365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
83# Karena kamu tidak mau berjuang


__ADS_3

"Pagi!"


"Pagi Pak.."


Semua karyawan melihat Raka yang berjalan tergesa-gesa menuju ke kantornya.


"Boss..!" Panggil Mirna yang berlari kecil dengan sepatu hak tingginya menghampiri Raka.


Raka terus berjalan menuju ruangan nya tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.


"Duh Boss! Tungguin dong..!" Keluh Mirna yang mengikuti Raka menerobos ruangan lelaki itu.


Raka langsung menuju ke kursinya dan membuka laci meja kerjanya.


"Boss, peresmian apartemen Boss gimana? Tinggal satu minggu lagi loh. Itu juga, masalah Restoran yang ada di Bali, Pihak mebel nya sudah di confirm untuk datang lusa." Keluh Mirna seraya cemberut manja di depan Raka.


"Batalkan, tunggu hingga saya pulang. Masalah mebel, kan sudah ada bagian nya sendiri. Itu bukan urusan saya lagi. Kamu bisa konfirmasi sama Pak Adipati, bagian perencanaan. Saya pergi karena urusan mendesak! Menyangkut masa depan saya."


Mirna mengerutkan dagunya.


"Masa depan?"


"Iya, gak usah banyak tanya. Buruan cari tiket, apa sudah dapat?" Tanya Raka seraya melirik Mirna yang berdiri di samping meja kerjanya.


"Kan masa depan Bapak sama saya," Ucap Mirna seraya tersenyum malu-malu.


Raka mengangkat sebelah alisnya dan menatap Mirna dengan seksama.


"Saya yakin, masa depan mu lebih cerah walaupun tidak bersama dengan saya. Secerah lipstik mu itu," Ucap Raka yang kembali sibuk mengemaskan apa yang ia perlukan dari dalam laci meja kerjanya.


"Ih Bapak mah gitu..." Mirna menatap Raka seraya menekuk wajahnya.


"Sudah sana Mir! Tiket cepat tiket! Kalau gak ketemu hari ini ya besok. Cepat!" Raka yang kalut dan merasa bosan dengan Mirna yang bersikap manja kepada dirinya pun mengusir Mirna dari ruangan nya.


"Iya, iya...!" Mirna menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan ruangan Raka.


Raka terdiam beberapa saat, lalu ia menggelengkan kepalanya dan menatap Mirna yang meninggalkan ruangan nya dengan tak percaya.


"Dih, kenapa jadi galakan dia?" Gumam Raka seraya menggelengkan kepalanya.


Tok! Tok! Tok!


"Apa lagi Mirna!" Keluh Raka seraya menatap ke arah pintu ruangan nya dengan tatapan yang kesal.


Pintu itu pun terbuka dan terlihat Lala melongok kedalam ruangan itu.


"Hai.." Sapa Lala seraya tersenyum manis kepada Raka.


Raka menghela nafas panjang dan membuang pandangannya ke sudut ruangan itu.

__ADS_1


"Boleh aku masuk?" Tanya nya lagi.


"Apa saja kerja semua orang? Kenapa ada tamu tidak di konfirmasi dulu kepadaku!" Batin Raka yang terlihat kesal saat melihat kehadiran Lala.


"Ya, silahkan." Ucap Raka mau tidak mau mempersilahkan Lala untuk masuk kedalam ruangan nya.


"Terima kasih," Lala melangkah masuk dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Lalu, ia menghampiri Raka yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Aku kangen." Ucap Lala yang terlihat sangat manis hari ini. Ia menggunakan dress berwarna Lilac dengan potongan dada yang rendah. Serta sepatu dan aksesoris yang elegan. Rambutnya ia biarkan tergerai dan tampak baru saja di blow agar bervolume. Riasan wajahnya yang tampak segar membuat Raka terpana sejenak.


Terpana bukan karena Raka terpesona, melainkan dirinya merasa heran dengan Lala yang tidak terlihat sedang berduka atau baru saja kehilangan anak yang selama ini ia rawat. Begitu kah seorang Ibu?


"Aku sedang sibuk, apa yang kamu inginkan. Katakan saja," Tegas Raka seraya kembali mencari beberapa dokumen dari dalam laci meja kerjanya.


"Ya, aku kangen. Itu keperluan ku kesini," Ucap Lala seraya mengusap punggung tangan Raka.


Raka menarik tangan nya saat merasa punggung tangan nya di usap oleh Lala. Lalu, ia menatap Lala dengan tatapan tak percaya.


"Oh iya, acara berdoa untuk Jonathan akan segera di gelar."


"Ok, beri aku nomor rekening mu, aku akan menyumbang. Aku sudah mengadakan doa bersama saat malam Jonathan baru dimakamkan. Hari ini juga ada doa bersama dirumah. Tetapi Ibu yang menghandle nya." Ucap Raka dengan nada suara yang datar.


Setelah mengumpulkan beberapa dokumen yang ia butuhkan, Raka bun beranjak berdiri dari duduknya dan memasukan semua dokumen itu kedalam tas nya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Lala dengan wajah yang kecewa.


"Kemana?" Rengek Lala yang berusaha untuk manja kepada Raka, persis seperti masa indah dirinya dengan Raka dahulu.


Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap dengan ekspresi datar kepada Lala.


"Raka, bisakah kita bersama seperti dulu. Aku yakin, Jonathan akan bahagia sekali di surga, melihat Papi dan Maminya bersatu."


Raka mengerutkan keningnya dan menatap Lala dengan tak percaya.


"Apa?"


"Iya kita kembali bersatu. Ibu mu sudah merestui kita kok Raka. Jadi, kita....."


"La, mohon maaf sebelumnya. Aku dan kamu hanya masa lalu. Tidak akan bisa menjadi masa depan." Pungkas Raka.


Lala tercengang, kedua matanya membulat menatap Raka.


"Apa kamu tidak mencintai aku lagi?"


Raka menghela nafas panjang dan menatap Lala dengan seksama.


"Lala, aku sibuk. Aku akan pergi, bila kamu mau tetap disini, silahkan saja. Aku pergi dulu ya.." Ucap Raka seraya meraih tas nya dan melangkah menuju ruangan itu.


"Raka! Apa karena dia?"

__ADS_1


Raka menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Lala.


Raka melangkah mendekati Lala dan menatap wanita itu dengan tajam.


"Bukan karena dia. Kamu dan aku sudah lama berakhir. Aku sudah sempat memiliki hubungan dengan banyak wanita. Berakhirnya hubungan kita, karena kamu tidak mau berjuang bersama dengan ku. Kamu lebih memilih untuk bersama dengan Max. Jangan salahkan siapa-siapa bila nyatanya kamulah yang memilih untuk berselingkuh dariku. Kapan kamu mau menyadari bila kesalahan bukan hanya dari pihak ku saja? Tetapi, andil terbesar dalam berakhirnya hubungan kita adalah dirimu sendiri."


Raka beranjak dari hadapan Lala yang terkejut dengan apa yang raka ucapkan. Wajah Lala memerah, tubuhnya terasa gemetar, serta nafasnya terasa sesak. Ia hanya mampu menatap punggung lelaki bertubuh atletis itu meninggalkan ruangan itu.


"Raka....." Gumam nya seraya meremas dress nya.


...


"Pak!"


Panggil Mirna seraya menghampiri Raka yang berdiri di depan lift.


"Ya?"


"Tiket nya dapat. Besok pagi pukul enam."


"Good job Mir.. Gaji mu naik mulai bulan depan."


Mirna menatap Raka dengan wajah semringah.


"Serius Pak?"


Raka tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Ya Allah Bapakkkkkk...!" Mirna menghampiri Raka dan hendak memeluk nya.


"Eh, kalau kamu memeluk saya, gaji mu tidak jadi naik." Tegas Raka.


Mirna mengurungkan niatnya untuk memeluk Raka. Ia hanya tersenyum dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga nya.


"Bapak mah, sudah ganteng, jual mahal lagi."


"Bukan muhrim!" Ucap Raka dengan ketus seraya memasuki lift yang baru saja pintu nya terbuka.


Mirna tersenyum renyah. Ia melambaikan tangan nya ke arah Raka.


"Have a nice day Boss!"


"Thanks," Sahut Raka seraya membalas senyuman Mirna dan menekan tombol lift tersebut.


Raka tersenyum sendiri di dalam lift. Besok, ia akan terbang ke Maldives dan mencari gadis pujaan nya yang sedang menyendiri. Kali ini, ia tidak akan melepaskan Queen. Ia ingin meyakinkan bila dirinya benar-benar serius dengan Queen dan ingin memperistri Queen tanpa ada halangan apa pun.


Raka juga terus berdoa di setiap ia selesai beribadah. Ia memohon kepada Tuhan, bila menjodohkan dirinya dengan Queen. Gadis yang sangat sulit di gapai, walaupun ia tahu, Queen memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


"Semoga kita bertemu." Gumam nya seraya mengingat senyum manis Queen yang membuat hari-hari nya terasa begitu bewarna.

__ADS_1


__ADS_2