarah, ia menatap wanita yang pernah menjadi calon besan nya itu.
"Anak anda melakukan percobaan rudapaksa kepada anak ku. Anda lihat akibat dari keegoisan orang tua?" Bunda menunjuk Antoni yang terlihat berantakan.
"Dia tidak waras, menghalalkan segala cara untuk mencelakakan anak saya. Anda tahu, ini anak saya, saya tidak akan melepaskan orang yang sudah mengusik keluarga saya!" Tegas Bunda.
"Tidak mungkin, mungkin anak mu yang mengejar-ngejar anak saya lagi. Hingga dia tergoda dan menjebak anak saya, seakan-akan dia diperkosa agar di nikahi. Sadarlah Queen, Antoni sudah memiliki anak dan istri!"
Bunda membulatkan matanya dan terlihat semakin emosi.
Ibunya Antoni menatap Raka yang sedang duduk bersama dengan Queen yang sedang menangis karena di tuduh macam-macam oleh Ibunya Antoni.
"Katakan Antoni, bila semuanya tidak benar!"
"Itu semua benar!"
Semua mata menoleh menatap Tasya yang datang sambil menggendong putranya.
Terlihat Ibunya Antoni terperangah saat Tasya membenarkan apa yang di tuduhkan kepada suaminya sendiri.
"Gila kamu Tasya?"
"Bu, saya saksi mata bila mana Antoni selalu membuntuti Queen. Saya juga menyaksikan Antoni memaksa mencium Queen, dia selalu memaksa Queen untuk kembali kepadanya. Queen jelas menolak, karena dia gadis baik-baik. Justru, aku pernah memergoki Antoni di ruangan Queen, menerobos masuk dan meminta kembali dan itu di depan saya. Cukup sudah semuanya, saya sudah tidak tahan lagi menjadi istri dari seorang psikopat ini!" Terang Tasya panjang lebar.
"Tasya! Apa-apaan kamu! Itu suami mu sendiri! Apa kamu tidak mau membelanya?"
__ADS_1
"Membela? Membela laki-laki yang selama lima tahun hanya menganggap aku patung? Tidak mau belajar mencintai aku, mendiamkan ku tanpa alasan. Membicarakan baik nya wanita lain kepada ku. Ibu tahu, tekanan yang aku hadapi? Bila ada tuduhan seperti ini, aku yakin seyakin-yakinnya bila Queen tidak mengada-ada. Bila Bapak-bapak semua ingin tahu kebenaran nya, di depan butik milik Queen ada CCTV. Antoni kerap mengawasi Queen di depan sana."
Semua orang terperangah mendengar kata-kata Tasya.
"Satu lagi, asal Ibu tahu, aku menemukan ini di laci meja kerja Antoni. Ibu bisa lihat sendiri yang tertulis di kertas ini. Gara-gara Ibu memaksa dia menikahi aku dan menjauh dari orang yang dia cintai, jiwanya terganggu!"
Tasya menyerahkan selembar kertas dengan blanko dari sebuah rumah sakit dan di tanda tangani oleh seorang psikiater.
Ibunya Antoni terbelalak saat membaca kertas yang ia pegang. Mendadak air mata mengalir di pipinya. Ia menatap Antoni yang meringkuk di sudut ruangan. Dari hidung Antoni terlihat darah yang sudah mulai mengering. Matanya lebam dan bibirnya pecah. Tentu saja itu ulah dari Raka.
Ibunya Antoni tidak lagi mempermasalahkan mengapa anaknya babak belur, ia hanya menyesali, ternyata perpisahan dengan Queen lah yang menjadi anak nya mengalami gangguan kejiwaan.
Memang, gangguan kejiwaan yang dialami Antoni termasuk ringan. Lelaki itu bisa tampak normal. Tetapi, bila ia bertemu atau melihat sesuatu yang mengingatkan dirinya kepada Queen, emosi dan hasrat nya pun tak terkendali. Semua itu disebabkan karena tekanan yang luar biasa dari orang tua, yang membuat dia harus kehilangan wanita yang paling berharga di hidupnya.
Tasya sendiri sudah mengetahuinya sejak awal menikah. Itulah yang membuat Tasya berusaha sabar, ia ingin Antoni sembuh dan mencintai dirinya. Ia juga iba dengan lelaki itu. Siapa sangka, pertemuan kembali dengan Queen, membuat Antoni kambuh. Itu juga lah alasan Tasya tidak sama sekali menyalahkan Queen. Karena dia sangat memahami suaminya sendiri.
"Bu, maaf, saya akan menggugat cerai Antoni." Tegas Tasya.
"Tasya jangan tinggalkan Antoni!"
"Maaf, apa yang dia lakukan kali ini sangat tidak beradab. Saya tidak bisa menerimanya." Pungkas Tasya, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Sedangkan tatapan Ibunya Antoni mulai nanar, dia merasa malu dengan kenyataan. Merasa bersalah dan merasa tidak punya muka dengan keluarga Queen. Selama ini dia bisa menyombongkan dirinya, tetapi kali ini roda berputar. Langit pun terasa lebih tinggi baginya.
Brugggg...!
Tubuh yang mulai renta itu pun ambruk. Antoni mengigil, ia terlihat panik. Sedangkan beberapa petugas membantu membopong tubuh Ibunya Antoni ke atas sofa.
Bapak Antoni mencoba berbicara dengan rendah hati kepada kedua Ayah Queen. Memohon kebaikan hati, yang dia sendiri tidak pernah berikan kepada Queen yang pernah memohon kebaikan hati mereka.
Ah, hidup... kisah nya begitu misterius. Terkadang ada masanya, siapa yang menyakiti, dia akan tersakiti. Siapa yang bersabar, dia akan menemukan kebahagiaan.
Itulah, mengapa angkuh dan menyakiti sangat dilarang. Bila masih bisa berbuat baik dan bertoleransi, lakukanlah. Tidak ada ruginya, tidak ada salahnya. Karena roda berputar, sikap menentukan nasib.
Bersabarlah orang-orang baik...
__ADS_1