
Queen tersenyum manis saat melihat mobil Raka memasuki halaman hotel miliknya. Ia pun berdiri di depan lobby dan menatap Raka yang baru saja turun dari mobil itu.
"Hai," Sapa Raka sambil menghampiri Queen.
"Hai," Queen membalas sapaan Raka dengan senyuman manis diwajahnya.
"Jadi pergi kan?" Tanya Raka dengan wajah yang terlihat antusias.
Queen mengangguk dengan bersemangat.
Raka pun menuntun tangan Queen dan membukakan pintu mobil untuk Queen. Setelah Queen masuk kedalam mobil milik Raka, Raka pun menutup pintu tersebut dan menyusul masuk kedalam mobilnya.
Sebelum Raka melajukan mobilnya ia menatap Queen yang tampak cantik dengan dress berwarna putih dan rambut yang di ikat kebelakang. Sebuah kaca mata hitam pun terlihat nangkring di puncak kepala Queen.
"Kita berangkat ya," Ucap Raka sambil mengusap pipi Queen.
Queen tersenyum dan mengangguk pelan.
Lalu, mobil yang dikendarai Raka pun meninggalkan hotel tersebut menuju ke arah pantai tujuan mereka.
Kurang lebih 3 jam kemudian, mereka pun sampai di sebuah pantai di ujung pulau jawa. Queen dan Raka pun duduk berdampingan di sebuah pondok di tepi pantai. Queen menatap laut lepas dan menikmati ketenangan di pantai itu.
Raka menatap Queen dari samping gadis itu. Lekuk ukiran wajah Queen begitu sempurna, hingga membuat dirinya tergila-gila kepada gadis itu. Bukan hanya sekedar wajah dan fisik. Raka merasa nyaman dengan Queen, walaupun gadis itu begitu sulit digapai, namun bersikap seolah jinak-jinak merpati.
Queen yang sadar dirinya terus menerus di pandangi oleh Raka pun, menoleh dan membalas tatapan Raka. Walaupun pandangan mereka terhalang oleh kaca mata hitam, tetapi mereka tahu betul bagaimana sorot mata orang yang di samping mereka pada saat ini.
Queen tersenyum kecil, lalu ia kembali menatap laut lepas.
"Bagaimana kabar Jonathan?" Tanya Queen.
"Baik. Doakan semoga hasil test ku cocok dengan Jonathan ya. Agar aku bisa mendonorkan sumsum tulang belakang ku," Ucap Raka.
Queen mengerutkan keningnya dan kembali menatap Raka. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Kamu mendonorkan?" Tanya Queen.
__ADS_1
"Iya," Raka mengangguk pasti dan menatap lautan lepas di depan nya.
Queen menghela nafasnya dan menundukkan wajahnya. Ia merasa khawatir dengan Raka yang mengambil resiko mendonorkan sebagian sumsum tulang belakang nya untuk dicangkokkan ke tulang belakang Jonathan.
"Apakah semua akan baik-baik saja?" Tanya Queen dengan suara yang pelan.
Raka meraih tangan Queen dan menggenggam nya dengan erat.
"Semua akan baik-baik saja, selama kita yakin," Ucap Raka.
Queen kembali menatap Raka. Queen tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seorang Ayah akan melakukan apa saja demi buah hatinya dan itu wajar. Walaupun harus mengorbankan nyawa atau menghadapi resiko terburuk di dalam hidupnya.
Queen menelan salivanya, ia meraih sebutir kelapa yang sejak tadi belum ia sentuh, dan meminumnya untuk mengusir rasa khawatirnya.
"Queen.."
"Ya?" Queen menoleh dan menatap Raka dengan seksama.
"Aku mau bertanya, sebenarnya hubungan kita ini apa?" Tanya Raka berterus-terang.
Queen tampak gelagapan dengan pertanyaan yang dilontarkan Raka. Ia menaruh buah kelapa muda itu di sampingnya dan mulai terlihat gelisah.
Queen menundukkan wajahnya dan menghela nafas panjang.
"Raka, aku sudah bilang, kita jalani saja hingga aku mencintaimu."
"Apa kamu sudah mencintai aku?" Tanya Raka lagi.
Queen kembali gelisah dengan pertanyaan Raka.
"Bila aku sudah yakin, aku akan mengatakan nya dengan terus terang kepadamu," Ucap Queen.
Jawaban Queen begitu terdengar diplomatis di telinga Raka. Hingga lelaki itu tidak bisa banyak bertanya lagi tentang hubungan mereka berdua.
"Jadi sekarang kita nikmati saja pantai yang indah ini," Sambung Queen lagi.
__ADS_1
Raka tersenyum dan menarik tangan Queen dengan lembut.
"Ayo kita ke bibir pantai!" Serunya.
Mereka berdua berlari ke bibir pantai. Mereka tertawa bersama dan berjalan berdampingan menyusuri pantai berpasir putih itu.
Tiba-tiba saja, Raka menghentikan langkahnya dan berdiri dihadapan Queen.
"Queen, aku hanya ingin kamu tahu. Apa pun yang terjadi kedepannya, aku hanya ingin bilang, kalau aku mencintaimu tanpa syarat. Aku sudah jatuh cinta dengan mu, saat kita berjumpa di Mall. Aku sangat mencintaimu terlepas bagaimana pun masa lalu yang pernah kamu dan aku jalani." Ucap Raka.
Queen terdiam, tetapi matanya dari balik kaca mata hitamnya terus menatap Raka.
"Kalau kamu sudah jatuh cinta kepadaku, izinkan aku mempersunting dirimu. Izinkan aku membahagiakan kamu. Izinkan aku membuatmu sama seperti nama mu, yaitu Queen."
Queen masih tidak berkata-kata, ia terus menatap dan mendengarkan kata-kata manis yang terus bergulir dari bibir tipis Raka.
"Queen, aku ingin menjadi Raja mu dalam suka dan duka. Aku ingin kamu menjadi Ratu ku dalam sakit dan sehat. Aku berharap, cinta itu segera hinggap di hati mu. Aku akan berusaha menghapus luka yang pernah kamu rasakan sebelumnya. Aku ingin jadi penawar dari rasa sakit yang pernah kamu jejaki." Raka meraih kedua tangan Queen dan menggenggam nya di bibir pantai itu.
Queen bingung akan bereaksi apa. Hatinya sebenarnya sudah nyaris luluh dengan Raka. Hanya saja untuk mempercayai ucapan Raka sangat sulit baginya yang sudah sering kali terjatuh di lubang percintaan yang ironis.
"Raka, kita kesana yuk," Ucap Queen sambil menunjuk ke sebuah bebatuan karang di ujung pantai itu, untuk mengalihkan pembicaraan.
Raka menghela nafas panjang dan mengangguk dengan perlahan.
"Ayo," Sahutnya sambil menggandeng tangan Queen.
Angin pantai berhembus kencang, deburan ombak terdengar merdu. Suara burung camar terdengar samar di telinga. Keindahan alam itu sangat cocok bagi dua insan yang saling mencinta. Tetapi, bagi mereka yang hanya sebatas teman dekat biasa, terasa begitu menyakitkan. Mereka tidak bisa bermesraan layaknya sepasang kekasih. Memberikan kecupan dan berpelukan erat di bibir pantai. Mengambil potret dengan pose yang romantis hingga lucu. Tidak, Queen dan Raka tidak bisa melakukan itu semua, walaupun mereka berdua menginginkan nya. Queen tetap tegas dengan prinsip-prinsip nya. Ia akan mencintai bila memang sudah saat nya tiba.
Resiko bagi Raka yang sedang mendekati wanita yang berprinsip dan berkelas. Ia harus sabar dan bertahap untuk mendekati gadis impian nya itu. Queen bukan lah gadis sembarangan yang terhanyut dalam panorama dan atmosfer keromantisan. Ia tetap bertahan sekuat hati nya untuk tidak terbuai dalam kata manis dan janji yang belum tentu akan ditepati.
Satu prinsip Queen, ia akan menyerahkan segalanya, termasuk kepercayaan nya saat seorang lelaki sudah berhasil membawanya duduk di pelaminan.
Queen sudah terbukti bersama Antoni. Walaupun dirinya dengan Antoni sering terjebak di dalam keromantisan dua insan yang sedang mabuk kepayang. Tetapi, Queen tetap menjadi nahkoda bagi dirinya sendiri.
Wanita berprinsip akan tetap menjadi wanita mahal dimata semua lelaki. Wanita yang membangun harga dirinya akan selalu di agungkan bagi semua lelaki. Karena pada dasarnya, lelaki adalah makhluk yang paling gampang penasaran. Bila sudah tidak penasaran, apakah lelaki akan selalu duduk bersama dengan seorang gadis kecuali itu istrinya? Tidak ada yang menjamin.
__ADS_1
Sudah seharusnya, seorang lelaki harus membunuh rasa penasarannya dengan sebuah komitmen. Itulah yang Queen mau.
"Seberapa menggoda nya kamu, seberapa manisnya ucapan dan janjimu. Aku tetap yang paling berhak atas tubuhku, hatiku, jiwa ku dan kesucian ku." Batin Queen.