
Pulau bintang, sebutan lain untuk Pulau Vaadhoo yang di sematkan oleh para wisatawan yang pernah berkunjung kesana. Bibir pantai ini bercahaya seperti langit di malam hari yang penuh dengan bintang, bahkan lebih bercahaya. Itu semua karena phytoplankton yang sedang mengalami populasi yang sangat tinggi, bereaksi pada perubahan cahaya dan juga tegangan air laut. Pantai ini akan dihiasi dengan warna kebiruan dan kemerahan pada malam hari. Sehingga pada malam hari, organisme ini akan bersinar, seolah menimbulkan cahaya seperti bintang.
Queen dengan kamera dalam genggaman nya berjalan menyusuri pantai pada malam hari. Tidak hanya Queen seorang diri, tetapi semua penghuni resort pun beramai-ramai untuk menyaksikan betapa indahnya fenomena pantai yang bersinar seperti bintang ini.
Queen memotret beberapa objek dan para wisatawan yang sedang berjalan di tepi pantai. Sehingga mereka meninggalkan jejak kebiruan pada bekas jejak kaki mereka. Itu semua sangat menarik, seperti mereka sedang berjalan dengan cat di kaki mereka sehingga meninggalkan jejak biru di atas pasir.
Queen menghela nafas panjang, lalu ia kembali melangkah dengan jejak biru uang ia tinggalkan di atas pantai. Queen mengangkat kameranya dan membidik kemana saja secara random. Queen memang sangat suka fotografi. Semua foto nya ia koleksi sebagai kenangan pribadi saja. Bila dirinya sudah pernah menjejakkan kaki di tempat-tempat yang pernah ia singgahi.
Mata kamera Queen tertuju kepada salah satu wisata yang tersenyum ke arah kamera. Wisatawan itu tampak familiar di mata Queen. Ia pun mencoba memutar zoom pada mata kameranya. Terlihat seorang lelaki tampan dengan kemeja putih serta celana pendek berbahan katun mendekat kearah dirinya.
"Raka!" Gumam nya seraya menurunkan kameranya dan menatap lelaki yang berjalan beberapa meter dari dirinya itu.
Tubuh Queen terasa gemetar, jantung nya pun berdegup kencang. Tatapan lelaki itu seperti menggetarkan jiwanya yang sepi. Langkah dan senyuman lelaki itu juga membuat dirinya merasa grogi karena diam-diam ia sangat mengagumi apa saja yang ada pada lelaki itu.
Raka menghentikan langkahnya tepat di depan Queen. Lelaki itu berdiri dengan memasukan dua tangan nya di masing-masing sisi kantong celana nya dan matanya menatap lurus ke arah mata Queen yang tampak bercahaya karena pantulan phytoplankton yang sedang bersinar di bibir pantai.
"Hai," Sapa Raka seraya tersenyum manis kepada Queen.
Queen menundukkan pandangan nya dan tersenyum kecil. Ia tidak percaya bila Raka sudah berada di pulau yang sama dengan dirinya. Sudah tidak diragukan lagi, bila Raka bisa tiba disini karena informasi dari Tika, sahabatnya.
"Hai," Sahut Queen seraya membalas senyuman Raka yang manis.
"Apa kabar?" Tanya Raka lagi tanpa sedetik pun membuang pandangannya dari wajah cantik gadis yang berdiri di hadapannya itu.
"Baik," Sahut Queen sekenanya.
"Aku rindu,"
Queen terdiam, ia menundukkan wajahnya dan terlihat bila dirinya juga merasakan hal yang sama, namun ia enggan untuk mengatakan nya kepada lelaki itu.
"Apa kabar Jonathan?" Tanya Queen untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Raka menghela nafas panjang, lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Queen yang menyadari ekspresi sedih Raka pun menyadari, bila sesuatu yang buruk terjadi.
"Raka?"
"Jonathan sudah pergi," Ucap Raka dengan mata yang terlihat membendung air mata.
__ADS_1
Kamera di tangan Queen nyaris terlepas. Ia terkejut dengan berita buruk itu. Lalu, air mata mulai mengembang di pelupuk matanya.
"Innalilahi wainnailaihi roji'un, Raka, aku turut berdukacita." Ucap nya dengan ujung suara yang tercekat.
"Terima kasih," Sahut Raka seraya mencoba untuk tersenyum.
Queen memijat pelipisnya dan kembali menatap Raka. Ia menatap lelaki yang diam mematung di hadapannya itu. Lalu, Queen memberanikan diri untuk memeluk Raka, hanya untuk menyampaikan betapa dirinya pun berduka dan kehilangan bocah manis bernama Jonathan itu.
"Maaf, aku tidak ada saat kamu sedang berduka kehilangan Jonathan." Ucap Queen dengan penuh penyesalan.
Raka terdiam sejenak, lalu ia membalas pelukan hangat dari gadis pujaan nya itu.
"Tidak apa-apa. Mungkin, inilah yang terbaik bagi Jonathan."
Queen melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Raka yang sendu.
"Kapan dia berpulang?"
"Tiga hari yang lalu."
"Lantas, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Queen lagi dengan wajah yang tak percaya.
Queen terdiam sesaat mendengar ucapan Raka. Lantas ia menundukkan wajahnya.
"Maaf untuk semua yang terjadi. Di rumah sakit, Ibuku, Lala, kenyataan ini dan lain sebagainya. Aku benar-benar minta maaf atas itu semua. Aku tahu, aku tidak layak untuk berdiri disini, tepat di depan mu dan memohon untuk kamu maafkan. Tetapi, aku yakin, dengan meminta maaf, hati ku dan hubungan kita akan membaik."
"Jadi, kamu jauh-jauh kesini hanya untuk..."
"Ya," Potong Raka.
Queen membuang pandangannya ke arah jutaan phytoplankton yang bersinar di bibir pantai itu.
"Maafkan aku." Ucap Raka seraya meraih tangan kanan Queen dengan lembut.
Queen menatap tangan nya yang di genggam oleh Raka. Lalu, ia kembali menatap lelaki tampan itu dengan seksama.
"Aku tidak akan memaafkan kamu,"
Raka terkejut mendengar ucapan Queen. Ia menatap Queen dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Kecuali, kamu mau menemani aku berlibur disini dan melanjutkan perjalanan ke India." Sambung Queen lagi.
Perlahan senyum menghiasi wajah Raka. Ia terlihat lega mendengar ucapan Queen yang terakhir.
"Pasti," Ucap nya pelan seraya menyelipkan rambut Queen yang tersibak menutupi wajah cantik gadis itu, karena angin yang mulai tertiup kencang.
"Kamu di cottage nomor berapa?" Tanya Raka dengan bersemangat, seraya menggandeng tangan Queen untuk menyusuri pantai tersebut.
"Nomor sepuluh, kamu?"
"Dua puluh," Ucap Raka seraya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Kok tertawa?" Tanya Queen dengan wajah yang bingung.
"Aku berharap cottage kita bersebelahan. Ternyata sangat jauh letak nya," Ucap Raka.
"Oh..." Queen pun ikut tersenyum dan menoleh kepada Raka yang berjalan disampingnya.
"Yang penting kan, kita masih satu resort," Sambung Queen lagi.
"Aku berharap kita bisa satu kamar," Raka menghentikan langkahnya dan meraih tangan kiri Queen yang sedang memegang kamera. Kini, kedua tangan Queen berada di genggaman nya. Mereka pun berdiri saling berhadapan. Sorot mata Raka terlihat penuh harap dan teduh. Sedangkan Queen terlihat salah tingkah.
"Kamu tuh ngomong apa sih," Ucap Queen malu-malu.
"Ya gak sekarang, tapi nanti, suatu saat. Atau secepatnya."
Queen menatap kedua mata Raka dengan seksama.
"Raka, bisakah kamu mengambil foto ku?" Lagi-lagi Queen kembali mengalihkan topik pembicaraan.
Raka tersenyum geli, ia paham betul dengan gadis itu. Gadis itu selalu mengalihkan pembicaraan saat dirinya tidak mau menjawab pertanyaan atau menanggapi ucapan yang di lontarkan Raka.
Raka mengangguk dan meraih kamera yang berada di tangan kiri Queen.
"Yang bagus ya," Ucap Queen seraya tersenyum dan berlari menjauh dari Raka.
Raka mengangkat kamera itu dan mendekatkan nya ke wajahnya. Terlihat Queen tersenyum lebar di bibir pantai yang indah itu. Raka tersenyum dan bersiap untuk menekan tombol kamera itu, untuk mengabadikan momen Queen dan cahaya phytoplankton yang sedang bersinar terang, berwarna biru kemerahan.
"Tuhan, wanita yang sedang ku bidik dengan mata kamera ini, apakah dia benar-benar jodohku? Bila iya, bukalah pintu hatinya untuk ku," Gumam Raka seraya menekan tombol di atas kamera itu.
__ADS_1
Satu momen diabadikan oleh Raka. Momen dimana gadis cantik bernama Queen sedang tersenyum bahagia di bibir pantai. Menatap lurus ke arar Raka yang sedang berdoa, untuk Queen dapat disatukan dengan dirinya dalam ikatan cinta yang Halal.