
Beberapa hari berlalu, sejak Raka memberanikan diri untuk bertandang kerumah Queen. Hubungan mereka kini semakin erat, mereka kerap jalan bersama atau menyempatkan diri untuk makan siang dan malam bersama. Raka pun sudah tidak segan lagi untuk mampir kerumah Queen. Bahkan, ia berani untuk meminta izin kepada keluarga Queen untuk mengajak Queen keluar bersama dirinya.
Seperti malam ini, Raka kembali singgah kerumah Queen. Sebenarnya, hampir tiap hari lelaki itu menyempatkan diri untuk mampir disela kesibukan nya menjadi pemilik beberapa bisnis yang ia miliki.
Sikap Ayah kepada Raka, tidak kaku lagi. Justru Ayah lah orang yang paling senang saat Raka datang untuk bersilaturahmi kerumahnya. Walaupun, itu hanya salah satu trik Raka untuk dapat membawa anak gadisnya keluar, tetapi setidaknya Ayah bisa mengenal Raka lebih dalam lagi. Ayah selalu mengajak Raka berbincang, minimal satu jam untuk mengenal lelaki itu. Seperti mau mengajak Queen kemana? Atau mau ke acara apa? Serta hanya berbasa basi tentang pekerjaan dan apa kesibukan Raka pada hari ini.
Ayah sengaja melakukan itu, karena ia ingin menerapkan hal yang sama yang sering ia lakukan kepada anak-anak nya, pun dengan calon menantunya. Sering nya berkomunikasi membuat hubungan semakin erat, saling mengenal dan dapat menjadi orang yang paling mengerti dari lawan bicaranya.
Begitulah Ayah Andra, tampaknya dirinya tidak sabar untuk segera melihat Queen untuk naik ke pelaminan. Sejujurnya, rasa cinta nya kepada Queen melebihi dari apa pun yang ada di dunia ini. Dengan Athar, mungkin karena Athar adalah anak laki-laki, maka Ayah sedikit santai dan tidak ekspresif. Tetapi dengan Queen, semua sama dengan apa yang layaknya seorang Ayah kandung rasakan terhadap putrinya.
"Jadi, mau mengajak Queen kemana?" Tanya Ayah Andra saat Raka sedang menunggu Queen berdandan untuk pergi dengan nya.
"Mau mengajak Queen ke acara makan malam dari perusahaan yang mengundang saya Om." Sahut Raka seraya tersenyum kepada Ayah Andra.
"Oh.., pulang jam berapa?" Tanya Ayah Andra penasaran.
"Acara akan selesai pada pukul sepuluh malam Om. Saya akan mengantar Queen langsung ke rumah. Perkiraan akan sampai rumah sekitar pukul sebelas malam atau sebelas lima belas menit," Jawab Raka.
Itu yang disuka oleh Ayah Andra. Sebagai seorang militer, disiplin waktu adalah salah satu yang terpenting bagi dirinya, dan jawaban Raka begitu tepat. Karena Ayah Andra tidak suka sesuatu yang plin plan, seperti "Belum tahu" atau "mungkin" dan selama ini, Raka selalu memberi jawaban yang pasti dan selalu menepatinya.
"Baik, hati-hati kalau begitu, dan ingat, jangan terlambat dari patokan waktu yang kamu katakan. Bila terlambat satu menit saja, saya akan banyak bertanya dan menahan mu disini, hingga kamu menjawab, mengapa terlambat." Tegas Ayah Andra.
"Ih Ayah, lebay.." Ucap Queen yang baru saja muncul dan bergabung dengan mereka.
"Ya lebay dong... anak perawan Ayah mau di ajak sama lelaki ini." Sahut Ayah seraya mengerutkan dagunya.
Queen tersenyum geli dan menyalami Ayah Andra, lalu menyalami Bunda yang duduk disamping Ayah.
"Queen berangkat dulu ya Yah, Bunda," Ucap Queen.
"Iya, hati-hati ya..." Sahut Ayah dan Bunda.
"Iyaaaa..."
"Ayo Raka," Ucap Queen seraya tersenyum kepada Raka yang masih duduk di kursi tamu itu.
"Raka bolehkan mengajak Queen Om dan Bunda?" Tanya Raka lagi, hanya untuk memastikan kembali, bila dirinya boleh membawa Queen keluar.
"Iya.." Sahut Bunda seraya tersenyum manis kepada Raka.
Raka pun tersenyum dan menyalami kedua orangtua Queen.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," Sahut Ayah dan Bunda.
Queen dan Raka pun beranjak meninggalkan rumah tersebut. Kini, tinggal lah Ayah dan Bunda saja yang masih duduk di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
"Hhhhh..." Ayah menghela nafas panjang dan menatap langit-langit ruangan itu.
"Kenapa?" Tanya Bunda yang melihat wajah Ayah yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa," Sahut Ayah, dan ia pun beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?"
"Ke ruang keluarga yuk," Ucap Ayah seraya membantu Bunda untuk bangun dari duduknya.
Bunda pun mengikuti Ayah ke ruang keluarga. Lalu, mereka duduk di kursi malas yang ada di ruang keluarga. Suasana sepi mulai terasa. Hanya terdengar suara tawa dari acara komedi di televisi yang baru saja dinyalakan oleh Bunda.
Ayah duduk terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Ada sesuatu yang sedang berkecamuk di benaknya.
Bunda pun duduk disamping Ayah, ia memperhatikan wajah Ayah yang begitu gelisah.
"Ada apa sih?" Tanya Bunda yang tampak semakin penasaran.
Saat itu juga, Ayah menatap Bunda dengan seksama.
"Kamu merasakan sepi gak sih, setelah anak-anak besar?" Tanya Ayah dengan wajah yang tampak serius.
Bunda pun tertegun mendengar pertanyaan dari Ayah. Lalu, Bunda berusaha untuk tersenyum dan mengusap rambut Ayah yang mulai memutih.
"Ya... iya sih," Jawab Bunda.
"Kamu kenapa?" Tanya Bunda seraya menata Ayah dengan seksama.
"Sebentar lagi, anak-anak akan pergi meninggalkan rumah ini. Yang tersisa disamping ku hanya kamu seorang. Sayang, kamu tahu kan, aku sangat mencintai anak-anak," Ucap Ayah Andra.
Air mata mengembang di pelupuk mata Bunda. Ia begitu haru saat mendengar curahan hati Ayah Andra.
"Itulah alasan nya, mengapa aku selalu menjaga kesehatan. Biar bisa menemani kamu lebih lama lagi," Sahut Bunda.
Tidak bisa dipungkiri, perbedaan usia belasan tahun membuat kesehatan bunda lebih rentan dari pada Ayah Andra.
Ayah Andra tersenyum dan menggenggam tangan Bunda dengan lembut.
"Terima kasih ya sayang, kamu sudah mau mendampingi aku. Sudah mau hidup dalam suka dan duka bersamaku. Memberikan dua anak yang sangat aku cintai. Kalian adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk ku. Aku tidak bisa membayangkan bila tidak ada kalian didalam hidupku. Kalian adalah hidup ku yang sesungguhnya."
Bunda tersenyum dan membalas genggaman tangan Ayah Andra. Lalu, ia menyenderkan kepalanya di bahu lelaki terbaik yang pernah ia temui didalam hidupnya itu.
"Harusnya aku yang berterima kasih, kamu adalah malaikat penyelamat bagi aku dan anak-anak. Kamu anugerah sesungguhnya dari Tuhan untuk ku. Bersamamu, aku bisa merasakan cinta dan kasih yang tulus, begitupun dengan kedua anak-anak ku. Mereka menemukan sosok Ayah yang sesungguhnya pada dirimu. Kamu adalah manusia berhati malaikat, dan aku sangat mencintai kamu. Aku beruntung di izinkan menghabiskan masa tua bersama dengan mu Andra,"
Ayah Andra tersenyum, namun air mata tergenang di pelupuk matanya. Ia mengecup lembut kening Bunda dan merangkul Bunda dengan erat.
"Kamu adalah pelengkap kekurangan ku, dan aku adalah pelengkap kekurangan kamu. Kita itu tidak akan menjadi sempurna bila kita tidak bersama," Ucap Ayah Andra.
__ADS_1
Bunda tersenyum dan mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Ayah dengan penuh cinta dan kasih. Belum pernah Bunda temui lelaki sesempurna Ayah Andra di sepanjang hidupnya. Sangat beruntung dirinya, menemukan seorang yang sempurna dan diberi kesempatan untuk menghabiskan sisa usia dengan orang yang tepat. Tak henti rasa syukur itu selalu Bunda panjatkan di dalam doa-doanya. Tuhan begitu baik, setelah banyak badai yang telah ia arungi, lalu ia terdampar di hati yang begitu sempurna.
"Sayang,"
"Ya," Sahut Bunda dengan wajah yang terlihat serius.
"Aku tanpa mu, bagai ambulance tanpa wiuuuu wiuuu... sepi.." Ucap Ayah Andra.
"Hah?" Bunda mengerutkan dahinya.
"Atau... bagaikan nasi bungkus tanpa karet. Ambyarrrr..." Sambung Ayah Andra lagi.
"Dih.. apaan sih..!"
"Seriussss...."
"Norak..." Ucap Bunda seraya menahan tawanya.
"Kok norak sih... aku serius tau.."
"Perumpamaan mu itu lih Andra..." Ucap Bunda seraya mengigit bahu Ayah dengan perasaan yang gemas.
"Aduhhh... sakit ayanggg..."
"Lebay...!" Ucap Bunda dengan pipi yang memerah.
"Tapi suka kan?" Goda Ayah seraya mencubit pipi Bunda.
"Apaan sih Andra!"
"Ya kan....." Ayah Andra terus menggoda Bunda seraya mengulum senyumnya.
"Andra... malu sudah tua..."
"Hahahah... kita itu muda terus... tua kan hanya umurnya.. sini cium dulu," Ayah memajukan bibirnya dan menutup kedua matanya.
Bunda tersenyum dan mencubit bibir Ayah dengan gemas.
"Genit!" Ucap Bunda seraya beranjak ke kamarnya.
"Ih, dia ngajakin ke kamar.. Asikkkk..." Ayah Andra pun bergegas menyusul Bunda yang terus tertawa geli melihat dirinya di kejar oleh Ayah Andra.
....
“Marriage is more than finding the right person. It is being the right person.”
(Pernikahan lebih dari sekadar menemukan orang yang tepat. Hal itu tentang menjadi orang yang tepat.)
__ADS_1