
Queen berjalan meninggalkan kantor polisi ke arah parkiran mobil bersama dengan Raka. Sedangkan dibelakang mereka Bunda menyusul dengan berjalan sambil mengamati Queen dan lelaki yang belum sekalipun dikenalkan oleh Queen. Sedangkan kedua Ayah Queen masih bertahan di kantor polisi itu, untuk mengikuti introgasi terhadap Antoni.
"Benar kamu tidak apa-apa?" Tanya Raka sambil merangkul bahu Queen dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Sekarang aku mau pulang dulu ya, aku mau istirahat." Ucap Queen sambil melepaskan Jas Raka yang Raka pinjamkan untuk menutupi gaun Queen yang sobek di bagian bahu nya.
"Ok, aku antar ya.."
"Ehem...!" Bunda mendaham, karena Queen dan Raka yang tidak menyadari dirinya berada di belakang mereka.
"Bun... maaf.. Hmmm, kenalkan ini Raka," Ucap Queen yang terlihat salah tingkah saat menoleh kebelakang dan menatap Bundanya yang tersenyum sendiri.
"Oh, namanya Raka. Dari tadi Bunda gak dikenalin sih?" Sindir Bunda.
"Maaf Bun, nama saya Raka. Senang berkenalan dengan Bunda. Maaf, saya tadi belum sempat memperkenalkan diri," Ucap Raka dengan sopan.
"Tidak apa-apa, Bunda paham situasinya."
"Maaf ya Bun, saya jadi merasa tidak enak."
"No problem lah," Ucap Bunda sambil tersenyum ramah.
"Bun, saya antarkan pulang ya."
"Tidak usah, Bunda dan Queen akan di antar oleh ajudan nya Ayah Andra. Terima kasih ya," Bunda menolak dengan halus.
"Hmmm... baik lah Bun," Ucap Raka yang terlihat salah tingkah.
"Queen, besok kamu harus menemui psikolog. Ayo kita pulang," Ucap Bunda sambil beranjak masuk kedalam mobil yang sudah siap untuk membawa dirinya dan Queen, pulang ke rumah.
"Iya Bun."
"Hmmmm, Raka... kita ketemu besok ya. Banyak hal yang mau aku ceritakan sama kamu dan tentunya aku ingin mentraktir kamu makan siang. Sebagai tanda terima kasih ku, karena bantuan kamu, aku selamat dari tragedi ini," Ucap Queen.
"Baik, ada yang mau aku ceritakan juga besok. Aku pasti akan datang dan tidak akan terlambat. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Aku takut, akan ada Antoni Antoni lain yang terobsesi dengan kamu dan menculik mu," Ucap Raka dengan wajah yang terlihat kesal dengan kelakuan Antoni pada malam ini.
"Ok, besok aku kabari. Mungkin, setelah aku pulang dari psikiater."
"Ok, good night Queen,"
"Good night Raka," Ucap Queen sambil tersenyum dan beranjak masuk kedalam mobil milik Ayah Andra.
__ADS_1
Raka melambaikan tangan nya sambil tersenyum kearah Queen yang membuka jendela mobilnya saat mobil itu bergerak meninggalkan halaman parkir kantor polisi itu.
Setelah mobil yang di tumpangi Queen berlalu, Raka menghela nafas panjang. Ia tidak habis pikir dengan mantan kekasih Queen yang begitu terobsesi dengan Queen.
Seperti apa sebenarnya Queen? Mengapa lelaki itu sangat mencintai Queen? Pesona Queen jelas seperti bintang bersinar. Tetapi, bukankah kecantikan bisa saja menipu?
Raka mengambil kesimpulan bila Queen memanglah wanita yang perfect. Wanita mahal dan wanita yang baik. Semua itu terlihat dari sikap Queen selama ini dan cara Antoni mencintai gadis itu.
"Dahsyat sekali wanita ini..." Gumam nya. Raka menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Ia semakin penasaran dengan Queen yang membuat seorang lelaki setampan Antoni bisa gila karenanya.
"Apa nanti setelah gue mengenal dia lebih dalam lagi, gue akan bernasib sama dengan Antoni. Oh no...! Dari pada gila seperti itu, lebih baik buru-buru dinikahi." Gumam nya sambil tersenyum sendiri dan beranjak masuk kedalam mobilnya.
...
"Dia pacar kamu?" Tanya Bunda memecahkan keheningan antara dirinya dan Queen saat berada di dalam mobik yang melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah mereka.
"Bukan Bun, hanya teman," Ucap Queen.
"Lalu, menurut pengakuan nya. Kamu memberikan dirinya lokasi kamu saat kamu terdesak. Mengapa kamu tidak meminta pertolongan kepada Ayah? Apa namanya kalau memang tidak spesial?"
Queen terbatuk saat mendengar pertanyaan dari Bunda. Hingga ia meraih botol air mineral yang terletak di kantung kursi belakang kemudi dan meminum nya hingga habis.
"Enggak kok Bun, suer hanya teman biasa. Dekat sih baru mau dekat. Tapi, kalau pacaran kayak nya nanti dulu," Jelas Queen.
"Oh, begitu..." Bunda mengangguk paham.
"Oh iya, kamu tidak apa-apa kan, benar tidak terjadi hal itu? Kalau terjadi hal itu, biar Bunda bunuh dia pakai tangan Bunda sendiri!" Ucap Bunda dengan wajah yang berubah emosi.
"Bun, tidak sempat terjadi. Beruntung Raka orang nya pintar. Dia langsung menghubungi teman nya dan teman nya itu langsung membawa polisi ke rumah tempat Queen di bawa oleh Antoni," Terang Queen.
"Serius?"
"Iya Bunda..."
"Bunda takut Queen... Bunda juga lega dan sangat berterima kasih dengan Raka. Kalau kamu jumpa dengan dia lagi, sampaikan ucapan terima kasih dari Bunda ya."
"Iya Bun..."
"Tapi beneran kan Queen... kamu tidak sempat...."
"Bun... apa untungnya Queen berbohong?" Tanya Queen.
__ADS_1
Bunda langsung memeluk Queen dengan erat. Ia benar-benar cemas dengan putrinya itu.
Sebagai seorang wanita, kehormatan dan kesucian itu adalah hal yang paling berharga, sekaligus pembuktian kepada suami, kelak bila menikah. Bila selama sendiri, wanita bisa menahan hasrat dan keinginan nya. Bertahan adalah harga diri yang sangat tinggi. Dengan begitu, suami akan sangat menghargai diri kita sebagai wanita.
Sebenarnya Bunda trauma, masa kelam nya yang tidak di hargai oleh pasangan atau pun suami, membuat dirinya sangat khawatir dengan Queen. Ia tidak ingin hal yang sama terulang kepada anak gadis nya itu. Terutama, hal itu bukan ingin Queen sendiri, melainkan di rampas secara paksa. Beruntung Queen bisa selamat berkat Raka. Bunda pun dapat bernafas lega.
Mengingat Raka, Bunda menjadi tertarik dengan pria itu. Dimatanya, Raka adalah sosok sempurna dan bisa diandalkan. Walaupun dirinya baru satu kali bertemu dengan pemuda itu.
Diam-diam, Bunda berdoa dan berharap bila Raka adalah jodoh putrinya. Entah mengapa hati Bunda merasa nyaman dengan lelaki itu, yang Queen akui hanya sebatas teman saja.
"Sepertinya Raka menyukai kamu Queen." Celetuk Bunda.
Queen menoleh dan menatap Bunda dengan seksama.
"Ya, Queen tahu. Dia yang mengatakan nya sendiri."
"Lalu?" Tanya bunda penasaran.
"Bun, bukan Queen mau jual mahal. Hanya saja, Queen takut bila dia seperti lelaki sebelumnya." Tegas Queen.
Bunda menghela nafasnya dan membalas tatapan Queen.
"Queen, terkadang memang berhati-hati itu perlu. Tetapi, manusia itu berbeda-beda, contohnya Ayah Andra. Lelaki baik itu ada dan nyata. Walaupun orang bilang itu hanya dongeng. Tetapi, orang yang tepat tidak akan membuat itu semua menjadi dongeng."
Queen menundukkan pandangan nya.
"Ya, Queen akan mencoba mengenali dia lebih dalam. Tetapi, belum ingin jatuh cinta. Dia harus berusaha meyakinkan Queen, bila dia pantas dan orang yang tepat. Itu saja," Ucap Queen dengan bijak.
Bunda tersenyum mendengar jawaban Queen. Ia benar-benar merasa bangga karena Queen semakin dewasa.
"Anak Bunda pintar sekali kalau menjawab dengan diplomatis," Ucap Bunda sambil tersenyum dan membelai rambut Queen.
Queen tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu Bunda.
"Bun... malam ini Queen tidur sama Bunda ya.."
"Iya sayang..."
"Terima kasih Bunda.. Queen sayang banget sama Bunda," Ucap Queen sambil melingkarkan tangan nya di pinggang Bunda.
Bunda tersenyum, sekaligus terharu.
__ADS_1