365 Hari Menuju Halal

365 Hari Menuju Halal
30# Saranghaeyo


__ADS_3

Sebenarnya, Queen merasakan ada kesamaan antara Raka dan Antoni. Raka juga termasuk orang yang humoris, namun sedikit lebih santai dari pada Antoni. Kata-kata "Sayang" yang memancing, juga pernah di lontarkan Antoni saat mereka berdua belum menjalin kisah asmara.


Sebenarnya, dekat dengan Raka, mengingatkan Queen dengan Antoni. Itulah yang membuat Queen semakin ingin menjaga jarak dengan lelaki itu.


Taksi yang mereka tumpangi tiba di tempat wisata Bukchon Hanok Village. Setelah Raka membayar tagihan taksi yang berjumlah 7.800 Won atau sekitar 95.000-, rupiah. Queen, Raka dan Tika pun turun dari taksi tersebut. Perjalanan yang hanya menempuh waktu kurang lebih dua menit saja itu pun terasa singkat.


Mereka bertiga pun bergegas menuju ke Tourist Information dan mengambil dua kertas peta desa wisata itu. Setelah membaca sebentar, mereka pun masuk dan berkeliling menikmati suasana di desa bersejarah tersebut.


Mereka disambut dengan tulisan larangan kepada para turis untuk tidak berisik di area itu. Queen dan Tika bersiap-siap mengabadikan rumah tradisional yang terlihat sangat menarik dimata mereka.


Beberapa orang menghampiri Queen, Tika dan Raka. Mereka menawarkan jasa untuk menginap hingga menyewakan kostum. Tetapi, Queen menolak tawaran tersebut. Ia lebih tertarik untuk berkeliling menggunakan jasa pengemudi pedicab alias becak. Yang uniknya, di becak-becak tersebut tersedia penghangat dan selimut untuk para wisatawan yang berkeliling menggunakan jasa pedicab itu.


Saat Queen baru saja duduk di atas becak, Raka pun menyusul duduk disampingnya. Queen terperangah dan menatap lelaki itu dengan tak percaya.


"Kok?"


"Tika sudah sendirian, gak mungkin kan aku duduk berdua sama calon istri orang lain?" Ucap Raka sambil tersenyum penuh kemenangan.


Queen menghela nafasnya dan hanya bisa pasrah bila ia duduk di atas becak yang sama dengan Raka.


Pengemudi becak pun menyelimuti mereka berdua, sebelum becak nya ia kayuh. Sedangkan dari belakang, Tika selalu mengabadikan momen kikuk antara Queen dan Raka. Ia tersenyum puas melihat sahabatnya yang tidak punya pilihan lain, selain duduk berdua dengan lelaki tampan itu.


Pemandangan dan pepohonan yang berselimut salju serta suasana Desa yang tenang, menciptakan suasana romantis persis seperti di drama Korea yang sering Queen tonton. Ia pun tersenyum sendiri saat membayangkan dirinya bertemu dengan salah satu aktor Korea pujaan nya di sana.


"Nyewa kostum yuk," Ucap Raka.


Queen menggelengkan kepalanya tanda ia tidak menginginkan acara berfoto ria dengan kostum tradisional bersama Raka.


"Ayo dong, kapan lagi? Please...kamu pasti cantik banget pake hanbok." Ucap Raka dengan wajah yang memohon.


Queen menghela nafasnya dan terpaksa mengangguk kan kepalanya.


"Gitu dong, biar kayak kaisar dan permaisuri," Ucap Raka.


"Heh?" Queen menatap Raka dengan tak percaya.


"Hehehehe..." Raka terkekeh dengan salah tingkah.


Mereka pun di antar kan oleh pengemudi becak ke toko penyewaan kostum. Queen pun terperangah saat melihat koleksi hanbok disana. Ada yang berwarna merah, kuning, putih hingga pink. Semuanya menarik hati, terutama motif bahan hanbok itu. Queen memilih satu hanbok yang berwarna pink. Ia pun di bantu oleh pemilik penyewaan kostum untuk memakai kostum yang ia pilih.


Sedikit ribet memang memakai hanbok, yang memiliki banyak makna bagi masyarakat Korea. Termasuk cara mengikat tali di dada. Mengikat nya harus mempunyai cara, tidak boleh sembarangan. Karena simpul yang di hasilkan itu mempunyai arti tersendiri.


Queen juga di rias dan di tata rambutnya seperti permaisuri pada jaman Joseon. Sedangkan Raka yang berada di ruangan lain sudah siap dengan busana kaisar nya. Tika pun tidak mau ketinggalan, ia juga berdandan layaknya seorang permaisuri di jaman itu.

__ADS_1


Mereka bertiga keluar dari kamar yang berbeda. Sesaat mereka pun saling berpandangan, merasa surprise dengan penampilan masing-masing dari mereka. Lalu, mereka tertawa, bukan karena merasa lucu, tetapi merasa betapa narsis nya mereka.


Mereka bertiga berjalan menyusuri gang kecil yang di apit rumah-rumah tradisional di sana, serta berbelanja pernak pernik untuk mereka hadiahkan kepada orang tercinta mereka di tanah air, dari salah satu toko yang berada di Desa tersebut. Setelah puas berbelanja, mereka pun makan di salah satu toko penjual makanan ringan.


Mereka seakan melebur menjadi satu, tidak ada lagi canggung dan malu-malu. Mereka tertawa lepas dan selalu mengabadikan setiap momen.


Setelah makan, mereka pun keluar dari toko penjual makanan ringan dan berjalan kembali ke tempat penyewaan kostum. Mereka sudah merasa cukup bermain disana. Saat melintas di jalan yang menanjak, Raka menghentikan langkahnya dan menahan tangan Tika.


"Tik, minta tolong fotoin Raja dan Ratu ya," Ucap Raka.


Queen mengigit bibirnya. Ia nyaris saja tertawa mendengar ucapan Raka yang terkesan konyol di telinganya.


"Nah, begini gue demen," Ucap Tika yang langsung beranjak kebawah dan mengangkat ponselnya untuk memotret Queen dan Raka.


Raka menarik pinggang Queen hingga gadis itu merapat ke tubuhnya. Bagaikan di drama Korea, Queen terpaku dan menatap wajah tampan Raka dengan seksama. Mereka saling berpandangan, udara dingin dan angin yang berhembus kencang, serta buliran salju yang turun, menambah suasana romantis di antara dua insan itu.


"Bolehkah aku mengenal mu lebih dekat lagi," Ucap Raka saat ia menatap wajah cantik Queen yang sedang ia peluk pinggangnya.


Queen mulai kikuk, ia membuang pandangannya dan menatap kamera yang terus mengabadikan momen itu.


"Ah, Raka.. hmmm.."


"Queen.."


"Saranghaeyo,"


Waktu seakan terhenti hanya untuk mereka berdua. Tika menutup mulutnya saat melihat Raka yang hendak mencium bibir Queen.


Bak di drama Korea, Tika hampir saja meneteskan air mata bahagia. Tetapi, seketika suasana romantis itu di rusak oleh Queen. Gadis itu melepaskan tangan Raka dari pinggang nya.


"Hmmm, sudah waktunya kembali ke hotel." Ucap Queen.


Raka terdiam, ia hanya bisa memandang Queen yang berlalu dari hadapannya. Sedangkan Tika menatap Queen dengan tak percaya, ia merasa kecewa dengan sikap Queen yang terus membatasi diri dengan lelaki setampan dan sebaik Raka.


"Apa kurang nya Raka? Dasar ya perempuan ini..!" Keluh Tika.


Dengan wajah memerah, Queen berlalu begitu saja di depan Tika yang terpaku menatap Queen.


Queen terlihat risau, dadanya terasa sesak. Ia memasuki toko penyewaan kostum untuk mengganti pakaiannya. Di susul oleh Tika dan Raka.


Suasana pun hening saat mereka bertemu di beranda toko setelah berganti pakaian.


"Mau ke hotel atau kemana?" Tanya Queen kepada Tia dan Raka, seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

__ADS_1


"Ke Dongdaemun Design Plaza yuk." Ucap Raka.


Queen menatap Raka sejenak dan beralih menatap Tika yang duduk disamping Raka.


"Gimana?" Tanya Queen.


"Yah... ayuk," Ucap Tika yang tampak tidak bersemangat.


...


Sebelumnya...


Tika dan Raka lebih dahulu keluar dari kamar ganti. Mereka bertemu di beranda dan duduk bersebelahan. Wajah Raka terlihat lesu, sama dengan Tika yang juga terlihat kecewa dengan sikap Queen tadi.


"Sabar ya.." Ucap Tika.


Raka menatap Tika dan tersenyum kecil. Lalu, ia mengangguk dan menghela nafasnya.


"Seberapa dalam jejak kecewa yang pernah ia terima dari lelaki sebelum nya?" Tanya Raka.


Tika menatap Raka dengan seksama. Lalu, ia tersenyum kecil.


"Sangat, cinta pertamanya kandas karena sahabatnya menjadi orang ketiga. Bahkan, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, sahabatnya sedang berbuat asusila dengan kekasihnya."


"Yang kedua, Antoni. Lelaki yang bertemu dengan mu di Mall. Luka itu sangat membekas di hati Queen. Mereka berpacaran sudah lima tahun lebih dan tinggal selangkah lagi mereka akan menikah, dan harus gagal begitu saja. Parahnya, kekasihnya langsung menikah dengan gadis pilihan orang tuanya di hari dan tanggal yang sudah di sepakati untuk pernikahan Queen dan Antoni. Sakit bukan?"


Raka terdiam, ia mengerti mengapa Queen begitu dingin dengan dirinya.


"Dan yang terakhir...."


"Ya, aku saksi dari kegagalan terakhir itu," Potong Raka.


"Ya begitulah," Ucap Tika dengan wajah yang prihatin.


"Tik, kamu percaya kan sama aku? Bila aku tidak seperti lelaki sebelumnya?" Tanya Raka dengan wajah yang tampak serius.


Tika menatap lelaki malang yang duduk disebelah nya itu.


"One hundred percent,"


Raka mengangguk pelan dan mengusap wajah nya yang memerah karena udara yang mulai sangat dingin.


"Doakan ya..." Pinta Raka.

__ADS_1


"Selalu... semangat ya..." Ucap Tika sambil tersenyum dan menepuk pundak Raka.


__ADS_2