
'No bikini'
Terpampang jelas larangan berbikini di sepanjang pantai di pulau Vaadhoo. Ya, beberapa pantai di Maldives melarang para wisatawan nya berbikini. Queen yang sedang berjalan di bibir pantai, menikmati pemandangan yang begitu menenangkan untuk menenangkan pikiran nya yang risau.
Terlihat sepasang pengantin baru sedang bersenda gurau di bibir pantai itu. Pulau yang indah ini memang sangat cocok untuk sepasang pengantin baru yang menghabiskan masa honey moon mereka berdua. Sedangkan Queen hanya mampu menyaksikan keromantisan mereka tanpa bisa seperti mereka.
Iri? pasti, ingin bahagia seperti pasangan yang lain nya sudah pasti. Tetapi, Queen hanya bisa berdoa, agar jodoh yang sudah Tuhan persiapkan untuknya segera datang dan membahagiakan dirinya.
Queen menghela nafas panjang dan tersenyum kepada sepasang pengantin baru yang menyapanya.
"Hello!"
"Hello," Sahut Queen, lalu ia kembali berjalan menyusuri bibir pantai di tengah terik matahari yang mulai menyengat.
Queen pun memutuskan untuk kembali ke cottage nya dan bersiap untuk makan siang dan bermalas-malasan di kamarnya.
Terlihat pesawat amfibi mendekat di dermaga. Queen menoleh dan memandangi orang-orang yang baru saja keluar dari pesawat itu. Tidak semua orang yang datang ke pulau itu untuk menginap di resort dimana Queen menginap. Karena biaya di resort itu tinggi sekali, maka banyak wisatawan hanya mampir dan menghabiskan waktu di pantai itu. Bila malam tiba, mereka pun akan kembali ke Ibukota. Rata-rata mereka hanya berfoto-foto di pantai itu atau di sekitar resort hanya untuk memamerkan nya di media sosial, bila mereka pernah menjejaki Pulau Vaadhoo. Atau sebagian dari mereka mengaku pernah menginap di resort mewah itu. Hanya sekedar untuk membuat para followers mereka merasa iri dan menganggap mereka adalah orang kelas atas yang suka berlibur ke tempat-tempat mewah. Tanpa followers mereka sadari, tidak selamanya yang terlihat di media sosial terlihat sebagaimana kehidupan nyata orang yang sedang mereka ikuti di media sosial tersebut.
Sedangkan orang seperti Queen berlibur hanya untuk menenangkan diri, tidak berusaha memperlihatkan dirinya mampu atau hanya sekedar mencuri perhatian para pengikutnya di media sosial.
Bahkan, Queen pun tidak begitu intens di media sosial nya. Media sosial bagi Queen, tidak untuk memperlihatkan dirinya mampu kemana saja. Ia hanya mempromosikan segala bisnis yang sedang ia jalani. Bagi kebanyakan orang seperti Queen, mempromosikan bisnis lebih baik dari pada berpamer ria, untuk menaikan kesan mewah pada diri mereka.
Queen kembali ke kamarnya, seorang gadis yang membawa baki yang terbuat dari anyaman bambu, berisi makanan untuk makan siang Queen pun datang. Seperti biasa, gadis yang memakai pakaian mirip seperti kebaya itu pun tersenyum lebar dan meletakkan baki berisi makanan itu di meja di bagian belakang cottage yang langsung menghadap ke laut lepas. Queen dapat menikmati makan siang nya sendirian seraya memandang laut lepas yang biru.
Cottage yang berada di atas pantai itu pun begitu tenang. Para wisatawan tidak perlu khawatir bila cottage mereka terhempas ombak. Karena laut atau di tepi pantai pulau Vaadhoo itu, di kelilingi banyak terumbu karang. Hal itu membuat ombak tidak bisa mengamuk di tepi pantai, justru terumbu karang itu membuat ombak menjadi riak-riak kecil saja saat tiba di tepi pantai itu.
Queen mulai menyantap makan siangnya seraya terus memandangi laut lepas. Sepi membuat dirinya semakin risau, tidak bisa ia pungkiri, dirinya mulai sangat merindukan Raka. Tidak hanya Raka, wajah Jonathan pun terus terbayang di benaknya.
"Semoga Raka dan Jonathan baik-baik saja," Gumam Queen.
..
Terdengar tawa dari meja nomor 5 di cafe milik Bunda. Bunda yang duduk bersama dengan para sahabatnya terlihat berbincang dan terlibat pembahasan yang begitu menarik.
Bunda selalu mempunyai kebiasaan untuk berkumpul dengan para sahabatnya saat SMA dulu, di cafe milik nya setiap satu minggu sekali.
__ADS_1
Tante Nia, yang merupakan sahabat sekaligus calon besan Bunda mencolek lengan Bunda dan menunjuk seorang wanita paruh baya yang baru saja memasuki cafe itu dengan bibirnya yang di kerucut kan.
"Eh, Far, lihat tuh.."
Bunda pun menoleh dan menatap wanita paruh baya yang terlihat sedang mengamati ruangan cafe yang bernuansa modern tersebut.
"Ternyata ada juga nenek-nenek yang datang ke cafe lu selain kita," Ucap Tante Nia seraya terkekeh.
Bunda menatap Tante Nia dan tertawa lebar.
"Gara-gara kita sering ngumpul disini, jadi di anggap ini cafe khusus untuk para nenek-nenek." Celetukan Bunda di sambut tawa geli para sahabatnya.
"Hahahah edan!" Celetuk Tante Nia.
Wanita paruh baya itu pun menyapukan pandangan nya ke arah para pengunjung. Lalu, matanya tertuju meja nomor 5. Dimana Bunda dan para sahabatnya sedang berbincang.
Wanita paruh baya itu pun melangkahkan kakinya ke meja nomor 4 yang kosong. Lalu, ia duduk sendirian dan terus memperhatikan Bunda.
"Dia perhatiin elu terus tuh, ajak gabung saja, mana tahu kita bisa jadi gank nenek-nenek." Bisik Tante Nia yang memang orang nya sedikit konyol.
Bunda menoleh dan tersenyum kepada wanita paruh baya yang duduk di meja sebelah nya.
Wanita itu memesan beberapa menu untuk dirinya dan juga para bodyguard yang duduk terpisah dari dirinya. Setelah memesan menu yang ada di cafe milik Bunda, wanita itu kembali melirik Bunda yang melanjutkan keseruan nya bersama dengan para sahabatnya.
"Maaf, permisi." Ucap wanita paruh baya itu seraya tersenyum kepada Bunda dan para sahabatnya.
"Ya?" Sahut Bunda, membalas senyuman ramah wanita itu.
"Anda nyonya Farah Kruger?"
"Ya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bunda dengan wajah yang tampak bingung. Bagaimana tidak, ada orang asing yang mengenali dirinya. Itu tampak aneh bagi Bunda dan sahabat-sahabatnya.
"Perkenalkan, nama saya Amara. Saya sangat mengagumi Anda. Saya sempat membaca profil anda di salah satu majalah. Anda adalah pengusaha sukses di usia yang sangat muda. Saya mengagumi Anda."
Bunda mengangkat kedua alisnya dan menatap para sahabatnya yang tersenyum mendengar ucapan wanita paruh baya yang bernama Amara tersebut.
__ADS_1
"Ah, terima kasih Ibu, silahkan bergabung dengan kami. Dari pada Ibu duduk sendirian. Perkenalkan ini sahabat-sahabat saya. Yang ini Nia, yang ini Rara." Bunda memperkenalkan dua sahabatnya yang duduk bersama dengan nya di meja nomor 5 itu dan menawarkan nyonya Amara untuk bergabung dengan dirinya dan juga para sahabatnya.
"Boleh," Ucap nyonya Amara dengan wajah yang semringah.
Tanpa pikir panjang, Bunda menarik kursi kosong kearah meja nya dan mempersilahkan nyonya Amara untuk bergabung dengan dirinya.
Nyonya Amara pun bergabung. Ia berkenalan dengan dua sahabat Bunda yang lain nya. Lalu, mereka terlibat pembicaraan seru, tentang bisnis dan kehidupan. Nyonya Amara sebenarnya adalah orang yang sangat asik diajak berbincang. Hanya saja selama ini dirinya terlalu kaku dalam bersikap kepada siapa saja, termasuk orang yang baru ia kenal.
Itu semua karena dirinya tidak pernah bergaul secara intens dengan satu orang. Selama ini, hidup nya hanya berhubungan dengan bisnis, bisnis dan. bisnis. Terakhir dirinya bergaul hanya saat dirinya berkuliah di sebuah universitas ternama di Inggris. Dan karena dirinya adalah lulusan di universitas yang sama seperti Tante Nia, calon besan sekaligus sahabat dari Bunda, maka pembicaraan mereka begitu nyambung dan seru.
Bahkan kecocokan itu semakin terbangun dengan baik, setelah nyonya Amara mengetahui bila di meja yang sama, semua wanita di sana adalah para pengusaha yang sukses di bidangnya.
Nyonya Amara semakin tertarik untuk bergabung dengan dunia para calon nenek itu. Para wanita tangguh dan terpelajar, serta terhormat itu terlihat sangat friendly dengan orang baru. Mereka tidak ada yang sombong atau selalu menonjolkan dirinya dan kekayaan yang mereka punya. Hal itu membuat nyonya Amara semakin ingin mengenal Bunda dan para sahabatnya.
"Kita kan satu universitas di Inggris, kenapa tidak bertemu ya?" Ucap Tante Nia.
"Ah, saya mengambil S1 di Inggris sedangkan S2 nya di Amerika." Sahut nyonya Amara.
"Oh pantas, saya S2 di Inggris." Mungkin jeung Amara lulus, saya masuk ke universitas itu. Hahaha... sayang sekali, kalau tidak kan kita bisa bersahabat selama disana."
"Iya jeung Nia, hahaha... malah baru kenal disini ya," Sahut nyonya Amara.
"Punya anak gadis jeung? Anak saya single loh," Ucap Tante Rara.
"Anak saya laki-laki dan satu-satunya jeung. Usia tiga puluh tiga tahun."
"Wah, cocok deh sama anak nya jeung Farah," Celetuk Tante Nia seraya mengedipkan matanya kepada Bunda.
Bunda hanya tersenyum menanggapi ucapan Tante Nia.
"Ah, iya.. nama anak nya jeung Farah siapa?"
"Hmmm, namanya Queen jeung."
"Wah, namanya saja sudah cantik, pasti orang nya cantik ya. Pasti cocok dengan anak saya," Ucap nyonya Amara.
__ADS_1
Lagi-lagi Bunda hanya tersenyum menanggapi ucapan yang mengarah ke anak nya, Queen.
Sebenarnya, Bunda tidak ingin Queen di promosikan kesana kemari. Bunda adalah orang yang berpikir, "biarlah Queen menemukan jodohnya secara natural. Mengenal secara baik dan menikah dengan cinta." Tetapi, lagi-lagi ini hanya pembicaraan para Ibu-ibu yang seperti pada umumnya. Yang suka membicarakan tentang anak-anak mereka.