365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
92# India


__ADS_3

Musik khas India, menyambut kedatangan Queen dan Raka yang baru saja sampai di Bandara internasional Indira Gandhi. Setelah mereka menempuh perjalanan selama 2 jam 20 menit. Bandara yang terletak di New Delhi, Ibukota India tersebut, di ambil dari nama mantan perdana menteri India. Merupakan bandara yang tersibuk di India.


Di India, ada banyak sekali bangunan-bangunan yang sangat menarik. Hal itulah yang membuat Queen tertarik untuk ke india. Sedangkan Raka, dia tidak berniat untuk pergi ke India sebelumnya. Hanya saja, karena ia tidak mau melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dengan Queen, jadi dia memutuskan untuk mengikuti kemana pun Queen pergi.


Ada yang bilang, perjalanan yang menyenangkan akan menumbuhkan perasaan cinta diantara dua insan. Banyak yang jatuh cinta dan berjodoh setelah mereka traveling bersama. Hal itulah yang membuat Raka termotivasi untuk membuat benih-benih cinta tumbuh di hati Queen.


Mereka keluar dari bandara tersebut dan menumpang sebuah taksi menuju ke penginapan yang tidak jauh dari Mesjid Jama, di daerah Delhi tua. Mesjid yang terkenal dengan sebutan Mesjid cermin dunia tersebut sangat terkenal di kalangan para wisatawan.


Masjid yang didirikan oleh Kaisar Mogul, Syah Jehan, yang juga membangun Taj Mahal, selesai pada tahun 1656 Masehi, yang mampu menampung 25.000 jemaah. Besar sekali bukan?


Sebagai partner dalam berwisata, Queen dan Raka menumpangi taksi yang sama dan berniat menginap di penginapan yang sama. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka tiba di penginapan.


Raka dan pengemudi taksi menurunkan koper milik mereka. Sedangkan Queen terperangah menatap kesibukan para penduduk lokal di sekitar hotel tersebut. Setelah pengemudi taksi selesai menurunkan barang bawaan mereka, Raka pun akan membayar taksi tersebut.


"Tidak usah, biar aku yang bayar," Ucap Queen seraya menahan tangan Raka yang memegang beberapa lembar uang Rupee, mata uang India. Yang sempat di tukarkan oleh Raka dari Dollar ke mata uang Rupee, saat mereka berada di Bandara Velana di Maladewa.


"Tidak aku saja," Ucap Raka seraya melepaskan tangan Queen yang menahan tangan nya.


"Aku!"


"Aku!"


"Aku saja Raka!"


"Aku saja Queen!"


"Raka!"


"Queen!"


Mereka berebut untuk membayar taksi tersebut, yang membuat pengemudi taksi mereka menggaruk kepalanya melihat tingkah orang yang ia kira sepasang suami istri tersebut.


Akhirnya, Raka berhasil memberikan ongkos taksi tersebut kepada sang pengemudi. Senyum puas Raka terlihat mengembang di wajahnya, saat melihat Queen cemberut saat menatapnya.


"Aku jadi gak enak," Ucap Queen seraya menatap Raka.


"Ya sudah lah, ayo." Ucap Raka seraya menarik dua koper miliknya dan juga milik Queen.


"Biar aku saja membawa koper ku," Ucap Queen seraya merebut kopernya.


"Sudah, aku saja,"


"Raka please.."


"Queen... biar aku saja," Tegas Raka dengan wajah yang serius.

__ADS_1


Queen terdiam saat melihat Raka berlalu dari hadapannya. Lalu, ia tersenyum dan menghela nafas panjang.


"Apa kamu orang nya? Orang yang Tuhan berikan untuk melanjutkan hidupku dan menghapus rasa sepi dan kesendirian ku?" Gumam Queen. Lalu, ia menyusul Raka yang berjalan mendekati meja resepsionis yang terletak di lobby hotel tersebut. Karena mereka sudah memesan lewat sebuah aplikasi, kini mereka tinggal chek-inn saja dan memberikan tandu tanda pengenal mereka kepada petugas hotel tersebut.


Masing-masing dari mereka sudah memiliki kamar masing-masing. Beruntung, sesuai permintaan Raka, mereka mendapatkan kamar yang bersebelahan. Betapa bahagianya Raka mendapatkan kamar bersebelahan dengan Queen.


Mereka pun diantarkan oleh bell boy menuju ke kamar mereka masing-masing. Setelah sampai di kamar mereka masing-masing, mereka pun beristirahat sejenak. Sebelum Adzan Dzuhur berkumandang dari Mesjid Jama, yang terdengar jelas dari penginapan mereka.


Queen membuka jendela kamarnya dan menatap pemandangan yang begitu indah dari kamarnya. Sedangkan Raka bergegas ke kamar kecil, untuk membilas tubuhnya yang terasa lengket. Udara di India begitu panas pada hari itu. Hingga ia berkeringat karenanya.


Setelah mandi, ia pun bergegas memakai pakaian muslim nya. Ia dan Queen berniat akan melaksanakan sholat Dzuhur di mesjid Jama. Untuk menempuh Mesjid Jama, mereka dapat berjalan kaki beberapa menit saja.


Setengah jam sebelum Adzan Dzuhur berkumandang dengan waktu setempat, Raka pun keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Queen. Ia ingin memberitahukan gadis itu bila dirinya sudah siap untuk pergi ke mesjid tersebut.


Dua kali ketukan, pintu kamar Queen pun terbuka. Raka terperangah melihat gadis yang berdiri di depannya itu. Queen yang memakai busana muslimah, tampak sangat cantik dimatanya.


"Queen..." Gumamnya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah gadis impiannya itu.


"Ya?" Queen terpaku menatap Raka yang menggunakan baju muslim nya.


"Kamu cantik," Ucap nya seraya terus menatap Queen tanpa berkedip sekalipun.


Queen hanya tersenyum dan menundukkan pandangan nya. Lalu, ia memunggungi Raka untuk mengunci pintu kamarnya.


"Sudah, ayo," Ucap Queen seraya berjalan mendahului Raka.


"Raka?"


"Ah, iya..." Sahut Raka seraya berjalan menyusul Queen.


Diam-diam Queen tersenyum, ia merasa seperti akan sholat berjamaah dengan suami nya di Mesjid Jama. Mendadak khayalan tentang berumah tangga dengan Raka muncul begitu saja. Hingga ia menggelengkan kepalanya saat ia tersadar bila ia tidak boleh berkhayal seperti itu, sedang Raka belum tentu akan menjadi suaminya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di Mesjid Jama. Mesjid itu sudah dipenuhi oleh banyak jamaah yang hadir sebelum Adzan berkumandang. Betapa bersemangat nya para jamaah yang datang, baik itu wisatawan atau penduduk lokal disana. Mereka berbondong-bondong untuk melaksanakan kewajiban mereka di Mesjid itu.


Queen dan Raka berpisah di halaman mesjid itu. Raka akan menuju ke bagian shaf laki-laki, sedangkan Queen menuju ke shaf wanita.


Sebelum berpisah, mereka saling bertatapan, dihalaman Mesjid itu. Tatapan Queen tidak dapat Raka artikan. Entah mengapa ia hanya merasakan keteduhan di wajah Queen. Raka hanya melemparkan senyum dan mengatakan ia akan menunggu Queen di halaman mesjid itu setelah sholat berjamaah selesai. Queen hanya mengangguk dan membalas senyuman Raka.


Masing-masing dari mereka pun berpisah. Mereka memasuki mesjid itu di tangga yang berbeda.


...


Dreeettt..! Dreeettt...!


Ponsel milik Ayah Andra bergetar saat Ayah Andra dan Bunda baru saja masuk kedalam mobil mereka. Mereka yang baru saja selesai menghadiri acara kantor Ayah Andra pun saling bertatapan. Ayah Andra meraih ponselnya dari dalam saku celana nya. Sedangkan Bunda memasang safety belt miliknya.

__ADS_1


Ayah Andra membuka pesan dari seseorang yang ia perintahkan untuk mencari tahu tentang nyonya Amara. Terlampir beberapa foto tentang informasi nyonya Amara.


"Ah, sudah dapat," Ucap Ayah Andra seraya memberikan ponselnya kepada Bunda. Lalu, ia bergegas memakai safety belt nya.


"Apa?" Tanya Bunda.


"Ini, informasi yang ingin kamu ketahui," Ucap Ayah Andra.


Ekspresi wajah Bunda pun terlihat bersemangat, ia pun membaca pesan yang berada di ponsel milik Ayah yang berada di genggaman nya. Sedangkan Ayah, mulai menyalakan mesin mobil itu dan mengendarainya untuk mengantarkan Bunda pulang kerumah, sedangkan dirinya akan pergi lagi untuk bertugas.


Setelah beberapa menit kemudian, Bunda membulatkan matanya dan menatap Ayah dengan seksama.


"Ohhhhh... jadi dia itu Ibunya Raka!" Seru Bunda.


"Raka yang sedang mendekati Queen?" Tanya Ayah yang tampak terkejut.


"Iya Ayah... wah... ternyata dia sudah membaca profil kita terlebih dahulu, makanya dia mau mendekati aku." Ucap Bunda dengan wajah yang serius dan kembali membaca informasi tentang nyonya Amara.


"Hahaahhaha...! Ada-ada saja!" Ucap Ayah seraya terus mengendarai mobilnya.


"Selain anak nya yang modus mau mendekati putri ku, Ibunya pun modus mau mendekati calon besan nya," Ucap Bunda seraya tertawa geli. Menertawai cara nyonya Amara mendekati dirinya.


"Yah, wajar lah Bun, namanya ingin mengenal satu dengan yang lain nya. Kadang cara orang berbeda-beda. Ada yang menunggu untuk berkenalan saat lamaran. Ada yang ingin dekat terlebih dahulu, hanya untuk mengenal sikap dan sikap calon besan nya." Terang Ayah.


"Iya sih... eh, tapi dia orang nya humble sih yah. Terlihat biasa saja dan ramah. Walaupun gaya busananya agak sedikit berlebihan dan agak pamer gitu." Ucap Bunda.


"Husttt... jangan komentarin gaya orang Bun.. Biarlah, itu kan hak dia."


"Iya sih.." Bunda mengulum senyum nya.


"Tapi... ya... gimana gitu ya... Hebring saja gayanya." Sambung Bunda yang kembali julid.


"Bunda..."


"Iya iya... Bunda gak julid lagi deh! Ayah sih gak asik kalau di ajak ngomongin orang!. Mending Bunda ngegosip sama si Nia saja..."


Ayah hanya mengangkat kedua alisnya dan menggelengkan kepalanya.


"Wanitaaaa wanitaaaa... julid, gosip, nomor satu!"


"Kayak laki-laki gak bergosip saja! Ayah sama si Bobby juga sering ngejulid dan ngegosipin para istri kok!"


"Tahu dari mana?" Tanya Ayah dengan wajah yang terlihat terkejut.


"Tahu lah! Bunda kan punya indra keenam!" Ucap Bunda seraya melotot kepada Ayah.

__ADS_1


Ayah hanya mengulum senyumnya dan pura-pura sibuk menyetir mobil.


"Laki-laki itu lebih parah kalau ngegosip tahu! Kayak Bunda gak tahu saja!" Ucap Bunda yang terus mengomel sepanjang jalan.


__ADS_2