365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
130# 271HMH


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Lala melalui sambungan telepon dengan Boss mafia yang ia bayar mahal untuk melenyapkan nyawa Queen dan nyonya Amara.


"Hmmmm, jangan khawatir. Kami sedang menjalani tugas kami."


"Tugas? Kalian ini tidak profesional ya! Ingat, sudah seminggu target kedua belum juga ada kabar!" Bentak Lala.


Boss mafia juga tidak tahu akan berkata apa kepada Lala. Sejak kemarin, anggota nya tidak kunjung mengabari dirinya. Terakhir kali dirinya berkomunikasi dengan anggota nya, saat anggotanya berhasil bertemu dengan target dan mengikuti target untuk melaksanakan tugas mereka.


Tetapi, sudah lebih 24 jam, kabar belum juga ia terima. Sebenarnya dirinya sangat takut bila target itu gagal. Karena target merupakan pengusaha yang kaya raya, memiliki relasi yang tidak main-main.


Sampai detik ini, dirinya mencoba untuk tetap berpikiran positif. Bila anak buahnya masih mengikuti atau memantau target mereka.


Tetapi, tetap saja, mereka adalah mafia profesional. Selama ini target mereka selalu berhasil mereka dilenyapkan tanpa ada kesalahan sedikitpun. Boss mafia itu mulai curiga, ia tetap berusaha menghubungi anak buahnya melalui sambungan telepon.


"Ha-halo," Sahut anak buah nya yang mengangkat sambungan telepon darinya.


"Sebentar Bu Lala, saya sudah tersambung dengan anak buah saya."


"Baik, saya tunggu," Ucap Lala.


Boss mafia itu pun menggunakan dua telepon seluler, yang satu tersambung dengan Lala dan yang satu lagi, tersambung dengan anak buah nya yang menghilang dari peredaran selama 24 jam lebih.


"Kemana saja kamu!" Bentak Boss mafia itu.


"Ma-maaf Boss. Kami nyaris saja gagal dan ketahuan. Jadi, kami mengamankan diri terlebih dahulu.


"Sekarang kalian dimana?" Tanya Boss mafia itu lagi.


"Ka-kami di Bandung Boss."


"Kok bisa kalian ada di Bandung?"


"Iya Boss, kami harus mencari mobil pengganti untuk mengganti mobil yang sudah di curigai."


"Bagaimana target?" Tanya Boss mafia itu lagi.


"Target sudah tewas Boss," Sahut anak buahnya.


"Good! , apa kamu punya fotonya?"


"Ti-tidak Boss. Tiba-tiba ramai orang dan kami harus melarikan diri."


"Bodoh!" Hardik Boss mafia itu.


"Ma-maaf Boss,"


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kami akan mengecek ke rumah korban,"


"Iya Boss," Ucap Anak buahnya.

__ADS_1


Boss mafia itu pun mengakhiri sambungan telepon tersebut. Lalu, ia kembali berbicara dengan Lala lewat ponselnya yang satu lagi.


"Bu, target sudah meninggal. Misi selesai. Kami menunggu pelunasan operasi dua kali dua puluh empat jam," Ucap Boss mafia itu.


"Eh, kamu pikir aku bodoh! Mana buktinya?" Tanya Lala.


"Kami tidak sempat mengambil foto korban. Karena banyak nya orang yang mengganggu waktu eksekusi. Jadi, untuk itu, Ibu bisa konfirmasi sendiri di rumah korban. Kami juga akan memberikan bukti secepatnya."


"Kalian ini! Nyusahin! Kerja kok setengah-setengah!"


"Bu, kondisi di TKP tidak melulu lengang. Mohon mengerti!"


Lala terdiam saat dibentak oleh Boss mafia itu.


"Saya tidak mau tahu, pokoknya anak buah saya sudah mengkonfirmasi bila target sudah disingkirkan. Jadi, anda harus membayar full. Bila tidak, tahu sendiri akibatnya!"


"Baik," Lala mematikan sambungan telepon tersebut dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Ia menghela nafas panjang dan mulai tersenyum.


"Tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungan kita Raka." Gumamnya.


...


Anggota mafia yang tertangkap tampak gemetar saat kepalanya di todong oleh sebuah pistol milik seorang petugas. Petugas sengaja menjebak Boss mafia tersebut agar lengah. Dan tentunya menjebak orang yang di duga berada di balik kejadian nahas Tika dan orangtua Raka.


Maka, anggota mafia itu terpaksa berbohong, demi keselamatan nyawanya. Sudah terlanjur basah, dirinya sudah tertangkap dan bila dirinya lolos pun, dia akan mati di tangan Boss mafia, karena gagal dalam misinya. Tidak ada pilihan lain, selain bekerja sama dengan yang berwenang. Untuk keselamatan dirinya dan keluarganya yang mungkin tidak akan rela kehilangan dirinya. Setidaknya, dia masih akan hidup, walaupun dirinya harus terkurung di balik jeruji besi.


Petugas itu menghubungi Ayah Andra, mereka bersiap untuk mencokok dalang sekaligus Boss mafia itu, dan membubarkan organisasi yang kejam tersebut.


...


Lala menghentikan laju mobilnya di depan rumah Raka. Ia pun bergegas turun dan berbicara kepada satpam yang menjaga rumah tersebut.


"Pak, Raka nya ada?" Tanya nya dengan wajah yang terlihat bersemangat.


"Ada Bu, di dalam. Dengan Ibu siapa?" Tanya satpam tersebut.


"Lala,"


"Baik Bu, kami akan mengkonfirmasi kepada Bapak Raka. Harap tunggu sebentar," Ucap satpam itu, dan ia pun bergegas masuk kedalam pos nya dan menghubungi Raka yang berada di dalam rumah. Sedangkan Lala, dengan wajah yang berseri, kembali masuk kedalam mobilnya.


Tak lama kemudian, gerbang rumah itu pun di buka. Lala pun di persilahkan untuk masuk kedalam pekarangan rumah mewah itu.


"Sebentar lagi, rumah ini akan menjadi milikku. Karena, Raka akan menikah dengan ku. Kami akan hidup bahagia bersama selamanya dengan anak-anak yang lucu, cantik dan tampan," Gumam nya seraya terus tersenyum.


Lala memarkirkan mobilnya disisi kiri rumah mewah itu, lalu ia pun turun dan bergegas untuk masuk kedalam rumah itu.


Kondisi rumah itu begitu sepi. Hanya tampak beberapa pekerja yang sedang merapikan taman yang tampak sangat indah. Lala menegakkan dagunya dan berjalan dengan penuh percaya diri.


Terlihat di dalam ruang keluarga, Raka duduk terdiam dengan bingkai foto di tangan nya. Ya, foto dirinya dan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Hai sayang," Sapa Lala seraya mendekati Raka.


Raka mengangkat wajahnya dan menatap Lala dengan seksama. Dalam hatinya, ia ingin sekali memaki wanita itu. Ia sudah merasa muak dengan Lala yang terus menerus mengejar dirinya. Serta, ia juga merasa ingin membunuh Lala, bila memang kejadian yang di alami Tika dan orangtuanya memang benar Lala adalah otak dibalik itu semua.


"Hai," Sapa Raka seraya mengusap air matanya.


"Kamu kenapa bersedih?" Tanya Lala yang langsung duduk di samping Raka.


"Orangtuaku La,"


"Kenapa mereka?" Tanya Lala dengan akting yang luar biasa terlihat khawatir.


"Mereka meninggal dunia," Ucap Raka dengan ujung suara yang tercekat.


"Meninggal? Innalilahi wainnailaihi roji'un..!" Ucap Lala seraya memasang wajah terkejut, sekaligus prihatin.


"Terima kasih La,"


"Mereka kenapa? Kok bisa?" Tanya Lala lagi.


"Mereka di bunuh oleh orang yang tak dikenal La,"


"Dimana? Kenapa disini sepi? Kapan kejadiannya?" Tanya Lala, seakan dirinya sangat ingin tahu apa yang terjadi.


"Jenazah Ibu dan Ayah sudah dipulangkan ke Singapore. Aku tidak ikut karena aku tidak kuat melihat mereka dimakamkan," Raka pura-pura tersedu dan memijat pelipisnya.


"Ya ampun Raka, sudah.. semoga mereka tenang disisi-Nya." Ucap Lala seraya mengusap bahu Raka dan memeluk lelaki itu dengan erat.


"Terima kasih La," Sahut Raka seraya terus menatap foto kedua orangtuanya.


Raka diminta berpura-pura kehilangan kedua orangtuanya oleh Ayah Andra dan pihak petugas. Itu semua untuk melancarkan aksi mereka yang sedang bekerja membongkar kejahatan yang melibatkan mafia besar di negeri ini.


"Kamu mau minum apa?" Tanya Raka.


"Apa saja," Sahut Lala, seraya tersenyum manis kepada Raka. Tidak tersirat sedikit pun bila Lala ikut berduka atas kehilangan kedua orangtua Raka. Dari situ, Raka sudah memastikan bila Lala lah biang kerok dari semuanya. Hanya saja, ia tidak boleh gegabah. Ia harus bersabar hingga Ayah Andra mengatakan "Inilah saat yang tepat" untuk membongkar sandiwara palsu itu.


"Ya sudah, aku ambilkan dulu, sekalian aku mau ke kamar dulu sebentar," Ucap Raka.


Lala mengangguk dan tersenyum. Saat Raka baru saja melangkah, Lala pun memanggil dirinya.


"Raka,"


Raka menoleh dan menatap wajah mantan kekasihnya itu.


"Ya?"


"Aku benar-benar merasa kehilangan orangtuamu. Kamu yang sabar ya," Ucap Lala dengan wajah yang bersimpati.


"Terima kasih," Sahut Raka dan ia pun kembali berjalan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Sepeninggal Raka, Lala pun mulai tersenyum puas. Ia mulai yakin bila tugas mafia itu benar-benar sudah selesai. Karena, ia mengkonfirmasi sendiri dengan Raka, prihal nyonya Amara. Bahkan, bukan hanya nyonya Amara yang hilang dari muka bumi ini. Tetapi, Ayahnya Raka pun turut menjadi korban mereka. Yang berarti, Lala seperti memenangkan Big Win dalam taruhan judi. Kematian kedua orangtua Raka, sama dengan Raka menjadi pemilik seluruh aset yang dimiliki keluarganya. Karena Raka adalah anak satu-satunya yang dimiliki orangtuanya.


Lala pun bergegas memerintahkan asisten nya untuk mentransfer uang sejumlah miliaran rupiah untuk di alihkan ke rekening milik Boss mafia yang mejadi kaki tangan nya.


__ADS_2